
Tanpa bicara apapun, Asep segera mengarahkan mobil menuju ke Hietaniemi Beach, sebuah pantai yang terdekat dan berada di dalam kota Helsinki. Gwen masih memejamkan matanya, dan Aldo yang duduk di sampingnya juga membiarkan gadis itu. Anak muda itu sengaja membiarkan, agar Gwen bisa merenungi apa yang baru saja terjadi di depannya. Tidak ada hal yang bisa untuk membantu memperbaiki mood gadis itu.
“Kita sudah masuk areal pantai Aldo… kita akan parkir dimana..?” setelah melewati gerbang selamat datang di Hietaniemi Beach, Asep bertanya pada sahabatnya itu.
“Parkirkan sedekat mungkin dengan air Sep… Mungkin Gwen akan membutuhkan untuk meluapkan semua kekesalan yang saat ini dirasakan.” Aldo segera memberi perintah pada Asep.
Tanpa membantah, Asep segera memarkirkan mobil di dekat batu karang yang menjorok di pinggir pantai. Beberapa saat anak muda itu menghentikan mobil..
“Kita sudah sampai Ald… Gwen.. pemandangan laut disini sangat indah, dan ombaknya juga tenang. Kita bisa bebas bermain air di pant aini, tanpa terganggu dengan ombak besar..” Asep menoleh ke belakang.
Terlihat perlahan Gwen membuka matanya, dan Aldo menganggukkan kepala Ketika mata keduanya beradu pandang.
“Mau keluar Gwen… aku dan Asep akan menemanimu..” ucap Aldo lembut, dan dijawab Gwen dengan anggukan kepala.
Aldo membantu Gwen keluar dari dalam mobil, Ketika Asep sudah membukakan pintu untuk mereka. Kedua kaki Gwen akhirnya menjejak di atas pasir pantai…
“Gwen.. masih ingat ketika malam-malam, aku ajak kamu ke villa papaku di puncak Bogor?” tiba-tiba Aldo bertanya pada gadis itu. Beberapa saat Gwen terdiam, kemudian menganggukkan kepala dengan penuh keraguan.
„Hemppph... kamu bisa melakukannya lagi Gwen, untuk mengeluarkan semua uneg-uneg dan kekesalan hatimu. Angin akan membawa teriakanmu ke laut, dan rasa sesak di dadamu pasti akan berkurang..” lanjut Aldo.
Gadis itu segera melangkahkan kakinya menuju ke air laut. Asep dan Aldo mengikuti di belakangnya. Ketika air laut sudah sampai ke lutut Gwen, gadis itu berdiri…
“Aaaaaaawwwww…….. kak Barra…, I hate youuuuuu…” teriakan nyaring dan panjang keluar dari bibir gadis
itu.
__ADS_1
“Aaaaaaww… aaaaww…” dari belakang, Asep dan Aldo juga melakukan hal yang sama untuk memberi semangat Gwen.
Orang-orang yang melihat ketiga anak muda itu hanya menatap mereka, namun mereka segera mengalihkan pandangan tidak peduli.
“Haruskan aku menyerah kalah pada perempuan itu... Aaaawww...” kembali Gwen berteriak kencang.
„Tidak... tidak... tetap pertahankan hubungan kalian..” dari belakang, Asep dan Aldo menjawab teriakan Gwen.
Beberapa saat, ketiga anak muda itu masih berteriak-teriak dan saling sahut menyahut, sampai mereka kelelahan. Tiba-tiba gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas air, dan Aldo memberi isyarat pada Asep untuk mencarikan pakaian ganti untuknya.
“Aldo… aku kalah kali ini Aldo.. Aku kalah..” tiba-tiba Gwen menangis, dan mengajak bicara pada sahabatnya itu.
„Ini bukan pertarungan Gwen... tidak ada yang menang dan yang kalah. Hanya kemauan untuk bertahan, yang akan menyelamatkan keadaan. Percayalah…” tiba-tiba saja Aldo bisa berpikir bijak. Anak muda itu mendekat ke tempat Gwen, kemudian meraih kedua tangannya. Aldo menggenggam tangan Gwen untuk beberapa saat.
„Aku melihatnya sendiri Aldo.. haruskah aku menipu diriku sendiri? Pura-pura tidak mempercayai apa yang sudah aku saksikan dengan mata kepalaku.” Gadis itu kembali bertanya.
„Jika hal itu bisa memperbaiki keadaan dan membuat semuanya menjadi tenang, kamu perlu melakukannya Gwen. Karena terkadang, bisa terjadi apa yang kita lihat ternyata hanya ilusi saja, atau hanya tipuan saja. Keadaan yang sebenarnya tidak seekstrim yang ada dalam pikiran kita.” Aldo terus berusaha menenangkan hati sahabatnya.
Beberapa saat Gwen terdiam, kemudian gadis itu melihat lagi ke arah anak muda itu.
„Aldo... aku membutuhkan pelukan. Apakah kamu mau memelukku sebagai sahabat Ald..?” tiba-tiba Gwen yang terlihat rapuh bertanya pada Aldo.
Anak muda itu tidak menjawab, namun langsung menjawabnya dengan tindakan. Aldo merentangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, akhirnya dua sahabat itu saling berpelukan di atas air laut.
***********
__ADS_1
Sore harinya...
Karena melihat Gwen yang sudah sangat kelelahan, akhirnya Aldo memutuskan untuk membawa gadis itu pulang ke rumah. Tetapi mengingat kejadian siang hari yang tidak mengenakkan, Asep melarang Aldo untuk mengantarkan gadis itu kembali ke rumah di puncak bukit.
„Aldo... sepertinya Gwen perlu untuk berpikir sendiri. Gadis ini masih dalam keadaan emosi, kita harus menenangkannya.” Dari belakang setir, Asep mengajak bicara Aldo.
“Lalu apakah kamu ada usul Asep... akan kita bawa kemana Gwen sekarang. Apakah perlu untuk kita book kamar hotel, agar gadis itu beristirahat di dalam hotel.” Aldo mengikuti usulan dari Asep.
Asep terdiam sebentar, otak anak muda itu tampak berpikir.
“Kita bawa Kembali ke apartemen saja Ald.. Nanti kamu tidur bersama denganku di kamar, atau aku mengalah tidur di sofa. Jika kita ambil kamar hotel, sama saja kita membiarkan Gwen sendiri bukan.. tidak baik untuknya.” Asep membuat usulan.
„Mmmmpphh.... baiklah, good idea Asep.. Arahkan mobil langsung menuju Helsinki Apartment. Untuk keperluan gadis ini, nanti kita menghubungi butik untuk mengantarkan keperluan perempuan ke apartemen.” Dengan cepat Aldo menyetujui usulan dari Asep.
“Baik Ald.. untuk makan malam, sebaiknya kita nanti pesan delivery saja. Atau aku bisa memasak nasi goreng dengan telur ceplok saja. Dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin kita akan membawa Gwen keluar. Gadis ini perlu untuk istirahat dan menenangkan dirinya..” kembali Asep memberi saran.
“Sesukamu saja Sep… aku tidak bisa berpikir lagi. Aku bingung bagaimana akan memberi tahukan pada kak Barra, jika saat ini Gwen sedang bersama dengan kita..” Aldo kemudian memejamkan matanya sama dengan yang saat ini dilakukan oleh Gwen.
Asep tersenyum, dan anak muda itu melihat dari kaca depan. Tampak Aldo tengah memejamkan matanya, tetapi beberapa saat anak muda itu kembali membuka matanya.
„Asep.. sejak tadi aku mematikan ponselku. Jika nanti Kayla menghubungi ponselmu, katakan ya jika aku sedang tidak bisa diganggu. Aku sedang mengerjakan project besar, yang butuh konsentrasi. Siapapun termasuk Kayla tidak bisa mengangguku..” tidak tahu mengapa, mengingat jika Kayla adalah adik dari suami Gwen, Aldo tiba-tiba juga ingin menjaga jarak sementara dari gadis itu.
“Hemppphh… I know you so well Aldo.. Semoga saja, aku tidak sampai berbohong pada Kayla.” Sahut Asep seperti orang menggumam.
Saat ini Asep berpikir lebih objektif, tetapi mengingat bagaimana perasaan Aldo pada Gwen sejak muda, Asep sengaja membiarkan. Apalagi Aldo juga perlu menguji rasa cintanya pada Kayla, apakah hanya sekedar pelarian saja, ataukah memang serius dengan gadis itu. Hanya waktu yang akhirnya akan menguak dan menjawab semuanya. Dan selama ini, Aldp seperti tidak mempermasalahkan bagaimana status dari Gwen, dan mereka tetap berhubungan baik.
__ADS_1
***********