
Beberapa saat berbincang, Gwen dan Barra baru tahu jika Aldo dan Asep ternyata melanjutkan studi di college yang sama dengan Gwen, dan juga Andy. Hanya saja, dari cerita keduanya, sepertinya Barra menyimpulkan jika belum pernah ada pertemuan sebelumnya antara Gwen dan dua anak mud aitu. Meskipun ada rasa tidak tenang, tetapi laki-laki itu berusaha untuk menekan rasa khawatir dan cemburu pada istrinya.
“Sudah berangkat dan pergi kuliah tiga minggu, ternyata kita belum diijinkan untuk berjumpa Aldo. Jika kamu kasih kabar kalau akan lanjut studi di negara ini, pastilah aku dan kak Barra akan mencari kalian berdua. Tapi.. kalian berdua ini, memang sukanya silence, suka membuat teman sendiri jantungan karena terkejut.” Gwen pura-pura marah mendengar kenyataan itu,
“Bukan begitu maksud kami Gwen... kamu tahu sendirilah bagaimana Aldo. Apakah anak ini mau memberi tahu rencananya, semua terjadi secara mendadak. Kedua orang tuaku juga kaget, karena misalkan hari ini bilang, dua hari lagi aku sudah terbang dari Jakarta. Tidak ada persiapan apapun Gwen…” Asep mencoba menjelaskan, dan menggunakan Aldo sebagai alasan,
Aldo terdiam dan hanya senyum-senyum saja, sedikitpun anak mud aitu tidak berusaha untuk membela dirinya, yang juga berarti mengiyakan apa yang disampaikan oleh Asep.
“Oh ya Aldo… Asep, by the way aku juga ada saudara sepupu yang ambil Teknik di University of Helsinki. Dengan wajah Asia nya, tidak mungkin dong, jika kalian tidak mengenalnya. Biasanya jika berada di tempat jauh, bertemu dengan teman sebangsanya, pastilah kita akan saling berusaha untuk mengenal dan mengakrabkan diri.” Tiba-tiba Gwen teringat dengan Andy.
“Anak Teknik…, hanya ada tiga orang yang berasal dari Indonesia. Jangan bilang Gwen, jika saudara sepupumu itu bernama Andy...” Aldo bertanya sambil mengerutkan kening.
Mendengar adik sepupunya disebut, Barra tersenyum kemudian..
“Benar katamu Aldo… Andy adalah putra dari adik mama. Kali ini dia melanjutkan studi sama di kampus kalian, dan dengan jurusan yang sama dengan jurusan yang kamu ambil Aldo. Jika kamu kenal Andy, dia adalah adikku..” ucap Barra pelan.
„Wuah... ternyata semua terjadi secara kebetulan, skenario Tuhan memang sangat bagus. Jika Andy... teman dari kalian berdua, sekalian saja kalian sering-sering main ke rumah Aldo..,, Asep. Sekalian bisa belajar Bersama dengan Andy..” sahut Gwen cepat.
“Hemmmpph… ternyata semua memang seperti diatur. Oh ya… by the way, kalian berdua mau pada minum apa, biar Asep pesankan di food court, atau kita keluar saja makan malam Bersama. Yah.. sekaligus merayakan pertemuan kita Kembali Gwen, juju raku dan Asep sangat senang, akhirnya kita bisa Kembali Bersama seperti dulu lagi…” mendengar perkataan Aldo, Gwen melirik kea rah suaminya. Terbersit ada yang membuat laki-laki itu seperti terlihat tidak nyaman.
__ADS_1
“Benar kata-katamu Aldo… tetapi kamu dan Asep juga harus ingat. Ada beberapa batasan yang tidak boleh aku langgar, karena semua harus sepersetujuan suamiku. Gwen harus mendapatkan ijin dari kak Barra, jika akan melakukan sesuatu, karena surga Gwen ada di ijin kak Barra..” untuk mengembalikan mood suaminya, Gwen menggenggam tangan Barra dan menunjukkan pada dua sahabatnya.
Wajah cerah kembali menghampiri laki-laki dewasa itu, dan dua anak muda yang duduk di depan mereka itu hanya tersenyum pias.
„Okay... kita keluar saja yukk. Kebetulan kak Barra membawa mobil kesini, kita bisa berkendara bareng..” lanjut Gwen.
“Aku setuju Gwen, kirim saja alamat rumah makan tempat kita dinner malam ini. Aku dan Asep akan mengikutimu, kebetulan aku dibelikan papa mobil untuk mobilitasku selama di Finlandia.” Sambil tersenyum kecut, akhirnya Aldo menyetujui ajakan Gwen.
„Baik.., kami tunggu di depan saja. Kita makan steak di Goodwin The Steak House, tidak jauh tempatnya dari sini.” Akhirnya Barra menyebutkan restaurant yang akan mereka datangi.
“Yap.. deal..” Aldo dan Asep segera berdiri. Gwen dan Barra juga mengikuti, dan ke empat orang itu segera berpisah menuju ke mobil mereka.
Goodwin The Steak House
Gwen menuliskan menu yang dipesan untuk berempat. Lama bergaul dengan Aldo dan Asep, gadis itu hafal dengan makanan kesukaan dua anak mud aitu. Untuk menghemat waktu, Gwen menuliskan menu untuk mereka berempat sekaligus. Barra hanya diam, sebagai laki-laki tertua dan paling dewasa, Barra banyak menahan perasaannya. Terselip ada rasa jealous melihat bagaimana Gwen dan Aldo saling mengisi, tetapi secepat mungkin Barra menepis perasaan itu.
“Ini menu pesanan kalian tuan, nona…” tidak lama kemudian, waiters sudah mengantarkan menu yang dituliskan oleh Gwen.
Fried Reindeer Sirloin, Ragout Braised In Porter, dan Smoked Atlantic Salmon And Creamed Wild Mushrooms tersaji di atas meja. Berbagai saus ikut disajikan di atas meja. Tidak lama kemudian, waiters yang lain datang mengantarkan minuman untuk mereka berempat.
__ADS_1
“Silakan dinikmati tuan… nona.., dan jika membutuhkan menu tambahan, nona dan tuan bisa memanggil saya kembali.” Dengan sopan waiters mempersilakan mereka untuk segera menikmati menu yang sudah dipesan.
“Baik.. terima kasih.” Sahut Gwen.
Gadis itu segera mengambilkan piring saji untuk suaminya, kemudian tidak lupa garpu dan pisau juga disiapkan untuk Barra. Aldo dengan perasaan sesak melihat apa yang dilakukan gadis yang dicintainya untuk suaminya.
“Hempphh… setengah matang, sangat juicy dagingnya. Kamu memang sangat mengenal makanan kesukaan suamimu honey, juga bagaimana cara penyajiannya.” Tiba-tiba tidak biasanya Barra memuji layanan istrinya. Gwen agak kaget, tetapi dengan cepat gadis itu bersikap Kembali netral. Sepertinya Gwen sadar, Barra sengaja melakukannya untuk memanas-manasi Aldo.
“Salmonnya lembut dan sangat fresh, tidak seperti salmon yang bias akita jumpai di Jakarta..” untuk mengurangi kekikukan, Aldo ikut menyahut.
“Hempph benar Ald…” sahut Asep juga.
Dengan cepat, suasana Kembali mencair. Gwen berusaha menjaga dua hati di samping dan juga di depannya. Untung saja, gadis itu semakin dewasa sehingga bisa menjaga mana yang bisa dilakukan dan mana yang tidak bisa dilakukan.
„Oh ya Gwen... apakah jauh tempat tinggalmu dari restaurant ini..?” sambil memasukkan potongan steak ke mulutnya, Aldo bertanya.
“Tidak jauh Ald… don.t worry… nanti aku kirimkan share loc untuk menuju ke rumah kami. Kebetulan kak Barra membangun rumah di atas bukit di kota ini, jadi view kota Helsinki terlihat jelas dari beranda rumah..” Gwen segera menanggapi pertanyaan itu.
Tidak ada lagi kekikukan dari ke empat orang itu. Barra tidak banyak mengeluarkan suara, sejak tadi laki-laki itu berusaha untuk menahan perasaanya. Dan untungnya Gwen sangat memahami untuk tidak membuat suaminya terbakar api cemburu. Demikian juga dengan Aldo, meskipun hasrat kerinduannya pada Gwen sangat tinggi, tetapi anak muda itu pintar mengelola suasana hatinya.
__ADS_1
*********