
Dubai...
Gwen menjalani hari-hari kehamilan di Dubai dalam rasa sepi. Berada di dalam rumah mewahmhanya ditemani para maid, dan kakeknya saja, betul-betul membuat gadis itu sangat kesepian. Untung saja, orang-orang suruhan Andrew bisa mengurus perijinan di kampus tempat gadis itu melanjutkan studi, untuk mengikuti perkuliahan dengan metode online. Karena banyaknya waktu yang tersedia, Gwen juga bisa menyelesaikan tugas-tugas dengan tepat waktu. Kakek Atmadja yang menemani cucunya di negara itu, sangat bahagia melihat cucunya menjalani aktivitas sendiri tanpa keluhan.
„Gwen... jangan lupa nak, vitamin dan susu untuk janin dalam kandunganmu diminum. Kamu harus pastikan, jika generasi penerus keluarga Atmadja terlahir dengan sehat cucuku..” seperti biasa, laki-laki tua itu mengingatkan cucunya.
“Sudah kakek… tapi jangan lupa kek. Bukan hanya generasi Atmadja saja kek dalam rahim Gwen saat ini, namun juga generasi penerus dari papa Chandra..” meskipun sudah sementara waktu Gwen belum berkirim kabar pada suaminya, gadis itu tetap mengingat siapa papa dari bayinya.
“Hempphh… kamu masih saja mengingat anak kurang ajar itu Gwen.. Berani-beraninya menyakiti hati cucuku, sama saja keluarga Chandra menabuh genderang perang terhadap keluarga kita. Aku dan Om mu yang sudah salah cucuku, telah memaksamu menikah dengan putra dari keluarga Chandra.” Tampak kemarahan di wajah laki-laki tua itu.
Gadis itu terdiam, menunggu sampai kakeknya selesai bicara. Menyela pembicaraan laki-laki tua itu, sama saja memacu adrenalin kakek Atmadja, dan pasti akan memicu Kesehatan jantung, serta darah tingginya. Untuk alasan itu, Gwen menunggu kakeknya.
“Kakek…. Tidak perlu dipikirkan lagi kek… Lagian setelah Gwen berpikir, mungkin saja hanya kesalah pahaman saja antara Gwen dengan kak Barra. Tanpa melihat kejelasannya lebih dulu, Gwen sudah dibawa pergi oleh Om Andrew. Dan semua nomor ponsel Gwen, tidak Gwen miliki kek… jadi kejadian sebenarnya, kita sendiri belum mengetahuinya.” Tidak bermaksud untuk membela suaminya, Gwen berusaha menenangkan kakeknya.
Setelah berdiam diri selama berbulan-bulan di Dubai, Gwen memang sudah bisa berpikir dengan lebih tenang. Gadis itu mencoba menyambungkan benang merah, Ketika beberapa waktu lalu melihat kemunculan Jacqluine di kampus untuk menjemput Andy. Mereka berdua berinteraksi seperti sepasang kekasih, meskipun usia mereka berjarak cukup jauh.
“Jangan bela anak itu lagi di depanku Gwen... Buktinya mana, apakah Barra juga mencarimu kesini, tidak kan..?” laki-laki tua itu masih keras kepala.
Gwen tersenyum, gadis itu mencoba tidak memperparah kemarahan kakeknya.
__ADS_1
„Kakek... sudahlah tidak perlu dipikirkan lagi. Gwen malah menjadi takut dengan reaksi kakek. Untuk saat ini kek, bolehkan Gwen memiliki ponsel lagi. Masak Gwen hanya berkomunikasi dengan email saja dengan teman-teman di University of Helsinki. Jika mau chat, harus menggunakan computer..” Gwen mencoba untuk mengalihkan perhatian kakeknya.
“Untuk apa Gwen… apakah kamu akan menghubungi suamimu.. memintanya untuk datang menjemputmu. Ingat Gwen… tidak ada kamus dalam keluarga Atmadja, mengalah pada orang yang sudah berlaku jahat pada keluarga kita.” Ternyata permintaan itu memancing reaksi keras laki-laki tua itu.
“Hempphh… ya sudahlah kek, jika permintaan Gwen kali ini malah memancing kemarahan kakek, lupakan saja semuanya. Seharusnya sih, kakek bisa berpikir bukan. Bagaimana Gwen akan menghubungi kak Barra, sedangkan nomor ponselnya saja Gwen tidak punya..” gadis itu bergumam sendiri, namun gumaman itu juga didengar oleh laki-laki tua itu.
Tanpa memberikan tanggapan, kakek Atmdja melangkahkan kaki dari tempat itu. Sepertinya laki-laki itu tidak mau melanjutkan perdebatan dengan cucunya. Gwen hanya menghela nafas Panjang, dan tidak menahan laki-laki tua itu.
***********
Di dalam kamar…
“Hempphh… kak Barra.., bagaimana kabarmu saat ini. Benarkah kejadian terakhir yang aku lihat di kamar hotel, bagaimana kamu tidur berdua dengan Jacqluine dalam keadaan tidak berpakaian..?” gadis itu berbicara sendiri.
Perlahan air mata kembali menetes dari sudut matanya. Tanpa sadar, Gwen juga mengelus perutnya, yang sudah mulai menunjukkan jika dirinya saat ini dalam keadaan hamil. Begitu berada dan sadar sudah di Dubai, gadis itu seperti terputus dengan peradaban. Lingkungan yang baru, tanpa teman, menjadi teman kesendiriannya. Bahkan, semua akses komunikasi sudah ditutupnya rapat-rapat.
“Aku tidak bisa hanya pasrah dengan keadaan ini, tanpa aku berusaha sedikitpun. Ada bayi dalam kandunganku, yang harus aku pikirkan masa depannya.” Ada kegundahan dalam hati gadis itu.
Sesaat pergi meninggalkan suaminya, memberikan ruang berpikir untuknya. Namun ketika sudah berbulan-bulan tidak bertemu, dan usia kehamilannya semakin bertambah, memunculkan rasa kegundahan sendiri. Tetapi, kakek Atmadja sangat keras, begitu mengetahui kejadian terakhir yang menimpa cucunya, bahkan sahabat baiknya Tuan Chandra akan mengajaknya bertemu, tidak digubris oleh laki-laki tua itu.
“Mungkin aku akan mencoba mengecek emailku terakhir. Semoga saja, kakek mau berbaik hati untuk memberikanku sebuah ponsel, sehingga aku akan bisa memulai kehidupanku sebelumnya.” Gwen kembali bergumam. Muncul tekad yang besar dalam diri gadis itu, untuk mencari pencerahan dan mengakhiri konflik terselubung dalam kehidupannya.
__ADS_1
**********
Helsinki
Barra berusaha melupakan kepergian istrinya, dan laki-laki itu membenamkan diri dalam kehidupannya. Hidupnya menjadi tidak tersentuh, hanya kerja, kerja dan kerja saja yang dilakukannya. Kayla sangat prihatin dengan kehidupan sehari-hari kakaknya, namun gadis itu juga tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya curhat pada Aldo, yang bisa dilakukan oleh gadis itu.
“Sabar Kay… aku juga belum bisa menghubungi Gwen sampai saat ini. Tidak ada yang bisa aku lakukan, padahal aku sudah mencoba mengirimkan rekaman kamera CCTV pada gadis itu. Tetapi tidak tahu, mungkin saja Gwen belum membukanya.” Aldo memberikan tanggapan pada Kayla.
“Atau kita pulang ke Indonesia Ald… kamu menemaniku untuk mencari tahu keberadaan kak Gwen di kota Bogor.” Tiba-tiba Kayla membuat usulan.
“Tidak ada Gwen di kota itu Kay... Teman-teman dan aku juga meminta bantuan papaku untuk mencari tahu, tidak ada Gwen maupun keluarganya yang datang kembali ke rumah keluarga Gwen. Hanya kemunculan kak Barra beberapa bulan lalu, yang sudah datang ke rumah tersebut. Informasi seperti terkunci rapat, aku belum memiliki jalan untuk menghubungi. Hanya saja..., aku masih cukup senang Kay..” tiba-tiba Aldo mengatakan sesuatu.
Gadis yang menjadi kekasih anak muda itu melihat ke wajah kekasihnya itu. Ada kecurigaan yang tidak tergambarkan, namun hanya bisa dilihat dari mata gadis itu.
„Jangan salah sangka dulu sayang… Aku hanya akan mengatakan, ketika pengumuman nilai semester kemarin, aku melihat ada nilai dari beberapa mata kuliah yang diambil Gwen. Dan nilai Excellent yang diperolehnya, berarti ada aktivitas belajar mengajar yang dilakukan gadis itu.” Tiba-tiba Aldo mengejutkan Kayla.
“Maksudmu, kak Gwen ternyata aktif mengikuti perkuliahan Aldo… Bagaimana bisa..?” Kayla mengejar anak muda itu untuk mencari tahu.
Aldo menggelengkan kepala, dan hal itu membuat Kayla kecewa. Akhirnya dua anak muda itu kembali melamun.
*********
__ADS_1