Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 167 Mengejar ke Airport


__ADS_3

Beberapa Saat Kemudian…


Barra, Aldo, dan Kayla menuju ke ruang keamanan rumah sakit dengan tergesa. Karena belum mengetahui penyebab dengan ditahannya Asep di ruang tersebut, mereka ingin mencari tahu. Tetapi Ketika melihat Andy berada di ruangan tersebut, berdasarkan penuturan dari Aldo tentang hasil rekaman CCTV, Barra langsung memegang leher adik sepupunya dan memukul rahang anak muda itu berkali-kali.


“Stop it… jangan melakukan tindak kekerasan dalam ruangan ini..!” tenaga keamanan berusaha melepaskan tangan Barra.


Kayla bertindak cerdas, gadis itu segera keluar dari dalam ruangan, dan melakukan panggilan terhadap pengawal kakaknya untuk membawa polisi ke rumah sakit. Aldo berusaha memberikan pengertian pada tenaga keamanan, dan menjelaskan keberadaan mereka di rumah sakit, dan status Andy yang sebenarnya.


“Tuan Barra… apapun kesalahan anak mud aini, jangan main hakim sendiri, Tuan Asep sudah memberikan pelajaran pada anak muda ini, kita akan tunggu sampai polisi datang ke rumah sakit ini. Kami akan pastikan jika tidak ada celah bagi anak muda ini untuk melarikan diri,” tenaga keamanan berusaha melerai keadaan, Tampak Andy berusaha untuk bersembunyi di belakang tenaga keamanan rumah sakit.


“Jangan ikut campur dalam masalah keluargaku. Anak ini adalah adikku, dan menjadi tugasku untuk mendisiplinkannya. Bug…” dengan penuh kemarahan, Barra Kembali memukul wajah Andy.  Darah mengalir deras dari sudut bibir anak muda itu.


“Aaaww… hentikan kak. Jangan bertindak bodoh, terus menerus menghajarku tanpa sebab yang jelas,” Andy berusaha mempengaruhi kakak sepupunya. Namun Barra saat ini sudah menjelma menjadi harimau jantan yang sedang terluka., Mata laki-laki itu agak kemerahan, yang menandakan jika kemarahan sudah memenuhi titik nadirnya.


„Dor..” tiba-tiba salah satu petugas keamanan menembakkan senjata api ke atas.


Semua yang berada di dalam ruangan itu terkejut dan seketika terdiam. Dari arah luar, Kayla kaget dan berlari masuk ke dalam kembali. Untungnya di belakang gadis itu, beberapa orang berseragam polisi sudah datang, dan mereka segera ikut masuk ke dalam,


“Amankan anak muda itu…!” Sudah mengetahui duduk perkaranya, pengawal Barra segera menunjuk Andy.


Tidak lama kemudian, tiga polisi yang datang segera masuk ke dalam ruangan, dan mengeluarkan borgol kemudian menangkap kedua pergelangan tangan Andy. Tenaga keamanan rumah sakit tidak dapat berbuat banyak, selain hanya membiarkan Andy di bawa polisi. Sedangkan Barra dan Aldo, teringat dengan tujuan mereka ke rumah sakit ini, segera bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut.


“Kak Barra… Aldo, semuanya sudah terlambat..” tiba-tiba Asep menghentikan mereka.

__ADS_1


Kedua anak muda itu, dan juga Kayla melihat ke arah Asep dengan penuh tanda tanya, karena tidak memahami kalimat yang diucapkan Asep.


“Apa maksudmu Asep., kenapa kamu melarangku untuk naik ke kamar perawatan Gwen..” Aldo segera bereaksi,


“Om Andrew sudah membawa Gwen pergi beberapa jam yang lalu. Aku juga tidak berhasil menemukan kepergian mereka, Menurut informasi dari tenaga Kesehatan, Om Andrew membawa pergi Gwen melalui roof top. Mereka menggunakan helicopter..” Asep menceritakan apa yang sudah terjadi.


Barra kembali terduduk ke kursi yang ada di belakangnya, dengan tubuh lemas. Laki-laki itu sangat memahami bagaimana karakter Andrew, terlebih jika laki-laki itu marah. Tatapan anak muda itu kosong, kembali teringat dengan kemarahan Andrew sahabatnya, dan niat laki-laki itu untuk membawa keponakannya. Dan kali ini, ternyata Andrew membuktikan kata-katanya.


„Kenapa kita tidak mengejar mereka ke Helsinki Airport saja kak.. Mungkin saja mereka masih menunggu pesawat..” Kayla membuat saran,


„Iya kak, sepertinya usulan Kayla bisa kita coba..” meskipun agak pesimis, Aldo mendukung usulan itu.,


“Hempphh… baiklah, kita tidak akan tahu jika kita tidak mencari tahu. Kita harus bergegas.., meskipun harapan itu akan pesimis.” Barra segera berdiri dan meninggalkan tempat itu. Ketiga anak muda itu segera mengikuti Langkah kaki Barra.


***********


“Di depan lampu merah Ald… kurangi kecepatan mengemudimu…” melihat Aldo terus menginjak gas, Kayla berusaha mengingatkan,


Tetapi peringatan itu tidak digubris oleh anak muda itu, Aldo tetap focus mengemudi. Ternyata kekhawatiran yang dirasakan Kayla tidak diindahkan, anak mud aitu malah ngeblong… lampu merah sebagai isyarat kendaraan harus berhenti tidak dipatuhinya.


“Teen… teen… teen…” sirine peringatan di jalan raya berbunyi. Namun Aldo tidak mempedulikannya, anak muda itu terus menginjak gas mobil yang dikemudikannya.


Wajah Kayla menjadi pucat pasi, baru kali ini gadis itu naik mobil dalam keadaan mengebut seperti itu. Kedua tangan gadis itu berpegangan pada handle yang ada di atas pintu di sampingnya. Kedua laki-laki yang duduk di kursi tengah, hanya diam saja melihat kegilaan itu.

__ADS_1


Mereka sama sekali merasa tidak terganggu, dan malah ingin segera sampai di airport.


„Di depan, kamu masuk gate yang sisi kanan saja Aldo. Kita akan langsung masuk ke penerbangan private. Semoga kita bisa berjodoh..” melihat gate dari kejauhan, Barra memberi arahan.


“Siap kak…” Aldo menambah kecepatan mobilnya. Untung gate yang diarahkan Barra memiliki lalu lintas yang lebih sepi, sehingga mereka bisa menghemat waktu.


Asep dan Kayla hanya diam, tidak ikut berkomentar. Mereka hanya berdoa dalam hati, semoga mobil yang membawa mereka ini segera berhenti. Tidak lama kemudian..


“Kak Barra… aku akan hentikan mobil ini di depan pintu kedatangan. Asep… kamu gantikan aku untuk menitipkan kunci mobil pada petugas airport..” sambil mengemudi, Aldo memberikan arahan.


“Okay… no problem.” Sahut Asep.


Beberapa saat kemudian, Aldo sudah menghentikan mobil yang dikendarainya. Seperti yang sudah diaturnya tadi, anak muda itu langsung keluar dari dalam mobil. Asep segera keluar juga dan menggantikan posisi anak muda itu. Barra tanpa bicara, langsung berlari masuk ke arah private area untuk penerbangan private. Kayla dan Aldo ikut berlari di belakang laki-laki itu.


“Stop it… tunjukkan ID card kalian. Tidak boleh sembarangan masuk…” terlihat ada dua petugas airport mencegat ketiga orang itu.


Barra segera mengambil dompet, dan mengeluarkan ID card kepemilikan private jet yang juga diparkirkan di dalam bandara tersebut. Melihat identitas tersebut,…


“Tuan Barra Xavier Gibran… mohon maaf kami tidak mengenali tuan..” melihat nama Barra, kedua petugas itu menjadi bersikap hormat.


Tanpa menjawab, Barra segera memasuki ruang tunggu penumpang. Kayla dan Aldo mengikuti di belakangnya. Namun Ketika sampai di ruang tunggu, Barra terhenyak. Tidak ada satu orangpun di ruang tunggu tersebut, selain petugas yang bertugas di area tersebut.


“Apakah Tuan akan melakukan penerbangan malam ini...?” petugas segera datang menghampiri ketiga orang itu dan bertanya kepadanya.

__ADS_1


***********


__ADS_2