Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 244 Hubungan Saudara


__ADS_3

Bali Brunch


Barra memesan restaurant dengan sajian menu Indonesia satu-satunya di kota Helsinki. Selain untuk menyenangkan istri dan putranya akan kerinduan dengan makanan khas negaranya, juga ingin mengenalkan kuliner Indonesia pada Cynthia dan Hans. Ke empat orang itu bergandengan tangan memasuki restaurant, dan terlihat waiters mencegat mereka di pintu masuk.


“Tuan Barra.., untuk reservasi tempat yang dilakukan Charly tadi siang, kami sudah menyiapkan tempat di private room, yang ada di lantai dua. Sudah ada beberapa tamu yang datang lebih dulu. Mari saya antarkan..” waiters memberi tahu tentang tempat mereka.


Tanpa menjawab, keluarga Barra mengikuti waiters, dan menggunakan tangga biasa, mereka naik menuju ke lantai dua. Setelah sampai di lantai dua, waiters masih membawa mereka untuk masuk ke sebuah ruangan tertutup. Baru saja pintu dibuka, Gwen sudah melihat Kayla adik iparnya, yang langsung bergegas menyambut dua keponakannya.


“Tareeq.. Bareeq, aunty sudah menunggu sejak tadi. Kalian baru saja sampai ke tempat ini..” Kayla memeluk dua keponakannya itu.


„Kan kami menunggu sholat Maghrib dulu aunty, baru berangkat dari rumah. Mommy yang mengajarkan kepada kami..” dengan cerdas, Bareeq membuat alasan,


“Mmppphh iya deh, aunty sedang tidak sholat kali ini. Ayuk kita duduk di balkon, aunty tunjukkan, kita bisa melihat pemandangan bagus dari balkon sayang.” Tidak menghiraukan yang lain, Kayla membawa kedua ponakannya keluar menuju ke arah balkon,


Gwen tersenyum dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat adik iparnya, pergi membawa dua putranya. Namun.. Gwen dengan cepat melihat ke semua temannya yang sudah datang.


“Hans.. kamu sudah datang lebih dulu ke tempat ini..?” Gwen mengajak semua yang sudah berada dalam ruangan ini untuk berjabat tangan.


„Iya Gwen... Asep dan Cynthia tadi menjemputku di hotel. Aku masih betul betul tidak menyangka, dengan keberuntunganku. Kita bisa berkumpul lagi, dan akan bekerja dalam satu tim seperti dulu, Ketika kita masih kuliah..” Hans menjawab pertanyaan Gwen.


Barra menarik kursi, dan meminta istrinya untuk segera duduk. Tanpa menjawab, perempuan itu segera duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh suaminya. Terlihat waiters sudah mulai masuk mengantarkan makanan yang tadi dipesan oleh Charly. Menu masakan Bali yang lebih pedas, menu masakan Padang, dan masakan Jawa tampak menggiurkan, dihidangkan oleh waiters di depan mereka.


“Woww… sangat excited sekali. Tampilannya sangat memukau, dan penuh etnik. Aku baru melihat sajian makanan seperti ini..” Hans tampak terpukau melihat penyajikan makanan dalam piring saji. Tatapan mata laki-laki itu tampak mengerjap, dan Gwen serta Barra hanya tersenyum melihatnya.

__ADS_1


„Sepertinya masakan ini dominan pedas, spicy ya Gwen. Tapi menarik untuk mencicipinya..” Cynthia juga nampak terpukau dengan tampilan makanan.


„Kenapa perlu bertanya Cynthia sayang, kenapa kalian tidak segera mencobanya. Tapi pesanku, ambillah sedikit dulu, cicipi. Jika taste kalian masuk, tambahkan lagi makanannya.” Karena terlihat jika makanan itu banyak menggunakan cabe, gwen berpesan pada Cynthia.


„Okay..” tanpa menunggu, Hans dan Cynthia yang penasaran, segera mengambil beberapa potong menggunakan garpu.


Dua anak muda itu terlihat mencicip makanan, dan keduanya tampak kepedasan,


“Ha.,. ha.. ha.., untuk di awal mungkin kalian shock. Tapi percaya padaku deh, suatu saat kalian pasti akan merindukan masakan ini..” Aldo berseloroh, dan tertawa melihat Cynthia serta Hans kepedasan.


“Kami mau kok… hanya harus hati-hati saja. Takut tersedak, karena rasa spicy nya sangat extra ordinary..” Hans tidak mau kalah. Laki-laki itu malah langsung menambah dengan dua potong lainnya.


“Sayang… kamu sedang hamil tua, hati-hati, jangan terlalu banyak makan makanan pedas.” Terdengar Asep mengingatkan istrinya, takut Cynthia kalap.


Kayla yang mendengar suara tawa, Kembali masuk ke dalam dengan menggandeng Bareeq dan Tareeq. Aldo dengan sigap menyiapkan tempat duduk untuk ketiganya, dan mereka segera duduk. Semua yang berada dalam ruangan, menikmati makan malam dengan penuh kebersamaan dan keakraban,


**********


Setelah semua menikmati makanan, waiters mengambil piring dan gelas yang mereka gunakan. Tidak lama kemudian, Kembali waiters datang membawa makanan penutup, dan minuman untuk mereka.


“Jadi rencana kak Gwen untuk mewujudkan cita-cita sebagai desainer interior itu benar adanya ya kak..?” tiba-tiba Kayla bertanya pada kakak iparnya.


“Benar Kay… karena sangat sulit untuk mencari pembeli baru. Ini sudah banyak pesanan datang, tidak mungkin kan jika kakak mengecewakan mereka. Akhirnya kak Barra membantuku, agar aku mengajak teman-teman untuk mendirikan work shop. Juga Charly sudah melakukan recruitment di perusahaan, untuk memenuhi kebutuhan karyawan yang lain.” Tidak ada yang disembunyikan, Gwen menjawab pertanyaan dari Kayla.

__ADS_1


“Wah bagus sekali kak… nanti Kayla bisa menggunakan perusahaan kak Gwen sebagai tempat magang. Bukankah menarik kak Aldo..” Kayla bertanya pada suaminya.


“Katanya beberapa waktu lalu, kamu akan magang di perusahaan kita. Kenapa sekarang berubah arah Kay..?” Aldo mengingatkan apa yang pernah dikatakan istrinya.


“Nanti kalau Kayla magangnya di perusahaan suami, bisa jadi subjektif dong. Jadinya, tidak ada manajer divisi yang berani memberiku pekerjaan. Tapi dengan bergabung di start up milik kak Gwen, kita lebih ada tantangan. Bagaimana kita bisa meng hire calon pembeli baru, dan tetap memuaskan pembeli serta pelanggan lama.” Dengan cerdas, Kayla meng counter kalimat suaminya.


Aldo hanya tersenyum, dan mengusap kepala istrinya dengan lembut. Laki-laki itu memberikan ciuman di kepala Kayla.


“terserah kamu sajalah Kay.., yang penting kamu tidak ngambek, dan tetap bersemangat.” Akhirnya Aldo menyetujui pendapat istrinya.


“He.. he.. he.., akhirnya Aldo menyerah di kaki Kayla juga..” Asep menggoda sahabatnya.


“Iya dong Sep.. Kayla sudah menjadi istri yang pasrah dan  menyerah padaku. Kali ini, biar aku yang menyenangkan hatinya..” sahut Aldo.


Barra hanya tersenyum, tidak ikut berkomentar. Di awal pernikahan mereka, ada sedikit keraguan di hati laki-laki itu. Mengingat bagaimana kedekatan Aldo dengan istrinya di masa lalu, membuat ada kekhawatiran di hatinya, atau bisa dikatakan sebagai rasa cemburu. Tetapi melihatnya sekarang, bagaimana Aldo memperlakukan adik kandungnya, perlahan rasa cemburu itu memudar.


“Papa… mereka pasangan serasi, yang bisa saling melengkapi..” Gwen berbisik di telinga suaminya,


Barra menoleh, dan tersenyum pada istrinya. Laki-laki itu kemudian merengkuh bahu istrinya, dan menyandarkan kepala perempuan itu di sisi bahunya.


„hempphh... kalian semua ini memang benar benar tidak tahu malu, dan tidak menghargaiku. Semua bersikap mesra pada pasangan, sedangkan aku.. hu.. hu..” tiba-tiba Hans memprotes tindakan tiga pasangan itu.


„Jangan khawatir Uncle Hans, masih ada Bareeq dan Tareeq disini. Kita ke balkon saja yuk Uncle, view nya sangat bagus banget. Biarkan mereka berpacaran terus, daripada kita yang terganggu..”tiba-tiba Bareeq dan Tareeq berdiri, dan mengajak Hans keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


**********


__ADS_2