
Melihat Gwen duduk di sofa menunggu pengawal membawakan kunci, Barra langsung berlari datang dan menghampiri gadis itu. Tatapan kerinduan, tampak jelas terlihat di mata Barra. Dan ketika laki-laki itu sudah berada di belakang sofa...
„Uncle.. Bareeq senang ada uncle disini..” tidak diduga, Bareeq yang melihat kemunculan Barra duluan, berteriak memanggil laki-laki itu. Barra melambaikan tangan dan memberi isyarat agar dua putranya menunggu sebentar.
Mendengar putranya memanggil Uncle, Gwen terkejut dan menoleh ke belakang. Tampak laki-laki yang membuatnya rindu, tetapi juga ada kemarahan terhadapnya itu tersenyum menatapnya dari belakang..
“Honey… aku yakin jika ini adalah kamu honey... Tuhan yang menuntun kedua putraku ini, untuk menemukan papanya..” dengan tidak tahu malu, Barra memanggil Gwen dengan sebutan honey. Gadis itu tidak dapat berkutik. antara rindu dan marah membuatnya membisu, tidak memberikan tanggapan apapun,
Dua nanny yang juga duduk di sofa terkejut, dan menatap kedua orang itu secara bergantian. Namun keduanya tidak berani untuk bereaksi, selain hanya sembunyi sembunyi mengintip keduanya.
“Anda salah orang, jangan ganggu saya..” Gwen berusaha menghindarkan diri,merasa belum siap untuk bertemu papa kedua putranya. Gadis itu berdiri, dan mencoba untuk melarikan diri dari suaminya.
“Gwen… mau kemana lagi kamu berlari dariku honey... Suaramu tidak bisa membohongi.., dan maafkan aku..” tidak diduga, tangan kanan Barra menarik niqab yang menutupi wajah perempuan itu. Dan satu tangannya lagi menarik simpul tali yang ada di belakang kepalanya.
Wajah cantik, putih bersih terpampang di depan laki-laki itu. Sedangkan Gwen merasa panik dan pias, tidak bisa lagi untuk menghindarkan diri dari laki-laki di depannya. Tanpa permisi, di bawah tatapan terkejut pengunjung hotel, Barra mendekap wajah gadis itu dan membenamkan wajah di dadanya. Merasakan hangat suaminya yang sudah berpisah tiga tahun lebih… tubuh Gwen menjadi bergetar. Tapi beberapa saat… kedua tangan Gwen mendorong dada laki-laki itu untuk menjauh darinya..
“Menyingkir dari Gwen kakak… kita tidak bisa Bersama lagi.. Jangan ganggu lagi kehidupan Gwen..” suara Gwen bergetar, mencoba mengusir laki-laki itu.
Pengawal yang mendampingi gadis itu tampak Bersiap dan bersiaga, Namun Smith… dengan cepat menyusul majikannya ke dalam hotel.
“Honey… ini hanyalah salah paham sayang… Aku bersumpah, aku tidak pernah melakukan sesuatu seperti yang ada dalam pikiranmu.. Jangan usir aku…” Barra tetap bersikukuh dengan keinginannya.
“Mommy… mommy kenapa menangis.. Uncle jangan ganggu mommy uncle.. jangan ganggu..” tiba-tiba Bareeq dikejutkan dengan suara putranya.
__ADS_1
Mendengar ucapan permintaan dari anak kecil itu, Barra melihat ke bawah. Dengan kekuatan tangannya, laki-laki itu meraih Bareeq dan Tareeq kemudian menggendong keduanya.
“Bareeq… Tareeq.., ini papa sayang… Maafkan papa, baru kali ini bisa menjumpai kalian berdua.” Dengan air mata haru, Barra berucap serak sambil mencium kedua putranya.
“Tidak mau Uncle… tidak mau jika harus membuat mommy menangis. Lebih baik Tareeq dan Bareeq tidak bertemu papa selamanya, asalkan mommy tidak bersedih..” dua anak muda itu meronta, mencoba melepaskan diri dari gendongan Barra. Sikap kedua anak kecil itu bertolak belakang dengan sikapnya tadi.
Gwen terdiam, perempuan muda itu masih tergugu menangis. Tidak ada yang dilakukan gadis itu, antara melarang atau mengijinkan putranya berinteraksi dengan suaminya.
“Miss… apakah tidak lebih baik jika kita segera menuju ke Pant House. Jika Miss berkenan, mungkin tuan ini kita ajak ke atas untuk berbicara. Namun jika Miss tidak berkenan, kami akan mengusir keluar.” Tiba-tiba pengawal yang mendampingi Gwen menyela kericuhan mereka.
Tidak diduga, tiba-tiba kedua tangan Barra mencekal leher pengawal itu. Tatapan bengis yang menghujam tampak membuat semua yang berada di dalam ruangan itu menahan nafas.
“Kamu akan mengusirku… lakukan jika kamu berani. Aku akan meratakan hotel ini... „ dengan nada mengancam, Barra berbicara keras.
Sebagai member VVIP di hotel tersebut, wajah Barra cukup dikenal. Tidak ada yang berani untuk mengecewakan laki-laki itu. Tapi melihat situasi yang dihadapi dua orang itu, GM ikut mengkondisikan
“Perempuan ini adalah istriku, dan dua anak ini adalah putraku.. Apakah kalian semua berani untuk bersikap, menghalangiku untuk bersama dengan mereka..” masih dengan ekspresi kemarahan, Barra menuding orang-orang itu.
Semua yang berada di dalam hotel kaget dan terdiam. Akhir-akhir ini Barra memang selalu manghadiri setiap acara sendiri, dan mereka jika laki-laki itu saat ini berstatus sebagai duda. Namun dengan beraninya, saat ini mengatakan ada seorang yang mengenakan niqab, meskipun saat ini niqabnya sudah terlepas sebagai istrinya.
“Apa yang dikatakan Tuan Barra…, apakah ini hanya candaan..” beberapa orang berbisik-bisik.
“Tetapi melihat keseriusan CEO Java Horizon Ltd. Sepertinya apa yang dikatakan memang benar adanya. Mungkin saja karena sesuatu hal, mereka sedan gada konflik.” Pengunjung hotel lainnya ikut menyahut.
__ADS_1
Beberapa saat, keberadaan Barra dan Gwen menjadi pembicaraan di hotel tersebut. Namun mereka hanya berani berbisik membicarakan, tidak berani sampai pembicaraan mereka terdengar oleh Barra dan Gwen. Melihat situasi yang semakin panas di lobby hotel, akhirnya Gwen menyetujui untuk menerima Barra di Pant House tempatnya menginap.
********
Di kursi tamu, Barra tidak mau melepaskan Gwen. Kedua anak itu, Bareeq dan Tareeq terus menggelendot pada mommy nya, dan tidak mau meninggalkan perempuan itu..
„Bareeq... Tareeq... ini papa sayang. Berikan papa pelukan..” Barra berusaha meraih kedua anak itu.
Namun rupanya kedua anak itu tidak mau meninggalkan Mommy nya. Gwen masih terdiam, dan belum memberikan penjelasan apapun pada dua putranya.
“Mommy… apakah yang dikatakan Uncle adalah benar Mommy.. Apakah Uncle ini memang papa dari kita…?” Bareeq memberanikan diri bertanya pada mamanya.
Barra ikut terdiam mendengarkan, respon seperti apa yang akan ditunjukkan oleh istrinya. Dengan tatapan meminta penjelasan, Bareeq dan Tareeq melihat ke arah mommy nya. Beberapa saat, Gwen tetap belum menunjukkan responnya..
“Apapun keputusanmu honey… aku akan mengikutinya. Tetapi apakah fair untukku, dan juga Bareeq, Tareeq jika kamu menyembunyikan hubungan di antara kami. Mereka tidak salah honey, ataupun jika honey sudah melakukan klaim jika aku bersalah, maafkan aku honey. Meskipun sejatinya, apa yang kamu lihat saat itu, tidak sama dengan kenyataan yang terjadi..” Barra terus berbicara mencoba mempengaruhi perempuan itu.
Setelah mendengar perkataan suaminya, akhirnya perlahan Gwen mengangguk. Namun sebenarnya ada tatap tidak rela dari perempuan itu. Mendengar hal itu, Barra segera berlari mendatangi kedua putranya...
“Papa… akhirnya kami benar-benar punya papa.” Bareeq dan Tareeq mendekat untuk menghampiri Barra, dan papa dari anak-anak itu segera memeluk mereka dengan rasa haru.
Air mata tanpa sadar menetes ke pipi Barra, ada rasa bahagia dalam hatinya. Setelah sekian lama, akhirnya laki-laki itu baru tahu, dan bisa bertemu dengan kedua putranya. Gwen ikut menangis, melihat bagaimana kedua putranya bisa bertemu dengan papa mereka. Ada rasa nyeri di ulu hati Gwen, Ketika mengingat kejadian bagaimana Om nya membawanya pergi dari rumah sakit, tanpa terlebih dulu meminta ijin darinya.
********
__ADS_1