
Batarsheen Elegance Interior
Baru saja Gwen menginjakkan kaki di depan kantor, para karyawan sudah berdiri menyambut kedatangannya. Josephine ternyata sangat lihai, bisa mengkoordinasikan para karyawan yang notabene masih baru. Bukan hanya para karyawan, tetapi terlihat Hans dan Cynthia juga sudah datang dan ikut berdiri Bersama dengan para karyawan.
“Selamat pagi Miss Direktur..” dengan serempak para karyawan menyapa kedatangan Gwen, mereka membungkukkan badan secara bersamaan.
“hey.. ide siapa ini.. Tidak perlulah terlalu lebay memperlakukanku seperti ini, tidak bagus. Nanti malah akan membuatku menjadi besar kepala. Sekarang kalian semua kembali ke tempat duduk kalian masing-masing, dan mulai bekerja. Dan terima kasih untuk sambutan yang sangat meriah ini..” Gwen kurang setuju dengan sambutan ini.
„Mohon maaf Miss Direktur, kita harus membuat keunikan. Cara penyambutan ini sudah kita bicarakan bersama, dan semua sudah setuju. Hal ini juga akan lebih membangun esprit de crops antar karyawan Miss Direktur. Jadi kami harap, Miss menyetujuinya..” Josephine mewakili karyawan lainnya, memohon pada Gwen.
Cynthia dan Hans berjalan mendekati Gwen, kemudian perlahan Cynthia menepuk bahu perempuan itu tiga kali.
“Biarkan saja Gwen… toh kita tidak pernah menyuruh mereka. Dan penyambutan ini, sudah digagas oleh mereka. Jadi terimalah, aku harap kamu tidak membuat mereka semua kecewa..” Cynthia mencoba memberi tahu pada Gwen.
Terlihat Gwen menghela nafas, meskipun dalam hati dirinya tidak menyukai sambutan yang terlalu lebih ini, namun melihat sorot permintaan di mata karyawannya, akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan selain hanya setuju.
“Baiklah.. terserah apa yang akan kalian lakukan. Tapi aku harap, kalian memiliki konsekuensi dengan perkataan kalian. Bersama, kita akan kembangkan perusahaan ini..” akhirnya Gwen hanya bisa mengambil nafas lagi, kemudian berjalan masuk ke dalam ruangannya sendiri.
Baby sitter yang mendorong stroller segera mengikuti masuk ke dalam, namun mereka berpisah. Bersama dengan baby dan baby sitter Cynthia, sudah dibuatkan tempat sendiri di belakang. Semacam baby care, dengan fasilitas yang sangat lengkap. Jadi untuk perempuan manapun yang ikut bekerja di perusahaan itu, tidak akan pernah kehilangan perannya sebagai seorang mommy.
__ADS_1
“Gwen… apakah kamu kenal dengan seseorang dari Indonesia yang Bernama Novi..?” Gwen menghentikan langkah kakinya, dan melihat ke arah Hans.
“Kenapa kamu bertanya tentang nama itu Hans.. Aku dan juga suami Cynthia, bahkan Cynthia juga pernah aku kenalkan, memiliki teman baik ketika kami masih duduk di High Senior School yang bernama Novi..” Gwen mengiyakan.
„Hempphh... pantaslah. Tadi aku buka link tree yang akunnya kamu bagikan padaku, ada pesanan dalam jumlah besar dari perempuan bernama Novi, ketika aku mencoba mengenalnya lebih jauh, perempuan itu malah memintaku untuk bertanya padamu. Tidak sopan sebenarnya, tapi ya sudahlah..” terlihat Hans kena mental terhadap sikap Novi.
“Ha.. ha.. ha… Hans, Hans.. Santailah… sebelum perusahaan ini terbentuk, Novi sudah menjadi pelanggan tetapku. Bekerja sama dengan suaminya, Novi ikut bekerja secara free lancer tanpa dibayar. Novi merekomendasikan karya desain interior yang aku buat, pada koleganya dan juga kolega suaminya. Tidak perlu lagi kamu minta datanya, aku sudah memilikinya..” Gwen malah tertawa menanggapi grundelan Hans.
„Ga lucu tahu.. Ada orang lagi jengkel, malah ditertawakan..” Hans terlihat kesal, meskipun akhirnya ikut tersenyum juga.
“Sudah Hans sayang… temui Josephine gih.. Data tentang pelangganku di masa lalu, ada padanya. Juga sekalian nuh, kamu agak tebar pesona dikitlah pada gadis itu. Aku melihat kamu dan Josephine bisa cocok kok menjadi pasangan.” Perempuan itu tidak berhenti mengerjai Hans.
********
Apa yang menjadi kekhawatiran Gwen Ketika sudah merekrut banyak karyawan, tetapi perusahaannya sepi, ternyata tidak terbukti. Baru hari pertama kerja, banyak sekali panggilan telpon yang masuk, juga email terkirim untuk konfirmasi masalah desain interior. Para karyawan yang nota bene masih baru agak kewalahan, namun untungnya Josephine betul betul bisa menghandle semua kericuhan dengan baik. Gadis itu betul betul memiliki pengalaman kerja yang bagus untuk ditularkan, dan tidak sia sia Gwen meminta karyawan itu dari perusahaan suaminya.
“Josephine… kita makan siang dulu yukk. Kebetulan aku membawa dua paket untuk kita berdua.. kita makan disini saja ya..” tiba-tiba Ketika sudah datang waktu istirahat, terlihat Hans memasuki ruang kerja Josephine. Di tangan laki-laki itu membawa dua box makan siang, dan juga dua minuman juice.
Terlihat Josephine mengangkat wajah ke atas, dan tersenyum melihat kedatangan atasannya itu. Laki-laki itu kemudian duduk di sofa ruang tamunya. Tidak mau membuat hans menunggu, Josephine segera berdiri dan berjalan ke arah sofa. Gadis itu duduk di depan Hans.
__ADS_1
“Dari mana tuan Hans mendapatkannya..” Josephine mengamati packing pembungkus sandwich itu.
“Tadi nitip sama baby sitter Sheen. Kebetulan perempuan itu sedang melakukan delivery online, yah.. sekalian deh aku nitip sekalian. Makanlah..” dengan lembut, Hans memberikan tanggapan.
Josephine mulai menggigit sandwich di depannya, bahkan tidak menggunakan garpu dan pisau yang ada di dalam box makanan tersebut. Gadis itu tidak terlihat risih, meskipun makan ala ala bar bar di depan Hans. Bukannya merasa rishi, Hans malah melakukan hal yang sama. Laki laki itu meletakkan Kembali, pisau dan garpu yang sudah dipegangnya sejak tadi. Dua orang itu menikmati sandwich dalam diam.
“Oh ya Josephine… apakah rumahmu dekat dengan perusahaan ini. Karena tadi pagi, aku melihatmu berjalan kaki menuju ke sini..” sambil mengunyah, Hans bertanya pada Josephine.
„Lumayan jauh Tuan.. Josephine bukannya berjalan dari rumah, namun dari halte terdekat dari perusahaan ini. Joshie harus berbagi dengan keperluan adik tuan, jadi harus hemat setiap pengeluaran. Paling murah adalah alat transportasi menggunakan bus, transportasi umum. Hanya saja, Joshie harus berangkat lebih pagi..” seperti tanpa beban, dengan santai Josephine memberikan tanggapan.
“Iyakah… luar biasa sekali. Sekali sekali aku sepertinya perlu mencoba ya, menikmati perjalanan dengan menggunakan bus kota. Sepertinya aku membutuhkanmu untuk menemaniku kapan kapan Joshie..” terlihat jika Hans ingin mendekati perempuan itu.
„Bisa diatur Tuan.. tapi mending pas libur saja. Jadi kepergian tuan Hans tidak bersamaan dengan jam kerja di perusahaan ini. “ tidak diduga, ternyata gadis itu juga merespon perkataan Hans.
“Okay deal Joshie.. Sabtu besok, aku akan ke rumahmu. Mobilku aku tinggal di rumahmu, dan kita bepergian dengan menggunakan bus kota..” seperti tidak mau kehilangan mangsa, Hans langsung meng oke kan tawaran itu.
Josephine sepertinya kaget dengan keterus terangan laki-laki itu. Tampak gadis itu tersenyum malu, dam terdiam.
“Mmmpphh… kenapa kamu malah jadi terdiam Joshie..”
__ADS_1
*********