Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 106 Menundukkan Suami


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Gwen segera Menyusun jadwal kuliah di papan, dan menandai papan itu dengan spidol warna warni. Gadis itu tampak puas dengan hasil karyanya, dan juga menyiapkan buku catatan. Sepulang kuliah tadi, ketika mereka melewati stationery, Gwen minta Andy untuk menghentikan mobil. Keduanya belanja keperluan kuliah, dan setiap yang menatap mereka tidak berpikir jika mereka adalah saudara ipar sepupu.


“Akhirnya selesai juga, besok tinggal berangkat kuliah. Baru dapat teman sekelas satu orang, besok aku harus bisa menambah teman untuk belajar bersama.” Gwen bergumam sendiri teringat dengan keadaan tadi di college.


Meskipun baru satu hari masuk, dan itupun juga baru pengenalan umum, tapi banyak kesan yang berhasil ditangkap oleh Gwen. Dengan berada di kampus, paling tidak mengurangi rasa boring yang dialaminya selama ini. Apalagi jika suaminya sudah berangkat bekerja, Gwen hanya menghabiskan waktu sendiri di rumah.


“Aku akan merayu kak Barra agar mengijinkanku untuk mengendarai sepeda motor ke college. Lagian Andy kan tidak sama jam berangkat, juga jam pulang kuliahnya denganku. Tidak bisa dong, jika kita harus bareng terus pulang dan pergi.” Setelah merapikan tas yang akan dibawanya besok pagi, sambil berbicara sendiri, Gwen berjalan menuju ke pintu kamar.


Gwen membuka pintu kamar, kemudian berjalan menuju ke ruang tengah. Terdengar ada suara televisi menyala, dan ternyata Andy sedang melihat saluran televisi di ruang tersebut. Gwen mengabaikan anak mud aitu, dan langsung menuju ke arah ruang makan untuk membuat the panas,


“Hempph… sombong sekali kau Gwen... tidak lihat ada orang sebesar ini di sofa, kamu mengabaikanku tanpa ada sapaan sedikitpun.” Terdengar Andy mengoloknya.


“Andy… apakah kamu lupa bagaimana kamu harus memanggilku. Ingat posisi dong, aku ini kakak iparmu, panggil aku dengan panggilan kak... Remember that..!” sambil melotot, Gwen menegur anak muda itu.


„Halah... itu mah jika ada kak Barra.. Bagiku, kamu masih seperti anak kecil, gadis manja, dan nakal. Agar tidak lepas, membutuhkan pengawalan ketat dariku..” bukannya mengikuti apa yang diucapkannya, Andy malah semakin mengolok gadis itu.


“Ngaca tuh And.. layak gak kamu untuk jadi pengawalku. Hanya dipelintir tangannya saja, kamu sudah menjerit kesakitan. Bilang saja, dengan bersamaku kamulah yang merasa lebih aman, karena mendapatkan penjagaan dariku. Huekkk…” Gwen menjulurkan lidah, kemudian mempercepat langkahnya dan meninggalkan anak muda itu.


Andy yang diejek sedikitpun tidak merasa marah. Anak muda itu hanya geleng-geleng kepala melihat kekonyolan Gwen.


“Hemmpph… benar-benar unik dan menarik, aku merasa senang mengenal dan berada lebih dekat dengan gadis itu. Sayang… kak Barra sudah terlebih dahulu memilikinya. Jika tidak, aku pasti akan mengejarmu Gwen, dan kamu pasti akan bertekuk lutut kepadaku…” Kembali Andy bergumam, Tanpa sadar terlontar kekagumannya pada Gwen, istri dari kakak sepupunya.


“Bisa gila aku jika terus-terusan bersama dengan gadis itu.

__ADS_1


Ada baiknya, besok kita jalan sendiri-sendiri saja, aku takut jika selalu


bersama dengan Gwen, aku yang akan jatuh cinta kepadanya. Bisa berabe jadinya,


dan bisa terjadi pertikaian keluarga..” Andy berucap lirih.


Merasa tidak nyaman jika nanti terlibat perselisihan lagi dengan Gwen, anak mud aitu kemudian berdiri dari posisi duduknya di sofa. Perlahan Andy berjalan menuju ke teras samping, untuk menikmati udara sore. Anak muda itu merentangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, sambil memejamkan mata Ketika angin berhembus ke arahnya.


*********


Malam harinya


Barra yang pulang terlambat, memasuki kamar dengan berhati-hati. Laki-laki itu kahwatir jika kedatangannya mengganggu istrinya istirahat, karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 p.m. Karena harus menemani colleuga yang datang dari Italia, laki-laki itu sampai harus pulang terlambat. Barra sungkan untuk menolak ajakan dari orang itu, karena colleuga yang datang juga merupakan sahabat dari Andrew.


“Tidak honey… baru menemani rekan bisnis untuk dinner bareng. Honey belum mengantuk, jam segini masih terjaga..” Barra langsung berjalan menghampiri istrinya. Ciuman mesra dikecupkan Barra ke bibir istrinya.


“Belum kak, baru menyiapkan persiapan untuk kuliah besok pagi. Jika kak Barra sudah dinner, Gwen buatkan minuman hangat saja ya.


Sekarang kak Barra mandi dulu saja, setelah itu minum the panas.” Gwen segera turun dari sofa,


Barra tersenyum, dalam hati laki-laki itu merasa bangga, mendapatkan pelayanan dari istrinya ketika tubuhnya terasa penat sehabis bekerja. Tetapi melihat senyum merekah di bibir istrinya, rasa penat menguap keluar begitu saja.


„Baik sayang, aku akan mandi dulu. Buatkan aku teh panas manis saja ya, tidak perlu ada meal, karena aku masih kenyang.” Setelah sekali lagi memberikan kecupan di kening istrinya, Barra kemudian berjalan menuju ke kamar mandi,

__ADS_1


Gwen kemudian juga berjalan keluar dari dalam kamar tidur. Setelah pasangan suami istri itu sudah bisa saling menerima, Gwen memang membiasakan diri untuk melayani kebutuhan pribadi suaminya. Jika dulu, maid yang akan melakukan semuanya, untuk saat ini semua dihandle sendiri olehnya.


 *********


Beberapa saat kemudian


Barra duduk berdampingan dengan Gwen di atas ranjang dengan bersandarkan pada sandaran ranjang. Sesekali Barra menyesap teh manis yang dibuatkan oleh istrinya, dan Gwen masih saja asyik dengan gadget di tangannya.


“Bagaimana tadi di college honey.., apakah kamu menikmatinya..?” setelah meletakkan kembali cangkir di meja kecil samping bed, Barra bertanya pada istrinya.


“Gwen sangat menyukainya kak, setelah beberapa saat vakum dari sekolah, seperti menemukan Kembali nafas kehidupan. Oh ya kak… by the way, untuk besok pagi Gwen boleh bawa sepeda motor ya kak.. jadwal Andy dan Gwen kan tidak barengan, kita kan beda jurusan. Boleh ya kak..?” Gwen mendekat ke arah suaminya, dan sambil menatap mata Barra gadis itu mengajukan permintaan.


Barra mengambil nafas, dan mencoba menahan bagian tubuhnya yang mulai bergejolak. Gwen tidak menyadari, jika kedekatan fisik pada saat-saat tertentu dengan suaminya, akan memancing keinginan suaminya untuk menerkamnya. Tapi Barra sebisa mungkin bertahan, meskipun nafasnya sudah mulai berat.


“Nanti aku pikirkan honey.., tapi sepertinya kamu harus bertanggung jawab dengan ulahmu malam ini.” Dengan nafas yang mulai berat, Barra terus menatap mata istrinya yang tampak jernih.


Gwen berusaha memundurkan tubuhnya, namun dengan cepat kedua tangan laki-laki itu menangkapnya. Tidak lama kemudian, bibir Barra sudah menyusuri bibir istrinya. Tapi tiba-tiba situasi ini memberi ide pada gadis itu. Gwen menggunakan kedua tangannya mendorong dada suaminya,


“Bentar kak Barra, katakana dulu jika kak Barra besok pagi akan memberi ijin pada Gwen untuk membawa motor ke sekolah. Barulah malam ini, Gwen akan mengobati kerinduan kakak..” sambil tersenyum menggoda, Gwen berbicara pada suaminya.


“Hempph… okay honey..” merasa sudah tidak bisa menahan gejolak hasratnya, Barra tanpa pikir panjang langsung menyetujui keinginan istrinya itu.


**********

__ADS_1


__ADS_2