Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 184 Kedudukan Suami Lebih Tinggi


__ADS_3

Beberapa saat kemudian..


Setelah aktivitas percintaan, Gwen dan Barra segera membersihkan tubuh mereka. Gwen segera berganti pakaian, dan karena tadi datang ke rumah ini mengenakan abaya dan kerudung, gadis itu mengenakan koleksi kaftan yang hampir tidak pernah dikenakannya di masa lalu. Meskipun pakaian yang dikenakan bukan dilandasi karena kesadaran untuk menutup aurat, tapi karena sudah terbiasa mengenakan ketika tinggal di Dubai, Gwen masih tidak terbiasa untuk meninggalkannya.


“Honey… kenapa sudah berpakaian dan berdandan cantik. Mau kemana..” dengan tatapan curiga, Barra yang baru keluar dari kamar mandi mengkonfirmasi penampilan istrinya.


“Kembali ke Pant House kak… bukankah tadi kak Barra membawaku dari sana. Lagian ada Bareeq dan Tareeq, serta nanny yang Gwen tinggalkan disana.” Gwen mengangkat wajah, dan menjawab pertanyaan istrinya.


“Tidak boleh…, ingat siapa sebenarnya dirimu honey... Aku sendiri yang akan datang ke Pant House untuk membawa pulang putra-putraku, dan juga yang membantu mengasuh keduanya. Sebagai suami, aku tidak akan mengijinkan honey untuk pergi kemana-mana. Ini rumahmu sayang…” dengan menunjukkan status kepemilikan, Barra berusaha menahan istrinya.


Gwen terdiam, dan sesaat gadis itu teringat dengan pamannya. Andrew dan Anne sedang menempuh perjalanan menuju ke Helsinki. Gadis itu khawatir, jika ada kesalah pahaman antara Om dan suaminya. Namun… dalam keadaan seperti ini, gadis itu juga tidak berani bersikap.


“Tapi kak… bisakah kak Barra membawa Gwen kembali ke rumah ini, setelah kakak berbicara dengan Om Andrew. Gwen tidak mau ada kesalah pahaman antara kalian kak.. please…” akhirnya Gwen memberanikan diri untuk bicara.


Namun… betapa terkejutnya gadis itu. Tiba-tiba kedua tangan Barra mencengkeram kedua pundaknya, sampai gadis itu merasa kesakitan. Tatapan mata suaminya, seakan tajam menghunus, dan suasana dingin terasa menyelimuti tempat Gwen duduk.


“Kak… sakit..” dengan ketakutan, Gwen merintih.


Barra merasa tersentak, dan melepaskan pegangan tangan yang kencang di kedua bahu istrinya. Laki-laki itu kemudian menundukkan wajah, dan memberikan ciuman di bahu istrinya.


“Maaf honey… aku tidak sengaja. Tapi aku memang harus memberi tahumu sesuatu honey, atau lebih jelasnya mengingatkanmu. Sebagai seorang suami honey... surgamu ada di ijin dari suami. Kedudukanku dibandingkan dengan Om Andrew, meskipun laki-laki itu yang sudah membesarkanmu, untuk saat ini masih lebih tinggi aku suamimu. Sadarkah honey.., akan posisi ini.” Dengan suara pelan namun tegas, Barra memberi tahu Gwen.

__ADS_1


Gadis itu seperti terpukul, dan hanya bisa diam, serta kembali menundukkan wajahnya ke bawah.


“Ikuti kemauanku saat ini… Karena aku sudah membuktikan ketidak salahanku, maka kamu harus menurut dengan keinginanku. Untuk saat ini, sebagai suamimu aku meminta kamu untuk tetap menunggu di rumah. Aku akan menjemput sendiri Bareeq dan Tareeq, serta nanny untuk membawanya ke rumah ini. Ke depan, dalam kondisi apapun, kalian bertiga tetap bertahan di rumah ini bersamaku.” Kembali kata-kata tegas Barra terdengar di telinga Gwen.


“Baik kak… Gwen akan mencoba memahaminya. Namun satu permintaan Gwen kak... jika kak Barra bertemu dengan Om Andrew atau aunty Anne... kendalikan diri kak Barra. Jangan ada perselisihan di antara kalian kak.., hanya itu saja..” akhirnya dengan terpaksa, Gwen menurut pada kemauan suaminya.


Laki-laki itu memegang kembali bahu Gwen, dan meminta istrinya untuk berdiri. Tidak lama, keduanya berhadapan.


„Demi kamu honey... demi putra kita, aku akan mencoba untuk mengendalikan diriku. Namun.. semua dengan syarat dan ketentuan berlaku. Jika terpaksanya aku harus bertemu dengan Andrew, dan sikap anak itu baik padaku, aku akan bersikap baik juga. Namun... jika sikap anak itu mencoba menghalangiku untuk membawamu dan juga kedua putraku, maka aku harus tunjukkan sikapku.” Barra membuat kesepakatan.


Laki-laki itu kemudian kembali memeluk Gwen, dan memberikan kecupan di kening gadis itu.


***********


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit dari rumah, akhirnya Barra sudah sampai kembali ke Pant House. Kedua putranya segera berlari mendatangi laki-laki itu, dan dengan kedua tangannya Barra memeluk serta memberi ciuman pada mereka.


„Papa... dimana mommy pap...” Bareeq menanyakan keberadaan mommy-nya. Mereka memang belum terbiasa terpisah dengan mommy mereka.


“Mommy ada di rumah sayang.. Kita akan kesana sekarang, karena papa akan membawa kalian berdua untuk pulang ke rumah. Kita akan bertemu dengan Mommy sayang…” Barra segera memberi tahu maksud kedatangannya.


“Horee… kita akan pulang ke rumah papa Tareeq…” Bareeq berteriak memberi tahu saudara kembarannya. Barra tersenyum melihat kegembiraan yang dirasakan dua putranya.

__ADS_1


Laki-laki itu kemudian berdiri. Tapi ketika Barra baru berdiri, dan akan memberi perintah pada dua nanny yang ada di ruangan itu…


“Mohon maaf Tuan… sesuai dengan intruksi yang kami terima dari Tuan Andrew, kedua anak ini dan juga Miss Gwen harus tetap berada di Pant House. Mohon kerjasamanya…” terlihat pengawal yang ditugaskan Andrew menghalangi keinginan Barra.


Mendengar hal itu, Barra melepaskan pegangan pada kedua putranya. Tetapi untungnya laki-laki itu kemudian tersadar, jika dia tidak akan melakukan kekerasan di depan kedua putranya. Barra melihat ke belakang, dan dengan matanya laki-laki itu memberi perintah pada dua pengawal yang datang bersamanya.


“Kamu tahu apa, selain hanya menerima bayaran. Dua anak ini adalah putraku, dan Gwen adalah istriku. Berani kalian menghalangi kami, aku akan membuat kalian meringkuk di penjara..” dengan nada tegas berwibawa, suara Barra memenuhi ruangan.


„Tapi Tuan… tugas kami adalah menjaga dan memastikan tuan kecil dan Miss Gwen dalam keadaan aman. Jangan halangi tugas kami Tuan… Pahamilah kami.” Dengan tatapan memohon, karena mungkin pengawal itu juga dalam keadaan bingung meminta pada Barra.


Namun yang terjadi, kedua pengawal Barra langsung memegang kedua tangan dari pengawal Andrew dari belakang. Mereka menahan pengawal itu untuk tidak dapat melakukan apa-apa. Melihat hal tersebut, Bareeq dan Tareeq merasa ketakutan. Dua anak kecil itu merangkul kedua paha papanya dengan erat.


“Tidak ada apa-apa sayang, mereka hanya sedang bermain.” Terlihat Barra menenangkan kedua putranya sambil mengusap wajah Tareeq dan Bareeq.


Setelah melihat kedua putranya sudah tidak lagi ketakutan, Barra melihat ke arah dua nanny yang masih menunggu di belakang.


“Kita harus bergegas. Nanny… siapkan dan bawa baju mereka berdua. Aku akan menunggumu di depan pintu lobby...” dengan tegas, Barra membuat pengaturan.


“Baik Tuan..” kedua perempuan itu segera bergegas melakukan apa yang diperintahkan oleh Barra.


Tanpa berkata-kata lagi, Barra menggendong kedua putranya dengan kedua tangannya, dan langsung melangkahkan kaki keluar dari ruangan pant House. Tidak ada yang berani untuk menghalangi laki-laki itu, dan tidak lama kemudian ketiganya sudah masuk ke dalam lift. Sedangkan dua pengawal Barra, tampak mengikat kedua tangan pengawal Andrew dengan menggunakan ikat pinggang mereka.

__ADS_1


**********


__ADS_2