Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 207 Bermalam di Villa


__ADS_3

Malam harinya…


Suasana di area outdoor yang berada di dekat swimming pool tampak gemerlap.. Aroma daging panggang, tercium harum oleh indera penciuman. Barra memang memberikan kejutan pada istrinya, dengan mengadakan pesta barbeque tanpa mengatakan apapun, Tujuan utama Gwen ke villa ini, hanya untuk menyambut Novi dan suaminya Frans, dan juga mengundang Asep serta Aldo sebagai teman SMA mereka. Tetapi ternyata, Barra dengan cepat menambahkan konsep untuk merilekskan pikiran mereka.


“Terima kasih sayang… Gwen tidak mengira, jika rencana sederhana untuk menjamu Novi dan suaminya, berubah menjadi segemerlap ini..” untuk mengapresiasi perlakuan suaminya, tanpa ragu Gwen memberikan pujian atas kerja kerasa dari Barra,


Laki-laki itu tersenyum, kemudian meraih tangan istrinya, dan mencium jari jemari perempuan muda itu. Tareq dan Bareeq kebetulan sedang bersama dengan aunty Kayla, mereka sedang menikmati steak di dekat kolam renang.


“Ini hanyalah sesuatu yang kecil honey.., tidak perlu untuk terlalu menganggap hal ini berharga. Kebahagiaan istri dan putraku, akan menjadi tujuan utama dalam hidupku honey… Trust me..!” dengan mata berkilat, laki-laki itu berbisik.


“Jangan membuat hati Gwen meleleh kak… Gwen betul-betul terharu dengan sikap kak Barra selama ini… Baru akhir-akhir ini Gwen menyadari, jika suami Gwen memang betul-betul menyayangiku..” tatapan mata gadis itu sudah penuh dengan air mata haru..


“I love you honey… forever.. Semua akan aku lakukan untuk membahagiakanmu.., jangan pernah meragukan suamimu ini..” Barra berbisik di telinga istrinya, dan tiba-tiba tanpa mempedulikan tempat, laki-laki itu mencium bibir istrinya dengan lembut.


Pasangan suami istri itu seperti terlena, dan tanpa sadar Gwen juga membuka bibirnya, sehingga suami istri itu saling berpagut. Teman-teman Gwen hanya bisa menghela nafas dan saling berpandangan, tidak berani berkomentar atas tindakan intim dari kedua orang itu.


“Frans… lihatlah Gwen dan suaminya… Meskipun hal itu mungkin tabu dalam beberapa tempat, tetapi perempuan manapun akan meleleh mendapatkan perlakuan seperti itu.. Akupun ingin juga merasakannya..” tiba-tiba Novi yang sejak tadi sedang berbicara dengan Aldo, tiba-tiba menoleh dan mengajak bicara suaminya.


“Apakah maksudmu Novi… kamu ingin aku melakukan padamu, seperti yang dilakukan oleh suami Gwen…?” Frans menatap tidak percaya.


“Why not… aku menginginkannya..” dengan lugas, Novi menjawab keraguan yang ditunjukkan suaminya,

__ADS_1


Tanpa bicara, Frans langsung memiringkan kepala ke arah istrinya, dan seperti Barra, dengan tidak tahu malu, laki-laki itu juga memberikan ciuman yang hebat pada istrinya yang sedang mengandung,


Kayla langsung tanggap, gadis itu segera menutup mata Tareeq dan Bareeq, kemudian berdiri dan mengajak bocah kembar itu untuk masuk ke dalam. Aldo tidak mau ketinggalan, laki-laki muda itu kemudian bergegas meninggalkan Novi dan mengikuti istrinya masuk ke dalam ruang tengah,


Asep yang sedang membantu maid mengangkat minuman ke luar ruangan terkejut, melihat dua pasangan suami istri yang tampak sedang bermesraan. Laki-laki muda itu hanya geleng-geleng kepala, melihat sikap tidak tahu mereka.


“Uhuk… kenapa tiba-tiba mataku seperti kena debu ya, agak kelilipan sepertinya..” suara keras Asep mengagetkan Novi dan Frans. Pasangan suami istri itu melihat kea rah Asep dengan senyum malu, tetapi tidak dengan Barra dan Gwen. Suami Gwen seakan tidak peduli beradegan mesra, meskipun dilihat oleh Asep.


“Kenapa Asep… maaf ya, tempat ini betul-betul eksotis dan sangat romantic. Tanpa sadar, melihat lautan Baltic dengan kerlap kerlip lampu kapal di bawah sana, kita menjadi terlena..” Novi menjelaskan pada Asep.


“Hempphhh…, santai saja Nov… Tapi yah, paling tidak lihat kanan kiri deh… kan aku jadi pingin. Padahal Cynthia masih di dalam kamar, sejak tadi tidak keluar-keluar” ucap Asep malah curcol.


“Okay… okay.., ayo kita segera nikmati semua hidangan ini.. “ Gwen yang sudah berhasil melepaskan diri dari suaminya, bergabung ke meja Asep,


**********


Hampir tengah malam, Aldo, Novi, Asep masih mengobrol. Gwen sudah terkantuk-kantuk di sofa yang ada di ruang tengah, karena masih menunggui  mereka. Gadis itu merasa tidak enak, akan meninggalkan para tamunya sendiri, padahal Barra sudah beberapa kali mengajaknya masuk ke dalam kamar.


“Lalu usaha apa yang sekarang kamu jalankan di kota Bandung Nov…?” terdengar Asep bertanya pada Novi.


“Aku membuka toko oleh-oleh di pusat kota Sep.., sudah ada lima cabang. Mampirlah, jika kalian ada kesempatan mengunjungi kota Bandung.. Sedangkan suamiku Frans.., masih bekerja sebagai ekspatriat pada perusahaan ekspor impor.. Belum pede untuk bangun usaha sendiri..” sahut Novi sambil mengusap rahang suaminya,

__ADS_1


“Woww… malah bagus begitu Nov.., tidak dua duanya jadi orang kantoran, atau jadi pengusaha dua-duanya. Jadi bisa saling melengkapi.. Aku sendiri sebenarnya punya rencana untuk Kembali ke kota Bogor, tapi bingung juga, apa semudah itu aku akan bisa mendapatkan pekerjaan di kota itu.. Untuk membangun usaha sendiri, kamu tahu sendiri bukan, bagaimana kemampuan keuanganku..” Asep tersenyum masam.


“Tapi yah… untunglah Aldo dan Om Firman, banyak membantuku. Aldo juga menempatkan diriku sebagai asisten pribadinya di perusahaannya, yang ada di kota ini..” lanjut Asep.


Aldo diam saja tidak ikut berkomentar, karena tidak mau menyinggung perasaan Asep, yang sudah dianggap selayaknya saudara sendiri. Keberadaan laki-laki itu di perusahaannya, sudah seperti tangan kanannya, dan sering Asep juga mewakilinya dalam pengambilan keputusan penting dalam perusahaannya.


“Bagaimanapun keadaannya Asep…, kita harus banyak bersyukur.. Oh ya.., by the way, kita bisa nih, kapan-kapan mengadakan temu alumni. Kita buat banner, dan kita share di grup kelas kita. Pasti seru nih..” tiba-tiba Novi membuat usulan,


“Boleh juga Nov… tapi ya ingat. Plan nya sematang mungkin, dan yang pasti jangan mendadak. Tahu sendiri kan posisi kita di negara ini, dan banyak yang harus kami persiapkan jika kita pergi untuk waktu yang lama..” Aldo menyahuti ide yang disampaikan Novi.


“Pastilah Ald… aku juga tahu kali.. Yang penting, karena kalian bertiga, tinggal di negara yang paling jauh dari Indonesia, sudah sepakat dulu. Barulah nanti yang lain kita kabar kabari..” lanjut Novi.


Asep tidak ikut berkomentar, tapi kedua ibu jari tangan laki-laki itu diacungkan ke atas.. Beberapa saat mereka berbincang, tiba-tiba muncul Barra berjalan ke ruangan itu..


“Honey… sudah malam, ayuklah istirahat dulu. Masih ada besok pagi dan siang,  bisa kalian lanjutkan ngobrolnya,.” Ternyata laki-laki itu menjemput istrinya Gwen.


Melihat hal itu, Asep dan Novi menjadi tidak enak. Keduanya kemudian juga berdiri…


“Oh iya.. kita istirahat dulu yukk... Sejak tadi kita ngobrol, sampai tidak sadar sudah jam 24.00 p.m ke atas. Good night Gwen.., Aldo.., Asep..” Novi berpamitan lebih dulu.


„Okay... good night teman-teman, sweet dream..” akhirnya Gwen segera mengikuti suaminya, berjalan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


*********


__ADS_2