
Di dalam ruang kerja
Nyonya Santa duduk di kursi yang ada di sebelah Andrew duduk. Fiona menjadi merasa gugup Ketika perempuan paruh baya itu melihat ke arahnya, kemudian beralih melihat ke arah Stephanie. Tanpa kata, perempuan itu terlihat seperti sedang memindai dan melakukan pengamatan kepada dua perempuan itu.
“Bagaimana tante Santa bisa sampai ke perusahaan tanpa memberi tahu Barra… tant..?” untuk memecah keheningan, Andrew bertanya pada perempuan paruh baya itu.
“Untuk memberikan kejutan pada putraku… tentu saja. Tapi malah bukan hanya kalian saja yang terkejut, putri menantuku yang cantik dan polos malah shock melihat posisi kalian duduk berdiskusi.” Tanpa menghiraukan dua perempuan cantik yang duduk di depan mereka, Nyonya Santa menjawab pertanyaan Andrew.
„Ha.. ha.. ha..., seharusnya yang jealous itu Gwen keponakanku tante... Tapi ini yang over reactive malah tante Santa.. Kami pure hanya membahas rencana pelebaran wilayah pemasaran tante…, tidak ada yang lain. Percayalah pada Andrew, tidak mungkin bukan, jika Andrew akan membiarkan Barra menduakan Gwen… Andrew tidak gila tante…” sambil tertawa terbahak, Andrew mencoba menetralisir situasi.
“Benar yang dikatakan Andrew tante… kami ini berteman baik dengan Barra sudah lama. Beberapa pekerjaan marketing dalam perusahaan ini, beberapa kali kami yang handle tante... Jadi tidak perlu ada kecurigaan, apalagi kecemburuan pada kami berdua..” Fiona ikut menjelaskan. Melihat wajah sangar perempuan paruh baya itu, Fiona menjadi ikut keder.
Tetapi Nyonya Santa masih diam, tidak memberikan tanggapan. Melihat hal itu, Stephanie yang merasa kecewa dengan kejadian yang dilihatnya siang ini, tiba-tiba..
“Menurutku sih… tidak ada yang salah dengan kita disini. Selama ini entah untuk alasan apa, Barra menutupi status
pernikahannya, berarti laki-laki itu ada tujuan bukan. So… tidak fair dong, jika kami menjadi pihak yang dipersalahkan, Jikapun di antara kami akhirnya jatuh cinta, juga tidak aka nada masalah menurutku..” dengan nada bicara ketus, Stephanie menimpali kata-kata Fiona.
Andrew menjadi speechless, laki-laki itu hanya memijit-mijit sisi wajah dekat telinganya sambil tersenyum pahit. Andrew tidak mau lagi bersuara melihat perubahan reaksi wajah dari perempuan paruh baya itu. Sedangkan Fione juga merasa terkejut dengan keterus terangan temannya.
__ADS_1
“Hempph… bagus juga pemikiranmu gadis… Tapi yang perlu kamu ingat, aku mama dari Barra Xavier Gibran, tidak akan pernah memberi restu pada siapapun yang berani mengganggu hubungan pernikahan putraku dengan menantuku. Itu saja yang perlu kamu ingat…” setelah berbicara menanggapi kata-kata Stephanie, Nyonya Santa kemudian berdiri dan melangkahkan kaki keluar meninggalkan ruang kerja putranya.
Andrew tetap diam tidak bersuara, dan hanya kembali mengangkat kedua bahunya ke atas, Ketika dua perempuan itu melihat ke arahnya. Laki-laki itu bukannya mau mencari selamat, namun kata-kata yang diucapkan oleh mama Barra itu memang benar adanya. Namun.. pada dua perempuan itu, Andrew juga tidak akan mengecewakan mereka.
“Andrew… bagaimana ini, apakah akan menjadi masalah atas kesalah pahaman siang ini..” Fiona akhirnya bertanya pada Andrew.
“Sudahlah Fiona… Stephanie, abaikan saja keributan ini tadi. Kita Kembali focus pada materi diskusi kita terakhir. Biasalah.. seorang ibu dimanapun pasti akan sangat over protective pada putranya, tidak peduli apakah putranya sudah dewasa atau belum..” Andrew akhirnya mengalihkan topik pembicaraan.
“Hemmpph… benar juga ucapanmu Andrew.. Kita lanjutkan saja diskusi kita... Barra pasti akan bisa kembali meyakinkan istrinya..” akhirnya Fione mengiyakan.
Ketiga orang itu akhirnya Kembali melanjutkan diskusi mereka tanpa adanya Barra. Meskipun Stephanie terlihat kecewa dengan kenyataan yang baru diketahuinya, namun perempuan itu tetap bersikap profesional.
Merasa belum bisa menenangkan istrinya, Barra membawa Gwen ke kamar tidur tempatnya beristirahat ketika berada di dalam perusahaan. Gadis itu kaget ternyata di samping ruang kerja suaminya, ada kamar tidur dengan fasilitas yang sangat lengkap. Satu king size bed dan warna cat serta furniture dengan dominan warna hitam putih, terlihat di depannya.
“Hemmph… jadi kak Barra sering ya membawa teman, terutama teman perempuan ke kamar ini. Pantas saja… dua perempuan cantik tampak bersemangat berada di ruang kerja kak barra. Begitu mereka merasa Lelah, tinggal menariknya ke dalam ruangan ini..” tidak diduga, dengan nada sarkasme Gwen menyindir suaminya.
“What….??? Apa yang kamu katakan honey...” laki-laki itu bereaksi, dan segera mendudukkan istrinya di pinggir ranjang.
Gwen mengalihkan wajahnya ke samping, tidak mau beradu pandang dengan suaminya. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja gadis itu merasa takut kehilangan suaminya. Namun Gwen berusaha tidak mengakui perasaan itu.
__ADS_1
“Honey… dengarkan aku sayang… Tidak ada satu orangpun yang pernah masuk ke ruangan ini, kecuali Andrew. Kami berdua sering menghabiskan hari di ruangan ini, dan tidak pulang ke rumah Ketika kami sedang bersama. Hapus pikiran burukmu tentang aku sayang…” Barra Kembali melanjutkan kalimatnya.
Gwen tidak menanggapi kata-kata suaminya, gadis itu masih melengos mengalihkan pandangan. Menyadari hal itu, Barra malah merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan satu tangannya meraih pinggang Gwen. Dua tubuh pasangan suami istri itu terjatuh ke atas ranjang bersama.
“Gak lucu kak… ini perusahaan, kantor. Sekarang saatnya jam kerja, bukan jam istirahat..” Gwen berusaha bangun dari posisi tidurnya, namun Barra malah mendekap tubuh istrinya dari belakang, dan mengunci tubuh istrinya sehingga Gwen tidak bisa melepaskan diri,
Beberapa saat pasangan suami istri itu dalam posisi berpelukan, uap hangat nafas Barra meniup tengkuk gadis itu. Sesaat Gwen terpaku, tubuhnya tiba-tiba bereaksi merinding. Laki-laki itu tersenyum melihat respon istrinya.
„Aku akan menyadarkanmu sayang... jika sebenarnya perasaanmu sudah jatuh kepadaku. Hanya saja, gengsi dan ego masih menguasai perasaan dan juga hatimu..” Barra tersenyum dalam hati, berpikir sendiri tentang istrinya.
Tiba-tiba saja lidah Barra menjilat leher bagian belakang Gwen, dan gadis itu menjadi semakin tidak bisa menguasai dirinya. Gwen terdiam, dan seakan menikmati perlakuan intim dari suaminya. Melihat hal itu, menjadikan Barra menjadi semakin berani. Dengan satu tangan, Barra membalikkan tubuh istrinya, dan tidak lama kemudian laki-laki itu sudah berada di atas tubuh gadis itu. Keduanya saling bertatapan, dan sinar mata Gwen menjadi redup, mata gadis itu terlihat sayu.
“Honey… aku semakin menyadari, jika ternyata hatiku nyata telah tertaut padamu sayang…” dengan suara yang sudah serak, Barra berbicara pada istrinya. Gwen tidak mampu mengeluarkan suara, degup jantungnya terasa kencang berdetak.
Barra semakin mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu, dan tidak lama kemudian kedua bibir itu sudah saling berpagut. Seperti sudah menemukan seni berciuman, Gwen membuka sedikit bibirnya, dan lidah Barra dengan cepat membelit lidah istrinya. Pasangan suami istri akhirnya berciuman dengan panasnya…
“Klek…” tiba-tiba saja Ketika keduanya tengah asyik berciuman mesra, pintu kamar tiba-tiba dibuka dari arah luar. Namun… Barra mengacuhkannya, karena laki-laki itu tahu, siapa yang berani untuk masuk ke dalam kamarnya. Hal berbeda dialami Gwen, gadis itu seketika menjadi panik.
**********
__ADS_1