
Di ruang tamu..
Kayla, Aldo, dan Asep tampak asyik berbincang, dan Barra serta Gwen melihat keakraban perbincangan itu. Tidak mau menimbulkan pertanyaan pasangan suami istri itu segera menghampiri ke tiga anak muda itu, dan merekapun bergabung duduk bersama di ruang tamu.
„Sudah selesai urusannya Gwen..” dengan tersenyum, tapi Gwen merasakan seperti sarkasme, Aldo bertanya pada gadis itu.
“Pasti sudah dong Ald.. istriku ini pinter sekali, bagaimana harus bermain cepat, ataupun lambat sesuai situasi dan kondisi. Bukankah demikian honey..” tidak diduga, Barra menimpali pertanyaan Aldo.
“Iiiihhh… kak Barra apa-apaan sih.. Kita kan tidak melakukan apa-apa, hanya bincang-bincang di kamar saja. Lagian sejak tadi, kak Barra lebih banyak menghabiskan waktu dalam panggilan telpon dengan orang-orang perusahaan..” sambil memukul lengan suaminya, Gwen menjawab sambil mendelik.
„Hempphh... honey, memangnya aku bicara apa dengan mereka. Makanya meskipun aku sedang berbincang urusan bisnis, honey sabar menungguku bukan. Jangan ngeres dong pikirannya, suka menyimpulkan sendiri..” sambil senyum-senyum, Barra menggoda istrinya.
Gwen pura-pura manyun, dan Barra menangkap bibir istrinya dengan memberinya ciuman kilat, dan hal itu cukup membuat Gwen dan ketiga anak mud aitu cukup kaget dengan keterus terangan suami Gwen.
“Ya Tuhan kak Barra… kak Gwen.. Jangan panas-panasin kami deh, kami bertiga ini masih ting ting, belum terkontaminasi...” Kayla menjerit, kedua telapak tangannya ditutupkan di wajah gadis itu.
„He... he... he...” Aldo dan Asep ikut tertawa. Meskipun dalam hati Aldo merasa tersindir dengan perlakuan intim pasangan suami istri itu.
Dengan reflek Gwen mendorong dada suaminya agar menjauh darinya, dan wajah gadis itu memerah karena menahan malu.
“Iya honey… maafkan aku, habis honey terlalu menggemaskan sih. Jadinya, aku tidak bisa menahan hasrat untuk mencuri ciuman dari istriku yang imut…” mengetahui istrinya malu, Barra malah semakin menggoda Gwen.
__ADS_1
“Hempphh… sudahlah kak Barra, ga risih juga ada adik kandung yang belum cukup umur disini. Jangan malah memancing kami..” dari sebelah Gwen, Kayla ikut protes sikap kakaknya.
“Jika kamu ini bukannya belum cukup umur Kayla… tetapi belum menemukan tambatan hati sampai seusiamu ini. Ada Aldo.. juga Asep.., kamu bisa mendekati mereka berdua, siapa tahu ada chemistry di antara kalian. Jadinya persahabatan Gwen dengan Aldo dan Asep tetap langgeng..” sambil melirik ke arah Aldo, Barra menggoda adiknya.
Tidak diduga, gentian wajah Kayla yang memerah menahan malu, sedangkan Aldo dan Asep hanya senyum-senyum saja tidak memberikan tanggapan.
“Oh ya Aldo.., Asep.., by the way, jam berapa nih kalian akan kembali ke apartemen, biar aku meminta Smith untuk Bersiap mengantarmu. Atau kalian sekalian makan siang disini saja ya, jarang lho kita ada kesempatan Bersama seperti ini..” tiba-tiba Gwen mengalihkan focus pembicaraan.
“Sepertinya sekarang saja deh Gwen… jujur aku dan Asep sudah mengantuk sejak tadi. Maklumlah.. semalam kurang tidur, karena terlalu asyik menikmati Aurora Bordelis.” Tetapi rupanya Aldo ingin segera Kembali ke apartemen.
“Aku ikut mengantar kalian berdua yah ke apartemen, karena pasti aku sebentar lagi akan ditinggal kak Barra dan kak Gwen.. Maklumlah.. di rumah dengan pasangan suami istri, mereka pasti akan lebih mengutamakan berdua di dalam kamar..” tiba-tiba Kayla ikut bersuara.
Aldo dan Asep saling berpandangan, mereka tidak berani mengambil keputusan.
“Terima kasih kakak.., paling hanya meminta Smith untuk mengantar ke mall sebentar. Kayla mau sekalian cari baju, beberapa bajuku sudah banyak yang ketinggalan mode…” gadis itu meminta tambahan waktu.
“Terserahlah…” sahut Barra singkat, dan disambut senyuman oleh istrinya.
Tidak lama kemudian, akhirnya Aldo dan Asep segera berpamitan. Kayla jadinya ikut mengantar dua anak muda itu bersama dengan Smith.
***********
__ADS_1
Sore Harinya…
Sekitar pukul 16.00 a.m, akhirnya Andy sampai juga di rumah dengan berkendara sendiri. Wajah anak muda itu tampak tidak enak untuk dilihat, mungkin karena bored mengemudi sendiri, atau mungkin karena ditinggal pulang lebih dahulu oleh Gwen dan Barra. Tanpa menyapa pengawal, maupun maid yang tersenyum menyambut anak muda itu, Andy langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya.
“Aku memang tidak diinginkan di keluarga kak Barra lagi…, buktinya mereka meninggalkanku tanpa ada sepatah katapun untukku..” Andy langsung membanting tubuhnya di atas bed di kamarnya.
Anak muda itu terlihat sangat kumuh, dan wajahnya terlihat merah menahan kesal,. Terlihat Andy tampak berpikir sebentar sambil memeluk bantal…
“Sepertinya aku akan pindah ke apartemen saja.. Aku akan call papa untuk membelikanku apartemen di kota ini.., daripada aku mati gaya melihat kemesraan kak barra dengan istrinya. Aku sebal, karena mereka berdua malah terlihat selalu memamerkan kemesraan mereka, jika mereka melihatku ada..” Andy terus bermain dengan pikirannya yang tidak seimbang.
Sejenak Andy beranjak dari posisi tidurnya, dan anak muda itu kemudian duduk di pinggir ranjang. Mata anak muda itu mengedarkan pada semua perlengkapan di kamarnya. Tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Andy, anak itu segera bergegas dan menarik trolly bag yang ada di samping ward drobe yang ada dekat kamar mandi. Sesaat kemudian, Andy sudah memindahkan semua pakaian dan perlengkapan ke dalam trolly tersebut,
“Untuk sementara waktu, sambil menunggu papa membelikanku apartemen, aku akan tinggal di salah satu hotel papa di negara ini. Aku akan melakukan reservasi sekarang juga..” tidak lama kemudian, setelah sesaat berpikir, Andy segera mengambil ponsel dari tas pinggang yang diletakkan di atas meja.
Andy melakukan reservasi hotel dengan melakukan chating dengan customer service salah satu hotel, dimana papanya memiliki saham di hotel tersebut. Papa Andy memang pelaku usaha di bidang perhotelan, dan banyak hotel yang tersebar di berbagai negara. Hal itu mempermudah anak mud aitu mendapatkan kamar, jika bepergian ke negara manapun. Beberapa saat kemudian…
“Akhirnya aku sudah mendapatkan priority service di Helsinki Strand. Mumpung belum malam hari, aku akan langsung menuju ke hotel tersebut.” Akhirnya Andy mendapatkan kamar hotel.
Anak mud aitu segera berdiri dan menarik trolly bag, kemudian berjalan keluar dari dalam kamarnya. Sesampainya di ruang tengah, Andy berhenti sejenak dan melihat ke kamar kakak sepupunya.
“Hempphh… sepertinya aku tidak perlu pamit secara langsung saja. Aku yakin kak Barra pasti tidak setuju dengan kepergianku.. nanti saja sesampainya di kamar hotel, aku akan mengirimkan chat pada kak Barra..” setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Andy melanjutkan langkahnya. Anak muda itu langsung keluar dari dalam rumah, dan menuju ke mobil yang tidak diparkirkan di dalam garasi.
__ADS_1
Andy mengambil nafas, kemudian kembali melihat ke arah bangunan rumah Barra yang artistic. Tetapi tidak lama kemudian, anak muda itu segera masuk ke dalam mobil.
********