
Kakek Atmadja tersenyum, kemudian laki-laki tua itu terbatuk sebagai isyarat agar kedua orang itu menghentikan adegan romantis itu. Sambil menegakkan kembali tubuh istrinya, Barra melihat dan memperhatikan ke arah kakek mertuanya itu. Akhirnya Gwen juga melakukan hal yang sama, dan karena gadis itu masih terlihat belum bisa menguasai dirinya kembali, tangan Barra masih memegangi punggungnya.
"Gwen... apakah kamu sudah bisa memahami dan berusaha untuk menerimanya sayang... Tetapi kapanpun saat itu datang, kamu harus mempersiapkan hatimu, dan kakek sangat yakin, suamimu Barra akan bisa menggantikan peran kakek terhadapmu..." dengan nada bicara pelan, kakek Atmadja melanjutkan kata-katanya.
Gadis itu terdiam, tidak mau menatap ke wajah kakeknya. Tetapi sepertinya Atmadja sudah tidak memperhatikannya lagi.
"Nak Barra... ada sesuatu yang harus kakek urus dengan Andrew di Jerman.. Jadi.. besok pagi, kakek berencana untuk terbang ke Jerman dengan private jet, dan bertemu dengan Andrew di Singapura.." laki-laki tua itu akhirnya menyampaikan hal-hal yang ingin diucapkannya,
"Hemmph... iyakah kek.., tapi.." Barra yang juga berencana untuk pergi ke Finlandia untuk mengurus perusahaannya, terdiam dan tidak melanjutkan kata-kata.
Untungnya kakek Atmadja menyadari apa yang akan dikatakan oleh cucu menantunya itu, kemudian laki-laki tua itu menatap ke arah laki-laki muda itu.. Sedangkan Gwen masih dengan kesedihannya, dan tidak memperhatikan reaksi suami atas kata-kata pada kakeknya.
"Lanjutkan kalimatmu Barra.. tidak apa, daripada kamu pendam sendiri. Malah semuanya bisa berakhir menjadi kacau.." akhirnya kakek Barra mempersilakan laki-laki muda itu untuk melanjutkan ceritanya.
Barra menoleh memperhatikan istrinya, dan ketika melihat Gwen sudah melihat fokus pada kakeknya, dan air mata sudah berhenti menetes, akhirnya...
"Kebetulan kakek.., perusahaan Barra di Finlandia membutuhkan kedatangan Barra secepatnya di perusahaan. Ada sesuatu hal terkait legalitas, yang membutuhkan tanda tangan basah, dan juga butuh kedatangan Barra untuk bertemu dengan collega. menurut rencana, besok pagi Barra juga akan berangkat dengan private jet.." Gwen menoleh ke arah suaminya, tetapi sedikitpun tidak ada pernyataan yang keluar dari bibir gadis itu.
Kakek Atmadja terdiam, laki-laki tua itu terlihat seperti mempertimbangkan sesuatu. Kemudian..
__ADS_1
"Kamu bisa membawa Gwen ke Finlandia nak Barra... Passport dan visa Gwen di negara Eropa selalu kita perbarui, jadi tidak ada masalah jika kamu membawa istrimu untuk pergi ke negara itu. Bukankah demikian Gwen, kamu mau bukan ikut dengan suamimu Barra ke Finlandia..." memikirkan jika cucunya akan kesepian jika hanya sendiri di kota itu, kakek Atmadja memberikan jalan keluar.
"Mmmph... tapi kek, apakah kakek lupa jika Gwen punya tanggung jawab untuk sekolah. Tidak kek, Gwen di Bogor saja sendiri, bukankan dulu kakek dan Om Andrew juga sering ke luar negeri, dan meninggalkan Gwen sendiri. Kenapa sekarang hal itu sekarang menjadi masalah kek..." Gwen terlihat tidak setuju dengan usul yang disampaikan oleh laki-laki tua itu.
"Sekolah gampang Gwen.., kamu bisa kan melanjutkan sekolahmu di Finlandia. Nanti kakek akan meminta orang untuk mengurusnya, yang terpenting adalah kamu harus membiasakan diri untuk mendampingi suami. Karena itulah hal yang paling baik." Atmadja tetap keukeuh.
"Kakek.., mungkin kita juga bisa membenarkan Gwen kek... Saat ini kebetulan Gwen sudah berada di klas XII, dan sebentar lagi masa kelulusan akan tiba. Biarlah Gwen menyelesaikan dulu sekolahnya di negara ini, baru nanti melanjutkan kuliah di Finlandia. Sepertinya itu malah menjadi lebih baik.. bukankah begitu honey..." Barra berusaha menengahi, karena melihat ekspresi buruk di wajah istrinya, ketika kakek Atmadja menyampaikan pendapatnya.
Laki-laki tua itu terdiam sebentar mendengar penjelasan dari suami cucunya, tetapi akhirnya...
"Ya sudah, jika kalian berdua mau menerimanya. Tetapi Gwen... ketika kakek dan suamimu tidak ada di Bogior, kamu harus tahu bagaimana harus bersikap. Ingat statusmu adalah sebagai seorang istri, kamu harus dapat menjaganya dengan baik..." Atmadja kembali menasehati cucunya.
Keesokan Paginya
Sesuai dengan kesepakatan bersama, di malam hari antara mereka bertiga, akhirnya kakek Atmadja dan Barra, berangkat menuju bandara Halim Perdana Kusumah berdua. Gwen tidak ikut mengantarkan suami maupun kakeknya, karena gadis itu harus segera bersiap untuk datang ke sekolah. Apalagi kemarin siang, dirinya sudah melarikan diri dari sekolah, dan tidak kembali lagi. Tidak mau menambah lagi, daftar keburukan tingkah lakunya, pagi ini Gwen bersiap untuk pergi ke sekolah.
"Non Gwen... Bik Surti siapkan bekal untuk non bawa ke sekolah. Sandwich tuna, dan burger bisa untuk mengganjal perut non di sekolah.." seperti seorang ibu, bibi Surti memberi tahu Gwen yang sedang menyelesaikan sarapannya. Gadis itu mengambil cangkir, kemudian minum beberapa teguk dan meletakkan kembali cangkir ke atas meja.
"Terima kasih Bik.. nanti Gwen ambilnya. Kebetulan Gwen juga sudah selesai makan paginya, mau segera berangkat ke sekolah.." merasa sepi, setelah beberapa hari ada Barra dan juga kakek di rumah, tetapi kali ini hanya sendiri di rumah, Gwen merasa kesepian.
__ADS_1
Padahal sebelum dirinya menikah, gadis itu juga sudah terbiasa sendiri ketika Om Andrew dan kakek Atmadja sedang tidak ada di Bogor. Namun.. setelah beberapa hari, memiliki teman di rumah, tiba-tiba saja gadis itu merasa sepi.
"Baik non... hati-hati ya..." perempuan paruh baya itu tersenyum melihat majikannya, dan menyerahkan lunch box dan tumbler ke gadis itu.
"Gwen berangkat ya Bik.." setelah mengambil bekal yang disiapkan perempuan itu, Gwen segera bergegas mengambil back pack yang ada di atas meja di ruang tengah.
Tidak ada kakeknya, Gwen merasa bebas bisa membawa motor untuk pergi ke sekolah. Biasanya jika gadis itu akan membawa Ducati nya, pasti laki-laki itu akan meributkannya. Sambil membawa kunci motor, Gwen segera mendatangi motor yang sudah disiapkan penjaga rumah di halaman rumah.
"Hati-hati ya non... jangan ngebut-ngebut ke sekolahnya..." Bibik Surti mengikuti Gwen sampai di halaman, dan perempuan itu berpesan seperti orang tua menasehati putrinya.
Gwen hanya diam, kemudian tersenyum dan mengacungkan ibu jari ke arah pembantunya itu. Tidak lama kemudian, Gwen sudah mengambil helm KYT dengan kaca menutup wajahnya. Setelah menyalakan mesin motor, tidak lama kemudian gadis itu sudah meluncur keluar dari halaman rumah. Penjaga dan Bik Surti melihat majikan mereka sambil menghela nafas.
"Non Gwen itu tidak pernah menggunakan fasilitas, apalagi jika tidak ada tuan besar... Lebih suka mengendarai motor sendiri kemana-mana.." perempuan paruh baya itu berkomentar tentang majikan mudanya itu,
"Iya.. saya sampai menganggur Bik.,. jika tidak ada tuan besar di rumah. Tuan Andrew juga tidak pernah saya antarkan kemana-mana. terkadang saya itu malah tidak enak, karena menganggur di rumah ini, namun tetap dibayar oleh keluarga ini." pak Rahman sopir keluarga menimpali.
"Abaikan pikiranmu Rahman... semua sudah menjadi nasib kita masing-masing. Meskipun kamu jarang menyopir, tapi kerjaanmu juga banyak, karena sering mengantarkan kami para pembantu untuk belanja keperluan rumah tangga. Juga kamu sering membantu penjaga bukan..." agar sopir keluarga itu merasa nyaman, Bibik Surti menyebutkan kebaikannya.
********
__ADS_1