
Aldo dan Gwen segera mengambil motor mereka di parkiran sekolah. Karena Aldo ingin berboncengan dengan Gwen, anak muda itu mengajak Asep serta Raffi untuk menemani mereka menuju ke restaurant yang diceritakannya itu. Akhirnya dua laki-laki itu yang mengendarai motor Aldo, sedangkan Aldo dan Gwen berboncengan menggunakan motor Ducati. Dua buah motor itu segera melesat ,meninggalkan sekolah, dan langsung mengarahkan motor ke arah Puncak.
"Aaaaawwww...." dalam perjalanan, Gwen tiba-tiba merentangkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri, menikmati hembusan angin yang menerpanya. Dari mulut gadis itu terdengar teriakan, dan Aldo hanya tersenyum mendengarkanya.
"Hati-hati di depan tanjakan curam Gwen.. berpeganganlah..." Aldo tiba-tiba mengingatkan, karena di depan ada tanjakan curam. Jika Gwen tidak berpegangan, maka tubuhnya akan bisa kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke belakang.
Tanpa menjawab, Gwen segera kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aldo, dan laki-laki itu tersenyum setelah melihat dua tangan gadis itu bertautan di pinggang bagian depannya. Di belakang mereka, Asep dan Raffi juga melakukan hal yang sama. Beberapa saat berkendara, tumbuhan pohon pinus sudah mulai mendominasi sepanjang perjalanan mereka. Suara angin yang bergesek dengan batang pohon, dan suara binatang mulai terdengar. Dan karena hari ini bukan masuk hari libur, jadi arah perjalanan menuju Puncak terlihat sepi.
"Masih lamakah perjalanannya Ald.. di sudut sana villa papamu sudah terlihat.." sambil menunjuk bagian villa yang didominasi warna putih itu, Gwen bertanya pada laki-laki yang berkendara di depannya.
"Sudah dekat, sekitar lima ratus meter lagi kita sudah akan sampai. Satu tikungan lagi di depan.." Aldo melepaskan pegangan tangan di sebelah kirinya, dan menunjuk ke tikungan yang tidak akan lama lagi, akan mereka lalui.
"Okay..." sahut Gwen, yang langsung menyandarkan kepalanya di punggung laki-laki itu.
Aldo tersenyum merasakan kehangatan, ketika rasa hangat dari kepala Gwen seakan mengalir melalui punggungnya. Laki-laki itu berkendara sambil senyum-senyum sendiri. Tidak lama kemudian, restaurant yang diceritakan sudah terlihat di depan mata, dan dengan tangannya Aldo memberi isyarat pada motor di belakangnya untuk mengurangi kecepatan.
**********
Aldo tersenyum melihat Gwen yang berjalan sendiri mengitari setiap sudut restaurant. Karena berada di atas bukit, kota Bogor terlihat dari atas tempat tersebut. Jika saat ini adalah malam hari, pasti melihat ke bawah seperti sedang berada di Bukit Bintang, kerlap kerlip sinar lampu yang menyala akan terlihat jelas dari tempat gadis itu berdiri.
"Syukurlah.. melihat keindahan panorama di Puncak sore hari, bisa menghilangkan kepenatanku. Paling tidak aku bisa melarikan diri sejenak dari hiruk pikuk kehidupan rumah. Aku tidak bebas lagi, karena bingung harus berhadapan dengan Om Barra." Gwen berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Hembusan angin dingin membuat gadis itu harus menyedekapkan kedua tangannya, karena jaket Gwen dilepas dan diletakkan di kursi tempatnya duduk. Aldo sengaja membiarkannya sendiri, dan tidak mau terlalu campur tangan pada urusannya. Apalagi meskipun gadis itu tampak sedang memiliki masalah, namun masih mau dan bisa diajak pergi oleh laki-laki itu.
"Gwen.. makanan pesananmu sudah disiapkan. Kemarilah... keburu dingin minuman yang kamu pesan.." Aldo berteriak memberi tahu Gwen.
"Okay Ald.. aku segera kembali kesitu.." Gwen segera menoleh, kemudian melambaikan tangan ke arah Aldo.
Tidak lama kemudian, Gwen sudah melangkahkan kaki menuju ke tempat Aldo, dan kedua teman laki-lakinya itu berada.
"Kamu tadi pesan menu apa Gwen.. kok warnanya hitam..?" seperti melihat keanehan pada warna makanan yang dipesan Gwen, Raffi bertanya pada gadis itu.
"Namanya brongkos Raff... aku pernah makan sayuran ini ketika di Jogja. Dulu.. aku diajak teman Om Andrew ke warung makan yang jual sayur ini, di selatan Alun-alun Kidul Yogyakarta, Nama warungnya jika tidak keliru Handayani.." sambil menyuapkan makanan ke mulutnya, Gwen menjawab pertanyaan Raffi.
"Jogja... Jogja.. kota kecil dengan segala hiruk pikuk budaya, alam, sejarah yang selalu membuat kangen orang yang pernah mengunjunginya.." Aldo ikut menanggapi,
"Bagus idemu Sep... bisa kita realisir kapan-kapan. Tapi ada baiknya kita lakukan selesai ujian nasional, yah.. sekalian untuk celebration sesudah otak kita diperas.." Aldo menyetujui usulan itu.
Gwen tersenyum ikut mengiyakan, tapi gadis itu tidak berani menunjukkan persetujuannya. Sesaat Gwen teringat dengan statusnya sekarang, jika dirinya sudah menikah. Belum tentu suaminya Om Barra akan mengijinkannya untuk ikut touring ke Joga dengan teman-temannya itu.
"Good.. good.. aku akan mencatatnya. Kemudian aku akan memberi tahu teman-teman, siapa saja yang akan ikut touring dengan sepeda motor ke kota Gudeg.." Raffi akhirnya ikut menanggapi.
*********
__ADS_1
District 3 Park Avenue...
Di dalam kamar Barra terlihat sedang mengadakan meeting online dengan menggunakan video conference. Meskipun statusnya sedang cuti kerja karena pernikahannya, laki-laki itu tetap memantau perkembangan dan operasional perusahaan barunya di Finlandia. Negara itu memang sengaja dipilihnya, karena ada kenangan yang selalu membuat laki-laki itu untuk selalu datang di negara tersebut.
"Tok.., tok.. tok.." tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Barra segera mengakhiri rapat onlinenya, dan tidak lupa mematikan gadget yang ada di depannya.
"Ya .. tunggu sebentar.." Barra menjawab, kemudian laki-laki itu berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu.
Ketika daun pintu sudah terbuka, laki-laki itu kaget karena melihat kakek mertuanya berdiri di depan pintu kamar istrinya. Barra tersenyum kemudian...
"Ada apa kek Madja.. sore-sore begini mengetuk pintu kamar Barra.." tanpa berpikir apapun, Barra bertanya pada laki-laki tua itu.
"Sudah jam segini tapi Gwen belum sampai di rumah. Apakah anak itu tadi pergi dan berpamitan denganmu..?" Barra tersentak mendengar pertanyaan dari orang tua itu. Barra menengadahkan wajahnya ke atas, dan terlihat jarum jam yang berdiri di dekat tembok sudah menunjukkan pukul lima sore. Seketika laki-laki itu teringat jika dirinya sudah menikah, dan memiliki seorang istri yang menjadi tanggung jawabnya.
"Mmmmph.. iya kek, kakek Madja tidak perlu khawatir. Tadi Gwen pamit untuk mengerjakan tugas kelompok bersama dengan teman-temannya. Sebentar lagi Barra akan menjemput Gwen kek.. sekarang Barra akan bersiap dulu.." tidak mau menambah pikiran laki-laki tua di depannya itu, Barra berusaha melindungi istrinya.
Terlihat kakek Atmadja sedikit lega, dari nafas yang diambilnya. Dalam pikiran laki-laki tua itu, ternyata keputusan untuk menjodohkan cucunya dengan Barra, merupakan hal yang tepat.
"Baiklah jika begitu nak Barra, aku pikir cucuku Gwen seperti biasanya pergi tanpa pamit. Kakek kembali ke kamar dulu... jika nak Barra akan menjemput Gwen, berhati-hatilah.." akhirnya kakek Barra berjalan meninggalkan depan kamar yang saat ini ditempati Gwen dan Barra.
Laki-laki muda itu bernafas lega, dan ketika melihat jarum jam yang semakin bergerak ke arah kanan, Barra bergegas kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil.
__ADS_1
*********