
Berkendara sendiri di jalan raya, tanpa sadar karena tidak ada tujuan, Gwen mengarahkan sepeda motor yang dikendarainya ke Java Horizon Ltd., perusahaan tempat bekerja suaminya. Tidak tahu kenapa, seharian berada di kampus tiba-tiba saja muncul keinginan gadis itu untuk menjumpai suaminya. Dengan santai, Gwen membawa motornya ke lobby perusahaan. Mungkin karena tidak tahu siapa yang datang, security perusahaan turun untuk mengingatkan gadis itu agar tidak memarkir kendaraan di lobby perusahaan.
“Mohon maaf… bisakah anda memindahkan sepeda motor di tempat parkir khusus motor..” dengan sopan, security mencoba mengingatkan Gwen,
Gadis itu tidak menjawab, malah turun dari motor kemudian melepas helm yang dikenakannya. Melihat siapa yang mengendarai motor tersebut, security kaget dan tidak percaya. Laki-laki itu sampai mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya
“Nona Gwen… apakah saya tidak salah melihat Non… Maafkan saya Non, yang sudah lancing memberi peringatan pada Nona..” security langsung terlihat pucat, dan minta maaf pada gadis itu.
“Tidak masalah pak, kamu benar menjalankan tugas sebagai front line. Nitip sebentar sepeda motor ini ya pak, saya akan naik ke atas, ke ruang kerja mas Barra…” Gwen menyerahkan helm dan kunci motor Ducati pada security tersebut.
“Baik Non… terima kasih atas pengertian dari Non Gwen…” security itu terlihat senang dengan respon baik dari istri boss besar di perusahaan itu.
Gwen tidak menjawab, gadis itu segera menuju ke pintu lift khusus untuk Direksi. Dengan gaya anak seusianya, Gwen menggendong back pack di belakang. Tanpa melihat ke kanan kiri, gadis itu langsung masuk ke dalam lift begitu pintu terbuka.
Tetapi tidak untuk lingkungan kerja yang dilewati oleh gadis itu. Bagian front office yang semula akan menegur Gwen, segera Kembali mundur setelah tahu siapa yang sebenarnya datang.
“Uppss… untung aku belum menegur Nona Muda perusahaan ini. Hampir saja aku bereaksi melihat gadis usia High Senior masuk ke perusahaan tanpa permisi. Setelah aku amati, ternyata istri Boss besar yang datang berkunjung ke perusahaan.” Petugas customer service berbicara pada rekan kerjanya.
“Sama… aku tadi juga akan terpancing nyolot, ketika Ducati nona besar masuk dan berhenti di depan pintu lobby. Untung saja, Nona segera melepas helm yang dikenakannya, jika tidak aku sudah tidak terkontrol memberinya teguran. Sumpah… meskipun tanpa make up terlihat, dengan style polosnya, nona terlihat sangat cantik sekali. Wajahnya putih bersih, natural, tidak ada bintik hitam sedikitpun.” rekan kerja itu juga menyoroti.
__ADS_1
“Bener banget, kita juga tidak mengira sama sekali, jika Daddy handsome perusahaan ini mendapatkan istri yang sangat imut. Jarang banget aku menemui ada gadis cantik seperti itu, mau mengendarai motor sendiri. Istri boss besar lagi, lebih pada milih foya-foya menghabiskan uang suami. Bahkan jika orang tidak tahu, pasti mengira jika gadis itu bukan istrinya, melainkan mengenalnya sebagai adik dari tuan Barra.” Customer service perusahaan menanggapi.
Petugas di customer service itu malah jadi membicarakan Gwen karena keunikannya. Sedangkan Gwen tidak tahu apa-apa, langsung naik ke atas menuju ruang kerja suaminya.
**********
Di depan ruang kerja
Sekretaris perusahaan menghampiri Gwen yang akan mendorong pintu ruang kerja Barra. Tapi untungnya perempuan itu segera mengenali siapa gadis yang ada di depannya, dan sekretaris perusahaan itu tersenyum dan bersikap hormat pada gadis itu.
“Mohon maaf Nona.. saya pikir ada tamu yang tanpa ijin akan masuk ke ruang kerja tuan Barra. Ternyata nona Gwen..” sekretaris itu menundukkan wajahnya.
Barra tidak menyadari jika saat ini istrinya sudah ada di depannya. Laki-laki itu masih focus mengamati pergerakan harga saham. Sambil senyum-senyum, Gwen berjalan dan tidak membuat suara. Sampai gadis itu berada di belakang laki-laki itu, Barra belum menyadari jika istrinya sudah ada di belakangnya.
“Hemmphh… serius sekali tuan Barra, apakah kedatangan Gwen kali ini mengganggu kemerdekaan kak Barra..” Gwen memeluk laki-laki itu dari belakang, dan dagunya diletakkan di Pundak suaminya.
Barra kaget, dan ketika tahu jika istrinya saat ini sedang mengganggunya, dengan satu tangannya, Barra menarik gadis itu ke pangkuannya. Posisi Gwen yang semula berada di belakang laki-laki itu, kali ini berada di pangkuan Barra, dan tidak mampu untuk melepaskan dirinya.
“Ampun kak Barra… lepaskan Gwen kak...” Gwen berteriak, karena Barra tidak mau melepaskan kesempatan itu. Bibir laki-laki itu seperti menemukan mangsanya, dengan cepat mengabsen pipi dan bibir gadis itu.
__ADS_1
“Ini hukuman karena sudah mengejutkanku honey... tapi jujur aku suka. Aku menyukainya sayang, dan kerjaku menjadi lebih bersemangat jika ditemani gadis cantik seperti ini..’ ucap Barra tidak mau melepaskan pelukannya pada istrinya. Tidak lama kemudian, dengan kedua tangannya, Barra mengangkat tubuh Gwen kemudian mendudukkan istrinya di atas meja. Keduanya jadi berhadap-hadapan, dan Barra memegangi kedua tangan Gwen,
Tatapan Barra tidak beralih dari mata jernih istrinya, dan laki-laki itu seperti tidak percaya dengan yang dilihatnya kali ini. Gadis yang pada awal mereka menikah, selalu mengacuhkan dan berperilaku sinis padanya. Tapi kali ini, tanpa diminta sudah datang ke perusahaan dengan aksen manis seperti itu.
“Ada apa sih kak…, kok melihati Gwen seperti ini. Kan Gwen jadi ga enak body..” pipi Gwen mulai memerah, tidak tahu sebabnya tiba-tiba gadis itu merasa malu dilihati suaminya seperti itu. Gadis itu menutup wajah dengan menggunakan kedua tangannya, dan hal itu malah terlihat imut di mata suaminya.
„Kamu sangat cantik hari ini sayang… jauh lebih cantik dari biasanya.” Tanpa berkedip, Barra berbicara lirih.
„Aaah... kak Barra ini kenapa sih, masak sejak tadi melihati Gwen seperti ini. Malu ah, tahu kayak gini, tadi Gwen ga nyusul ke perusahaan.” Gwen memprotes apa yang dilakukan Barra.
Barra tidak menjawab, masih dengan mengulum senyum laki-laki itu berdiri. Tanpa kata, dan tanpa permisi, Barra tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya dan membawanya melangkah. Gwen yang tidak siap, langsung mengalungkan kedua tangan di leher suaminya.
“Gwen mau dibawa kemana ini kak...” Gwen berteriak.
„Tenanglah honey... tidak masalah bukan, jika sekali sekali kita melakukan percintaan di kantor. Tiba-tiba aku hor**ny honey...” Barra berbisik di telinga istrinya.
Wajah Gwen semakin memerah, gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Sambil senyum-senyum, Barra membuka pintu kamar yang terkoneksi dengan ruang kerjanya. Untuk mengantisipasi ada orang lain masuk, laki-laki itu segera mengunci pintu kamar dari dalam. Selanjutnya apa yang terjadi di dalam, hanya pasangan suami istri itu yang tahu.
**********
__ADS_1