
Villa Puncak Bukit..
Barra tersenyum melihat istrinya tampak bersantai di pinggir swimming pool. Terlihat ketiga anak mereka, tengah bermain tanah di bawah pohon perdu. Tanpa sepengetahuan Gwen, Barra mengalungkan kedua tangan di pundak istrinya, dan Gwen sontak menoleh kemudian tersenyum mengetahui suaminya yang datang.
“Duduklah pa… asyik melihat anak anak rukun bermain. Tidak ada bosannya, betul betul menjadi penghibur hati, Ketika kita off day seperti ini..” tangan Gwen menunjuk ke arah putra putrinya.
Barra tersenyum, kemudian duduk di samping istrinya.
“Papa sudah sejak tadi melihat mereka honey, juga mengamati istriku yang cantik, dan sangat melayani suaminya..” seperti biasa, Barra menggombal. Laki laki itu mempermainkan rambut istrinya dari belakang,..
“Mmmmppphh… ada apa ini. Tidak biasanya nih, suami Gwen patuh dan menghampiri istrinya seperti ini. Mesti ada sesuatu, apaan pap… kasih tahu dong..” sudah hafal dengan semua tingkah laku suaminya, Gwen menebak nebak apa yang terjadi.
Barra tersenyum, namun tidak segera memberikan tanggapan. Laki laki itu malah menurunkan wajahnya ke bawah, dan memberikan ciuman di pucuk kepala istrinya.
“Apaan sih pap… jangan main rahasia rahasiaan dong. Kasih tahu ,.please..” dengan tatap penuh mengharap, Gwen sambil melihat ke atas, ke wajah suaminya.
“Tebak dong… apa yang pernah suamimu ini janjikan..” bukannya langsung memberi tahu, Barra malah main tebak tebakan.
Gwen terdiam, dan tampak berpikir sejenak. Beberapa saat kemudian, tampak senyuman terbit dari bibir tipis dan manis perempuan muda itu.
__ADS_1
“Papa akan menepati janji pada mommy dan anak anak ya. Kebetulan satu minggu lagi, anak anak akan memasuki masa liburan. Labuan Bajo, dan Lombok kan Pa..., papa akan mengajak kami berempat pulang ke Indonesia..” dengan wajah berbinar, Gwen menebak apa yang akan diberi tahukan suaminya.
Bukannya memberikan tanggapan, namun tangan laki laki itu malah menahan leher istrinya. Tanpa mampu mengelak, ciuman Barra sudah melumat bibir Gwen. Jika kedua bibir itu sudah saling berpagut, Gwen selalu tidak memiliki kemampuan untuk menghindarkan. Tanpa diminta, bibir perempuan itu seperti reflek, terbuka dengan sendirinya. Akhirnya di pinggiran kolam, pasangan suami istri itu saling berpagut. Dan untung saja, hal itu seperti sudah menjadi pemandangan sehari hari, sehingga para maid tidak kagok melihatnya.
Beberapa saat kemudian, setelah ciuman dua bibir itu terlepas..
„Honey sangat tepat menebaknya sayang.. Papa sudah mengadakan rapat di perusahaan, dan memberi tahu pad Direksi jika aku akan keluar negeri untuk waktu yang relative lama. Kita akan bisa menghabiskan waktu lama di Indonesia honey…” akhirnya dengan suaranya sendiri, Barra memberi tahu kejutan untuk istri dan putra putri mereka.
“Benarkah pa.. , setelah sekian lama, akhirnya kita akan kembali ke Indonesia pa.. Banyak tempat yang akan mommy kenalkan pada anak anak, dan mommy juga bisa menepati janji pada anak anak untuk mengajak mereka diving di laut..” dengan sinar mata penuh kebahagiaan, Gwen menanggapi pemberi tahuan suaminya,
Barra hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Gwen menatap haru, merasakan betapa besar perhatian suaminya untuk dirinya. Setelah sekian lama mereka menikah, namun sikap dan perlakuan mesra dari Barra masih terus diterimanya,
“Ayolah.. kita hampiri anak anak, sudah saatnya mereka membersihkan diri, dan menikmati makan siang. Barulah mereka kita ajak untuk beristirahat..” melihat dari tempat mereka duduk, beberapa kali Sheen menguap, yang menandakan mengantuk, Barra mengajak istrinya untuk membawa mereka masuk ke dalam.
*******
Batarsheen Elegance Interior
__ADS_1
Masih ada waktu satu minggu untuk mempersiapkan diri sebelum pergi ke Indonesia, Gwen mengumpulkan semua divisi untuk melakukan koordinasi bareng. Josephine dengan gesit mempersiapkan semuanya, dan meskipun status gadis itu sudah berubah menjadi istri dari Hans, namun gadis itu masih bertahan menjadi asisten pribadi dari Gwen. Terlihat Cynthia, Hans, dan juga Jacqluinne sudah Bersiap duduk di posisi mereka masing masing. Gwen memasuki ruang meeting dengan didampingi Josephine di sampingnya.
“Syukur alhamdulillah… dalam waktu singkat, kita semua bisa berkumpul dalam ruangan ini. Jadi, seperti yang sudah disampaikan Josephine pada kalian semuanya, rapat pagi ini memang saya adakan secara mendadak. Jadi mohon dimaafkan jika semua terkesan tergesa gesa..” Gwen mulai mengawali memimpin rapat koordinasi.
“Untuk masing masing Divisi, apakah kalian mengalami kendala yang belum terpecahkan. Atau mungkin masih ada kebutuhan sumber daya tambahan, untuk melaksanakan program kalian..” seperti biasa, Gwen juga menanyakan kendala yang dihadapi oleh para perwakilannya,
Ke tiga orang yang hadir dalam ruangan saling berpandangan, namun tidak ada satupun dari mereka yang memiliki niat untuk berbicara. Tetapi karena melihat Gwen masih menunggu konfirmasi dari mereka, akhirnya Jacqluinne mengacungkan jari tengah ke atas.
“Miss Director.., overall untuk Divisi Butik tidak ada kendala apapun. Penambahan tenaga ahli untuk membantu dan memperlancar divisi di bawah koordinasi saya, sangat bermanfaat sekali. Hanya saja, akhir akhir ini kami agak kesulitan untuk menemukan kain corak tradisional, sebagai aksen ciri khas dari butik kita. Apakah Miss Director memiliki pandangan..” mendengar pemaparan Jacqluinne, Gwen hanya tersenyum.
“Saya Miss… mau meginformasikan. Beberapa staf pemerintahan yang ada di negara Canada, telah menghubungiku terkait wacana untuk menggunakan rancangan desain interior pembangunan beberapa Gedung perkantoran baru, jadi mungkin kita butuh sumber daya tambahan untuk survey lokasi langsung..” Hans menambahkan.
Cynthia memberi isyarat jika tidak ada masalah dalam divisinya. Terlihat Gwen mengambil nafas panjang, kemudian…
“Baiklah terima kasih untuk konfirmasi. Pertama saya akan memberikan tanggapan terkait masalah dari Divisi Butik. Kebetulan, maksud saya mengumpulkan kita semua di ruangan ini, saat ini, adalah saya akan berpamitan sekitar satu bulan. Aku dan keluarga, akan sejenak melupakan rutinitas dan aktivitas offline di negara ini, karena akan kembali ke Indonesia.” Mendengar hal itu, mulut Cynthia terbuka tampak memberikan tanggapan.
“Untuk itu, aku sekalian akan berkunjung pula ke pulau Bali, Lombok Island, dan juga NTT dengan sejenak mengunjungi Labuan Bajo. Dan secara kebetulan tempat yang akan saya kunjungi, mereka sangat kaya dengan corak, kerajinan etnis hand made dari warga local. Aku akan mencoba mencari beberapa, dan segera mengirimkan ke negara ini, untuk mengatasi masalah dari Divisi Butik.” Solusi untuk permasalahan Divisi di bawah kendali Jacqluinne terpecahkan.
Tampak senyuman keluar dari bibir Jacqluinne. Bahkan Cynthia dan Hans ikut senang mendengarnya. Setelah itu, Gwen juga memutuskan sesuatu yang cerdas untuk Divisi di bawah kendali Hans serta Cynthia.
__ADS_1
********