
Begitu Barra membukakan pintu bath room, Gwen segera menyelinap masuk ke dalam. Gadis itu segera menutup pintu dengan cepat, dan terdengar Ketika kunci pintu diputar dari dalam. Barra hanya tersenyum pahit melihat hal tersebut, dan laki-laki yang hanya mengenakan boxer itu melihat ke bawah, ke area di bawah perutnya.
“Damn it… kenapa selalu aku yang tersiksa jika berdua dan menyentuh kulit Gwen…” Barra hanya tersenyum kecut. Laki-laki itu mengusap pelan bagian bawah perutnya yang terlihat sudah sesak itu, kemudian melonggarkan sedikit celana boxer yang dikenakannya.
“Kapan aku bisa benar-benar memilikimu Gwen.. aku merasa sudah tidak memiliki kesabaran lagi.” Barra bergumam lirih, sangat terlihat laki-laki itu berusaha mati-matian, untuk meredam lagi hasrat manusia purba yang mendadak muncul.
Beberapa saat laki-laki itu masih bertahan dalam posisi berdirinya, namun bukannya senjata laki-lakinya kembali bersembunyi, malah semakin meronta ingin menuntaskan hasratnya.
„Aku tidak bisa hanya berdiri tersiksa seperti ini.. Tetapi aku juga belum bisa membuat Gwen terkejut, dan menjadi trauma akan pelepasanku. Aku harus mencari cara lain...” merasa hasrat manusia purbanya semakin meronta ingin dituntaskan, Barra kemudian berjalan menuju salah satu pintu.
Setelah berhasil memutar handle pintu, laki-laki itu masuk ke kamar yang ada di sebelahnya. Ternyata di rumah itu, sudah siap connecting room yang bisa mereka manfaatkan jika suatu saat mereka sudah memiliki momongan. Dengan tidak berdaya, Barra segera masuk ke kamar mandi untuk berendam air dingin.
**********
#Gwen
Di dalam kamar mandi, Gwen masih terlihat malu dengan yang baru dialaminya dengan Barra suaminya. Tanpa diketahuinya, dirinya yang teringat masih berada di dalam private jet dalam perjalanan menuju ke Finlandia, ternyata Ketika terbangun sudah berada dalam dekapan suaminya. Jantung yang masih berdebar keras, masih membuat gadis itu gugup. Perlahan Gwen menyalakan shower di atasnya, dan gadis itu mengguyur tubuhnya dari atas, tanpa melepaskan pakaian yang dikenakannya.
“Kenapa aku menjadi seperti ini, menjadi mati gaya jika berada di dekat kak Barra… Laki-laki itu terlalu menakutkan, tapi....., kenapa aku malah semakin menyukai perlakuan lembutnya…” sambil mengguyur air di kepalanya, Gwen berpikir tentang Barra,
__ADS_1
“Tapi… jika itu benar adanya, kenapa mudah sekali aku bisa terpengaruh olehnya. Laki-laki itu bukan tipeku, dan usia kami terlalu jauh berjarak.” Gwen berusaha memungkiri perasaanya pada laki-laki itu.
Tapi semakin gadis itu berusaha untuk membuang jauh pikirannya tentang suaminya, wajah Barra malah semakin terus terlihat di depan wajahnya. Perlahan Gwen mengambil shampoo yang sudah tersedia di kamar mandi itu, kemudian mengusapkan di rambut kepalanya. Dengan melakukan hal itu, Gwen ingin menghilangkan pikiran tentang Barra, yang menurutnya semakin tajam menancap dalam hatinya.
“Ataukah aku akan mencoba untuk memberikan kesempatan pada kak Barra untuk memilikiku seutuhnya.. Tapi.. apakah aku sudah bisa, dan sudah mampu untuk melakukannya… Bukankah usiaku masih kurang dari 20 tahun, dan masih terlalu dini untuk usia pernikahan saat ini…” berbagai pertanyaan memenuhi ruang dalam pikirannya,
Terlalu lama di bawah shower sambil berpikir tentang Barra, tanpa sadar membuat gadis itu menggigil. Meskipun sudah menggunakan air hangat untuk mengguyur tubuhnya, namun karena memang suhu udara negara Finlandia lebih dingin dari Indonesia, maupun New York, tubuh Gwen merasa dingin.
“Aku harus segera menyudahi aktivitas mandiku.. Jika aku terus berada di dalam bath room, aku bisa kedinginan di dalam kamar mandi. Bisa-bisa kak Barra malah mendobrak pintu ini, dan membawaku keluar dalam pelukannya.” Gadis itu tersenyum malu sendiri, ketika membayangkan suaminya Barra datang memeluknya.
Namun ada keinginan yang muncul dari sudut hati gadis itu, keinginan alami seorang perempuan terhadap kehangatan yang diberikan oleh laki-laki, apalagi mereka sudah menjadi pasangan suami istri. Gwen segera menarik handuk, kemudian mengeringkan tubuhnya. Karena tidak membawa baju ke dalam kamar mandi, akhirnya gadis itu menggunakan kimono handuk untuk membalut tubuhnya. Perlahan Gwen memutar handle pintu, dan Ketika tahu jika suaminya tidak ada berada dalam kamar, gadis itu segera keluar dari dalam kamar mandi.
************
“Tok… tok… tok…” tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk dari luar ruangan.
Perlahan Gwen beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke arah pintu yang diketuk tersebut. Gadis itu memutar handle pintu dari dalam, dan setelah terbuka tampak perempuan berseragam maid memberi hormat kepadanya.
“Selamat pagi nona… ingin memberi tahukan jika tuan Barra sudah menunggu non Gwen di meja makan.” Dengan sikap sopan, maid memberi informasi kepadanya,
__ADS_1
“Ada dimana letak ruang makan, aku akan segera menuju kesana..” memang tidak tahu, Gwen tidak malu untuk bertanya pada perempuan itu.
„Ikuti saya nona.. akan saya antarkan non ke ruang makan..” sambil tersenyum, maid meminta Gwen untuk mengikutinya.
Tanpa menjawab, Gwen segera berjalan di samping perempuan itu. Sebenarnya maid itu terlihat sungkan Ketika berjalan berdampingan dengan majikannya, namun Gwen yang terus menjejeri langkah perempuan itu. Tidak lama kemudian, sampailah mereka pada ruangan luas dengan pandangan keluar. Area kaca terbuka, membuat pemandangan di sekitar bukit tempat rumah itu berdiri, terekspos dengan sangat terbuka. Keindahan yang menyegarkan mata terpampang di depan mata Gwen, dan gadis itu terlihat sangat excited menikmati keindahan pemandangan itu.
“Sangat bagus bukan pemandangan disini, kita serasa healing hanya dengan berada di rumah saja..” tiba-tiba sebuah tangan melingkar di dada gadis itu. Ternyata Barra memeluk Gwen dari belakang, sambil meletakkan dagunya di sisi pundaknya. Mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang memiliki hubungan harmonis.
Merasa sungkan dengan maid yang menunggui mereka di ruang makan, Gwen tidak melepaskan pelukan itu. Gadis itu hanya berdiri kaku.., dan mengambil nafas panjang, Beberapa saat kemudian…
“Apakah kak Barra mau mengajak Gwen berkeliling ke sekitar rumah ini kak…?? Semalam Gwen tertidur, jadi tidak bisa melihat bagaimana lingkungan sekitar.” muncul keinginan untuk berjalan ke sekeliling rumah, akhirnya Gwen mengajak suaminya,
“Tentu saja honey… aku masih mengambil cuti kerja untuk hari ini. Aku akan menemanimu sayang… sekarang kita sarapan pagi dulu. Lebih tenang, jika kita keluar dalam keadaan perut kenyang, karena suhu udara di luar sangat dingin.” Barra langsung mengiyakan,
Tanpa membantah akhirnya Gwen mengikuti suaminya kembali ke meja makan. Melihat nasi goreng, dan ayam crispy tiba-tiba saja nafsu makan Gwen menjadi meningkat. Dengan mata bersinar, gadis itu segera mengisi piring dengan nasi goreng dan ayam crispy yang sudah dirindukannya itu.
“Siapa yang masak kak.., tahu saja kesukaan Gwen..” sambil memasukkan sendok ke mulutnya, Gwen bertanya pada laki-laki itu.
“Chef rumah ini sudah belajar masakan Indonesia honey.. Makanlah dulu, baru nanti kita bicara. Kamu juga bisa request menu masakan kesukaanmu, pasti akan dibuatkan oleh chef agar kamu tidak merasa kesepian di negara ini..” sambil tersenyum, Barra menjawab keheranan istrinya.
__ADS_1
Gadis itu segera lahap menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya, tanpa berpikir berapa kalori yang masuk ke dalam tubuhnya.
********