Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 209 Keputusan


__ADS_3

Di dalam rumah mewah…


Meskipun orang-orang masih banyak berkumpul di rumah mewah itu, namun wajah orang-orang di dalamnya masih terlihat kesedihan. Bareeq dan Thareeq yang biasanya ceria bermain, hanya bermain di dalam kamar mereka. Mungkin kedua anak itu juga merasa kehilangan karena omanya sudah dipanggil yang Kuasa,


“Honey… apa yang sedang kamu lakukan sayang..?” melihat Gwen yang tampak Menyusun pakaian ke dalam trolly bag, Barra bertanya sambil menghampiri istrinya.


“Tidak ada kak… hanya merapikan pakaian anak-anak saja, Terlalu banyak, memenuhi lemari saja.” Gwen tetap melanjutkan pekerjaannya.


Mereka kemarin menuju ke Canada dalam keadaan tergesa-gesa, sehingga tidak sempat membuat persiapan. Baju-baju kedua putranya itu saja, banyak yang dibeli baru di negara ini. Dan karena mereka masih tenggelam dalam kesedihan karena meninggalnya mama mereka, baju-baju itu masih banyak yang terlihat berantakan,


„Aku pikir kamu mau mengajakku pulang ke Helsinki honey..” Barra kemudian duduk di samping istrinya.


Gwen menghentikan aktivitasnya, kemudian menutup trolly bag yang sudah dirapikan itu. Perlahan perempuan muda itu melihat ke arah suaminya..


“Kenapa kak Barra berpikir seperti itu… Dimanapun ada kak Barra, Gwen dan anak-anak akan selalu berada di samping kakak. Gwen juga tahu kak… hati kakak masih sedih dan masih kehilangan dengan perginya mama.. Papa juga, tidak mungkin bukan kita akan langsung meninggalkan papa sendiri di rumah ini..” sambil tersenyum, Gwen memberikan tanggapan.


Barra tersenyum, kemudian laki-laki itu menundukkan wajahnya dan berbaring di pangkuan istrinya. Gwen kaget, tapi gadis itu membiarkannya, memberi waktu siapa tahu suaminya sedang merindukan melakukan hal itu pada mamanya.


“Honey… sebenarnya aku mau mengajakmu dan anak-anak untuk Kembali ke Helsinki. Aku juga berencana untuk membawa papa ikut serta.. Banyak kerjaan dan tanggung jawab pekerjaan yang aku tinggalkan di sana, dan aku tidak bisa hanya terus berdiam diri disini..” Gwen terkejut mendengar kata-kata suaminya. Tidak biasanya suaminya bersikap kemudian..

__ADS_1


„Apakah kak Barra sudah mengatakan perihal ini pada papa kak..?? Kalau Gwen, semua terserah apa yang akan dilakukan kak Barra.. Karena kakak adalah imam Gwen, jadi kemanapun Gwen akan mengikuti..” untuk tidak melewati keputusan papa mertuanya, gadis itu mencoba mengingatkan.


Barra terdiam sesaat, ucapan istrinya selalu membuatnya lega. Meskipun pada awal pernikahan, membangun chemistry dengan perempuan itu bukan merupakan hal yang mudah. Namun setelah mereka menemukan kecocokan, keduanya menjadi tidak terpisahkan.


“Malam ini, aku akan mencoba mengajak papa untuk bicara Gwen.. Semoga saja papa mau mengikuti kita ke Helsinki. Tapi aku juga belum bicara pada Kayla, kapan gadis itu dan suaminya akan kembali ke Helsinki juga. Menurutku.. sebenarnya Kayla dan Aldo, lebih baik berada di Canada untuk menjalankan perusahaan papa... Tapi yah... semuanya tergantung pada mereka berdua..”


„Benar kak... bicara saja pada papa nanti malam. Untuk Kayla dan Aldo, kak Barra juga tidak perlu untuk memaksa mereka. Nanti malah bisa menjadi salah paham, yang penting yang menjadi focus kita adalah papa kak.. Bagaimana papa bisa pulih, tidak selalu terkenang akan keberadaan mama..” Gwen menanggapi secara netral.


Barra tersenyum, dan laki-laki itu mengangkat wajahnya ke atas. Tidak lama kemudian, kedua bibir itu saling berpagut. Bagi Barra.., menyentuh bibir kenyal istrinya, memberinya energi dan semangat baru. Sehingga di setiap kesempatan, bibir istrinya selalu menjadi obatnya,


**********


Malam harinya…


„Barra.. apakah ada yang mau kamu sampaikan nak...?? Aku melihatmu, seperti sedang menahan sesuatu sejak tadi..” semua yang duduk di dalam ruangan itu kaget, ketika mereka mendengar suara Tuan Chandra.


Barra menggenggam tangan Gwen, dan pasangan suami istri segera mendekat pada papanya. Barra kemudian mengajak istrinya duduk di samping papanya,


“Papa… sebelumnya mohon maaf jika kata-kata Barra akan menyinggung papa.” Sebelum menyampaikan apa yang mau dikatakan, Barra mengucap permintaan maaf.

__ADS_1


Tuan Chandra tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seakan sudah siap dengan apa yang akan disampaikan oleh putra putrinya..


“Pa… Barra sudah hampir satu bulan berada di negara ini.. Dan tentu saja, banyak tugas dan pekerjaan yang Barra tinggalkan di Helsinki. Untuk itu pa,.. Barra dan Gwen berharap, agar papa mau ikut dengan kami berdua di Helsinki..” akhirnya Barra menyampaikan apa yang telah didiskusikan dengan istrinya,


Semua yang berada di dalam ruangan terkejut dengan kata-kata Barra. Tetapi mereka akhirnya juga bisa memahami, karena Barra juga punya kesibukan yang membutuhkan perhatiannya.


„Barra.. Gwen.., kalian tidak perlulah berpikir bagaimana dengan keadaan papa di Canada. Masih ada kakek Atmadja Gwen…, kakekmu sudah berjanji untuk menemani papa, sampai papa bisa melupakan mamamu. Jadi.. kamu dan Barra tidak perlu banyak berpikir tentang papa..” jawaban yang diberikan oleh laki-laki itu mengejutkan Barra dan juga Kayla.


„Hempphh... tidak perlu kalian banyak berpikir. Aku dan Chandra sudah berbicara, dan kami memutuskan untuk berkeliling dunia untuk menghabiskan masa tua kami.. Ada rumahku di Dubai, Jakarta, dan juga di beberapa negara lainnya.. Kami juga akan punya kesibukan, janganlah kalian terlalu memikirkan kami-kami yang sudah tua..” tiba-tiba kakek Atmadja ikut menimpali.


Gwen dan Andrew tersentak mendengar suara kakek Atmadja. Selama ini, laki-laki tua itu memang tidak pernah menggantungkan dirinya pada cucunya Gwen, maupun pada putranya Andrew. Mereka berdua merasa malu mendengar kata-kata yang terucap dari kakeknya. Namun, sepertinya Atmadja tidak mempedulikannya.


„Kalian sudah mendengar sendiri kan, apa yang dikatakan oleh kakeknya Gwen.. Hanya saja, papa berpikir, salah satu dari kalian, apakah Kayla atau Barra, akan tetap membantu papa untuk mengawasi beberapa perusahaan papa di negara ini..” tuan Chandra tampak membuat harapan.


Barra dan Kayla saling berpandangan, namun tampak ada sorot mata permintaan dari adik perempuan laki-laki itu. Barra mengambil nafas dalam, kemudian..


“Baiklah.. jika semua sudah menjadi pemikiran papa... Barra dan Gwen sesekali akan terbang ke Canada pa, untuk melakukan pengawasan pada perusahaan papa.. Tapi itu hanya sampai Kayla menyelesaikan kuliahnya. Setelah gadis ini lulus, maka mau tidak mau, Aldo harus menemani Kayla untuk mengurus perusahaan papa..” dengan nada tegas, akhirnya Barra membuat kesanggupan.


Semua yang ada dalam ruangan terlihat lega, setelah semua pihak sudah membuat kesepakatan. Meski terpaksa, terlihat Aldo dan Kayla juga menganggukkan kepala. Barra dan Gwen terlihat sangat senang, karena rencana mereka untuk Kembali ke Helsinki tidak akan ada yang menghalangi,

__ADS_1


“Semua sudah setuju dengan pengaturan ini… Gwen.., Barra, tenangkan pikiran kalian, Istri dan putramu membutuhkanmu, Jika papa ada waktu, papalah yang akan mengunjungi kalian di Finlandia.” Akhirnya tuan Chandra menyepakati pembicaraan mereka malam ini.


***********


__ADS_2