
Di dalam kamar..
Gwen berusaha melepaskan pakaian kebaya dan kain panjang yang dikenakannya. Sambil menunggu Smith mengantarkan pakaian dan perlengkapan ke villa, Gwen berpikir untuk mengenakan kimono handuk yang ada di dalam kamar tersebut. Pakaian yang dikenakannya saat ini, membuatnya kesulitan untuk beraktivitas.
“Hemppphh… honey, apakah honey menguji batas kesadaran suamimu sayang…” tidak diduga, Barra tiba-tiba sudah berdiri di belakang Gwen.
Mengingat bagaimana suaminya selalu berusaha mencari cara, untuk selalu menjalin kedekatan dengannya, gadis itu menjadi waspada. Gwen tidak mengira jika suaminya akan cepat Kembali, setelah keluar dari kamar untuk melakukan panggilan langsung pada Smith,
“Pppppffthh.. kak, bagaimana kak Barra sudah secepat ini di dalam kamar...” Gwen berusaha menutupi area dada yang sudah tereskpos, karena kebayanya sudah terlepas.
Tanpa menjawab, Barra sudah mendekap tubuhnya dari belakang. Dagu laki-laki itu sudah berada di atas bahunya... Laki-laki itu mengambil nafas panjang, dan memejamkan matanya.
„Jangan banyak bergerak honey... diamlah sebentar. Aku akan membantumu untuk melepaskan pakaianmu...” hembusan nafas hangat menyeruak masuk ke belakang telinga gadis itu.
Seketika Gwen merasa lemas dan gemetar, apalagi perlahan lidah suaminya menjilat bahu dan perlahan bergerak ke lehernya bagian belakang. Laki-laki itu ternyata sangat mengetahui dimana titik-titik sensitive dari setiap lekuk bagian tubuh istrinya. Tubuh Gwen menggelinjang hebat, dan bahkan kedua kakinya merasa lemas.
“Hentikan kak… ugh…, ingat Bareeq dan Tareeq…” tanpa sadar lenguhan terlepas dari bibir Gwen.
Hal itu tidak menghentikan bagaimana Barra memberikan eksplorasi pada titik sensitive istrinya, malah seakah menjadi penyemangat untuk bertindak lebih jauh lagi.
“Mmmmppphh… honey, pedulikan aku suamimu untuk saat ini sayang.. Putra kita berada di tempat yang aman, ada Cici yang menemaninya..” sambil tersenyum smirk, Barra tidak menghentikan aktivitasnya.
Lidah laki-laki itu terus bergerak, demikian juga dengan kedua tangannya. Bahkan, tanpa sadar semua pakaian atas dan lapisan di dalamnya sudah terlepas. Gwen terlihat sangat seksi, hanya mengenakan kain panjang di bawahnya. Gerakan tubuh Gwen semakin menggila, dan hanya bertumpu dengan kekuatan suaminya.
“Sreettt… krek…” dengan tidak sabar, Barra menarik kain Panjang yang melilit bagian bawah tubuh istrinya. Batik tulis harga jutaan rupiah itu robek, dan Gwen tidak punya waktu untuk menangisinya.
__ADS_1
Barra tidak memberi sedikit waktupun pada gadis itu untuk berbicara, karena lenguhan dan de**sahan terus mengalir keluar dari bibir Gwen. Mata Gwen terpejam, dan dengan leluasa, Barra terus memberikan sentuhan dengan bibir, lidah dan tangannya.
“Kita akan membuat adik untuk putra kita honey.. Berikan suamimu ini anak perempuan, dan berikan kesempatan untuk merawat kehamilanmu..” Barra berbisik lirih.
Kehilangan kesempatan untuk merawat istrinya Ketika hamil Bareeq dan Tareeq, dan juga masa tumbuh kembang kedua putranya, menjadi penyemangatnya kali ini. Tanpa tahu malu, Barra terang-terangan meminta pada istrinya. Gwen tidak menjawab, selain hanya meresapi setiap perlakuan intim yang diberikan suaminya.
“Kamu selalu menjadi canduku honey…, setiap lekuk tubuhmu selalu menjadi kerinduanku untuk menyentuhnya..” setelah gadis itu sudah terlepas semua pakaiannya, Barra Kembali menggila.
Dengan menggunakan satu tangan, laki-laki itu mengangkat tubuh Gwen sambil tetap berciuman. Perlahan kaki laki-laki itu melangkah ke arah king size bed, dan membaringkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Setelah memastikan posisi mereka aman, Barra segera memeluk kembali tubuh istrinya, dan hembusan angin yang masuk melalui pintu arah balkon menjadi pengiring dan perekat tubuh pasangan suami istri itu.
********
Sore harinya…
Tanpa sadar, setelah sesi percintaan dengan suaminya, Gwen langsung tertidur. Ketika hari sudah sore, gadis itu baru terbangun. Gwen membuka matanya, tapi tatapan matanya langsung beradu pandang dengan tatapan mata suaminya. Ternyata Barra menatapnya sejak tadi, dan terus memandanginya..
“Istirahatlah yang cukup honey, karena nanti malam masih ada waktu lagi untuk melakukan seperti tadi siang..” dengan senyum smirk, Barra malah menggoda istrinya.
“Kak Barra mesum…, Gwen mau mandi dulu saja. Dimana anak-anak kak.., apakah mereka aman-aman saja.” Teringat Bareeq dan Tareeq yang sudah sejak siang ditinggalkan, Gwen menanyakan mereka.
“Bisa tidak sih istriku.. sedetik saja tidak menanyakan kedua putra kita, Kenapa tidak bertanya, apakah suamimu ini puas tidak dengan pelayanan tadi siang? Ataukah bertanya, apakah masih mau dilayani suamiku..?” Barra malah berpikir mesum, untuk menggoda istrinya.
Gwen tersenyum malu dan mengalihkan pandangan. Namun tiba-tiba sebuah bantal sudah dipegang gadis itu, kemudian di bekapkan ke wajah suaminya..
„Pikiran laki-laki ini kenapa selalu mesum saja..., bisa tidak kita membicarakan hal yang lain.” Gadis itu bergegas turun dari atas ranjang dan berlari menuju ke bath room.
__ADS_1
“Ha.. ha.. ha.., istriku memang sangat menggemaskan. Lihat saja nanti malam honey…, aku akan memberimu hukuman…” Barra tertawa terbahak-bahak, dan menyingkirkan Kembali bantal ke tempat semula.
Laki-laki itu kemudian ikut turun dari atas ranjang, dan menatap kea rah ranjang yang berantakan karena tadi digunakan mereka untuk bercinta. Senyuman keluar dari bibir laki-laki itu..
“Honey…, Bareeq.., Tareeq, kalian bertiga adalah penyemangat hidupku. Aku akan berjuang untuk kalian bertiga, dan berjanji akan selalu membahagiakan kalian..” Barra bergumam lirih.
Tidak mau merepotkan kedua maid mereka, Barra menarik sprei dan selimut dari atas ranjang, dan membuangnya ke lantai. Hal itu dilakukan, agar maid tinggal memasang sprei dan selimut baru di atas ranjang mereka. Setelah itu, laki-laki itu kemudian menyiapkan pakaian untuk dikenakan istrinya. Barra sering melakukan hal tersebut, dan tidak pernah melakukannya secara terpaksa. Karena sangat mencintai istrinya, Barra tergerak untuk memperlakukan Gwen seperti ratu dalam hatinya.
***********
Malam harinya…
Barra, Gwen, dan kedua putranya duduk di depan villa. Mereka melihat ke atas, menatap bulan dan bintang yang tampak gemerlap di atas langit. Hal-hal sederhana itu jarang untuk mereka nikmati, dan kali ini mereka bisa menikmatinya.
“Papa.., mommy.., bisakah suatu saat kita melihat bintang ke tempatnya berada. Sangat indah terlihat dari sini..” tiba-tiba suara Tareeq memecah kesunyian.
Barra dan Gwen kaget mendengar pertanyaan itu, keduanya saling berpandangan.
“Bisa sayang, besok jika sudah besar Tareeq bisa menjadi astronot. Namun apa yang kita saksikan dari tempat ini, akan jauh lebih indah sayang. Karena di bintang, ataupun bulan tidak ada kehidupan disana. Juga tidak akan pemandangan seperti di muka bumi ini..” Barra menjawab pertanyaan putranya.
“Mmppphh… begitu ya pap.. Jadi film Star Wars itu berbeda dengan aslinya..” dari sebelah Tareeq, Bareeq ikut bertanya.
“Benar sayang.., Star Wars itu hanya sebuah film, yang berisi dongeng khayalan. Semua yang terjadi memang tidak sama, atau tidak seindah mimpi. Untuk itu sayang, seiring pertumbuhan kalian, harus lebih hati-hati dalam menyikapi sesuatu, harus melihatnya lebih cermat, sebelum mengambil keputusan..” Gwen ikut menambahkan,
Kedua anak itu tersenyum mendengar papa dan mommy nya menanggapi keingin tahuan mereka.
__ADS_1
**********