
Aldo ikut berdiri di samping kekasihnya Kayla, dan menganggukkan kepala untuk memberikan isyarat agar gadis itu berhenti mengeluarkan air mata. Sebuah tissue diberikan Aldo, dan Kayla mengambil untuk membersihkan air matanya. Kemudian Aldo merangkul bahu gadis itu, dan keduanya berjalan menghampiri Barra.
“Kak Barra… kita keluar yukk, makan di luar..” untuk mengalihkan kesedihan kakaknya, Kayla mengajak laki-laki itu.
Barra menggunakan lengan atas untuk diusapkan ke matanya, kemudian laki-laki itu menoleh ke arah Kayla dan Aldo.
„Kalian baru saja datang... duduklah. Aku lagi tidak mau keluar hari ini, pergilah berdua jika ingin makan di luar..” dengan suara tegas, tapi seperti ada tekanan laki-laki itu memberi tanggapan.
Kayla dan Aldo kemudian duduk di samping kakak kandungnya.
„Tidak jadilah... ga tega Kayla meninggalkan kak Barra sendiri di rumah. Maafkan ya kak, tadi Kayla sudah menemani Aldo berusaha mencari tahu keberadaan kak Gwen. Dari orang-orang Aldo di Indonesia, juga tidak ada yang melihat bahkan mendengar keberadaan kak Gwen. Entah kemana Kak Andrew membawanya..” Kayla terlihat sedih. Gadis itu menceritakan apa yang telah dilakukannya bersama Aldo.
“Iya kak… bahkan temanku mencoba mendatangi rumah Gwen di Bogor, Berdasarkan penuturan, Gwen, Om Andrew dan kakek Atmadja sudah beberapa waktu tidak menyambangi rumah di Bogor itu. Jadi Aldo juga belum mendapatkan informasi apapun.” Aldo ikut menambahkan,
Barra terdiam beberapa saat, kemudian…
“Mungkin Gwen mencoba untuk berpikir sendiri, dan menenangkan dirinya dulu Aldo, Kayla. Sakit sih rasanya jika mengingat pernikahan kami. Apalagi saat ini, istriku sedang mengandung buah hati kamu, dan aku juga belum memberinya ucapan selamat. Heh... bahkan Andrew juga me reject semua panggilanku kepadanya, bahkan email yang aku kirimkan sepertinya juga belum dibuka olehnya.” Barra mencoba menghibur dirinya sendiri.
„Mmppphh... atau kak Barra bisa mendatangi perusahaan tempat kak Andrew bekerja kak.. Tidak mungkin bukan, jika kak Barra akan meninggalkan perusahaan terus-terusan, meskipun bisa bekerja secara remote. Minta penjelasan pada Om Andrew tentang apa yang terjadi sebenarnya, apalagi kak barra dan Om Andrew sudah bersahabat sejak dulu..” Aldo tiba-tiba memberinya saran.
„Sudah aku pikirkan Aldo.. Minggu ini, aku akan terbang ke Singapura karena orang-orang suruhanku sudah melihat Andrew aktif lagi di perusahaan. Hanya saja, di setiap jengkal asset Andrew di negara itu, tidak terlihat keberadaan istriku.. Hempphh aku tidak tahu, ada dimana sahabatku itu menyembunyikan Gwen istriku.” sambil tersenyum pahit, Barra memberikan jawaban.
__ADS_1
Aldo dan Kayla menjadi terdiam setelah mendengar jawaban dari kakak kandung Kayla itu. Mereka juga ikut merasa bingung, hal apa lagi yang akan mereka lakukan. Kondisi Barra saat ini juga tidak lebih baik, penampilannya menjadi asal-asalan. Bahkan kumis serta cambang laki-laki itu sudah tumbuh dan memenuhi wajah tampannya.
„Semoga saja kak, nanti kak Barra bisa menemukan keberadaan Gwen di Singapura. Karena aku yakin, melihat besarnya cinta dan rasa sayang Om Andrew pada Gwen, sepertinya tidak mungkin jika laki-laki itu akan meninggalkan Gwen sendiri.” Aldo kembali memberikan tanggapan,
Barra tidak menjawab, laki-laki itu hanya tersenyum pahit. Dia sangat mengenal dengan baik bagaimana karakter Andrew, yang tidak banyak diketahui orang lain. Sebagai sahabatnya sejak kecil, tidak hanya sekali dua kali mereka terlibat pertengkaran, namun mereka selalu bisa mengatasinya dengan baik. Namun kali ini… ada kaitannya dengan istrinya Gwen, yang juga menjadi keponakan dari Andrew.
***********
Beberapa hari ke depan…
Barra sudah melaksanakan apa yang sudah direncanakannya untuk mencari keberadaan Gwen istrinya. Namun.. jangankan laki-laki itu diijinkan masuk ke perusahaan. Baru saja kaki Barra menginjak lobby perusahaan, tiba-tiba sudah ada beberapa orang yang mencegat dan tidak membiarkannya masuk ke dalam perusahaan.
“Apa-apaan ini…, kamu tahu siapa aku, dan bagaimana hubunganku selama ini dengan keluarga Atmadja. Namun kalian masih berani untuk menghalangiku masuk ke dalam.. Ingat siapa aku,.. aku adalah menantu dari keluarga Atmadja..” Barra berbicara dengan nada tinggi, untuk mengingatkan statusnya dalam keluarga pemilik perusahaan.
„Kami paham Tuan Barra... tapi di perusahaan ini, mohon dimaafkan. Hanya perintah dari Tuan Andrew saja yang kami dengar dan indahkan. Jika Tuan Barra akan menemui Miss Gwen, gadis itu tidak ada di negara ini. Tuan Andrew datang kembali hanya bersama dengan miss Anne, tidak ada Miss Gwen yang datang bersamanya. Percayalah pada kami Tuan…” merasa jika sulit untuk menundukkan Barra, salah satu pengawal itu mencoba membuat penjelasan.
Barra terdiam, dan berpikir bagaimana untuk mengetahui hal yang sebenarnya. Laki-laki itu tetap keukeuh berdiri di depan lobby, dengan kedua tangan dipegangi oleh para pengawal Andrew. Beberapa saat berdiri di situ, tiba-tiba dari arah dalam, terlihat dengan gagahnya Andrew yang mengenakan kaca mata hitam berjalan keluar dari dalam perusahaan,
“Andrew… minta pengawalmu untuk melepaskanku. Kita harus bicara…” Barra berteriak mencoba menarik perhatian dari paman istrinya.
Andrew menoleh kea rah Barra, dan dengan tatapan menghunus laki-laki itu melihat kea rah Barra. Tidak diduga, pamam Gwen itu berjalan menghampiri Barra, kemudian tersenyum sinis melihat kea rah laki-laki itu…
__ADS_1
“Hempphh… betul-betul sangat mengenaskan melihat sahabat dari kecilku ini berada di depan perusahaanku.
Apa yang bisa aku bantu Barra…” dengan nada sarkasme, Andrew bertanya pada Barra.
„Syukurlah Andrew... beri tahu aku dimana istriku saat ini berada. Aku akan menjelaskan kesalah pahaman ini Andrew... katakan padaku.” Melihat Andrew sudah mau berkomunikasi dengannya, Barra menyela.
„Bukkk...” bukannya jawaban, namun bogem mentah dari Andrew bersarang di rahang Barra..
“Andrew… apa yang kamu lakukan padaku. Ini tidak adil, dengar dulu penjelasanku Andrew…” Barra berteriak memprotes tindakan yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
„Pengawal... usir laki-laki tidak bertanggung jawab ini keluar dari area perusahaanku. Aku tidak ingin lagi melihat wajahnya dimanapun...” bukannya memberi tanggapan pada Barra, namun Andrew malah memberi perintah pada anak buahnya.
„Siap tuan Andrew...” tanpa melihat lagi kea rah Barra, dengan sikap arogannya Andrew malah berjalan meninggalkan Barra bersama dengan para pengawalnya.
„Tunggu penjelasanku Andrew... jangan berburuk sangka kepadaku. Apa yang dilihat Gwen itu tidak benar Andrew… tunggu aku..” Barra terus berteriak. Namun Andrew sepertinya sudah tidak mau mendengarkan penjelasan dari sahabatnya. Laki-laki itu sudah masuk ke dalam mobil, dan meminta driver untuk membawanya pergi.
Barra dengan lemas terduduk ke lantai, dan ketika para pengawal itu membawanya pergi dan berjalan, laki-laki itu sama sekali tidak bereaksi. Tetapi Ketika Barra sudah berada di depan mobilnya, laki-laki itu mengambil sesuatu dari dalam sakunya kemudian melemparkan ke arah pengawal yang membawanya.
“Berikan barang itu pada Tuanmu..!” suara tegas Barra memberi perintah pada para pengawal Andrew.
********
__ADS_1