
Semua yang berada dalam ruang meeting, mengagumi bagaimana Gwen memimpin rapat. Semua kendala, diselesaikan dengan cepat, dan tanpa ragu perempuan itu menawarkan alokasi sumber daya, setiap ada kesempatan pengembangan usaha. Mungkin hal ini yang membedakan, orang mendirikan perusahaan untuk menjalankan hobby dan passion, dan yang memang mengejar keuntungan untuk dirinya.
“Okay… semua permasalahan sudah kita bahas bukan. Terkait dengan kepergian kita minggu depan, apakah ada yang mengganjal kalian..” setelah memberikan solusi, kembali Gwen memancing pertanyaan.
“Tidak ada Miss Director.. kita akan tetap berkoordinasi bukan. Meskipun posisi Miss Director berada di negara Indonesia.” Cynthia memberikan tanggapan.
“Benar Manajer Divisi Cynthia, secara online aku akan tetap ada untuk perusahaan ini. Jangan ragu untuk berhubungan denganku, hanya saja ingat. Jam malam dan jam pagi di negara ini, berbeda dengan jam yang ada di negara Indonesia. Jadi aku harap, kalian menyesuaikannya jika mengajak saya untuk diskusi..” tanpa keberatan, Gwen menanggapi,
Semua merasa puas dengan keputusan hasil rapat, dan karena merasa sudah tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan, akhirnya Gwen mengakhiri pertemuan. Karena masih banyak yang harus disiapkannya, Gwen buru buru berjalan keluar dari dalam ruang meeting. Perempuan itu langsung berjalan keluar menuju pintu keluar, tanpa mampir dulu ke ruang kerjanya.
„Miss Director.. apakah aku bisa menyela waktumu sebentar..” tiba tiba terdengar suara Jacqluinne memanggil Gwen.
Perempuan itu berhenti dan membalikkan tubuhnya, dan tersenyum Ketika melihat Jacqluinne berjalan ke arahnya.
“Ada apa kak Jacqluinne.., apakah hasil keputusan rapat tadi belum cukup..” berpikir jika tentang rapat tadi yanga kan dikonfirmasi, gwen bertanya tanpa ragu pada perempuan itu.
“Bukan Miss.. ini masalah pribadi, tidak ada kaitannya dengan perusahaan..” ucap Jacqluinne malu.
“Hemppphh… baiklah, kita duduk dulu saja di kursi tunggu yang ada di depan..” Gwen akhirnya mengajak Jacqluinne untuk duduk di kursi depan.
Dua perempuan itu akhirnya berjalan beriringan, dan beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka, tersenyum dan menganggukkan kepala. Ketika mereka sudah sampai di kursi yang akan mereka tuju, keduanya segera duduk berdampingan.
“Katakan kak Jacqluinne… mungkin ada yang mengganjal, atau mungkin ada pesan yang akan kakak sampaikan padaku..” dengan lirih, Gwen memulai pembicaraan.
__ADS_1
“Mmppphhh… terima kasih sebelumnya Miss, masih berkenan menerimaku. Aku ingin titip sesuatu untuk keluargaku di Jakarta Miss. Sudah lebih sepuluh tahun, aku seperti anak yang hilang, tidak pernah peduli dengan kabar keluargaku.” Jacqluinne akhirnya menceritakan sesuatu terkait dengan dirinya.
Gwen terdiam, tidak menyela pembicaraan Jacqluinne. Perempuan itu berusaha sampai Jacqluinne selesai menyampaikan masalahnya.
“Aku hanya berharap, semoga saja kedua orang tuaku masih hidup Miss, dan bisa menerima barang yang akan aku titipkan. Aku dulu pergi meninggalkan Jakarta, tanpa ijin dari mereka, aku nekat pergi meninggalkan mereka. Dan sampai akhirnya aku terputus komunikasi dengan mereka..” kata kata yang diucapkan Jacqluinne semakin lirih.
Tidak terasa ada air bening mengalir dari sudut mata perempuan itu. Tampak Jacqluinne berusaha menguasai perasaannya, sampai akhirnya perempuan itu terdiam lama.
“Kak Jacqluinne.. Inshaa Allah aku akan menjaga amanah kakak. Kirim barang yang akan kakak kirimkan, maksimal dua hari keberangkatan, karena semua akan segera aku packing. Dan terkait masalah keluarga kak, aku hanya bisa memberikan masukan, sambung kembali silaturahmi itu kak. Bicarakan dengan Andy, aku yakin Andy akan ikut memberikan jalan keluar bagi kakak.” Tanpa berpikir panjang, Gwen menyanggupi. Beberapa kata ikut disampaikan pada perempuan itu.
„Iya miss.. aku mungkin akan mencobanya. Aku memang belum pernah membicarakan hal ini pada Andy, karena aku sendiri tahu bagaimana kondisi keuangan keluargaku. Aku tidak mau merepotkannya. Tetapi, sewaktu waktu, aku pasti akan menyampaikan masalah ini padanya..” ucap Jacqluinne. Tampak raut kebahagiaan tersirat dalam pandangan perempuan itu.
„Aku ikut berdoa untukmu kak... Jika sudah tidak ada lagi, aku akan kembali pulang ke rumah kak..” melihat sudah tidak ada lagi yang akan disampaikan oleh Jacqluinne, akhirnya Gwen berdiri.
Tidak lama kemudian, perempuan itu sudah berjalan menuju ke arah mobilnya. Karena merasa tidak akan lama berada di perusahaan, Gwen sengaja tidak membawa Sheen, dan berkendara sendiri ke perusahaan tadi pagi.
**********
Barra tersenyum melihat istrinya sudah selesai melakukan packing. Terlihat di depan pasangan suami istri itu, dua trolly bag besar yang banyak berisi pakaian anak anak. Mereka sendiri sengaja tidak membawa perlengkapan banyak banyak, karena mengingat banyak pakaian dan perlengkapan mereka yang ada di kota Bogor.
“Sudah selesai honey packingnya..” Barra mendekat dan bertanya pada istrinya.
“Mmmpphh… sudah pa. Kita makan malam dulu saja yukk, anak anak sudah makan tadi sore. Setelah anak anak berenang, mereka merasa lapar dan mendahului kita untuk makan..” menyadari jika mereka belum makan malam, Gwen menawarkan pada suaminya.
__ADS_1
„Baiklah ayukk..” Barra merangkul bahu istrinya.
Pasangan suami istri itu segera keluar dari dalam kamar, dan berjalan menuju ke ruang makan. Tampak Claire berdiri Ketika melihat majikannya berjalan menuju ke meja makan.
“Mau makan malam ya Tuan, Miss.. semua sudah saya hangatkan di microwave, tinggal mengeluarkannya saja..” maid rumah itu segera bergegas mendahului pasangan suami istri itu.
Tidak lama kemudian, makanan untuk makan malam sudah dihidangkan di atas meja makan.
„Mau makan apa pa... biar mommy siapkan..” melihat menu makanan khas Eropa tersaji, Gwen menawarkan pada suaminya.
„Ambilkan pizza dua potong saja, dan jika ada tambahkan Cola. Tiba tiba saja kenapa malam ini, aku ingin banget menikmati Cola..” melihat asap yang masih mengepul pada pizza yang baru saja diletakkan di depannya, Barra meminta Gwen untuk menyiapkannya.
Tanpa ragu, Gwen segera menyiapkan pizza dan minuman untuk suaminya. Tampak pisau dan garpu juga diletakkan Gwen di piring yang ada di depan Barra. Untuk dirinya sendiri, Gwen mengambil salad sayur dan buah, kemudian dia mix.
“Honey tidak makan malam..?” melihat setiap detail pada istrinya, Barra bertanya pada perempuan itu.
“Salad dulu pa… nanti jika lapar, mommy akan menambahkan sandwich untuk makan malam..” perempuan itu kemudian memasukkan salad ke mulutnya.
Barra tersenyum, kemudian mengikuti istrinya menikmati makan malam. Keduanya tampak makan dalam diam, dan setelah selesai mereka baru akan berbincang. Hal itu mereka lakukan, untuk menjaga quality time hubungan mereka, dan tidak mengganggu aktivitas utama dengan perbincangan. Setelah beberapa saat mereka selesai makan, tiba tiba terlihat Claire Kembali masuk ke ruang makan.
“Ada apa Claire.. apa ada yang ingin kamu sampaikan pada kami.” Melihat kedatangan Claire, Gwen langsung bertanya pada perempuan itu.
“Iya Miss.., Tuan, ada Tuan Andy dan miss Jacqluinne menunggu di ruang tamu.” Perempuan itu menjawab pertanyaan dari majikan perempuannya.
__ADS_1
“Baik Claire, suruh mereka pindah ke ruang tengah. Sajikan minuman dan camilan untuk mereka, tidak lama lagi aku akan menemuinya..” tanpa bertanya pada suaminya, Gwen segera memberi perintah balik pada perempuan itu.
**********