Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 100 Mengakhiri Liburan


__ADS_3

Rovaniemi Apukka Resort


Barra tampak duduk berselonjor di atas sofa, dan Gwen berjalan mendekati suaminya sambil membawa minuman panas untuk laki-laki itu. Melihat bagaimana Gwen yang sudah bertolak belakang dengan Gwen yang pertama kali dinikahinya, Barra merasa sangat Bahagia. Tiba-tiba tangan Barra meraih tangan Gwen, kemudian menarik tangan istrinya agar lebih mendekat kepadanya.


“Hempphh.. ada apa kak Barra.. tidak perlu aneh-aneh, Kaki kak barra baru sakit bukan..?” seperti paham dengan apa yang dimaui oleh suaminya, Gwen mengingatkan keadaan laki-laki itu.


„Jangan negative thinking honey... aku hanya ingin duduk dekat denganmu. Tidak bolehkan suami kangen dan ingin ditemani istrinya sambil menikmati minuman dan snack..” Barra tersenyum, dan tanpa melepaskan tangan istrinya. Laki-laki itu malah menarik tangan Gwen, dan akhirnya gadis itu terduduk di pangkuan suaminya.


Gwen tersenyum malu, tetapi gadis itu tetap diam dan hanya menurut dengan apa yang dimaui oleh suaminya.


„Maafkan aku ya honey...” terdengar suara berat Barra di telinga Gwen.


“Maaf… maaf untuk apa kak.. Tidak ada yang salah sepertinya, malah kak Barra yang terluka dan sakit seperti ini..” memang karena merasa tidak ada yang berbuat salah, Gwen menepis permintaan maaf suaminya.


“Yahh… karena luka inilah honey.. Aku jadi membatalkan tujuan untuk membawamu ke kampung Santa Claus.. Dan seharusnya malam ini, aku juga membawamu untuk melihat aurora di angkasa sayang. Tapi karena rasa sakit ini, akhirnya aku membatalkan semuanya..” terlihat sorot mata penyesalan di mata laki-laki itu.


„Ha... ha.. ha... kak Barra, kak Barra.. Itu bukan kesalahan kak, lagian bukankah kemarin kak Barra sempat menyampaikan pada Gwen. Jika setiap bulan akan mengagendakan berlibur di tempat ini, dan juga bermaksud untuk membeli villa di kota ini. Tidak masalah lagi… kapanpun kita mau kak, kita akan bisa datang berkunjung ke tempat ini lagi. Santailah kak… rileks..” Gwen malah mentertawakan penyesalan suaminya.


Barra tersenyum malu, dan laki-laki itu terdiam. Dalam hati Barra bersyukur, keraguan memperistri gadis itu tidak membuatnya kemudian mundur teratur. Untung saja, Barra tetap sabar menunggu sampai Gwen siap dan menerima dia seutuhnya.


“Benar juga katamu honey.. aku pikir kamu kecewa, karena memiliki suami lemah sepertiku..” Barra akhirnya tersenyum kecut.


Tidak diduga, mendengar pernyataan suaminya, Gwen membalikkan badan sehingga wajah keduanya kali ini bertatapan. Tanpa diminta, Gwen malah memberikan ciuman lembut di bibir laki-laki itu. Barra kaget, terperangah dengan sikap agresif yang ditunjukkan oleh gadis itu terhadapnya.

__ADS_1


Tapi, Barra sangat merasa senang sekali, karena tanpa diminta Gwen sudah berani melakukannya sendiri. Laki-laki itu tidak menyia-nyiakan apa yang sedang terjadi, dengan cepat lidah Barra membelit lidah istrinya. Akhirnya ciuman itu menjadi aktivitas yang lumayan lama, bahkan tanpa disadari Gwen, tangan Barra sudah menyusup di balik baju atasan istrinya.


„Kak Barra... aahhh...” Gwen memberi peringatan pada suaminya, tetapi de**sahan terlontar dari bibir gadis itu.


“Honey… aku ingin melakukannya lagi sayang..” Barra malah berbisik di telinga istrinya.


Tubuh Gwen sesaat seperti meregang, rupanya posisi duduk gadis itu saat ini memancing Hasrat laki-laki suaminya.


Gadis itu tidak mampu menolak,


“Tapi kak… ingat kondisi kak Barra saat ini. Kita bisa menunda dulu kak, dan melakukannya di rumah..” Gwen berbisik untuk menyadarkan suaminya.


„Maaf honey... aku tidak bisa menundanya sayang..” seperti orang kehilangan kesadaran, Barra malah merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.


**********


Pagi harinya, Barra dan Gwen akhirnya memutuskan masa liburan mereka. Hal itu mengingat nyeri di lutut Barra, dan Gwen juga akan melakukan registrasi ke kampus yang sudah dipilihnya. Untung semua berkas sudah disiapkan, sehingga sampai di rumah, Gwen tinggal melakukan print out semua berkas yang dibutuhkan.


“Hati-hati tuan Barra…” sopir Barra membantu laki-laki itu duduk di dalam mobil.


Gwen kemudian mengikuti suaminya duduk, dari pintu sebelah kanan. Mesin penghangat mobil sudah dinyalakan sejak beberapa saat, sehingga pasangan suami istri itu tidak merasa kedinginan,


“Apakah kamu sudah siap honey… kita akan kembali ke kota Helsinki. Jangan khawatir, tidak akan lama lagi aku akan Kembali membawamu ke kota ini. Kita akan mengunjungi kampung Santa Claus, dan akan naik snow boarding menggunakan kereta Santa..” Barra menyampaikan janji pada Gwen, ketika gadis itu sudah berada di sebelahnya.

__ADS_1


“Iya kak…, Gwen juga akan segera mengurus kelanjutan studi di University of Helsinky. Pasti akan banyak agenda Ketika perkuliahan dimulai, jadi Gwen sudah memiliki cara untuk mengisi kesepian. Selama ini, jika kak Barra bekerja di perusahaan, Gwen hanya sendirian di kamar, hanya tidur, makan, demikian seterusnya.” Mendengar curcol istrinya, Barra hanya tersenyum, Laki-laki itu meraih leher istrinya, kemudian menyandarkan kepala Gwen di lengan kanan atas.


“Smith… segera jalankan mobilmu. Tidak ada tempat yang akan kami singgahi, jadi kamu terus mengemudi saja. Pastikan bahan bakar mobil sudah terisi, jadi kita tidak terlalu habiskan waktu di perjalanan.” Barra segera memberi perintah pada sopir untuk menjalankan mobil.


“Baik tuan Barra…” tanpa banyak kata, driver Barra segera menginjak pedal gas. Tidak lama kemudian, mobil segera melaju di jalan raya.


Gwen mengarahkan pandangan keluar jendela. Tampak salju yang sangat tebal, pohon pinus berjajar di sekitar jalanan yang dilalui mereka. Ada kehangatan menyaksikan itu semua, dan ada rasa enggan untuk meninggalkan tempat itu.


“Apa yang kamu lihat honey…?” tiba-tiba Barra bertanya pada istrinya.


„Bukan apa-apa kak, hanya saja Gwen suka melihat pinus-pinus dengan salju tebal di atas pohon. Seperti membuat keindahan tersendiri, dan pohon ini akan tetap kokoh Ketika musim semi tiba..” Gwen menyampaikan apa yang dilihatnya.


„Benar honey... warna putih bersih, dan warna hijau tumbuh-tumbuhan, membuat paduan warna yang sangat bagus. Hanya saja, suhu udara dingin terkadang mengurangi rasa dan keinginan seseorang untuk menikmati keindahan ini. Sekitar tiga puluh menit lagi, kita akan masuk ke areal perkotaan. Pemandangan ini tidak akan dapat untuk kita lihat lagi..” Barra memberi informasi.


Gadis itu tersenyum kemudian membalikkan wajahnya, dan menatap kea rah suaminya. Tangan ramping Gwen tiba-tiba memegang rahang Barra, dan beberapa saat gadis itu mulai mengukir wajah suaminya. Hal itu menjadi kebiasaan baru bagi gadis itu, bermain dengan rahang tegas dari laki-laki itu. Dan Barra hanya terdiam sambil tersenyum, dan menatap balik ke mata istrinya.


“Kenapa kak Barra menatap Gwen seperti ini kak…?” tiba-tiba Gwen merasa malu dengan tatapan balik suaminya.


„Hempph... setiap melihatmu honey... aku ingin membawamu ke kamar..” bisik lirih Barra terdengar di telinga gadis itu.


“Aaaaw…” Gwen tidak berkomentar balik, cubitan di pinggang Barra memberi jawaban protes dari gadis itu.


********

__ADS_1


__ADS_2