Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 273 Healing Berdua


__ADS_3

Setelah dari rumah tante Ayun, Barra dan Gwen melanjutkan perjalanan menuju ke Panti Asuhan Hidayah. Sudah lumayan lama, mereka belum berkunjung ke panti asuhan tersebut. Jadi meskipun tidak mengajak ketiga putra putri mereka, Barra dan Gwen akan berkunjung ke panti asuhan tersebut. Pasangan suami istri itu memang ingin me time, sambil Kembali mengulang kenangan mereka di masa lalu. Terlihat Gwen seperti senyum senyum sendiri sepanjang perjalanan..


“Hempphh.., ada apa nih honey, sejak tadi menuju ke arah Sentul, aku lihat istriku yang cantik ini senyum senyum terus. Seperti teringat sesuatu yang indah di masa lalu..” melihat apa yang terjadi pada istrinya, sambil menyetir Barra menggoda perempuan itu.


“He.. he.. he.., hanya ingat kegilaan kala masih SMA saja kak. Dan belum juga kita berkenalan baik, kak Barra kala itu terus merecoki aktivitas Gwen. Sampai di sirkuit Sentul yang tadi kita lewati, kak Barra sampai hampir berkelahi dengan Aldo dan kawan-kawan..” Gwen menyampaikan hal apa yang membuatnya geli.


„Ha.. ha.. ha.., benar honey. Kala itu, aku like hero.., mencoba mengambil istriku dari cengkeraman penjahat. Dan lucunya, istriku saat itu tidak berpihak padaku, tetapi malah berpihak dan mendukung musuhku yaitu Aldo..” Barra tidak kalah seru. Laki-laki itu sampai tertawa terbahak, ketika teringat kejadian lebih dari lima tahun yang lalu itu.


„Maaflah pa... ingat saja, jika jaman itu adalah jaman Jahiliyah. Jaman dimana mommy masih terikat dengan kebebasan, dan fatamorgana kehidupan yang menyesatkan. Saat ini kan sudah berubah, papa dan mommy sudah menjadi keluarga yang Bahagia, ada Tareeq, Bareeq, dan juga Sheen yang melengkapi kebahagiaan kita..” Gwen tersenyum malu.


Sambil mengemudi, Barra tersenyum dan laki-laki itu memiringkan kepala ke kiri. Dan tidak lama kemudian, sebuah ciuman di pipi perempuan itu sudah diberikan oleh Barra. Bukannya marah atau menghindar, Gwen malah ikut memiringkan kepala, kemudian menyandarkan di bahu kiri suaminya.


‘Selamanya honey, tidak akan pernah aku biarkan ada orang lain yang berusaha untuk merecoki kehidupan kita. Aku akan membuat perhitungan dengannya..” sambil terus mengemudi, Barra bergumam.


Dalam hati, Gwen tersenyum sendiri. Ketika Kembali teringat tentang kata-kata Tante Ayun tentang suaminya, tiba-tiba Gwen menjadi panas. Dengan penuh keberanian, akhirnya..


“Kak Barra suami Gwen.., pinggirkan mobilnya sebentar.” Tiba-tiba muncul perintah dari bibir Gwen.

__ADS_1


Barra terkejut dengan kata-kata istrinya, namun laki-laki itu tidak bertanya apapun, melainkan segera menepikan mobil ke pinggir.


“Kak Barra.., papanya anak-anak, Kali ini mommy mengatakan, jika hanya kak Barra, laki-laki di dunia ini yang bisa mengambil dunia Gwen. I love you kak Barra... I love you papa..” setelah mengatakan ungkapan perasaanya, Gwen memegang kedua bahu laki-laki itu.


Tanpa permisi, Gwen segera memajukan wajahnya mendekati laki-laki itu, dan sebuah ciuman lembut tiba-tiba diberikan Gwen di bibir suaminya. Barra kaget, namun laki-laki itu tidak menghindar, malah membuka bibirnya sambil tersenyum dalam hati. Pagutan pasangan suami istri itu terjadi sangat lama, dan keduanya sangat menjiwai dan menikmatinya.  Sampai akhirnya…


“Honey.. kita mampir dulu di villa atau hotel sayang. Aku tidak bisa lagi menahannya, atau kita akan melakukannya di dalam mobil...” tiba-tiba suara serak Barra berbisik di telinga Gwen.


Perempuan itu kaget, namun tidak ada yang bisa dilakukannya. Berinteraksi dengan intim dan dekat dengan suaminya, tiba-tiba juga meningkatkan hormon kewanitaannya, dan menginginkan perlakuan lebih dari laki-laki itu. Sambil tersenyum malu, Gwen menganggukkan kepalanya.


Namun laki-laki itu sambil terus menggenggam tangan Gwen, segera membawa mobil meninggalkan tempat tersebut.


*************


Sampai mendekati sore hari Gwen dan Barra baru memutuskan untuk check out dari hotel. Gwen merasa malu pada dirinya sendiri, karena dengan mudah terbujuk rayu suaminya untuk sejenak melepaskan diri tanpa gangguan dari siapapun. Gwen terutama merasa bersalah dengan ketiga putra putri yang mereka tinggalkan sejak pagi.


“Honey… kenapa sejak keluar dari receptionis honey terus menundukkan kepala..?” Barra tersenyum melihat sikap istrinya, dan berbisik di telinga perempuan muda itu.

__ADS_1


“Hempphh… jujur pa.., mommy malu, Kita seperti pasangan yang tidak sah saja, hanya mampir beberapa jam ke hotel ini untuk melepaskan hasrat kita. Setelah terlepaskan, kita segera check out, sama persis dengan orang-orang yang menjalin hubungan terlarang..” Gwen berbisik sambil masih menundukkan kepalanya ke bawah.


“Ha.. ha.. ha…, honey ini lucu. Siapa yang berani untuk mentertawakan kita sayang. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Tidak ada yang salah denga napa yang kita lakukan sayang, kita ini pasangan sah. Dan memang, bagi pasangan yang sudah sekian lama menikah, perlu untuk memisahkan diri dari rutinitas sayang. Hal ini tidak buruk, namun untuk lebih memupuk rasa sayang dan cinta antar pasangan.” Bukannya ikut merasakan malu, Barra malah tertawa terbahak.


Sampai orang-orang yang kebetulan melintas di dekat mereka, melihat ke arah pasangan suami istri itu. Namun Barra benar-benar mengabaikannya. Laki-laki itu malah merengkuh bahu istrinya, dan mereka berjalan menuju ke mobil. Beberapa saat kemudian,


“Apa rencana kita selanjutnya mommy sayang...? Angkat wajah honey ke atas, kita sudah berada di dalam mobil, jadi tidak perlu lagi merasa malu bertemu dengan orang-orang..” sebelum menginjak pedal gas, Barra berhenti sejenak mengajak bicara istrinya.


Laki-laki itu menoleh ke samping, dan menggunakan ujung jarinya mengangkat wajah istrinya ke atas. Gwen masih memerah pipinya, namun perempuan itu sudah bisa melihat pada wajah suaminya.


“Kita pulang saja gimana pa…, karena anak-anak bertiga sendiri hanya dengan nanny dan ART. Mommy khawatir jika mereka mencari kita, dan terutama Sheen. Putri kita itu masih sering tantrum, terutama jika berada di tempat yang baru. Lain waktu saja kita luangkan waktu untuk ke panti asuhan Hidayah.” Berpikir tentang putra putrinya, Gwen akhirnya membatalkan kunjungan mereka ke panti asuhan.


“Baiklah honey sayang.., suamimu ini akan mengikuti apa yang honey inginkan. Besok pagi kita jadi untuk melakukan perjalanan ke Labuan Bajo, jadi kita tunda kunjungan ke panti sampai beberapa waktu. Tapi honey jangan khawatir, tadi malam papa sudah menghubungi dengan ibu pengelola panti, dan mengirimkan beberapa rupiah dari pendapatan kita untuk anak-anak yatim yang berada di panti itu.” Barra langsung menyetujui ajakan istrinya.


Perlahan laki-laki itu mulai menginjak pedal gas, dan perlahan mobil berjalan pergi meninggalkan hotel tempat mereka memadu kasih beberapa jam yang lalu. Gwen merendahkan kursi yang didudukinya, sehingga bisa sedikit meluruskan dan mengistirahatkan punggung dan pinggangnya beberapa saat.


***********

__ADS_1


__ADS_2