
Gwen tersenyum malu melihat ke arah suaminya yang sudah tertidur duluan. Meskipun masih merasakan perih, dari sesi percintaan untuk pertama kalinya, tapi gadis itu merasa puas karena bisa memberikan hak suaminya. Bahkan untuk sekedar ke kamar mandi saja, Gwen harus menahannya karena ada rasa perih ketika harus berjalan. Mendapatkan sesuatu yang diharapkan dari istrinya, Barra terlihat sangat puas, dan langsung terlelap tidur setelah sesi tersebut,
“Hempph… apakah setiap laki-laki akan seperti suamiku kak Barra.. Langsung tertidur, begitu sudah mendapatkan haknya..” Gwen bergumam sendiri, karena tiba-tiba saja merasa sepi dalam kamar itu. Apalagi dirinya belum berani banyak bergerak, karena masih berusaha menyesuaikan diri dengan keadaannya.
„Apa yang honey katakan sayang… Tidurlah, aku yakin kamupun pasti lelah bukan.. Apalagi hal ini, untuk pertama kalinya untukmu..” tidak diduga, ternyata Barra mendengar gumaman dari istrinya. Laki-laki itu membuka matanya, dan bertanya dengan suara pelan pada gadis itu.
Mengetahui jika suaminya mendengar gumamannya, spontan Gwen merasa malu. Gadis itu meraih bantal yang ada di dekatnya, dan menggunakannya untuk menutup wajahnya. Barra malah seperti muncul tindakan usil, tangan laki-laki itu mencoba membuka bantal yang ada di wajah istrinya, Gwen menjadi tidak berdaya, apalagi ketika suaminya meletakkan kembali bantal di atas ranjang.
„Honey.. aku suka melihatmu seperti ini sayang.. Pipimu menjadi merah ranum, laksana bunga yang merekah ketika honey merasa malu. Kita ini pasangan suami istri bukan, hilangkan rasa malumu itu sayang..” Barra berbicara lembut pada istrinya. Tatapan laki-laki itu tanpa sengaja, melihat ke arah sprei yang digunakan. Barra tersenyum puas dan bangga, ketika melihat ada bercak noda berwarna merah di atas sprei yang didominasi warna putih itu.
„Sudahlah kak... jangan menggoda Gwen, malu tahuuu.. Lagian juga, kak Barra langsung tertidur begitu mendapatkan apa yang diinginkan selama ini dari pernikahan kita. Kan Gwen menjadi merasa gimana gitu... seperti pepatah mengatakan habis manis sepah dibuang..” terdengar protes halus dari gadis itu.
“Kwkk… kwkk… kwkk… sepertinya dengan seorang pemenang Olimpiade tingkat Internasional, aku tidak perlu untuk menjelaskan lagi deh, Bukankah saat seseorang berhubungan intim dengan nyaman atau mencapai orgasme, maka tubuh mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini disebut juga sebagai hormon cinta karena munculnya di saat seseorang merasa bahagia atau rileks. Hal itulah sepertinya yang terjadi pada suamimu ini honey…” Barra malah menjelaskan pelajaran biologi.
Secara teori, Gwen memang memahaminya. Tapi gadis itu memang tidak pernah mengalami hal itu sebelumnya dalam kehidupan nyata. Kehidupan masa sekolahnya, selalu diisi dengan hal-hal positif, jikapun ada kenakalan, pastilah kenakalan yang masih bisa ditolerir dan diterima dengan akal sehat.
„Jangan bicara seperti itulah kak Barra.. kan Gwen menjadi malu..” tapi mendengar sesuatu hal baru yang didengarnya, Gwen merasa vulgar.
__ADS_1
“Ha.. ha.. ha.. I like about you honey…” Barra malah tertawa melihat istrinya yang Kembali merasa malu, dan tatapan laki-laki itu terus memindai wajah istrinya dan turun ke bawah.
Gwen mencubit pinggang Barra yang masih belum mengenakan baju, tetapi dengan sigap laki-laki itu malah menarik tangan istrinya. Tubuh Gwen yang dalam posisi tidak siap akhirnya jatuh dan menimpa tubuh suaminya. Barra seperti tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, dan akhirnya sesi percintaan kedua kembali dilakukan oleh pasangan suami istri itu. Keduanya merasa terengah-engah dengan apa yang mereka lakukan, namun kebahagiaan yang mereka rasakan, membuat mereka tidak merasakan kecapaian.
***********
Keesokan Paginya
Karena sudah satu hari dan semalaman hanya berada di kamar hotel, pagi harinya Barra mengajak istrinya untuk berjalan-jalan di luar. Untuk mengantisipasi suhu udara yang sangat dingin, Barra membantu istrinya mengenakan kaos kaki, syal, dan baju hangat berbulu. Tidak lupa topi juga dikenakan di kepala istrinya.
„Tidak apa honey... kamu terlihat lucu sayang. Di luar suhu udara sangat dingin, aku tidak akan membiarkanmu kedinginan sayang. Dengan pakaian hangat ini, akan membantumu untuk menghalau rasa dingin.” Sambil tersenyum, Barra menanggapi keberatan istrinya.
Gwen terdiam, dan gadis itu hanya menghela nafas kemudian mengikuti arahan suaminya. Tidak lama kemudian, akhirnya Barra juga mengenakan baju yang sama dengan gaya Gwen. Setelah selesai keduanya mempersiapkan diri, Barra segera mengajak istrinya untuk keluar dari dalam kamar,
“Kita berangkat sekarang honey.. agar tidak terlalu sore. Karena akan ada dua tempat yang akan kita datangi hari ini..” Barra segera meraih tangan istrinya, dan kemudian menggandeng serta mengajaknya keluar.
Begitu mereka berada di luar kamar, udara dingin sudah menyambut pasangan suami istri itu. Barra segera mendekap tubuh Gwen, dan mereka segera melangkahkan kaki menuju ke arah lobby hotel.
__ADS_1
“Kak Barra akan mengajak Gwen kemana hari ini.. kak?” Gwen bertanya sambil melihat ke wajah suaminya,
“Kita akan ke Korvatunturi (Ear Fell) di Lapland untuk bermain snowboard atau ski honey… Setelah itu, aku akan mengajakmu berkunjung ke Kampung Santa Claus, untuk menaiki snowmobile tour. Tapi jika honey merasakan kelelahan karena dua sesi percintaan kita tadi malam, kita bisa fleksibel.” Barra berbisik menggoda istrinya.
“Ehhhh… kak Barra mulai deh..” Gwen secara reflek menutup wajah dengan kedua tangannya. Masih jelas dalam ingatan kenikmatan yang dirasakannya ketika melakukan hubungan intim dengan suaminya. Meskipun di awal-awal, gadis itu merasa kesakitan dan sampai mengeluarkan air mata, tetapi karena niat untuk memberikan hak suaminya, akhirnya Gwen menahan itu semua.
„Tidak perlu malulah honey... perbincangan antara suami dan istri itu hal yang biasa. Yang penting tidak ada paksaan, dan dari satu pihak tidak ada yang keberatan untuk melakukannya. Jika sekarang ini, honey menginginkannya lagi, dengan senang hati aku akan membatalkan perjalanan kita hari ini..” Barra malah menjadi tidak tahu malu. Tidak henti-hentinya, laki-laki itu menggoda istrinya.
Orang-orang yang lalu lalang di lobby hotel senyum-senyum melihat bagaimana Barra menggoda Gwen. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak mau peduli, toh mereka tidak merugikan orang lain.
„Sudahlah kak.., jangan menggoda Gwen terus. Jadi tidak, kita akan berangkat..” merasa jengah dengan kelakuan suaminya, Gwen berjalan lebih cepat meninggalkan Barra.
Dari belakang, Barra tersenyum melihat cara berjalan istrinya, yang sepertinya masih menyesuaikan diri dengan keadaan nyeri yang masih dirasakan, karena perbuatan mereka tadi malam. Merasa tidak tega, tanpa permisi Barra mengangkat tubuh istrinya dari belakang..
„Kak... apa yang kak Barra lakukan..” merasa kaget, secara reflek Gwen menjerit. Orang-orang yang ada di sekeliling mereka menoleh, dan hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, melihat kehebohan pasangan suami istri itu.
********
__ADS_1