
Ibu pemilik panti asuhan sedikit terkejut mendengar pengenalan dari Barra, dan Gwen hanya menundukkan kepala merasa malu. Tetapi dengan cepat, bu Asih membuang rasa keterkejutannya, dan perempuan apruh baya itu tetap tersenyum melihat ke arah Barra, kemudian melihat ke arah Gwen,
"Ternyata nak Gwen sudah menikah ya... kenapa tidak bercerita pada Bu Asih... waktu pertama kali kita bertemu nak... Selamat ya.., tidak banyak, anak muda sekarang yang memilih untuk menghalalkan hubungan mereka. Banyak yang malah salah jalan, lebih memilih hidup bersama dengan pasangan, tanpa ikatan tali pernikahan." Bu Asih menanggapi ramah perkenalan itu. Gwen hanya tersenyum malu, tidak mau banyak berucap.
"Terima kasih bu Asih... tapi mohon jangan disebar luaskan dulu ya. Istri saya masih bersekolah SMA, jadi bisa akan menjadi hal yang kurang baik, jika status pernikahan kami tersebar. Yah... bagaimanapun kita berada di Indonesia bu Asih... belum bisa menerima anak SMA menikah." dengan tersenyum, Barra seakan mengetahui keresahan yang dirasakan Gwen. Laki-laki itu menyampaikan pada perempuan pengasuh panti asuhan itu.
"Baik nak Barra... ibu juga tidak akan ikut campur. Jujur .. ibu malah bersyukur, dalam usia yang masih belia, nak Gwen sudah berani untuk menjalin komitmen dengan nak Barra. Kalian ini pasangan yang cocok, yang perempuan mungil, dan cantik. Sedangkan nak Barra ini, gagah dan tampan pula. Kalian ini memang pasangan yang sangat serasi..." dengan ramah, Bu Asih menanggapi kata-kata Barra.
Ibu pemilik panti asuhan itu dan Barra, akhirnya terlibat dalam pembicaraan serius. Bahkan Gwen mengikuti ketiga anak kecil itu masuk ke ruang tengah, dan terlihat beberapa anak sedang belajar dengan dibantu oleh kakak-kakak yang sering datang ke panti asuhan untuk menjadi volunteer. Barra tidak menegur atau menahan Gwen, dan membiarkan istrinya masuk ke dalam ruangan.
***********
Gardenia Hills
Terlihat Aldo tampak uring-uringan, dan Asep serta Raffi yang menemani anak muda itu hanya bisa menghela nafas membiarkannya. Dua anak muda itu tahu apa yang menjadi penyebab kemarahan Aldo. Anak muda itu merasa cemburu dengan laki-laki yang bernama Barra, yang melakukan adu tanding dengan Aldo tadi malam. Tetapi karena Gwen sendiri merasa cuek dan mengabaikan, akhirnya Aldo yang masih merasa kakinya sakit hanya bisa melampiaskan kemarahannya.
"Asep... cari tahu, siapa sebenarnya laki-laki bernama Barra itu! Apakah dia memang dari keluarga Gwen, selain Om Andrew atau siapa...?" perintah mengalir dari mulut Aldo. Asep dan Raffi saling berpandangan, dan akhirnya keduanya sepakat menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Baik Aldo... tapi hentikan amarahmu. Tapi menurut kami berdua sih, tidak ada salahnya jika kamu mengungkapkan perasaan yang kamu rasakan pada Gwen. Sebelum ada laki-laki lain yang lebih dulu menyatakan perasaannya pada gadis itu..." dengan hati-hati Asep memberikan saran pada anak muda itu.
"Apakah belum jelas sikapku selama ini pada Gwen....?? Aku berusaha menjaga jarak dengan gadis manapun, dan selalu berusaha untuk berada disamping Gwen, jika gadis itu sedang susah atau mengalami masalah. Gadis mana yang tidak bisa merasakan, jika semua sikapku itu merupakan ungkapan rasa cintaku.." Aldo malah semakin uring-uringan,
Asep dan Raffi terdiam, mereka menunggu celah dimana mereka bisa masuk untuk berbicara dengan sahabatnya itu. Mereka tidak mau memotong kata-kata Aldo, karena akan bisa semakin memancing kemarahannya. Beberapa saat kemudian...
"Aldo... tidak semua hanya bisa kita ungkapkan dengan perbuatan saja guys... perlu adanya kata-kata komitmen, yang menandakan jika kedua belah pihak sudah sepakat, keduanya sudah setuju untuk melanjutkan hubungan itu.. Aku pikir tidak ada buruknya bukan, jika kamu segera menyampaikan ucapan rasa cintamu pada Gwen..." Raffi akhirnya memberikan tanggapan. Di samping anak muda itu, Asep ikut menganggukkan kepala menyetujui kata-kata temannya itu.
Beberapa saat Aldo terdiam, laki-laki itu mencoret-coret kertas HVS di depannya dengan menggunakan spidol warna biru. Asep dan Raffi tidak mau mengganggu sahabatnya itu, karena mereka tahu besarnya rasa cinta Aldo pada Gwen. Hanya gadis itu yang bisa meluluhkan hati Aldo, dan keduanya selama ini selalu bersama. Hampir seisi sekolah juga tahu dan paham, jika mereka adalah sepasang kekasih. Namun hal sebenarnya hanya khayalan dan keinginan dari Aldo.
"Hempph... apakah kamu lupa Aldo. besok sore Gwen sudah akan menempuh perjalanan menuju ke Amerika. Ingat... Gwen mewakili sekolah kita, untuk Olimpiade Fisika dan Kimia di negara paman Sam. Bahkan untuk Ujian Kelulusan saja, Gwen melakukannya di Embassy..." Raffi mengingatkan.
"Damn it... kenapa aku bisa melupakannya. Atur semua di bandara Halim Perdana Kusuma besok sore. Gwen pasti menggunakan private jet keluarganya, jadi akan take off dari bandara Halim..." Aldo segera melanjutkan perintahnya.
"Siap..." Asep dan Raffi hanya menyanggupi perintah tersebut, karena jika mereka menyanggahnya maka anak muda itu pasti akan marah besar kepada mereka. Tidak bisa dipungkiri, Asep terutama... bisa sekolah di The Intercultural School, karena mendapatkan bantuan pendanaan sekolah dari papanya Aldo.
**********
__ADS_1
Panti Asuhan Hidayah...
Setelah bersama-sama mengerjakan sholat Maghrib dengan berjamaah di panti asuhan, akhirnya Gwen dan Barra berpamitan untuk pulang. Tidak lupa, ketika Barra berpamitan ternyata laki-laki itu meninggalkan satu lembar cek di atas meja, dan melihat nominal yang tertera, Bu Asih sebagai pengelola panti asuhan kecil itu terbelalak matanya.
"Mohon maaf sebelumnya mas Barra... mbak Gwen... Apakah angka ini tidak terlalu besar, ibu malah takut menerimanya mas... mbak..." Bu Asih merasa gemetar, berusaha mengembalikan lembar cek itu pada pasangan suami istri itu. Angka lima ratus juta bagi perempuan paruh baya itu, merupakan angka yang sangat tunggu untuknya.
Gwen menatap ke arah suaminya, karena dia juga tidak tahu berapa rupiah yang dihibahkan suaminya untuk panti asuhan Hidayah.
"Bu Asih... dan semua pengurus panti asuhan ini. Jangan lihat angka nominal itu bu... bagi saya itu hanya angka kecil saja. Ibu anggap saja, itu bukan bantuan dari Barra atau Gwen bu... tetapi bantuan dari keuntungan perusahaan saya. Tidak hanya panti asuhan ini bu, tetapi juga di beberapa negara, kami juga memiliki yayasan sosial.." Barra menjelaskan, agar perempuan itu mau menerima bantuan darinya.
"Kemudian... jika di kemudian hari, panti asuhan ini masih membutuhkan bantuan, misalkan ingin merenovasi bangunan, memberikan furnitur atau apapun, jangan sungkan bu Asih. Beri tahu Gwen, nanti saya akan mentransfer semua kebutuhan panti asuhan ini..." lanjut Barra sambil tersenyum.
"Baiklah nak... karena bantuan ini untuk keberlanjutan panti asuhan, bukan untuk Ibu pribadi. Terima kasih nak, ibu akan menerimanya.." dengan gugup dan gemetar, akhirnya Bu Asih mau menerima bantuan itu.
Barra tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian mengajak istrinya Gwen untuk kembali ke rumah mereka. Dengan diantarkan oleh beberapa pengurus panti, dan anak-anak asuh, pasangan suami istri itu masuk ke dalam mobil mereka.
*************
__ADS_1