
Sambil berjalan menuju teras, Gwen mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah itu terlihat sangat bersih dan asri, menunjukkan jika pemilik rumah tampak merawatnya dengan baik. Namun tidak ada satupun orang yang dilihatnya. Gadis itu segera menuju ke depan pintu, dan untung saja ada bel pintu yang terletak di sebelah pintu.
“Aku akan menekan tombol bel pintu ini saja, semoga saja yang ada di dalam segera membukanya.” Gwen berbicara pelan pada dirinya sendiri. Perlahan perempuan itu menekan bel pintu secara perlahan…
“Tet.. tet..,” suara music terdengar sampai ke telinga Gwen.
Gwen memundurkan Langkah beberapa ke belakang, dan menunggu sampai ada yang membukakan pintu. Tidak lama kemudian, terdengar suara Langkah kaki diseret mendekati pintu.
“Klek…” terdengar suara anak kunci membuka pintu. Dan tidak ada lima menit, daun pintu di depannya sudah terbuka, dan..
„Selamat pagi.. mau ketemu siapa nak...?” terlihat perempuan paruh baya bertanya pada Gwen.
“Selamat pagi Ibu… perkenalkan nama saya Gwen. Kebetulan kedatangan saya kesini karena mendapatkan Amanah dan pesan dari kak Jacqluinne, untuk menyampaikan sesuatu pada Tante Ayun. Apakah ibu mengenal tante Ayun..?” dengan sopan, Gwen kembali bertanya.
Bukannya langsung menjawab, mendengar penjelasan dan juga pertanyaa dari Gwen, perempuan paruh baya itu malah tidak berhenti menatap Gwen. Terlihat di kelopak mata perempuan paruh baya itu, tergenang air mata, dan Gwen menjadi merasa bersalah.
“Ibu.., apakah saya salah bicara. Jika begitu, maafkan saya Ibu.” Tidak mau menunggu, Gwen segera menyampaikan permintaan maaf.
Perempuan paruh baya itu mengusap air mata, yang sudah sedikit mengalir dari sudut matanya ,menggunakan lengan baju. Kemudian...
__ADS_1
„Duduklah dulu nak Gwen..., ibu akan merasa senang bisa berbincang banyak denganmu nak...” perempuan paruh baya itu mengajak Gwen, untuk duduk di meja kursi yang ada di teras rumah tersebut.
Tanpa banyak bicara, Gwen segera mengikuti Langkah kaki perempuan paruh baya itu, dan mereka berdua duduk berhadapan. Beberapa saat kemudian...
„Nak Gwen... bagaimana kamu bisa mengenal putriku nak, dan dimana kamu bisa bertemu dengan dia. Sampai papanya meninggal, Jacqluinne tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah ini. Bahkan ibu dan juga adik-adiknya sudah menganggap Jacqluinne telah tiada..” perempuan paruh baya itu tidak bisa menutupi kesedihannya. Meskipun beberapa kali mengusap air mata yang terus merembes keluar, namun air mata juga terus keluar dan menggenang pada kelopak matanya.
Gwen tidak berani bersikap, perempuan muda ini hanya duduk, dan menunggu sampai isak tangis perempuan paruh baya di depannya itu reda. Dan setelahnya...
„Mmmppphh... jadi tante ini Tante Ayun ya. Ijin Gwen memberikan salam tante.. Seperti yang tadi tante duga, Gwen memang mengenal kak Jacqluinne, Bahkan saat ini, Gwen dan kak Jacqluinne menjadi saudara sepupu ipar Tante. Suami saya kebetulan saudara sepupu dari kak Jacqluinne..” untuk menyenangkan hati perempuan di depannya, Gwen mencoba menyampaikan kabar bahagia.
“Apa yang kamu katakan nak, putriku sudah menikah..? Dan siapa yang mau menjadi suaminya.. Mendengar kata-katamu ini, aku jadi teringat pacar putriku yang Bernama Barra. Aku tahu bagaimana Barra sangat mencintai dan berharap pada putriku. Bahkan semua kejelekan Jacqluinne selalu ditutupi oleh laki-laki itu. Namun keegoisan putriku, menjadikan anak muda itu patah hati kala itu, Aku harap nak Barra bisa mendapatkan pasangan yang sekufu nak Gwen.. Itu doaku..” dengan tulus, tanpa ada yang ditutupi, Nyonya Ayun malah menyinggung tentang suami Gwen.
“Benar tante, kak Jacqluinne dan suaminya sudah menikah secara resmi, dan bahkan mereka juga sudah memiliki seorang putra laki-laki Bernama Mike. Anak kecil itu sangat cerdas tante..” Gwen mengambil ponsel, kemudian menggulir masuk ke Galerry ponsel. Beberapa saat, foto Jacqluinne, Andy serta Mike ditunjukkannya pada perempuan paruh baya itu.
“Ini tante… kak Jacqluinne dengan suami dan putranya..”
Perempuan paruh baya itu dengan tangan bergetar, mengambil ponsel Gwen. Beberapa saat perempuan itu Kembali menangis, dan mulutnya sampai mendesis mengucap kata yang Gwen tidak bisa mendengarnya. Sampai akhirnya.., setelah perempuan paruh baya itu menyerahkan Kembali ponselnya.
“Tante Ayun… mohon dimaafkan jika Gwen tidak bisa berlama-lama di tempat ini, Masih banyak urusan yang hari ini harus Gwen selesaikan, dan kebetulan suami saya menunggu di mobil. Jadi Gwen permisi dulu tante, dan minta pamit. Jika diperbilehkan, kita bisa foto berdua tante, dan nanti akan Gwen kirimkan pada kak Jacqluinne.” Tidak mau terlalu banyak tahu masalah yang ada dalam keluarga Jacqluinne, Gwen segera minta pamit.
__ADS_1
„Dengan senang hati nak...” Gwen kemudian mendekati perempuan paruh baya itu.
Tidak lama kemudian, Gwen segera menyalakan kamera depan, dan melakukan foto selfie dengan perempuan paruh baya itu. Setelah itu Gwen segera berpamitan,
“Pergilah nak, dan berhati-hatilah. Mohon maaf, Tante tidak bisa mengantarmu sampai ke jalan. Jujur ya nak, tante masih merasa gemetar, seperti tidak percaya jika mendengar Kembali kabar putriku yang sudah hilang..” dengan penuh perasaan, Nyonya Ayun mengatakan perasaannya.
„Tidak apa tante..., segera saya akan menyampaikan pada saudara sepupu saya Andy, agar membawa Kembali kak Jacqluinne kembali pulang ke negara ini. Selamat pagi tante.., terima kasih. Wassalamu alaikum..” tidak mau berlama-lama di tempat itu, Gwen segera mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu.
Seakan tidak mau melepaskan Gwen, nyonya Ayun memeluk erat tubuh Gwen. Namun perlahan, Gwen melepaskan pelukan tersebut. Dengan sikap sopan, Gwen segera tersenyum dan berbalik badan untuk segera meninggalkan teras tersebut. Terasa berat Langkah Gwen, karena di dalam hati ada perasaan tidak tega, melihat pemandangan itu. Namun tidak mau terikat lebih lama, membuat Gwen terus berlalu meninggalkan tempat tersebut.
“Syukurlah.., aku sudah bisa melepaskan diri dari Tante Ayun. Jika tidak, aku bisa terbawa perasaan, dan akan membuat kak Barra menungguku lebih lama di mobil. Aku tidak boleh seperti itu, karena aku harus jelas dalam bersikap.” Sambil menuju ke mobil yang masih menyala mesinnya di depan gerbang rumah tante Ayun, Gwen berbicara sendiri.
Melihat istrinya sudah berjalan ke arah mobil, Barra kemudian turun dari mobil untuk membukakan pintu bagi istrinya.
“Sudah selesai urusannya honey..” sambil tersenyum membukakan pintu, Barra bertanya pada istrinya.
“Mmmpphh… sudah papa. Kita langsung pergi saja dari rumah ini pa..., karena jika nanti Tante Ayun melihat keberadaan papa, akan bisa menjadi lebih berabe.” Sahut Gwen yang kemudian masuk ke dalam mobil.
Kening Barra berkerut, tetapi laki-laki itu kemudian menutup pintu mobil Kembali.
__ADS_1
************