Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 85 Surprise Kelulusan


__ADS_3

Helsinki, Finlandia


Dengan wajah cerah, Gwen berkali-kali melihat surat tanda kelulusan dari The Intercultural School. Dengan ditemani driver dan pengawal suaminya, gadis itu baru saja kembali dari Embassy, untuk menerima secara ceremony surat tanda kelulusannya. Keuntungan orang memiliki kuasa dan uang, salah satunya bisa mengatur segalanya sesuai dengan keinginan sendiri. Gwen yang ingin merayakan kelulusan di Indonesia bersama dengan teman-temannya yang lain, harus bisa rela menerima kenyataan karena suaminya membawa dirinya ke Finlandia.


“Apakah ada tempat yang ingin non Gwen datangi lebih dulu nona… sebelum kita meluncur menuju rumah.” Pengawal yang duduk di kursi depan, di samping driver bertanya pada gadis itu.


“Tidak pak.. langsung antarkan aku pulang saja. Percuma keluar rumah hanya sendiri, aku belum memiliki teman satupun di negara ini..” Gwen tersenyum kecut, dan menyadari jika hidupnya terasa berada dalam kungkungan suaminya, Tetapi gadis itu bisa memaklumi keadaan, mengingat memang baru beberapa hari dirinya berada di negara ini.


Barra suaminya belum memberinya ijin untuk keluar tanpa tujuan, tanpa pengawalan. Hal itu untuk menjaga keamanan istrinya yang belum begitu hafal dan mengenal kota Helsinki. Akhirnya hari-hari dilalui gadis itu dengan bermain game, berenang atau membuat kesibukan-kesibukan kecil di rumah. Barra sendiri selalu disibukkan dengan aktivitas bekerjanya, dan jarang memiliki waktu untuk membersamai istrinya.


“Baik non.. kita akan langsung meluncur ke rumah…” pengawal segera memberi isyarat pada driver yang duduk di sampingnya. Tidak berapa lama, mobil itu meluncur menuju ke arah rumah mereka,


Mobil mulai menaiki jalanan menanjak menuju ke rumah bergaya Scandinavian modern. Sepanjang perjalanan, mata Gwen dimanjakan oleh pemandangan yang sangat indah. Berada dalam perjalanan merupakan favorit bagi Gwen, karena melihat view alam merupakan salah satu kesenangannya. Lautan, bangunan rumah yang menjulang terlihat jelas dari jalanan yang dilaluinya. Tidak lama kemudian mobil sudah memasuki gerbang rumah Barra,


“Hempph.. aku akhirnya akan berhadapan dengan kenyataan, jika aku hidup sendiri di rumah itu. Kehidupan jauh berbeda, berubah 180 derajat dari kehidupanku di kota Bogor yang banyak dikelilingi oleh orang banyak.” Sebelum turun Gwen bergumam sendiri sambil tersenyum pahit.


Gwen tampak enggan turun dari dalam mobil, dan sampai pengawal membukakan pintu mobil untuknya, gadis itu masih duduk manis di dalam mobil tersebut,


„Sudah sampai di rumah nona Gwen… Nona bisa segera turun, dan mobil akan segera diparkirkan di garasi..” dengan sikap sopan dan hormat, terlihat pengawal mengajak Gwen berbicara.

__ADS_1


“Iya pak… by the way mobil siapa itu di depan teras…?? Apakah itu mobil kak Barra baru..?” tiba-tiba pandangan Gwen tertuju pada mobil mewah dengan type SUV dengan merek Mercedes berada di depannya.


“Mohon maaf Non Gwen… saya tidak bisa menjelaskan karena ketidak tahuan saya. Mungkin saja tuan Barra menyiapkan mobil SUV, mengingat sudah tambah anggota keluarga baru di rumah ini..” pengawal tersenyum malu, karena tidak dapat menjawab pertanyaan dari nonanya,


“Sudahlah…, aku akan mencari tahu sendiri..” Gwen segera bergeser lebih mendekat ke arah pintu, dan perlahan gadis itu menurunkan kakinya ke bawah.


Pengawal akan membantu Gwen dengan menawarkan diri untuk membantu membawa barang bawaan majikannya itu. Namun… karena merasa hanya membawa ijazah dan tanda kelulusan lainnya, gadis itu menolak bantuan tersebut, Perlahan gadis itu berjalan menuju ke pintu utama rumah tersebut.


**********


Di dalam ruang tengah


Terlihat maid menyiapkan hiasan, dan sebuah roti tinggi sudah disiapkan di meja yang ada di dalam ruangan tersebut, Kakek Atmadja, Andrew, Barra, tuan Chandra dan istrinya, dan seorang gadis cantik tampak duduk manis dalam ruangan itu. Melihat pengawal memberikan isyarat pada mereka, orang-orang itu saling berpandangan, dan mereka mulai diam tidak berkata-kata.


„Baik ma..., Andrew jangan lupa bawa confetinya untuk memberikan kejutan pada istriku..” Barra berbisik pada sahabatnya itu.


Di tangan laki-laki itu sendiri sudah memegang tabung kecil panjang dari PVC. Confeti merupakan beragam potongan kertas, milar atau bahan logam yang biasanya dilemparkan pada parade dan pesta, terutama pernikahan. Confetti dibuat dalam berbagai warna, dan confetti tersedia secara komersial tersedia dalam bentuk imajinatif.


“Siap Barra.. kamu bergeserlah ke sebelah kanan, aku berdiri disini saja.” Andrew memberi isyarat.

__ADS_1


Kedua anak muda itu segera menempatkan diri pada posisinya masing. Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki yang tampak tidak bersemangat mulai masuk melalui pintu utama.


“Satu… dua.. tiga…. Tet.., tet…, tet…” confetti yang ditembakkan oleh kedua laki-laki dewasa itu, tampak menyemburkan potongan hiasan kecil-kecil dalam berbagai warna. Perempuan cantik yang bernama Kayla turut memeriahkan suasana dengan meniup terompet di belakang kedua laki-laki itu.


“Hey... apa-apaan ini, apakah ada perayaan di rumah ini..” Gwen yang baru saja melangkahkan kaki merasa terkejut, Ketika potongan hiasan kecil-kecil beterbangan di atas kepala dan depan wajahnya. Namun belum habis keterkejutannya, Barra sudah mendekat kepadanya dan memberikan pelukan erat pada dirinya. Gwen tidak bisa berkata apa-apa, selain mengikuti alur tersebut.


“Congratulation honey… kamu sudah lulus High School juga akhirnya…” Barra memberi ucapan selamat pada istrinya.


“Mmmmppph… terima kasih kak Barra...” dengan mata berkaca-kaca, Gwen mengedarkan pandangan. Dalam hatinya ada kebahagiaan yang melingkupinya melihat keberadaan Om Andrew dan kakek Atmadja, tanpa mengabaikan keberadaan papa dan mama mertua, serta adik iparnya.


„Om Andrew... terima kasih Om... Gwen yakin, Om Andrew pasti tidak akan pernah meninggalkan Gwen sendiri..” Gwen berlari menghampiri Andrew, dan keduanya langsung berpelukan, Gwen tidak bisa menguasai perasaannya. Tanpa sadar gadis itu terisak dalam pelukan pamannya. Barra hanya tersenyum pahit, merasa belum bisa memiliki hati seutuhnya  dari gadis itu.


“Kenapa cucu kesayangan kakek meneteskan air mata… hapus air matamu Gwen. Ini adalah perayaan atas prestasi yang berhasil kamu raih di Olimpiade, juga untuk apresiasi kelulusanmu dari The Intercultural School dengan predikat Excellence…” tiba-tiba kakek Atmadja menarik Gwen dalam pelukannya,


Tuan Candra dan istri serta putrinya ikut merasa terharu melihat air mata keluarga baru mereka, yang seakan tidak ada habisnya. Beberapa saat kemudian..


“Honey… ini mamaku sayang, yang juga berarti mamamu juga...” Barra mengenalkan Gwen pada mamanya, Perempuan paruh baya itu tersenyum dan memeluk gadis itu,


„Maafkan Gwen ma.. yang belum bisa mengenal mama.” Dengan sikap hormat pada orang tua, Gwen memeluk balik mama mertuanya, dan juga tidak lupa punggung tangan perempuan itu juga diciumnya,

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan bergantian memberikan ucapan selamat atas pencapaian yang didapatkan oleh Gwen. Dalam hati, gadis itu merasa terharu mendapatkan kejutan yang sangat membahagiakan hatinya.


**********


__ADS_2