Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 102 Abaikan Saja


__ADS_3

Untuk mengisi waktu gabut karena menunggu, di dalam ruang kerja Barra, Gwen membaca berkas laporan pelaksanaan pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerja suaminya. Sedikit banyak, meskipun belum menempuh studi tingkat lanjutan, menggunakan pola pikir sebagai seorang konsumen dengan berbagai macam motif pembelian, Gwen membuat banyak coretan pada pekerjaan tim riset pemasaran. Kali ini Gwen memposisikan diri sebagai seorang pembeli yang menginginkan sebuah barang.


“Hemppphhh…. Perusahaan kak Barra masih terlalu sombong mengabaikan kepentingan konsumen, Dengan berbagai market place yang banyak tersedia dimanapun, seharusnya perusahaan tidak boleh terlalu sombong. Aku sebagai seorang pembeli, yang memiliki banyak uang apalagi, banyak choice yang akan saya pilih. Tetapi perusahaan ini lupa, dan terlalu didewakan hanya karena memiliki sebuah produk yang berkualitas..” Gwen bergumam sendiri.


„Perusahaan ini lupa bagaimana harus mengevaluasi juga situasi persaingan di luar. Aku akan menuliskan memo di sini, untuk menjadi bahan pertimbangan Ketika kak Barra akan mengambil sebuah keputusan..” setelah meyakinkan diri, banyak memo yang dituliskan Gwen pada lembar yang mungkin saja belum dibaca oleh suaminya.


Beberapa saat, Gwen menghabiskan waktu untuk mengoreksi semua berkas di meja. Ternyata dengan melakukan aktivitas, waktu menunggu tidak dirasa terlalu menjemukan. Gwen tampak menikmati pekerjaan review tanpa perintah dari suaminya itu.


“Kring.. kring… “ tiba-tiba phone di atas meja Barra berbunyi.


Gwen terhenti dari aktivitasnya, dan gadis itu melihat ke arah phone yang masih berdering itu. Ada kebimbangan antara mau mengangkat atau mengabaikan panggilan tersebut, apalagi mengingat suaminya sedang tidak berada di ruangan. Barra sedang memimpin rapat koordinasi task force di meeting room.


“Akhirnya  berhenti juga, aku ragu antara mengangkat atau tidak. Jika aku angkat, ternyata aku juga tidak bisa memberikan solusi sepertinya juga sama saja.” Gwen berbicara pada dirinya sendiri.


„Kring... kring...” tapi tiba-tiba phone itu berdering lagi. Karena merasa terganggu dengan panggilan masuk tersebut, akhirnya Gwen bergeser dari tempat duduknya, dan mengangkat phone yang masih berdering itu.


“Ruang Direktur Utama… apakah ada hal penting..?” memposisikan sebagai atasan tertinggi dalam perusahaan itu, Gwen bertanya pada penelpon.


“Ruang Direktur, kenapa ada suara perempuan dalam ruang Tuan Barra. Apakah saya keliru menekan nomor angka..?” terdengar suara anak muda yang malah meragukan panggilan itu.


“Hemppph… benar kak, tuan Barra Xavier Gibran sedang berada di ruang rapat. Sampaikan siapa nama anda, dari divisi apa, dan ada keperluan apa..!” dengan tegas, Gwen yang merasa diragukan bertanya balik.

__ADS_1


“Ha.. ha.. ha.., sebentar, sebentar.. apakah kamu ini seorang karyawan baru. Suaramu kecil seperti anak-anak, tapi judes seperti cabe rawit.. Tumben sekali kak Barra mau menerima karyawan sepertimu. Pantas saja, kamu tidak diajak rapat olehnya, pasti pola pikirmu memang seperti anak-anak.” Tiba-tiba suara anak muda di seberang telpon itu malah terkesan mengejek Gwen.


Jiwa anak muda Gwen seperti tersulut mendengar ejekan itu, dan…


“Hey… kamu mengganggu waktuku, jika tidak ada kepentingan urgent, jangan pernah mengganggu orang bekerja. Tuan Barra Xavier Gibran bukan orang yang bisa kamu ajak bercanda seenak jidatmu, terima kasih..” dengan kasar karena marah, Gwen membanting phone Kembali di atas meja,


Gadis itu Kembali ke tempat duduknya, dan merasa jengkel jika penelpon tadi melakukan panggilan lagi, Gwen memutus sementara kabel penghubung.


“Orang gila… bisa-bisanya kak Barra punya mitra kerja konyol seperti itu..” Gwen tidak berhenti mengomel. Untuk meredakan ketegangan hatinya, Gwen mengambil air minum kemudian menenggak satu gelas air mineral yang tersedia di atas meja.


**********


Barra sudah selesai melakukan rapat koordinasi, dan laki-laki itu Kembali ke ruang kerjanya. Tampak Barra tersenyum melihat Gwen yang duduk di sofa dengan berselonjor sambil memejamkan matanya. Gadis itu sering kali masih melakukan hal konyol seperti itu tanpa melihat dimana dirinya berada. Untung saja, Barra sudah meninggalkan pesan pada sekretaris, untuk tidak mengijinkan siapapun masuk ke ruang kerjanya, Ketika dirinya sedang tidak ada di ruangan.


“Cup…” Barra memberikan ciuman di kening istrinya, dan perlahan gadis itu membuka matanya. Bola mata Gwen bersinar, dan gadis itu memperbaiki posisi duduknya.


“Kak Barra sudah selesai kegiatan rapatnya..?” Gwen langsung bertanya pada laki-laki itu, dan Barra segera duduk di samping Gwen sambil merangkul pinggang gadis itu.


„Sudah, sejak beberapa saat yang lalu.. Honey.. jika mengantuk, kenapa tidak tidur dan istirahat di kamar dalam saja. Kenapa malah tidur di sofa, jika nanti ada yang masuk ke ruanganku, apakah honey tidak merasa malu..” dengan nada halus, Barra mengingatkan istrinya..


“Hempph… malas sih kak, tadi mikirnya jika Gwen tidur di kamar, pasti akan butuh waktu lama untuk bangun. Akhirnya tidak sengaja saja ketiduran di sofa ini.” Gwen tersenyum sambil cengar cengir.

__ADS_1


Tatapan Barra tiba-tiba ke berkas yang tadi tersusun rapi di atas meja kerjanya, tetapi sekarang berpindah ke meja yang ada di depan sofa Dahi laki-laki itu berkerut, dan tangan Barra mengambil satu lembar dari kertas tersebut. Barra membaca notifikasi catatan yang dituliskan Gwen…


“Honey… ini kerjaanmu sayang Ketika aku tinggal rapat di meeting room..?” wajah Barra tampak cerah, karena merasa setuju dengan poin-poin yang dituliskan di lembar kertas tersebut.


Sambil tersenyum, Gwen menganggukkan kepalanya, dan Barra melihat seperti tidak percaya.


“Comment yang honey tuliskan, sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan sayang. Kita melakukan kegiatan produksi, bukan melakukan apa yang kita mau. Tetapi menggunakan apa yang diinginkan oleh konsumen. Di sini honey memposisikan diri sebagai seorang konsumen, dan hal-hal apa yang honey inginkan jika ingin membelanjakan barangnya. Good job honey…, I like it…” dengan tulus Barra mengapresiasi apa yang dilakukan istrinya,


“Apaan sih kak, hanya coretan-coretan untuk menghilangkan gabut saja kok.., semua orang juga pasti bisa. Oh ya kak, by the way tadi ada yang telpon cari kak Barra. Tapi karena kata-katanya ga sopan, telpon Gwen putus kabelnya. Jika kak Barra mau tahu, cek saja di customer service.” Gwen teringat dengan penelpon tadi.


“Really… honey.. Komentar yang kamu tuliskan akan aku gunakan sebagai strategi baru, dan dalam pertemuan dengan Divisi Pemasaran, besok akan aku sampaikan. Oh ya.., terkait penelpon abaikan saja, jika butuh aku atau perusahaan ini, pastilah lain waktu akan hubungi aku lagi.” Lanjut Barra berusaha mengangkat apa yang dilakukan istrinya.


“Atau mmmphh… besok honey menemaniku rapat, jadi ada pola pikir lain dalam perusahaan ini. “ lanjut Barra terlalu bersemangat.


“Hempph… hadeh kak Barra.. kak Barra.. Jangan terlalu berlebihanlah, Gwen mau kuliah dulu kak.. Tidak mau direpotkan dengan urusan pekerjaan. Biarlah tugas kak Barra yang mencari pundi-pundi kekayaan, Gwen yang akan menikmati dan menghabiskannya. He…” Gwen malah berkelakar.


Barra terlihat gemas melihat kepolosan istrinya.., tanpa sadar laki-laki itu menundukkan wajahnya ke bawah. Tanpa mampu mengelak, bibir gadis itu sudah berada dalam pagutan laki-laki yang duduk di sebelahnya itu.


“Kak Barra selalu begini deh, suka mencuri kesempatan tanpa lihat sedang ada, dan  dimana kita berada..” Gwen memprotes tindakan yang dilakukan suaminya. Dan Barra hanya tersenyum gemas melihat istrinya yang pura-pura merajuk.


***********

__ADS_1


__ADS_2