
Rumah Puncak Bukit
Keadaan di rumah Barra tampak muram. Dengan menggunakan kekuatannya, Barra belum menemukan keberadaan Gwen. Andrew marah besar, dan mengajak kekasihnya untuk keluar dari rumah tersebut. Mereka menginap di hotel yang ada di kota itu, dan berusaha mencari keponakannya dengan kekuatannya sendiri.
“Aku harap kamu keluar dan meninggalkanku sendiri Jacqluine… Cerita kita sudah lama selesai, dan aku sudah memiliki seorang istri. Aku harap kamu cukup tahu diri, dan tidak mengganggu keharmonisan rumah tanggaku..” terdengar suara Barra marah besar pada Jacqluine.
Menggunakan petunjuk yang diberikan Andy, Jacqluine memberanikan diri untuk datang ke rumah Barra. Perempuan itu sengaja memanfaatkan kericuhan yang terjadi dalam keluarga laki-laki itu, yang semua bersumber dari dirinya.
“Jangan begitu naif Barra… Kamu hanya memanfaatku, menikmati tubuhku, dan sekarang dengan mudah kamu akan menghindar dari tanggung jawab dengan keadaanku. Aku bisa menuntutmu Barra…, apakah kamu tidak peduli dengan nama besarmu..” merasa diusir, Jacqluine malah menantang balik pada laki-laki itu.
Tiba-tiba Barra berdiri dan mendekati perempuan itu. Tidak diduga, tangan laki-laki itu tiba-tiba terulur dan mencengkeram leher perempuan di depannya. Jacqluine terkejut, dan matanya terbuka lebar melihat sikap nekat dari Barra… Tapi tidak lama kemudian, untungnya laki-laki itu melepaskan cengkeramannya.
“Uhuk… lepaskan Barra… aku akan membuktikan ucapanku. Tunggu saja, akan ada somasi dari pengadilan, dan aku juga tidak akan sungkan untuk menceritakan semua kebejatanmu ke media di negara ini. Seorang pengusaha muda, pengusaha besar, melakukan pelecehan pada seorang perempuan...” setelah Barra melepaskan cekalannya, Jacqluine semakin berani mengancam laki-laki itu.
„Apakah kamu pikir aku peduli dengan nama baikku Jacqlluine.. Ingat kita berada di negara mana, kita tidak sedang berada di Indonesia.. Apalagi aku tidak merasakan sesuatu kepadamu, tetapi kamulah yang telah menjebakku. Dengan kekuatanku, aku akan mengalahkanmu Jacqluine...” dengan tersenyum sinis, Barra menatap tajam pada perempuan itu.
Jacqluine terdiam, perempuan itu tampak berpikir keras. Dalam hati, perempuan itu berjanji harus dapat membawa laki-laki itu untuk kembali padanya, entah bagaimanapun caranya.
“Keluar dari rumahku sekarang juga Jacqluine…, apakah kamu tidak mendengar semua ucapanku..” terdengar lagi suara keras Barra, mengusir Jacqluine untuk keluar.
“Hempphh… baiklah Barra. Kali ini aku akan keluar dari rumahmu, tetapi ingat jika aku tidak akan diam. Tunggu saja... jika kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan burukmu kepadaku, aku benar-benar akan menunjukkan kata-kataku. Permisi...” tidak diduga, tiba-tiba saja perempuan itu berdiri. Setelah melemparkan senyum melecehkan pada Barra, Jacqluine segera keluar dari rumah tersebut.
Sepeninggalan Jacqluine, Barra masih duduk di kursi tamu dengan wajah sangat mengenaskan. Laki-laki itu mengusap wajahnya, dan mengacak-acak rambutnya. Tampak keresahan dan kebingungan menjadi satu, dan terlihat sekali jika laki-laki itu membutuhkan dukungan.
__ADS_1
************
Helsinki Strandt Hotel
Andrew dengan ditemani Anne tampak sedang berbicara menunggu CEO hotel, tempat Barra dan Jacqluine ditemukan sedang berdua di dalam kamar. Laki-laki itu ingin mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi sebenarnya, karena tidak puas dengan informasi yang diberikan oleh sahabatnya Barra.
“Maaf tuan Andrew… dengan sangat kebetulan pihak hotel meminta maaf. Rekaman dari kamera CCTV, pada tanggal dan jam kejadian sama sekali tidak bisa kami temukan. Secara kebetulan, rekaman pada hari itu terhapus. Kami juga sedang melakukan penyelidikan, kenapa hal itu bisa terjadi..” tampak CEO yang juga mengenal Andrew, dengan tersenyum pahit memberikan kabar yang tidak mengenakkan.
“Kenapa hal ini bisa sampai terjadi... apakah tidak bisa, aku mengajukan tuntutan atas keberatan pelayanan dari hotel ini. Hotel yang memiliki standar internasional, dan menjadi hotel yang memiliki peringkat nomor satu dan utama di negara Finlandia, bisa sangat teledor seperti ini. Apakah tidak boleh, jika kau mengatakan pihak hotel bekerja sama dengan seseorang, untuk mencelakakan seorang pengunjung…?” perkataan dari CEO hotel tampak menyulut kemarahan dari Andrew.
Anne, kekasih laki-laki itu memegang pundak atas kekasihnya, berusaha untuk menenangkan laki-laki itu. Tetapi perempuan itu tidak berani bersuara.
“Semua di luar pengetahuan kami Tuan Andrew... Sebagai CEO hotel, saya berjanji akan ikut melakukan penyelidikan Tuan.. Semua betul-betul terjadi secara alami, tidak ada campur tangan sedikitpun dari kami Tuan… Kami mohon kerjasamanya..” CEO tampak menghiba.
“Kak Andrew… sepertinya CEO ini berbicara jujur kak.. Semua di luar pengetahuannya…” Anne ikut bicara.
Andrew melihat ke arah kekasihnya itu. Laki-laki itu bingung apa lagi yang akan dilakukannya.
“Maafkan aku Anne… aku tidak bisa kehilangan Gwen.. Bagiku, keponakanku sudah seperti anakku sendiri. Sejak papa dan mama Gwen meninggal, aku yang ikut mengasuh anak itu sejak kecil. Aku tidak rela, dan akan mencari tahu dengan sekuat tenaga, untuk menyelamatkannya.” Andrew tampak rapuh.
Anne menarik Andrew dalam pelukannya, dan CEO hotel tidak berani bersuara sedikitpun. Beberapa saat kemudian…
“Kak… bagaimana jika kita ke kantor polisi sekarang juga.. Mungkin pihak polisi bisa mencari tahu, dengan mengakses CCTV di jalanan yang ada di negara ini. Meskipun hotel ini kehilangan rekaman CCTV, aku yakin tidak dengan pihak kepolisian. Apalagi negara Finlandia memiliki tingkat keamanan tertinggi di dunia selain Swizterland...” tiba-tiba Anne menawarkan ide.
__ADS_1
Sesaat Andrew tersadarkan, jika dalam hal ini pihak polisi belum dilibatkan. Laki-laki itu kemudian berdiri, dan menarik tangan kekasihnya. CEO hotel hanya bisa memandang kedua orang itu berjalan meninggalkannya.
*********
Rumah Sakit
Aldo dan Asep segera berlari masuk dengan mendorong kursi roda, dan membawa Gwen menuju ke layanan darurat. Beberapa perawat langsung mengambil Gwen, kemudian membawanya ke ruang pemeriksaan. Mengingat kondisi Gwen yang terlihat lemas, gadis itu kemudian dibaringkan di atas bed rumah sakit.
“Kami harap pengantar untuk menunggu di luar, dokter akan melakukan pemeriksaan.” Asep dan Aldo ditahan tenaga Kesehatan rumah sakit, keduanya tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam.
“Baik suster..” Asep segera menahan Aldo, karena anak muda itu terlihat tidak mau meninggalkan Gwen sendiri.
Tenaga Kesehatan segera menutup pintu, dan Asep kemudian mengajak Aldo untuk duduk di kursi menunggu hasil pemeriksaan.
“Aldo.. kendalikan dirimu. Gwen sudah berada di pihak yang tepat. Kita biarkan dokter untuk memeriksanya..” terdengar suara Asep menasehati Aldo.
“Hempphh… aku tidak tega meninggalkan Gwen sendiri Sep.. Anak itu terlalu bersikap baik-baik saja, dan berusaha menahan sendiri semua rasa tidak baiknya.” Aldo menanggapi perkataan Asep.
Asep tersenyum, dan menepuk punggung sahabatnya tiga kali. Asep tahu betul, bagaimana perasaan Aldo untuk Gwen.
“Aku tahu Aldo… tetapi bagaimanapun. Untuk saat ini, kesehatan dan keselamatan Gwen merupakan hal yang utama. Mungkin sebaiknya kita segera memberi tahu keluarga Gwen, agar mereka segera bertindak. Jika kamu tidak mau mengabarkan pada kak Barra… mungkin kamu bisa memberi tahu pada Om Andrew. Aku yakin, Om nya Gwen, akan bergegas ke negara ini jika tahu keponakannya sakit..” Asep kembali berusaha mengajak bicara Aldo.
************
__ADS_1