
Keesokan Paginya…
Dua keluarga memasuki Heaven Memorial Park dalam diam. Andrew menggendong Bareeq dan Tareeq dengan kedua tangannya, dan di sampingnya Anne yang sudah menjadi istrinya mendampingi. Tidak bisa menahan air mata yang mengalir dari sudut matanya, Gwen berjalan sendiri di belakang Andrew.
“Kita sudah sampai Bareeq.., Tareeq.., ucapkan salam pada Oma dan Opa..” Andrew menurunkan kedua anak kecil itu. Dan laki-laki itu langsung duduk di samping tengah pusara kedua kakaknya.
„Oma... opa.., ini Bareeq, putra mommy Gwen datang mengunjungi oma dan opa..” dengan suara lucu, Bareeq mengenalkan dirinya.
„Dan ini Tareeq .. oma , opa. Maafkan kami ya oma, opa.. baru kali ini, mommy mengajak kami berdua mengunjungi oma dan opa..” Tareeq tidak mau kalah, anak itu juga mengenalkan dirinya.
Andrew dan Anne tersenyum mendengar celoteh lucu kedua cucu keponakan itu. Sedangkan Gwen hanya diam saja, gadis itu menahan isak tangis yang coba untuk ditahannya. Gadis itu menyibukkan diri dengan membersihkan pusara kedua orang tuanya, yang sebenarnya sudah bersih dirawat oleh penjaga makam.
“Kita doakan agar Oma dan Opa bahagia berada di surga yuk Tareeq.., Bareeq..” Andrew memberi komando pada dua cucu kakaknya itu.
Dengan riangnya, kedua anak kecil itu mengikuti arahan dari Opa pamannya. Sedangkan Gwen hanya berdoa sendiri dalam hati. Tanpa sadar, gadis itu mengeluhkan kehidupannya dengan Barra yang terasa ambigu. Mereka tidak bercerai, namun mereka hidup terpisahkan, dan tidak tahu bagaimana akhir dari kisah mereka ke depannya. Air mata semakin deras mengalir ke pipinya, dan untung saja gadis itu mengenakan kaca mata hitam, sehingga tidak begitu jelas terlihat. Namun gerakan di punggung gadis itu, menyadarkan Anne jika keponakan suaminya itu sedang bersedih.
“Kak Andrew…” Anne berbisik memberi isyarat pada suaminya.
“Hemmpphh…. Biarkan saja Anne… Gadis itu sedang menyempurnakan kedewasaannya. Wajar bagi Gwen, untuk mengadukan semua perasaan pada kedua orang tuanya, meskipun mereka sudah tidak lagi bersamanya.” Andrew mengambil nafas, dan menanggapi perkataan istrinya.
“Iya kak.., aku melihatnya. Mungkin sudah saatnya kak, berikan kesempatan bagi Barra untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Gwen. Biarkan mereka menyelesaikan sendiri masalah mereka, tanpa intervensi dari kita..” merasa trenyuh dengan Nasib keponakan suaminya, Anne mencoba memberikan masukan.
Andrew terdiam, tidak memberikan tanggapan kata-kata yang diucap istrinya. Laki-laki itu kemudian membantu Bareeq dan Tareeq menaburkan bunga di atas pusara kedua kakaknya. Beberapa saat, Andrew memanjatkan doa untuk keduanya.
__ADS_1
“Opa Andrew… selama ini mommy tidak pernah mau menjawab pertanyaan kami berdua opa.. APakah opa Andrew akan membantu menjawabnya untuk kami..?” tiba-tiba dengan polosnya, Tareeq dan Bareeq bertanya pada laki-laki itu.
Andrew mengerutkan keningnya, kemudian menatap Bareeq dan Tareeq bergantian.
“Tanyakan jagoan opa… apa yang akan kalian berdua tanyakan..?” sambil tersenyum, Andrew meraih dua anak kecil itu kemudian mendudukkan di pangkuannya.
Bareeq dan Tareeq saling berpandangan. Melihat kekompakan kedua putranya, dalam hati Gwen merasa ketar ketir dengan pertanyaan yang akan dilontarkan keduanya. Tetapi dalam posisinya saat ini, Gwen seakan tidak mampu untuk menghentikan dua putranya.
“Bareeq dan Tareeq ingin memiliki papa seperti teman-teman sekolah opa. Apakah kami juga memiliki papa opa…?” pertanyaan kedua anak itu membuat kaget semua yang ada di makam.
“Jika ada yang tanya lagi, bilang jika opa adalah papa kalian berdua. Deal...” Andrew menjawab dengan cepat. Sepertinya laki-laki itu belum mau memberi tahu pada dua putra keponakannya.
“Tidak mau… itu lain opa. Yang Namanya papa itu, harus tinggal Bersama dengan Mommy, dan juga Bareeq, Tareeq.. Kasihan mommy… opa, setiap kali mommy harus mengurus apa-apa sendirian.” Kedua anak itu memprotes ucapan Andrew.
Gwen tersenyum meskipun ada rasa nyeri di dalam hati, dan melangkah mendekati kedua putranya, kemudian..
„Yess... momm...” dua anak kecil itu kemudian terdiam. Ternyata Gwen cukup piawai untuk mendisiplinkan kedua putranya. Perempuan itu memegang bahu kedua putranya, dan dua anak itu cukup taat pada mommynya.
Beberapa saat Andrew dan Gwen berada di pemakaman, dan karena melihat kedua putranya sudah kelelahan akhirnya mereka menyudahi acara ziarah.
*****
Di balkon kamar…
Anne mendatangi suaminya Andrew yang merokok di atas balkon. Perempuan itu menunggu sampai suaminya menghabiskan rokok, tetapi sepertinya laki-laki itu tahu jika istrinya sedang menunggu. Andrew mematikan rokok di tangannya di atas asbak, kemudian duduk di kursi yang ada di samping istrinya.
__ADS_1
“Ada apa Ann… apakah ada yang akan kamu diskusikan..?” mengetahui maksud kedatangan istrinya, Andrew melakukan konfirmasi.
“Begini kak… aku hanya melihat dari sisi perempuan saja. Tapi tolong kak Andrew mendengarkanku dulu sampai selesai, jangan potong apalagi sampai marah.” Sebelum menyampaikan pemikirannya, Anne mencoba membuat kesepakatan.
Andrew melihat ke arah istrinya, dan laki-laki itu tersenyum.
“Katakan saja Anne… aku tidak akan marah. Aku akan mendengarkan sampai selesai apa yang ingin kamu utarakan.”
Anne terdiam sebentar, tapi kemudian..
“Sampai kapan kak, kita akan membiarkan hubungan Gwen dengan Barra menggantung seperti ini.. Jika memang kamu tidak menginginkan Barra dan Gwen bersatu lagi, buatlah ketegasan. Usia Gwen masih sangatlah muda, dan kedua anak itu juga membutuhkan figure seorang bapak. Aku harap kak Andrew bisa memahami ucapanku..” tidak diduga, ternyata Anne mencoba menyelami perasaan suaminya pada keponakannya.
Laki-laki itu terkejut dengan pertanyaan istrinya, namun Andrew sudah terlanjur membuat janji untuk tidak marah mendengar kalimat itu.
„Aku masih sakit hati dengan sikap Barra…, meskipun aku juga kenal baik dengan Jacqluine. Tapi aku juga ingin menguji bagaimana kesetiaan Barra pada keponakanku Gwen, apakah memang ada cinta, ataukah Gwen hanya pelarian dari Jacqluine kala itu. Dan sebenarnya..” Andrew menghentikan kata-katanya.
„Sebenarnya ada apa kak, kenapa kak Andrew berhenti melanjutkan kata-kata..?” Anne mengejar suaminya. Sudah bertahun-tahun, seharusnya seiring perjalanan waktu, dendam itu sudah hilang
Laki-laki itu mengambil nafas panjang... kemudian..,
„Ada soft file berbentuk CD yang diberikan Barra untukku. Aku menerimanya dari security perusahaan. Tapi sampai sekarang aku belum membuka apa isinya, aku malah terlupakan, sepertinya ada di dalam tas.. “ tiba-tiba laki-laki itu mengatakan CD yang pernah ditinggalkan Barra di Singapura.
“Kenapa bisa begitu kak, menurutku CD itu bisa diputar. Siapa tahu, ada penjelasan di dalamnya, dan kejadian tiga tahun lalu itu hanya sebuah kesalah pahaman saja.” Anne dengan hati-hati mencoba mempengaruhi suaminya,
Andrew kembali terdiam, dan mencoba menelaah apa yang disarankan oleh istrinya. Beberapa saat kemudian..,
__ADS_1
“Aku akan memikirkan saranmu sayang... pertanyaan Bareeq dan Tareeq juga sudah membuatku berpikir. Aku tidak bisa memisahkan seorang anak dengan papanya, atau paling tidak aku wajib memberikan alternatif baru untuk pengganti papa mereka.” Anne bisa memahami makna dibalik kalimat yang diucapkan oleh suaminya. Perempuan itu berdoa dalam hati, agar semua kekisruhan bisa terurai dengan baik.
*******