Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 37 Indonesia Jaya


__ADS_3

Gwen menganggukkan kepala ke arah Om Andrew dan kakek Atmadja, tidak lupa gadis itu juga menganggukkan kepala kepada dua guru pendamping, serta Aldo dan Asep. Setelah itu, gadis itu mengedarkan pandangan dan memberikan senyuman ke sekeliling. Ball room seperti terhipnotis, suara riuh tepuk tangan tidak pernah terhenti, dan sampai ketiga kontestan yang sudah dinyatakan sebagai juara berdiri di atas stage. Perlahan head of commitee berjalan ke arah para pemenang, kemudian menyalami untuk memberikan ucapan selamat kepada semua pemenang.


"Baiklah... tidak akan menjadi hal yang afdhol, karena prestasi ini juga merupakan kebanggaan dari pihak sekolah, kami mohon perwakilan dari sekolah untuk maju ke depan, mendampingi putra putri terbaik dari sekolah bapak / ibu untuk menerima penghargaan..!" pemandu acara meminta perwakilan dari sekolah asal untuk menuju ke atas stage.


Terlihat Mister Nano, Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik The Intercultural Park perlahan berdiri, dan dengan mata berkaca-kaca, laki-laki itu menuju ke atas stage, Demikian juga untuk dua pendamping lain dari juara dua dan tiga. Setelah ke enam orang itu berdiri di atas stage, head of commitee segera memberikan sertifikat penghargaan, trophy dan juga berbagai hadiah lain dari sponsor,


"Terima kasih semuanya..., apresiasi dan penghargaan untuk semua pemenang sudah kita haturkan pada para pemenang. Hal ini menandai jika babak penyisihan Olimpiade Fisika dan Kimia pada tingkat Asia, dinyatakan berakhir. Para pemenang bisa ikut berkompetisi pada Olimpiade tingkat Internasional di Amerika. Kita akan selalu menunggu kejutan lain dari para kontestan." pemandu acara kemudian mengambil lagi microphone,


Head of Commitee dan tiga pemenang, beserta tiga pendamping segera menuruni stage. dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Namun tidak dengan Gwen, gadis itu berjalan menghampiri Aldo dan Asep untuk mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka.


"Terima kasih Aldo... Asep, piala ini untuk sekolah kita..." sambil tersenyum, Gwen menunjukkan penghargaan pada dua sahabatnya itu,


"Kami berdua bangga Gwen... punya sahabat di akhir periode sekolah kita di The Intercultural School, kamu bisa menorehkan prestasi spektakuler ini..." tidak bisa berkata-kata panjang, Aldo mengucapkan selamat pada Gwen,


"Kenapa kamu malah menangis sih Ald... laki-laki pantang menangis." melihat pelupuk mata Aldo berkaca-kaca, Gwen menegur laki-laki itu sambil berbisik. Asep ikut menoleh ke arah sahabatnya itu. Tetapi laki-laki yang memahami apa yang dirasakan Aldo itu hanya tersenyum melihatnya,

__ADS_1


"Ini tangis kebahagiaan atas prestasimu Gwen... jujur aku merinding melihatmu berjalan maju, dan menerima trophy penghargaan ini. Sangat membanggakan sekolah kita,," sambil mengusap air mata, Aldo menanggapi kata-kata gadis itu.


"Okay... kalian disini ya, aku mau menemui Om Andrew dan kakek Madja dulu ya..." merasa tidak enak karena dua orang penting dalam hidupnya menunggu, Gwen berpamitan pada kedua teman sekolahnya itu.


Aldo dan Asep tersenyum, dan menatap punggung Gwen yang berjalan meninggalkannya. Gwen langsung menuju ke round table tempat kakek dan Om Andrew tersenyum menyambutnya. Kakek Atmadja merentangkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri, dan Gwen langsung masuk ke dalam pelukan laki-laki tua itu. Andrew mengambil piagam yang ada di tangan keponakannya itu, dan melihat ke arah papanya yang tidak berhenti menangis sambil memeluk cucunya,


"Terima kasih kakek Madja, demi Gwen... kakek harus cancel semua agenda kakek di negara Jepang. Terima kasih kek.." dengan penuh keharuan, Gwen mengucapkan terima kasih pada kakeknya.


"Ini menjadi kewajiban kakek dan Om Andrew untuk selalu ada disampingmu cucuku... Kamilah pengganti papa Jack, dan mama Sheilla untukmu..." sambil terus meneteskan air mata, kakek Atmadja menanggapi cucunya.


Andrew melihat papa dan keponakannya itu dengan penuh keharuan, ada rasa geram dalam hatinya pada sahabatnya Barra, yang juga suami dari Gwen. Padahal Andrew merasa sudah memberi tahu laki-laki itu untuk datang, dan menemani Gwen pada saat seperti ini, tetapi ternyata Barra tidak datang ke SIngapura. Hal itu menjadikan hati Andrew menjadi geram, dan ingin membuat urusan pada sahabatnya itu. Tetapi di depan Gwen dan papanya, Andrew menahan perasaannya itu.


***********


Ditemani Aldo dan Asep, Gwen pergi jalan-jalan ke Pulau Sentosa. Perjalanan mereka kembali masih nanti malam, karena menggunakan private jet mereka bisa mengatur kepulangan mereka ke Jakarta. Andrew dan kakek Atmadja memutuskan untuk kembali melanjutkan aktivitas mereka, dan ketika Gwen tidak merasa kecewa, akhirnya dua orang penting itu merelakan kepergian keponakannya itu dengan dua sahabatnya di sekolah,

__ADS_1


"Kita jalan kaki saja yukk menyusuri Sentosa Board walk, baru kita foto di depan Universial Studios." melihat banyak pejalan kaki, Gwen minta mereka turun dari dalam mobil,


"Yap aku setuju... sudah beberapa saat kita tidak berpetualang. Meskipun di tengah keramaian, kita bisa explore objek wisata ini..." Aldo menyetujui ajakan gadis itu.


Akhirnya Gwen minta driver perusahaan Om Andrew untuk menghentikan mobil, dan ketiga anak muda itu segera turun dari dalam mobil. Aldo segera membeli tiket untuk memasuki board walk seharga $1 untuk mereka bertiga, kemudian segera mengajak kedua sahabatnya itu.


"Pemandangan pantai sangat woww.. banget dilihat dari sini, sangat excited.."sambil melihat ke arah pemandangan di luar board walk, Gwen mengutarakan kekagumannya. Melalui Sentosa Board Walk memang tempat yang tepan untuk menikmati pemandangan pantai. Selama berjalan, banyak hal yang bisa dinikmati, mulai dari air laut yang biru, kapal-kapal yang berjajar di dermaga hingga deretan kereta gantung yang melintas di atas laut. Area jalan dibuat dengan sangat nyaman, jalurnya bersih dan tertata rapih, juga terlindung dari panas matahari.


"Bener Gwen... pasir putihnya terlihat putih bersih." Asep menyahuti.


"Pasti indahlah... kalian lupakah, jika pemandangan Indonesia pasti lebih indah. Ingat pulau Sentosa ini merupakan pulau buatan hasil reklamasi 500 hektare, dan terletak di lepas pantai selatan Singapura. Pasir yang digunakan untuk urug lautan yang sudah berubah menjadi pulau ini, disinyalir datang dari Indonesia. Tanpa sadar kita dibohongi oleh negara lain, padahal negara Singapura ini hanya kecil." Aldo menimpali pembicaraan,


"Iya juga sih, tanpa sadar Zona Economy Exclusive negara ini menjadi bertambah panjang ya, sedangkan karena sebagian pasir pantai kita dikeruk, ZEE kita yang menjadi berkurang. Wah jika begitu... pujianku atas keindahan pantai ini aku anulir. Indonesia tetap negara pantai, tidak ada bandingannya..." sahut Gwen,


"Ha.. ha.. ha... benar, benar, tetap jayalah Indonesia kita..." ketiga anak muda itu tertawa terbahak-bahak, sampai mereka tidak sadar jika banyak pengunjung lain melihat ke arah mereka,

__ADS_1


Tetapi mereka tetap mengacuhkan, dan kembali berjalan bertiga sambil bergandengan tangan. Dua anak muda itu merasa, jika sahabat mereka Gwen sudah kembali. Akhir-akhir ini, selama persiapan untuk ikut Olimpiade, Gwen lebih banyak menghilang dari mereka.


************


__ADS_2