Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 183 Meluapkan Kerinduan


__ADS_3

University of Helsinki


Asep bergegas menuju ke tempat yang biasa digunakan Cynthia dan Hans berkumpul. Anak muda itu tidak sabar menunggu kedatangan Aldo, yang masih mengantarkan Kayla menyerahkan proposal penelitian ke dosen pembimbing. Gadis itu memang akhirnya pindah ke University of Helsinki, begitu menjalin hubungan dengan Aldo.


“Cynthia… tunggu..” melihat gadis yang akan ditemui sedang berjalan, Asep berteriak menahan gadis tersebut.


Gadis itu berhenti dan menoleh ke belakang. Hans yang ada disamping Cynthia ikut berhenti, dan menunggu sampai Asep tiba.


“Ada apa Asep… kamu terlihat tergesa. Ada urusankah denganku..?” begitu Asep datang, Cynthia langsung melakukan konfirmasi.


„Mau nanya saja sih... siapa kamu mengetahuinya. Jadi barusan aku lihat pengumuman di Bagian Akademik, tentang daftar wisudawan untuk periode Juli ini. Aku sampai melihat beberapa kali, karena menemukan ada nama Gwen Alvaretta dalam daftar wisudawan tersebut. Apakah kamu tahu informasi Cynt..?” Asep menceritakan informasi yang dibacanya pada gadis itu.


Cynthia terdiam, gadis itu seperti menimbang-nimbang sesuatu. Hans juga ikut diam, dan malah terlihat mengalihkan pandangan ke tempat lain. Mereka berdua seperti menyembunyikan sesuatu…


“Laaahhh… ini aku bertanya, kenapa kalian berdua malah mengabaikanku. Cynthia... sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku. Aku dan Aldo datang ke Helsinki, karena magnet dari Gwen Alvaretta. Kepergian gadis itu selama ini, masih membuat kami bertahan. Bahkan sampai Aldo menjalankan perusahaan di kota ini… “ Asep seperti sudah habis kesabaran.


“Asep… jangan bertindak kasar pada Cynthia… kami tidak tahu informasi apapun tentang Gwen. Jangan paksa kami..” Hans bereaksi, mendengar nada keras kata-kata Asep.


„Sudahlah Hans... pergilah dulu. Aku akan mengajak Asep untuk bicara.. Karena sebenarnya Asep dan Aldo berhak untuk tahu hal ini, kita tidak perlu menjelaskannya.” Cynthia berusaha menenangkan Hans.


„Hempphh... okay Cynt... jika itu maumu. Aku akan menunggumu di food court.” Hans bergegas meninggalkan dua anak muda itu.

__ADS_1


Cynthia dan Asep menatap Hans yang pergi meninggalkan mereka. Tidak diduga, Asep meraih tangan gadis itu, kemudian menariknya dan mengajak gadis itu duduk di kursi Panjang yang ada di bawah pohon. Setelah kedua orang itu duduk…


“Please Cynth… aku mohon. Ceritakan padaku…?” Asep berusaha meminta Kembali penjelasan.


Gadis itu mengambil nafas panjang, kemudian…


“Baiklah Asep, kamu memang berhak untuk tahu. Sebenarnya selama ini, meskipun tidak ada di kampus, Gwen memiliki ijin khusus yang diurus Om nya. Jadi Gwen tetap melanjutkan studi dengan metode Daring, dan dalam penugasan khusus. Tetapi untuk ceremony akhir, dan  konfirmasi hasil penelitian serta project, gadis itu harus tetap datang ke kampus..” akhirnya perlahan Cynthia memang menjelaskan. Gadis itu terdiam sebentar..


“Jika tidak salah prediksi, dalam minggu ini harusnya Gwen sudah berada di Helsinki. Hanya saja, gadis itu merahasiakan keberadaannya, dan baru akan muncul di kampus pada saat pembekalan dari pihak department..” lanjut gadis itu.


Asep mengambil nafas lega…, laki-laki itu tidak menyela pembicaraan gadis yang duduk di sampingnya. Meskipun sedikit kecewa dengan sikap Gwen yang kini mengabaikan dirinya dan Aldo, namun Asep menghormati gadis itu. Mungkin ada alasan tersendiri sampai Gwen pergi meninggalkan suaminya untuk sekian lama, dan juga terkesan menutup interaksi dengan teman-temannya.


“Baiklah Cynt… maaf ya aku sudah terlalu impulsive padamu. Akan kemana tadi rencanamu, ke food court ya. Jika ke tempat itu, aku akan menemanimu sekalian makan siang..” akhirnya Asep dan Cynthia berjalan bersama menuju ke food court.


********


Mata Gwen hampir tidak berkedip melihat rekaman CCTV yang sedang diputar. Meskipun beberapa rekaman terlihat blur, dan tidak jelas, namun gadis itu bisa mengetahui siapa yang berada di dalam rekaman tersebut. Beberapa saat kemudian, perasaan campur aduk menghampiri gadis itu. Perasaan amarah, jengkel terhadap sikap Andy yang telah berkhianat dengan saudara sepupunya sendiri. Dan juga rasa malu, karena tidak mencari kejelasan masalah tersebut dan dibawa Om  nya pergi meninggalkan Helsinki.


“Bagaimana perasaanmu honey…” dengan suara lembut, setelah rekaman CCTV selesai diputar, Barra bertanya pada istrinya.


Gwen tidak mampu mengeluarkan suara, dengan mata berlinang gadis itu menatap suaminya dengan penuh permintaan maaf. Barra tidak bereaksi apapun, laki-laki itu hanya menatap balik mata istrinya. Perlahan jari tangan Barra terangkat, dan menyentuh dagu gadis itu. Tidak lama kemudian, entah siapa yang memulai, dua bibir itu sudah saling memagut. Keduanya berusaha mengobati kerinduan, karena bertahun-tahun terpisahkan.

__ADS_1


“Maafkan Gwen kak…” tak kuasa Gwen berusaha untuk memberi tanggapan pada kejadian empat tahun yang lalu itu.


“Tidak perlu diingat-ingat lagi honey… aku paham semuanya. Kita songsong hari ke depan honey…” Barra mengusap punggung istrinya ke kanan dan ke bawah. Tidak lama kemudian, laki-laki itu sudah Kembali memberi ciuman di bibir istrinya. Ciuman itu sangat lama, lidah mereka saling membelit. Tidak ada kata-kata lagi yang terucap dari bibir mereka, sampai...


“Mmmmppphh… hentikan kak. Gwen tidak bisa bernafas…” dengan lembut kedua tangan Gwen mendorong dada suaminya, karena ganasnya ciuman itu membuat Gwen tidak bisa bernafas.


“Canduku sudah kembali.. aku tidak bisa melepaskanmu lagi honey... I love you.. I miss you..” masih dengan suara lembut, Barra terus berbisik di telinga istrinya, Laki-laki it uterus menghujani istrinya dengan perlakuan intim, seakan tidak cukup apa yang sudah dilakukannya itu.


Sekian lama tidak mendapatkan sentuhan intim dari laki-laki, tubuh Gwen terasa menegang, dan terasa lemas kehilangan daya. Barra tidak melepaskan kesempatan di depan matanya, tanpa minta ijin laki-laki itu mengangkat kerudung yang menutup kepala istrinya. Gadis itu tidak kuasa untuk melarang, karena secara status mereka memang masih terikat dengan perjanjian suami istri.


“Honey… kita obati kerinduan kita saat ini..” dengan mata redup berkabut, Barra meminta ijin istrinya.


Wajah Gwen bersemburat merah, ada Hasrat dari dalam hati ingin mendapatkan perlakuan lebih, dan lebih dari suaminya. Melihat hal itu, bibir Barra mengeluarkan senyuman. Tanpa bicara lagi, laki-laki itu perlahan mendekatkan bibirnya di belakang telinga Gwen…


“Ughh… kak..” gadis itu melenguh, ketika bibir dan lidah suaminya mengeksplor belakang telinga, kemudian berpindah ke leher.


„Aku rindu kamu honey...” bisik Barra memprovokasi perasaan istrinya.


„Mmmpphh...” ucap Gwen singkat.


Barra kembali tersenyum, dan melihat wajah istrinya yang terlihat ranum, Hasrat manusia purba laki-laki itu memberontak. Ada aliran keras dan tegang, dari bagian tubuhnya yang sudah lama terlupakan. Tidak tahu siapa yang memulai kedua tubuh suami istri yang terpisahkan hampir empat tahun itu, sudah menyatu. Mereka saling berpelukan, merangkul dan saling memagut, dan perpisahan hampir empat tahun seakan terhapus dengan menyatunya tubuh mereka.

__ADS_1


********


__ADS_2