
Gwen bergegas berjalan menuju ke arah food court dengan hati yang masih kesal, dan untung saja masih ada tempat duduk kosong di sudut tempat itu. Melihat gadis itu duduk, pelayan food court segera mendatanginya.
“Excuse me Miss… apakah ada sesuatu yang akan kamu pesan..?” pelayan itu memberikan daftar menu pada gadis itu.
“Beef burger, French fries dan Cola saja.” Lama tidak menikmati junk food, Gwen memesan makanan yang dulu sering dipesannya Ketika masih menjadi mahasiswa aktif. Gadis itu meletakkan uang 50 euro di atas daftar menu.
“Terlalu banyak Miss…, minta uang pecahan kecil saja. Karena kami harus memikirkan uang kembalian untuk mahasiswa yang lain.” Pelayan itu tampak keberatan, merasa uang yang diberikan gadis itu pecahan besar.
“Hempphh… untuk deposit saja sekalian. Lain waktu aku akan datangckesini, hanya untuk makan dan minum saja..” merasa malas membuka kembali dompet, Gwen terkesan asal bicara.
Pelayan itu terdiam sebentar, akhirnya menulis sesuatu di atas kertas. Kemudian..
“Baik Miss… tunggu sebentar. Akan segera saya persiapkan pesanan Miss, dan akan saya catat deposit yang Miss tinggalkan di food court.” Pelayan itu kemudian meninggalkan gadis itu.
Sepeninggalan pelayan, Gwen mengisi waktu sambil membuka gadget untuk menemukan nomor poncel Cynthia dan Hans. Gadis itu akan menemui kedua teman baiknya itu, karena di ponsel terbarunya Gwen belum menyimpan nomor contact kedua anak tersebut. Beberapa saat Gwen menghabiskan waktu menggulir gadget ke atas dan ke bawah.
“Permisi Miss… ini pesanan yang Miss pesan. Dan mohon maaf, ternyata food court sudah tidak lagi menerima deposit terlebih dulu. Tapi sudah ada yang membayarkan menu yang Miss pesan..” dengan sopan, pelayan mengembalikan uang 50 euro yang tadi diberikan oleh Gwen.
“Saya merasa belum bertemu siapapun di tempat ini, siapakah yang sudah membayarnya kak..” merasa belum bertemu satu orangpun teman dekatnya, Gwen merasa ragu.
„Itu Miss.., yang sedang berjalan ke tempat ini..” pelayan menunjuk ke arah yang ada di belakang gadis itu.
Gwen sontak menoleh ke belakang, dan terlihat Aldo dengan gagah datang menghampirinya. Di belakang laki-laki itu tidak ada Kayla, yang mengikuti seperti biasanya adalah Asep.
__ADS_1
“Hey Ald… kamu tidak harus melakukannya..” setelah Aldo dan Asep duduk di depannya, Gwen mulai menanggapi keduanya.
“Halah melakukan apa Gwen…., kita dahulu sering melakukannya bukan..” dengan santai Aldo langsung mencomot hot dog pesanannya sendiri. Anak itu segera menikmati makanannya, demikian juga Asep.
Melihat hal itu, Gwen juga tergiur untuk segera menikmati makanan yang sudah dipesannya sejak tadi. Tiga sahabat itu mulai menikmati makanan mereka dalam diam, dan beberapa saat kemudian…Mereka seperti mengulang kedekatan mereka di beberapa waktu yang lalu
“Gwen… by the way, apakah semua urusanmu sudah selesai. Jujur ya Gwen… aku dan Asep kecewa denganmu. Sedikitpun kamu tidak memperhitungkan persahabatan kita selama ini. Kedatangan kami berdua ke negara ini, semua terkait denganmu. Namun... kamu malah pergi meninggalkan kami, tanpa ada sedikitpun kabar darimu..” ketika mereka sudah menyelesaikan makanan berat, Aldo memulai pembicaraan.
„Benar Gwen... Aldo seperti orang gila kala itu. Jika tidak ingat, Om Firman sudah mendirikan perusahaan buatnya di negara ini, mungkin Aldo sudah bertindak nekad untuk keluar dari negara ini.” Asep ikut menambahkan.
Gadis itu terdiam karena mengakui kesalahan. Namun semua di luar kendalinya, karena dirinya tersadar Ketika sudah berada di negara Dubai. Gwen juga tidak tahu bagaimana pamannya Andrew membawanya pergi dari Finlandia.
“Aku menerima semua kemarahan kalian Ald... Sep. Karena akupun juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba saja aku sudah berada di Dubai, dengan luka hati yang sangat dalam. Cukup lama juga, aku mencoba mengobati rasa sakit hatiku. Semua gadget dijauhkan dariku hampir satu semester. Karena aku membujuk kakek Atmadja, barulah akhirnya aku bisa melanjutkan studiku yang tertunda..” Gwen akhirnya menceritakan apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu.
“Baiklah… mungkin tidak perlu kita ungkit lagi Ald… melihat Gwen dalam keadaan sehat, dengan kedua putranya, sudah cukup membuat kita lega. Yang penting bagaimana nanti ke depannya..” Asep akhirnya menetralisir suasana.
Ketiga sahabat itu, akhirnya melanjutkan obrolan sampai menjelang siang. Gwen seperti terlupakan akan tujuan, jika kedatangannya ke food court untuk menemukan Cynthia dan Hans.
********
Siang harinya…
Gwen berjalan menghampiri suaminya Barra yang sudah datang menjemputnya. Laki-laki itu tersenyum, dan menunggu istrinya dengan bersandar di pintu mobil. Dari belakang, Aldo dan Asep hanya melihat Gwen dari depan pintu lobby. Dua anak itu tidak akan mengganggu Gwen dengan suaminya.
__ADS_1
“Sudah selesai honey…” Gwen mencium punggung tangan suaminya, dan Barra memberikan kecupan di kening gadis itu. Setelah itu, Barra membukakan pintu, dan membantu istrinya untuk masuk ke dalam mobil.
“Sementara sudah kak… hanya saja hari ini Gwen belum bisa bertemu Cynthia dan Hans. Hanya Aldo dan Asep saja, yang sejak tadi menemani sampai kak Barra datang menjemput.” Sambil duduk bersandar, Gwen menyampaikan keluhan pada suaminya.
„Hempphh... kenapa istriku tidak menelpon kedua anak itu.. Kan kalian bisa mengatur janji untuk ketemu bersama..” sambil menjalankan mobil, Barra ikut menanggapi.
„Lah... bukannya kak Barra juga tahu, jika Gwen kehilangan ponsel. Dan apesnya, Gwen tidak ada back up nomor contact mereka. Yah,., jadinya gini deh, kayak orang linglung..” Gwen cemberut, merasa jika suaminya tidak memperhatikannya.
Tiba-tiba Barra menghentikan mobil tanpa pemberi tahuan. Dan belum sampai gadis itu merespon, tiba-tiba saja wajah suaminya itu mendekat, dan ciuman lembut diberikan Barra pada istrinya.
“Mmmmppphh… kakkk… jangan gila,,” setelah berhasil mendorong dada suaminya untuk menjauh, Gwen memprotes tindakan suaminya.
“Kan beberapa kali aku bilang honey... jika istriku cemberut itu\, gai***rah suamimu ini malah akan naik. Bibirmu menjadi lebih seksi dan sen**sual honey…” sambil mencubit kecil bibir istrinya\, Barra kembali menjalankan mobilnya.
“Trus harus bagaimana, kan Gwen baru kesal dengan sikap cuek dan tidak mau tahu dari kak Barra..” gadis itu Kembali meluapkan kekesalannya.
Kemudian tanpa gadis itu sadari, satu tangan kanan Barra membuka dashboard, kemudian mengambil kotak dari dalam dashboard. Setelah itu…
“Ambillah honey…, siapa tahu isi di dalamnya bermanfaat untukmu..” sambil mengulum senyum Barra memberikan box pada gadis itu.
“Apa kak isinya, kenapa jantung Gwen jadi dag dig dug ya.. Please kak, spill dong apa isinya. Jangan buat istri yang cantik ini penasaran…” Gwen mencoba mengguncang kotak, namun tidak ada pergerakan di dalamnya.
Barra tersenyum melihat bagaimana reaksi istrinya.
__ADS_1
“Buka sendiri dong… tapi aku juga tidak tahu sih.. Isi dalam box itu akan menyenangkan hati istriku atau tidak, atau bahkan akan mengingatkan kisah sedih yang pernah dialami oleh istriku yang cantik..” bukannya memberi tahu, namun Barra malah semakin menggoda istrinya.
******