
Gwen menengok ke kanan kiri, mencari ruang kelas untuk kuliah jam pertama dan jam kedua. Ada dua mata kuliah yang harus dia jalani untuk hari ini, yaitu mata kuliah Green Design, dan Interior Drawing. Gadis itu mengedarkan pandangan, dan melihat sebuah ruang yang ada di dekat pohon besar dengan cermat, dan ternyata ruang tempat penyelenggaraan kuliah yang dicarinya.
“Aku harus bergegas kesana, karena untuk pertemuan pertama, aku khawatir ada penentuan tempat duduk. Aku tidak boleh duduk di belakang..” Gwen segera beranjak menuju ruang kelas yang ada di gedung seberang tempatnya berdiri saat ini.
Tidak sampai lima menit, akhirnya Gwen sampai ke tempat yang sudah ditujunya. Tanpa melihat ke kanan kiri, Gwen langsung masuk kelas. Barua da satu orang di ruangan itu, dan dia menempati baris kedua dari depan.
„Hi... apakah kamu sendiri di tempat ini..? Jika iya, bisakah aku duduk di sampingmu..” Gwen tersenyum, dan minta ijin untuk duduk disamping gadis itu.
“Duduklah disini, aku juga datang sendiri ke kelas. Aku belum memiliki satupun teman di college ini. Siapa namamu.., kenalkan namaku Cynthia.” Gadis itu mengulurkan tangan mengajak Gwen berkenalan.
“Terima kasih, call me Gwen.. Cynthia.” Gwen menerima uluran tangan gadis itu. Gwen segera duduk disamping gadis yang Bernama Cynthia.
“By the way… dari negara kamu berasal Gwen.., negara China kah, karena kulitmu putih bersih, dan tubuhmu mungil.” Cynthia yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dari Gwen, bertanya kepadanya.
“Aku dari Indonesia Cynthia, salah satu negara di Asia. Apakah kamu pernah mendengar negara Indonesia sebelumnya..?” kedua gadis itu segera terlibat dalam pembicaraan seru.
Mereka saling mengenalkan negara masing-masing, dan ternyata Chyntia berasal dari negara Denmark. Gadis itu datang ke negara ini sendirian, dan untuk menghemat pengeluaran, Chyntia menyewa apartemen tua dengan harga terjangkau.
“Pulau Bali jika tidak salah ada di negara Indonesia, aku pernah ke pulau itu dengan papa dan mamaku Gwen. Aku sangat mengagumi pulau itu, dengan diversity yang sangat beragam, keramahan penduduknya, juga panorama alam yang membius aku dan keluargaku. Jika ada waktu, aku pingin berkunjung ke pulau itu lagi..” tiba-tiba Cynthia menceritakan tentang pulau Bali.
„Benar sekali Chyntia... tapi tempat tinggalku berbeda pulau dengan pulau Bali. Banyak objek wisata lain yang perlu kamu kunjungi juga Chyn.. ada Labuan Bajo, Raja Ampat, Lombok. Coba kamu masuk ke Instagram, atau ke Google, ketikkan nama tempat wisata itu. Kamu akan bisa lihat, betapa indahnya lokasi wisata alam tersebut,” dengan bangga, Gwen mengenalkan objek wisata yang ada di Indonesia.
__ADS_1
„Mmmmphh.. menarik sekali Gwen ceritamu, jika ada waktu senggang aku akan mencari informasi tentang lokasi objek wisata itu. Kebetulan aku dan keluargaku menyukai wisata alam, jadi sering eksplorasi tempat-tempat baru.” Cynthia menanggapi informasi yang diberikan Gwen,
Tiba-tiba kelas mulai terlihat ramai, Sebagian mahasiswa yang ikut kelas Green Design, Interior Drawing, yang didominasi mahasiswa baru, mulai memasuki ruangan. Cynthia dan Gwen terdiam, dan menatap ke arah mahasiswa yang mulai enempati kursi-kursi yang kosong,
“Excuse me.., apakah saya boleh duduk di sebelahmu..” tiba-tiba ada anak laki-laki yang minta ijin pada Gwen.
„Of course... duduklah. Kebetulan tempat ini kosong..” Gwen tersenyum dan mempersilakan anak mud aitu untuk duduk di sampingnya. Anak muda itu mengenakan kaca mata tebak, seperti kutu buku.
„Namaku Hans... bolehkah aku tahu namamu girl..” anak muda itu mulai mengenalkan dirinya,
„Gwen..., dan ini temanku Cynthia..” Gwen mengenalkan dirinya dan juga Cynthia,
Ketiga anak muda itu kemudian terlibat pembicaraan, tetapi mereka tidak berani untuk bicara panjang, karena ada seorang laki-laki paruh baya yang sudah masuk ke dalam kelas Seketika ruang kelas menjadi senyap, melihat laki-laki itu duduk di mimbar dosen,
*******
“Aku tahu tempatnya, ikuti aku..” ternyata Hans sudah mengetahui dimana letak food court.
Dua gadis itu mengikuti di belakang Hans, tapi akhirnya laki-laki itu memperlambat langkah kakinya, sehingga ketiga anak muda itu kemudian berjalan berdampingan. Tidak lama kemudian, dari tempat mereka berada, terlihat suatu tempat di sudut halaman, Tapi tempat itu terlihat ramai, dan ternyata tempat itu adalah foos court yang akan mereka datangi.
“Gwen… tunggu…!” tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang memanggil Gwen dari belakang.
__ADS_1
Ketiga anak muda itu berhenti dan menoleh ke belakang, ternyata Andy berlari menghampiri mereka. Gwen terlihat sebal melihat kemunculan adik sepupu dari suaminya.
“Mau makan siang ya…, barengan saja , aku juga lapar nih..” dengan tidak tahu malu, Andy mengajak Gwen untuk bersama.
Gwen tidak menjawab, dan langsung menggandeng tangan Hans dan Cynthia untuk mempercepat Langkah kaki mereka. Tapi tiba-tiba Andy merasa kesal, anak mud aitu menarik tangan Gwen agar gadis itu menjejeri langkahnya.
“Hemphh.., apa sih maumu And.. Jika mau barengan dengan kami ke food court, tinggal ikut saja kan. Tidak perlu pakai tarik-tarik tanganku segala, tidak tahu sopan santun.,” sikap kasar Andy memancing emosi Gwen.
“Kamu juga sih Gwen… sudah tahu kita ini berempat. Malah jalan bertiga, aku di tinggal sendiri di belakang. Itu Namanya gak fair, tahu tidak..” bukannya minta maaf, Andy malah menjawab kekesalan gadis itu.
Cynthia dan Hans saling berpandangan dan senyum melihat perselisihan dua anak mud aitu. Tetapi mereka tidak mau turut campur, mereka segera melanjutkan Langkah kaki mereka. Dengan bibir cemberut, akhirnya Gwen mengalah. Gadis itu berjalan di samping Andy, dan anak muda tu senyum-senyum sendiri.
“Gwen… ramai tuh, kita tidak ada tempat duduk. Bagaimana apakah kita akan waiting list, atau delivery saja. Kita cari tempat lain untuk duduk sambil menikmati makanan..” Cynthia bertanya pada Gwen.
“Mmmphh… bagaimana ya, aku ngikut saja deh. Yang penting perutku segera terisi..” Gwen menyahut cepat. Gwen melihat kea rah Hans, dan mengabaikan pendapat Andy.
Ke empat anak muda itu tampak masih berpikir, dan masih berdiri di dekat antrian pesan makanan. Tiba-tiba ada dua anak laki-laki datang ke tempat mereka, dan...
„Hi Gwen Alvaretta, rider girl… ga dapat tempat ya. Join ke meja kami saja yukk..” tiba-tiba salah satu dari dua laki-laki itu menyapa Gwen. Andy tampak mengerutkan dahi, melihat istri dari kakak sepupunya disapa laki-laki lain,
„Lihat ga jika kami berempat. Jika mejamu bisa mengakomodir tempat duduk untuk kami berempat, kami akan ikut denganmu. Namun jika hanya tersisa satu kursi, mmmpph... maaf saja ya,” tidak mau memanfaatkan kesempatan dengan mengabaikan teman-temannya, Gwen memberikan tanggapan.
__ADS_1
**********