
Helsinki-Vantaa Airport
Tepat pukul 01.30 A.M, private jet yang membawa pasangan suami istri itu landing di bandar udara Helsinki di pusat kota negara Finlandia. Barra tersenyum melihat istrinya yang tertidur pulas dengan bersandar di bahunya. Dengan hati-hati, Barra kemudian melepaskan seat belt, dan laki-laki itu berdiri. Tiba-tiba Barra melambaikan tangan, meminta pramugari untuk datang mendekat kepadanya. Tidak lama seorang perempuan cantik datang menemui laki-laki dewasa itu.
“Siap tuan muda.. apakah ada yang bisa saya bantu..?” pramugari itu langsung bertanya pada Barra.
“Ambilkan blanket, istriku pasti akan merasa dingin jika terbangun. Saat ini istriku belum mengenakan baju hangat, aku akan menggendongnya turun dari pesawat…” dengan nada tegas, Barra memberi perintah.
“Baik tuan muda… mohon ditunggu sebentar..” tidak lama kemudian, pramugari tadi sudah kembali ke depan Barra dan menyerahkan satu buah selimut.
Barra segera membuka lipatan selimut, kemudian menyelimutkan di tubuh istrinya. Dengan hati-hati, laki-laki itu kemudian mengangkat tubuh Gwen… dan membawanya keluar dari dalam private jet. Untung saja, mobil jemputan sudah menunggu tepat di bawah tangga pesawat, sehingga Barra tidak terlalu capai untuk membawa istrinya masuk ke dalam mobil.
“Silakan masuk ke mobil tuan muda…!” terlihat pengawal dengan sigap membukakan pintu untuk Barra.
Laki-laki itu segera membawa masuk istrinya kemudian meletakkan sementara di atas kursi mobil. Suhu hangat sudah dinyalakan di dalam mobil, sehingga Barra tidak khawatir lagi jika istrinya akan kedinginan. Tidak lama kemudian, akhirnya Barra mengikuti istrinya masuk ke dalam, dan duduk di samping Gwen. Agar istrinya merasa nyaman, Barra menyandarkan kepala gadis itu di pangkuannya, dan beberapa saat kemudian Barra menundukkan wajah memberikan ciuman di kening istrinya.
„Segera berangkat, kami akan segera istirahat..” Barra memerintahkan pada driver untuk segera membawanya pergi.
“Baik tuan muda..” tidak lama kemudian, mobil segera berjalan perlahan karena masih di kawasan bandar udara.
Barra merasa sangat senang bisa berdekatan dengan istrinya, apalagi gadis itu dalam keadaan tidur. Tidak puas-puas, Barra melihat ke wajah istrinya yang tampak terpejam. Jari-jari Barra sejak tadi mengukir di wajah Gwen, tanpa membuat gadis itu terbangun.
__ADS_1
„Gwen... aku akan memilikimu seutuhnya honey.. Kamu akan melahirkan anak-anak untukku.. kita akan merawatnya dengan penuh kasih sayang...” pikiran Barra mengembara kemana-mana. Bibir laki-laki itu tidak henti-hentinya membentuk senyuman. Dari kaca depan, driver ikut tersenyum melihat bagaimana tuan mudanya berbicara sendiri meskipun pelan.
************
Di kota yang masuk kategori daerah urban yaitu kota Vantaa, mobil yang membawa pasangan suami istri itu masuk ke pemukiman rumah mewah. Ternyata mobil itu hanya melewatinya saja, dan masih terus naik ke atas bukit. Tidak lama kemudian sebuah rumah dengan gaya Scandinavian modern tampak berdiri dengan megah di ujung jalan. Tidak banyak rumah yang dibangun di area tersebut, dan beberapa saat kemudian mobil berhenti tepat di depan teras rumah tersebut,
“Tuan Barra… mobil sudah sampai di tujuan..” driver dengan hati-hati membangunkan Barra yang juga ikut tertidur dalam perjalanan.
Laki-laki itu perlahan membuka matanya, dan sesudah tersadar beberapa saat, Barra kemudian perlahan mengangkat kepala Gwen dengan hati-hati, dan memindahkannya di atas jok mobil. Laki-laki itu kemudian keluar dari dalam mobil, setelah pintu dibukakan oleh pengawal.
“Apakah kamar sudah disiapkan..?” suara berat keluar dari mulut Barra Ketika bertanya pada pengawalnya.
„Sudah tuan Barra.., tuan dan nona bisa langsung masuk dan beristirahat,” setelah mendengar jawaban dari pengawal itu, Barra kemudian dengan hati-hati berusaha mengangkat Gwen untuk membawanya ke atas.
“Silakan masuk tuan… kamar sudah kami siapkan untuk beristirahat..” dari dalam rumah, tampak dua maid membukakan pintu. Barra tidak menjawab, tetapi langsung naik ke tangga lantai dua, dan segera memasuki kamarnya. Perlahan laki-laki itu membaringkan istrinya di atas king size bed.
“Selamat datang di rumah kita honey…” Barra tersenyum sambil memandangi istrinya Untungnya penghangat ruangan sudah dinyalakan oleh maid, sehingga laki-laki itu tidak khawatir jika istrinya merasakan suhu udara dingin.
Laki-laki itu kemudian menarik selimut, kemudian menyelimuti tubuh istrinya. Setelah memberikan ciuman di kening gadis itu, Barra kemudian bersiap untuk mengganti bajunya. Melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan angka dua lebih 15 menit, laki-laki itu hanya melepaskan pakaian yang dikenakannya. Hanya dengan mengenakan boxer, Barra kemudian membasuh wajah di wastafel. Dan perlahan menyusul ke samping istrinya untuk ikut merebahkan diri.
“Sweet dream honey…” bisik Barra, kemudian laki-laki itu ikut masuk ke dalam selimut, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
__ADS_1
***********
Keesokan Paginya
Gwen merasa nyaman dalam tidurnya, tidak ada rasa dingin yang dirasakan. Sebenarnya gadis itu sudah terbangun, tetapi ada rasa hangat yang membuatnya nyaman, dan membuat gadis itu menjadi enggan untuk membuka matanya. Tetapi ada degup lembut terdengar di telinganya, dan Ketika gadis itu memasang pendengaran, terdengar dengkur halus. Mendengar hal itu, sontak Gwen terbangun dan betapa terkejutnya gadis itu. Ternyata wajahnya bersandar di dada suaminya Barra, dan tangan laki-laki itu melingkar di pinggangnya.
“Good morning honey… hari masih pagi, tidurlah lagi. Di Finlandia, orang-orang belum pada bangun jam segini sayang…” rupanya Barra pun juga sudah terbangun. Dengan nada khas bangun tidur, laki-laki itu menyapa istrinya.
Mendengar suara dengan nada serak itu, tiba-tiba saja membuat jantung Gwen menjadi bergetar.
“Mmmppphh… Gwen mau ke kamar mandi dulu kak...” dengan gugup Gwen membuat alasan.
Barra tersenyum manis, kemudian laki-laki itu memberikan ciuman di kening istrinya. Mendapat perlakuan lembut seperti itu, Gwen malah menjadi semakin takut dan terkejut. Degup jantungnya seperti terdengar keluar. Kedua tangan Gwen akhirnya mencoba mendorong pelan dada suaminya, dan akhirnya laki-laki itu mengalah,
“Pergilah honey… aku menunggumu. Sangat menenangkan hatiku bisa memeluk istri di pagi dingin seperti ini..” ucap Barra mengiringi istrinya yang bergegas bangun.
“Bath room ada di sebelah mana kak.. banyak sekali pintu di kamar ini..” tiba-tiba saja Gwen merasa bengong, karena melihat ada empat pintu di depannya.
Mendengar pertanyaan istrinya, Barra kemudian beranjak bangun. Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati istrinya. Gwen memundurkan tubuh ke belakang...
„Kenapa takut honey.. kita ini pasangan suami istri sayang. Tidak perlu malu, ataupun sungkan, bukankah berkali-kali aku sudah ingatkan kepadamu..” melihat sikap istrinya yang tampak menghindar, Barra memberikan teguran halus.
__ADS_1
Gwen terdiam, dan Ketika laki-laki itu merangkul bahunya, gadis itu tidak berani melakukan penolakan. Bahkan Barra kemudian membawa istrinya ke kamar mandi, Gwen hanya terdiam kaku mengikuti arah suaminya berjalan,
***********