Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 171 Panti Asuhan


__ADS_3

Keesokan Paginya


Setelah berbagai upaya sudah dilakukan Barra, untuk berusaha bertemu dan menjelaskan pada Andrew tidak ada kesempatan, laki-laki itu akhirnya terbang menuju ke Indonesia. Ada setitik harapan pada diri laki-laki itu akan mendapatkan secuil kabar tentang istrinya, dan dia bertekat untuk mencarinya sendiri. Tidak mampir ke rumah keluarganya, Barra langsung menuju ke kota Bogor dari airport.


“Tuan Barra… kenapa hanya sendiri, dimana Miss Gwen…” begitu pintu dibuka, Mbok Darmi, pengasuh Gwen sejak kecil bertanya padanya,


“Hempphh… kebetulan saya pas ada tugas di negara ini mbok, saya akan langsung ke kamar saja. Buatkan hot black coffee untukku..” seperti tidak terjadi apa-apa, laki-laki itu segera berjalan menuju ke kamar yang ditempatinya dulu dengan Gwen.


Untung saja, meskipun kamar itu tidak pernah ditempati, namun rupanya ART selalu membersihkan kamar, dan mengatur sirkulasi udara dengan baik. Jadi tidak ada rasa pengap sedikitpun dalam ruangan itu.


“Melihat susunan kamar ini, persis Ketika terakhir kali aku tinggalkan dengan Gwen. Berarti istriku memang tidak pernah datang ke tempat ini…” ada rasa kecewa terlintas di benak Barra.


Kembali pandangan mata laki-laki itu diedarkan ke seluruh ruangan. Namun memang tidak ada tanda-tanda, jika istrinya pernah masuk ke kamar ini, meskipun hanya sekejap saja. Perlahan Barra berjalan menuju ke arah pintu menuju balkon, dan laki-laki itu membuka pintu, kemudian berjalan keluar dan berdiri di atas balkon.


„Honey... ada dimana kamu, aku merindukanmu.” Laki-laki itu memejamkan matanya, kemudian menghirup udara kota Bogor.


Bayangannya bersama dengan Gwen, ketika di awal-awal pernikahan mereka membuat laki-laki itu tersenyum. Membayangkan penolakan Gwen kepadanya, dan ketika istrinya kala itu masih suka kabur meninggalkannya sendiri.


„Istriku sangat imut kala itu... dan aku tidak bisa melihat ketika istriku tengah mengandung anakku saat ini.” Barra tersenyum mengingat kembali kenangan bersama istrinya.


„Tuan Barra... kopi panasnya sudah siap Tuan.. Jika tidak segera diminum, sebentar lagi pasti akan cepat dingin..” tiba-tiba Barra mendengar suara Mbok Darmi.


Laki-laki itu membalikkan badannya, kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Melihat perempuan paruh baya itu masih menunggunya, laki-laki itu mendekat.

__ADS_1


„Apakah selama aku dan istriku pergi ke Finlandia, belum pernah ada yang pulang sekalipun mbok. Kakek Atmadja, atau Andrew mungkin...” tetap berusaha menyembunyikan apa yang terjadi dalam hubungannya dengan istrinya, Barra memancing pertanyaan pada perempuan paruh baya itu.


„Tidak ada Tuan Barra... makanya terkadang saya dan teman-teman ART, serta penjaga rumah merasa tidak enak diri. Hak-hak kami selalu penuh dan utuh dikirimkan oleh Tuan Andrew, namun kami tidak pernah menjalankan tugas dan kewajiban kami disini, Jika dulu, masih ada Miss Gwen yang kami layani, tapi semenjak miss Gwen menikah, tidak ada lagi Tuan.” dengan rasa malu, Mbok darmi menjawab pertanyaan.


“Abaikan saja Mbok… itu hanya perasaan Mbok Darmi dan teman-teman ART saja. Menjaga dan merawat tempat ini, sama seperti memiliki penghuni sudah merupakan tugas berat yang kalian emban mbok. Lupakan perasaan tidak enak itu... Oh ya Mbok... tinggalkan aku sendiri. Kembalilah ke posisi kalian terakhir..” karena ingin menyendiri, dengan halus Barra mengusir perempuan paruh baya itu.


“Baik Tuan…” perlahan perempuan itu mundur kembali ke belakang.


Perlahan Barra mengambil cangkir berisi kopi, kemudian menyesapnya perlahan. Kehangatan mengalir di kerongkongan kemudian menuju ke perut, namun perasaan laki-laki itu masih terasa dingin.


**********


Barra merasa melakukan healing Ketika berada di Bogor, meskipun tidak ada istrinya Gwen yang tengah bersamanya. Dengan menggunakan Ducati istrinya, laki-laki itu membawa keluar motor tersebut. Tanpa tujuan, Barra berkeliling kota Bogor dan tanpa sadar Ducati yang dikendarainya menuju ke panti asuhan Hidayah yang pernah didatanginya dengan Gwen dulu.


“Om Barra….” Tiba-tiba telinga Barra dikejutkan dengan panggilan anak laki-laki kepadanya.


Tidak lama kemudian, Kevin sudah berada dalam pelukan laki-laki itu.


„Kak Gwen mana Om Barra... kok tidak diajak kemari. Kevin sudah kangen banget dengan kak Gwen…” tiba-tiba Kevin bertanya tentang istri dari laki-laki itu.


Barra berusaha mengatur dadanya sejenak, kemudian laki-laki itu memaksakan senyumnya.


„Kak Gwen sedang berada di luar negeri sayang… dan kebetulan Om sedang bertugas di Jakarta. Jadi.. kali ini Om bisa menyempatkan diri datang kesini untuk menengok kalian. Tapi kak Gwen menitipkan salam untuk kalian kok...” Barra menutupi keberadaan istrinya.

__ADS_1


“Asyik… ternyata kak Gwen tidak melupakan Kevin...” anak kecil itu bersorak kegirangan,.


Tiba-tiba…


“Kevin… dengan siapa kamu nak…?” terdengar suara perempuan paruh baya yang bertanya pada anak kecil yang berada dalam pelukannya.


Barra sontak mengangkat wajahnya, dan ibu pengasuh panti asuhan tersenyum memandangnya. Laki-laki itu kemudian melepaskan Kevin dari pelukannya, dan segera berjalan menghampiri ibu pengasuh tersebut.


“Ibu… apakah masih ingat dengan saya ?” Barra menyalami perempuan paruh baya itu.


„Nak Barra... teman dari nak Gwen... Ibu pasti mengingatmu nak... Ayo masuk ke dalam, tidak baik tamu hanya kami biarkan di luar saja. Masuklah nak...!” perempuan itu segera membawa Barra masuk ke dalam panti.


Tanpa menjawab, Barra mengikuti perempuan itu. Sesampainya di dalam, Barra duduk di kursi tamu yang sudah terlihat tidak enak dipandang itu. Pandangan laki-laki itu beredar ke seluruh ruangan, dan seperti menghitung semua keperluan untuk panti asuhan tersebut. Perempuan paruh baya yang duduk di depannya itu hanya tersenyum melihat reaksi laki-laki itu, dan tidak menyela apa yang dilakukannya. Tidak lama kemudian, tampak seorang gadis kecil membawa keluar minuman dan meletakkan di depan laki-laki itu.


“Minumlah dulu nak Barra.. tapi hanya sekedar teh manis panas saja, tidak ada teman yang menemaninya..” ibu pengurus panti mempersilahkan Barra.


“Baik Bu… terima kasih..” tanpa menolak, Barra segera mengambil cangkir itu, kemudian minum beberapa teguk. Tidak lama kemudian, laki-laki itu Kembali meletakkan cangkir di atas meja.


 “Bagaimana kabar temanmu Gwen nak… semoga anak yang baik hati selalu dalam perlindungan Tuhan..” tiba-tiba pengurus panti itu menanyakan tentang kabar Gwen.


Mendengar pertanyaan itu, tidak tahu apa sebabnya, mata Barra tiba-tiba tergenang air mata. Dan hal itu membuat perempuan paruh baya itu terkejut..


“Maafkan ibu nak… jika pertanyaan ibu melukai perasaanmu.” Melihat reaksi Barra, pengurus panti segera meminta maaf.

__ADS_1


“Tidak apa ibu… Barra minta doa dari ibu, dan juga dari adik-adik yang tinggal di panti asuhan Hidayah ini. Sebenarnya bu…, Gwen itu istri Barra bu.., bukan teman Barra..” akhirnya dengan suara tercekat, Barra mengatakan hal yang sebenarnya pada perempuan paruh baya itu.


*********


__ADS_2