
Tidak lama kemudian, ke enam ekor rusa yang sangat gemuk dengan bulu yang tebal seperti domba itu mulai menarik kereta salju. Gwen sangat menikmati pengalaman itu, begitu juga dengan Aldo dan Asep. Kereta mulai memasuki areal yang banyak ditumbuhi pohon cemara, dengan salju yang terlihat putih. Ternyata mereka banyak bertemu dengan rombongan kereta lainnya. Ada yang ditarik kuda, ada pula yang ditarik dengan Binatang anjing. Gwen merasa berada dalam negeri dongeng, seperti yang biasa dilihatnya di film-film.
“Betul-betul pengalaman baru untuk Gwen… semua tampak menakjubkan seperti berada dalam sebuah dongeng. Salju terlihat putih bersih, dengan pohon cemara dimana daunnya banyak salju di atasnya.” Gwen tidak mampu menyuarakan ketakjubannya.
“Benar Gwen.. aku juga tidak pernah bermimpi untuk bisa sampai ke tempat ini.” Dari belakang, Asep menyahuti perkataan Gwen.
Aldo yang duduk di samping Asep, hanya senyum-senyum mendengar perkataan Asep. Bukannya Aldo tidak pernah ke luar negeri, hanya saja anak itu memang jarang mau diajak berlibur oleh papa dan mamanya.
“Terima kasih Aldo…, sampaikan Om Firman dan tante Helene, karena kebaikan keluargamu aku bisa mendapatkan pengalaman luar biasa seperti ini. Bagiku… keluargamu Aldo, seperti malaikat penolong keluargaku..” tidak diduga, Asep menjadi merasa sangat berhutang pada keluarga laki-laki yang duduk di sampingnya. Anak muda itu sampai tidak sadar, jika matanya sudah berkaca-kaca.
„Kamu bicara apa Asep... lupakan semuanya. Ingat, papa dan mama sudah menganggapmu sebagai anak sendiri, jangan pernah mengecilkan keluargamu sendiri..” tidak mau jika Asep terus meracau, Aldo memberikan teguran pada anak itu,
Barra ikut tersenyum mendengar perbincangan dua anak mud aitu di belakang, dan sepertinya istrinya Gwen mengetahui dengan jelas, cerita di antara kedua anak muda itu.
“Benar yang dikatakan Aldo.. Asep, jangan rusak hari Bahagia kita kali ini dengan perasaanmu. Kita nikmati saja apa yang ada, ini karunia Tuhan.. Asep..” dari tempat duduknya, Gwen ikut memberikan nasehat pada Asep.
„Iya Gwen..., kalian berdua dengan Aldo, memang sejak dulu selalu mendukungku. Aku yang bukan siapa-siapa, dan juga bukan dari keluarga siapa, selalu merasakan apa yang juga kalian rasakan berdua.. Aku sangat mengapresiasi kalian berdua..” tiba-tiba saja, Asep malah menangis sesenggukan. Anak itu sepertinya tidak mampu menahan gejolak perasaan bahagianya.
Aldo yang duduk di samping anak muda itu, kemudian memeluk dan berusaha menetralisir keadaan. Tangan Aldo mengusap punggung Asep, dan hal itu berlangsung selama beberapa saat. Sampai akhirnya…
__ADS_1
“Woww… ada rumah kayu di tengah hutan cemara ini ternyata…” Gwen berteriak, Ketika melihat ada rumah kayu di jalan yang dilewati kereta salju itu.
“Iya honey.. itu rumah penduduk asli warga Lapland.. Ada yang Sebagian sudah pindah ke kota, tetapi juga masih banyak yang memilih bertahan di tempat asal mereka. Dengan berubahnya areal ini menjadi objek wisata, beberapa di antara mereka mengais hidup dengan mengandalkan pada objek wisata ini..” Barra menjelaskan pada istrinya.
Duduk di depan, Andy tanpa bicara. Sejak anak muda itu naik, Andy lebih banyak mengambil gambar pemandangan dengan menggunakan kamera ponsel yang ada di tangannya. Anak itu sepertinya merasa malas untuk menengok ke belakang, karena hanya akan melihat kemesraan Barra dan Gwen.
„Apakah kalian mau mengambil gambar di rumah penduduk asli? Jika iya, saya akan mendekatkan kereta salju ini ke sana..” dari depan, sais kereta menawarkan pengalaman baru untuk mereka.
„Mau tuan.. antarkan kami kesana, Jika ada penduduk asli, aku ingin berfoto dengan mereka.” Gwen langsung menyambut baik tawaran itu.
Tidak lama kemudian, sais kereta segera mengarahkan kereta salju ke jejeran rumah yang tertutup salju itu, kemudian berhenti di depannya.
*********
Kayla, adik dari Barra merasa kaget ketika mendapati rumah kakaknya terlihat sepi. Ketika gadis itu membuka pintu kamar Barra dan Gwen, juga tidak melihat keberadaan kakak iparnya di dalam kamar tersebut.
„Hempphh... ini hari libur. Tidak mungkin bukan, jika kak Gwen sedang berada di college untuk kuliah. Kak Barra juga, kenapa juga ikutan tidak ada di rumah..” Kayla berbicara sendiri.
Gadis itu kembali menutup pintu kamar kakaknya, dan kembali melangkahkan kaki menuju ke ruang tengah. Terlihat maid sedang menyiapkan makanan kudapan, dan juga minuman panas untuk gadis itu.
__ADS_1
“Claire… kemana kak Barra dan kak Gwen.. kenapa kamarnya sepi..” sambil duduk, Kayla bertanya pada maid keberadaan kedua kakaknya.
„Jika Miss Gwen.. saya tidak melihatnya sejak Miss berangkat kuliah jam 07.00 a.m hari kemarin Miss. Tapi Tuan Barra sempat berpamitan sih, jika akan berlibur dan menjemput Miss Gwen di college. Mungkin saja mereka berdua sedang berlibur Miss, tapi kemana pastinya, saya tidak mengetahuinya..” Claire menjawab pertanyaan adik dari majikannya.
“Hempphh… begitu ya, Jika begitu sudahlah, kembalilah ke dapur, siapkan kamar untukku. Aku akan segera masuk ke kamar untuk beristirahat..’ dengan malas, Kayla Kembali memerintah maid tersebut.
“Baik Miss… tunggu sebentar. Saya akan segera memasangkan cover dan bedding untuk kamar Miss Kayla. Permisi, saya ma uke belakang dulu..” dengan sopan, maid kesayangan keluarga ini kembali mundur ke belakang.
Kayla segera mengangkat cangkir, kemudian mencium harum robusta sebelum memutuskan untuk menyesapnya.
“Suasana dingin seperti ini, memang hanya kopi yang mampu memberikan kehangatan..” Kayla bergumam perlahan, dan setelah menyesap beberapa teguk kopi panas itu, gadis itu Kembali meletakkan cangkir di atas meja.
Melihat ada banana cake yang masih mengepul, air liur Kayla hampir menetes. Gadis itu segera mengambil dua potong, dan menggunakan garpu Kayla mulai menikmati banana cake made in para maid di rumah tersebut. Terlihat sekali Kayla menikmati makanan kesukaannya itu, dan tidak henti-hentinya garpu keluar masuk dari bibirnya yang mungil.
“Setelah aku menghabiskan kopiku, aku akan mencoba menghubungi kak Barra. Katanya Andy juga ada di rumah ini, tapi aku juga tidak melihatnya sejak tadi. Jangan-jangan Andy juga ikut pergi bersama kak Barra dan kak Gwen...” Kayla kembali menyeruput kopi yang masih tersisa di cangkir.
Beberapa saat kemudian, Kayla mengambil ponsel dari dalam tasnya, kemudian mencari nomor contact kakaknya. Beberapa kali Kayla melakukan panggilan keluar, tetapi jawaban nomor sedang berada di luar jangkauan menjawab panggilan gadis itu.
„Sialan... kenapa juga kak Barra sampai mematikan seluler. Apakah tidak mau honey moon dengan kak Gwen terganggu oleh panggilan masuk..” Kayla terlihat agak jengkel. Karena nomor ponsel kakak kandungnya tidak aktif.
__ADS_1
Gadis itu mencoba menghubungi nomor ponsel Gwen, kemudian berpindah ke nomor Andy. Namun sama dengan barra, kedua nomor itupun juga tidak bisa dihubungi. Merasa kesal, akhirnya gadis itu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, dan mulai memejamkan matanya.
**********