Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 209 Tidak Enak Badan


__ADS_3

Di ruang tengah, setelah sarapan pagi, empat pasangan suami istri itu kembali berkumpul dan membicarakan banyak hal di ruang tengah. Bareeq dan Tareeq sedang main Play Station di dalam kamar mereka. Banyak camilan dan minuman yang disiapkan maid untuk menjamu yang sedang bicara tersebut.


“Jadi kalian akan kembali ke Indonesia kapan Nov... ?” Asep bertanya pada teman SMA mereka itu.


“Frans mengajak untuk menunda kepulangan dulu Asep.. Rencana dua hari lagi kami sudah akan pulang, tapi karena masih ada urusan suamiku, Frans mengajak Kamis malam kita baru berangkat dari kota ini..” Novi menjelaskan.


“Hemppphh… aku jadi kangen ingin balik ke Indonesia.. Sudah enam tahun di negara ini, belum pernah sekalipun aku pulang ke Jakarta..” celetuk Asep sambil tersenyum masam.


Aldo dan Gwen melihat ke arah Asep.. Bukan hanya laki-laki itu, sebenarnya Aldo juga belum pernah kembali lagi ke Jakarta, begitu mereka sampai ke Finlandia. Hanya Gwen dan Barra saja, itupun terjadi ketika mereka sedang ada masalah keluarga.


“Bukan hanya kamu Asep… kamu melupakanku. Aku juga belum pernah pulang ke Jakarta, sejak pergi dari kota itu bersamamu.. Kita bisa atur untuk pulang, dan sekaligus kita berlibur di Labuan Bajo atau Raja Ampat... Bagaimana menurutmu Kayla ?” bukannya minta persetujuan teman-temannya yang lain, Aldo malah bertanya pada Kayla.


„Benarkah Ald... ayuk kita atur liburan secepatnya. Aku juga sedang butuh liburan nih..” seperti gayung bersambut, Kayla dengan penuh minat menanggapi ajakan suaminya.


“Trus… hanya kalian berdua saja yang bisa dapat jatah liburan… Aku dan Cynthia dibiarkan untuk tinggal, dan mengurus perusahaan di negara ini.. Not fair…” protes Asep.


“Sudah Asep… biarkan pasangan suami istri itu menikmati masa honeymoon ke sekian kalinya.. Kita bisa atur perjalanan sendiri, aku akan ajak Bareeq dan Tareen sekalian untuk berkeliling Indonesia. Jika nanti suamiku kak Barra tidak ada waktu, kita bisa melakukan perjalanan sendiri berlima..” tanpa terlebih dahulu bertanya pada Barra, Gwen menyahut.


Bola mata Barra seakan mau meloncat keluar mendengar ucapan istrinya. Laki-laki itu memeluk belakang istrinya, kemudian menengadahkan wajahnya ke atas..


“Istriku sudah  berani nih… mengambil keputusan sendiri, tanpa meminta pertimbangan dari suaminya… Kemanapun kamu dan anak-anak pergi honey.., aku akan menemanimu tanpa syarat..” dengan tidak tahu malu, laki-laki itu memberikan ciuman kilat di bibir gadis itu.

__ADS_1


Wajah Gwen merah padam, karena suaminya dengan tidak tahu malu mencium bibir di depan teman-temannya. Secepatnya, Gwen mendorong dada Barra untuk menjauh darinya..


„Ha.. ha.. ha..., tidak perlulah kamu malu seperti ini Gwen.. Bukankah sudah terlalu sering, kalian berdua menjadikan kami obat nyamuk. Mengumbar kemesraan tanpa permisi di depan kami..” sambil tertawa, Asep memberi komentar pada Gwen.


Semua yang ada di dalam ruangan itu tertawa, mendengar komentar Asep. Mereka sudah terbiasa, tetapi bagi Novi yang hanya sesekali berlibur ke luar negeri, melihat hal itu masih merasa malu..


„Barra hebat... kamu memberikan inspirasi padaku Broo… Istriku Novi, masih sering menolak jika aku memperlakukannya mesra di depan orang banyak... Bahkan tidak jarang, aku jadi didiemin hanya gara-gara hal ini...” tetapi sikap Barra memperlakukan istrinya, seperti membuat ide baru bagi Frans.


Novi mencubit pinggang suaminya, tetapi Frans langsung memeluk dan memberikan ciuman pada istrinya. Semua yang berada dalam ruangan, tertawa melihat sikap impulsive yang ditunjukkan Frans.


**********


Selepas makan siang, di villa tinggallah Barra dan keluarganya saja yang masih tinggal. Tiga pasangan suami istri lainnya sudah pamit untuk kembali ke rumah mereka. Novi dan Frans, mereka juga berpamitan untuk mengunjungi objek wisata lainnya yang ada di kota Helsinki dan sekitarnya. Sebenarnya Gwen mau ikut menemani Novi, tetapi mendadak perutnya terasa mual sehingga gadis itu diminta istirahat oleh suaminya.


Meskipun kebersamaan mereka singkat, namun banyak kesepakatan yang dihasilkan oleh keluarga muda itu. Novi dan Frans berkongsi dengan Gwen, untuk mengenalkan desain interior karya istri Barra itu. Mereka akan menggunakan karya Gwen, untuk mempercantik semua outlet toko yang dimiliki Novi, dan Frans juga akan menawarkan pada perusahaannya,


“Honey… minumlah seduhan grass root dan ginger untuk menghangatkan perutmu, Tadi aku minta maid untuk menyiapkannya untukmu, dan sudah ditambahkan brown sugar sehingga rasanya enak..” Barra memberikan mug berisi minuman hangat pada istrinya.


“Iya pa… aku akan meminumnya. Tadi barusan sudah Gwen oleskan peppermint di atas pusar, lumayanlah rasa hangat sudah mulai menyebar..” perempuan muda itu menerima mug dari tangan suaminya, kemudian meminumnya beberapa teguk.


Ada rasa hangat mengalir dari kerongkongan, turun ke dada. Dan tidak lama kemudian rasa hangat itu menyebar ke dalam perutnya secara perlahan. Gwen merasakan kenyamanan setelah melakukan hal itu. Perempuan muda itu memejamkan matanya perlahan, dan Barra merasa iba melihatnya.

__ADS_1


„Bagaimana jika kita ke dokter saja honey.. aku takut jika penyakitmu menyebar..?” dengan tatapan khawatir, Barra bertanya pada istrinya.


Perlahan Gwen membuka matanya, dan melihat wajah suaminya tengah menatapnya dengan seksama, Perempuan muda itu tersenyum, dan tangannya terangkat ke atas memberikan usapan di wajah suaminya.


„Papa Barra terlalu khawatir pada Gwen... Ini hanya mual dan begah biasa sayang, tidak perlulah sampai harus pergi ke dokter. Bisa jadi, ada faktor masuk angin, karena semalam kita terlalu asyik begadang, ngobrol dengan teman-teman kan..” Gwen mencoba menenangkan perasaan suaminya.


Tapi kata-kata Gwen tidak bisa memuaskan hati Barra, laki-laki itu menangkap ada sedikit aura pucat di wajah istrinya, meskipun Gwen berusaha untuk menutupinya. Laki-laki itu perlahan menundukkan wajahnya, dan memberikan ciuman di bibir Gwen.


„Ppppfffthhh.... sebentar pa... tiba-tiba perut Gwen menjadi mual..” kedua tangan Gwen tiba-tiba mendorong dada suaminya untuk menjauh darinya.


Perempuan muda itu segera bangun dari posisi duduknya, kemudian berjalan cepat menuju wastafel. Berkali-kali Gwen mencoba untuk mengeluarkan isi perutnya, namun sampai berkeringat, perempuan muda itu tetap tidak bisa muntah. Barra memegangi punggung istrinya, kemudian Kembali mendudukkannya di atas sofa. Laki-laki itu mengambil peppermint, kemudian meneteskan di atas masker dan meminta Gwen mengenakan masker tersebut. Beberapa saat, Gwen menikmati aroma peppermint yang mulai masuk ke rongga hidung, dan saluran pernafasannya.


“Apakah sudah lega honey..?” setelah melihat istrinya sudah membuka mata, kembali dengan khawatir, Barra bertanya.


Perlahan Gwen menganggukkan kepalanya, kemudian..


“Jangan melihat Gwen dengan khawatir seperti ini papa sayang… sebentar lagi Gwen pasti akan sembuh.” Dengan lirih, Gwen menenangkan suaminya.


“Hempppph… honey istirahat saja. Aku akan menelpon dokter keluarga kita, untuk secepatnya melakukan home visit kesini. Sekarang, honey berbaring dulu di atas sofa, atau mau ke kamar..?” tetapi Barra bukan laki-laki yang mudah untuk dibohongi.


***********

__ADS_1


__ADS_2