
Menjelang pagi hari, Aldo menghentikan motor di depan gerbang rumah mewah keluarga Atmadja. Gwen turun dari motor, dan Aldo memegang kedua bahu gadis itu kemudian memegang dagu Gwen. Orang yang tidak tahu, pasti akan mengira jika mereka berdua memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun hal itu.. tidak pernah menjadi topik pembahasan dan pembicaraan dua anak muda itu.
"Gwen... apapun masalahmu, jangan lari pada orang yang salah. Kapanpun, panggil aku untuk membawa atau menemanimu, aku akan selalu siap. Jangan pernah merasa sedih, dan terpuruk atas apapun yang terjadi padamu, kamu pasti kuat untuk menghadapinya.." sebelum Aldo pergi, laki-laki itu mengucapkan beberapa kata pada Gwen.
Anak muda itu tidak tahu ada masalah apa yang saat ini sedang dihadapi oleh teman baiknya itu, sehingga masih bisa memberi tahu untuk menenangkan perasaan Gwen. Dan Gwen pun, juga tertutup tidak menceritakan masalah yang saat ini sedang menghimpit keluarganya.
"Aku masuk dulu Ald... terima kasih untuk malam ini. Aku sangat menikmatinya... dan berharap aku masih bisa menikmati lagi suasana seperti tadi malam di lain waktu, denganmu." kata-kata Gwen seakan mengangkat Aldo ke awang-awang, yang dipersepsikan oleh laki-laki itu, jika Gwen memiliki perasaan lebih kepadanya.
Aldo masih berada di atas motornya, sampai Gwen masuk ke dalam pintu gerbang yang sudah dibuka oleh penjaga itu. Setelah memastikan Gwen masuk, Aldo kemudian memutar setang kanan ke bawah, dan Ducati itu segera melesat pergi dari jalan depan rumah Gwen.
**********
Di dalam rumah
Gwen kaget ketika masuk ke dalam rumah, padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 04.00 wib, namun lampu sudah bersinar terang. Dan betapa terkejutnya lagi, ketika dengan tatapan kosong dan penuh kemarahan, Om Andrew masih duduk di kursi menuju ke pintu kamarnya. Sepertinya laki-laki muda itu sengaja tidak tidur dan menunggunya, dan ketika melihat kedatangan Gwen, Andrew terlihat mengambil nafas dalam.
"Pagi Om.., belum tidurkah, atau masih sengaja untuk menunggu Gwen pulang.." Gwen yang sudah menguasai kembali emosi dan kesadarannya, dengan ekspresi dingin bertanya pada adik almarhum papanya itu.
__ADS_1
"Syukurlah jika kamu cukup tahu diri Gwen, Om tidak bisa lagi bersuara untuk memberi tahumu. Dalam usiamu saat ini, Om sudah menganggap kamu sudah menapaki suatu masa menuju kedewasaan, dan pasti keponakanku bisa memilah mana yang benar, dan mana yang salah." ucap Andrew tenang, meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh laki-laki itu.
"Emmmph..." Gwen menanggapi singkat.
"Masuklah kamar, istirahatlah dulu sebentar. Acara akan dilaksanakan pada pukul delapan pagi, Om harap kamu bisa menyenangkan hati kakek dan Om, dan bersedia menuruti kehendak kakek.." mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Om Andrew, dada Gwen kembali berdegup kencang. Namun terlihat, Gwen lebih kuat dan siap untuk menghadapinya. gadis itu mengambil nafas panjang, dan setelah bersiap sambil melihat ke arah Om nya, Gwen malah berjalan meninggalkan laki-laki itu, dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Gwen cantik keponakan Om... maafkan jika permintaan kakek dan Om telah melukai hatimu. Namun.. suatu saat kamu pasti akan tahu, dan memahami maksud baik. Om sudah terlalu sibuk dengan bisnis, jadi tidak bisa menjagamu Gwen.., demikian juga dengan kakek di usia tuanya. Barra... laki-laki yang baik, meskipun hatinya kali ini masih sakit dan terluka karena wanita, Barra sangat cocok untukmu.." Andrew bergumam pelan, sambil menatap pintu kamar keponakannya.
Melihat ke arah jarum jam, Andrew kemudian berdiri dan berjalan menuju ke arah kamarnya. Laki-laki itu tampak lega, melihat keponakannya sudah kembali.
*************
Tanpa bisa mengekspresikan rasa sedih dan kecewa, Gwen yang sudah mengenakan pakaian pesta dan sudah melakukan riasan oleh make up artist, turun dari tangga lantai atas, dengan didampingi Bi Surti. Semua yang berada di ruang tengah, tampak takjub melihat kecantikan gadis itu. Gwen yang terbiasa dengan penampilan tomboy, dan selalu mengenakan pakaian casual, kali ini sudah berubah seperti seorang putri yang baru saja turun dari kahyangan. Wajah polos gadis itu, tertutup make up dengan sempurna.. Bahkan Barra yang tampak sudah mengenakan jas, tampak ternganga melihat kecantikan gadis yang akan dinikahinya.
"Duduklah di samping kakek cucuku... Andrew jemputlah Gwen.." dengan wajah cerah, kakek Atmadja meminta Gwen untuk duduk disampingnya.
Tanpa menjawab, Andrew segera bertindak. Laki-laki muda itu segera berdiri, kemudian menjemput keponakan yang sangat disayanginya, kemudian memeluk dan membawa ke tempat duduk di samping kakeknya. Tidak banyak yang hadir dalam acara itu, karena memang untuk melindungi status Gwen yang masih anak SMA. Semua juga berpikir jika Gwen akan terancam dikeluarkan dari sekolah, jika ketahuan sudah menikah. Bahkan untuk membayar agar pihak KUA mau melegalkan pernikahan itu, keluarga Atmadja harus mengeluarkan banyak uang, dan juga harus memenuhi banyak persyaratan.
__ADS_1
"Kamu sudah siap cucuku.." dengan suara lembut, Atmadja bertanya pada cucunya. Gwen hanya menatap ke wajah kakek yang sudah mengasuhnya sejak kedua orang tuanya meninggal itu, dengan pandangan kosong. Andrew tidak sanggup melihat pemandangan itu, air mata langsung menggenang di pelupuk matanya, dan Barra memberikan tissue kepadanya, sambil menepuk nepuk bahunya.
"Terima kasih.." ucap Andrew lirih dengan suara serak.
Karena tidak ada reaksi dari Gwen, yang entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu, kakek Atmadja dan kakek Chandra tersenyum dan saling berpandangan. Tidak lama kemudian, tampak dua orang dari pihak KUA datang, kemudian dipersilakan duduk di depan Barra dan keluarganya.
"Apakah sudah bisa dimulai..?" petugas dari KUA itu bertanya dengan suara yang ramah,
"Sudah pak penghulu.. semua sudah siap untuk dilaksanakan. Untuk keperluan mahar, dan lainnya juga sudah lengkap kami siapkan.." sahut Atmadja dengan suara bergetar.
Pemandangan pagi ini seperti membawa ingatan laki-laki tua itu, pada saat dirinya menikahkan papa dari Gwen yaitu Jack dan mama gadis itu. Kali ini, meskipun tanpa perencanaan yang matang, mereka akan menyiapkan pernikahan gadis itu.
"Baiklah.. silakan semua bersaksi, yang menjadi wali dari mbak Gwen dan saksi dari pihak mas Barra. Silakan duduk di depan saya.." penghulu segera mengatur penempatan wali dan para saksi.
Gwen hanya diam seperti tidak bernyawa, dari ekspresi nya tidak bisa ditebak apa yang dirasakannya saat ini. Kata-kata penghulu bagaikan hanya suara yang masuk ke telinga kanan, dan keluar dari telinga kirinya. Demikian juga dengan Barra, mungkin karena alasan tertentu, atau mungkin karena faktor usia yang sudah sangat matang, laki-laki muda itu juga dengan tenang mengikuti prosesi.
"Semua prosesi akad nikah sudah terlaksana, apakah pernikahan pagi ini antara nona Gwen Elvaretta dan tuan Barra Xavier Gibran bisa dinyatakan Sah.." di akhir prosesi, terdengar suara penghulu bertanya pada semua yang hadir.
__ADS_1
"SAH.." mendengar tiga huruf itu diucapkan oleh semua saksi, wali, Gwen sudah tidak ingat apa-apa. Gadis itu sudah jatuh tersungkur ke belakang, di sandaran kursi yang didudukinya.
**********