
Tanpa menghiraukan sapaan dari para karyawannya, Barra segera menuju ke pintu lobby. Untung saja, Barra menyiapkan space parkir mobil untuk memarkirkan mobilnya jika sedang berada di perusahaan. Laki-laki itu langsung masuk ke dalam mobil, dan tidak menghiraukan tatap keheranan dari security dan beberapa orang dari perusahaannya.
“Honey… tunggulah sayang, aku pasti akan menyelamatkanmu..” tidak ada pikiran yang lainnya, hanya saja kepanikan menghampiri laki-laki itu.
Mengingat kebiasaan sehari-hari istrinya, tidak akan mungkin istrinya Gwen akan menuju ke suatu tempat tanpa memberi tahukan terlebih dulu kepadanya. Jadi dengan membaca isi chat tersebut, Barra sudah sedikit curiga pada pesan yang tertulis. Pikiran laki-laki itu sudah mengembara kemana-mana.
“Siapa yang sudah berani membuat kekacauan pada keluargaku. Jika sedikit saja Gwen terluka, aku akan membuat perhitungan. Jika perlu, hotel itu akan aku luluh lantakkan..” dengan emosi yang memuncak, Barra segera menginjak gas mobil.
Tanpa mempedulikan sekitar, mobil Barra melesat keluar dari dalam komplek perusahaan. Untungnya security segera sigap melihat hal yang tidak biasa itu. Dua security segera mengikuti arah mobil Barra meluncur, dengan menggunakan sepeda motor, agar mereka lebih cepat mengikuti laki-laki itu.
*************
Helsinki Strandt
Sesampainya di hotel, Barra langsung menuju ke depan receptionis. Tampak perempuan muda menyambut kedatangan laki-laki itu.
“Ada yang bisa saya bantu tuan Barra..” sebagai pemilik perusahaan terkenal di Helsinki, Barra memang banyak dikenali mitra. Receptionis itu langsung mengenali laki-laki itu.
„Berikan aku acces room untuk menuju ke lantai tujuh. Aku ada urusan penting di kamar yang ada di lantai 7, cepat..” tanpa senyum, Barra segera meminta acces untuk menuju ke lantai atas.
Di hotel itu memang sangat ketat keamanannya. Untuk menjamin privacy pengunjung, jika bukan penginap memang tidak akan bisa berjalan-jalan dengan bebas di hotel tersebut,. Wajah famous Barra untung saja dikenali, sehingga mempermudahnya untuk mendapatkan acces tersebut.
“Tunggu sebentar tuan…, saya ambilkan sebentar..” tampak petugas receptionis membuka drawer di depannya. Tidak lama kemudian..
“Ini acces room nya tuan Barra.. Jika tuan berkenan, bisa saya perintahkan security untuk mengawal tuan Barra ke lantai tujuh..” menyadari posisi yang disandang oleh laki-laki itu, dengan suka rela receptionis menawarkan pelayanan.
__ADS_1
“Tidak perlu.., aku bisa mengurus sendiri.” Barra tidak mau memperlama waktu di depan receptionis. Laki-laki itu langsung mengambil acces room, dan langsung setengah berlari menuju ke pintu lift.
Setelah menunggu beberapa saat, untung saja pintu lift segera terbuka. Laki-laki itu segera masuk ke dalam, kemudian melakukan scanning menggunakan acces room. Setelah menekan penunjuk angkat tujuh, pintu lift langsung naik ke atas. Tidak lama kemudian, pintu lift sudah terbuka dan Barra segera beranjak keluar. Tatapan mata laki-laki itu memindai penunjuk arah, dan untung saja room 707 yang dicarinya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Barra segera bergegas menuju ke room tersebut, dan karena tidak memiliki akses untuk masuk ke dalam, laki-laki itu segera menekan tombol bel pintu.
Tidak lama kemudian, pintu dibuka dari dalam, namun tidak terlihat ada seseorang muncul di depannya. Tidak mau menunggu, Barra segera mendorong pintu ke dalam. Betapa terkejutnya laki-laki itu, begitu Barra masuk pintu langsung Kembali tertutup dan terkunci.
“Mmmmpphh… Barra sayang, akhirnya kamu datang juga kepadaku sayang…” di depan Barra, tanpa menggunakan elembar benangpun Jacqluine turun dari atas ranjang, dan berjalan menghampiri Barra.
“*Fu*ck you Jacqluine.. dimana istriku..” bukannya terpikat dengan kemolekan tubuh polos itu, tetapi Barra malah mengumpat dan berteriak.
„Janganlah jual mahal begitu Barra… kita nikmati dulu hari ini. Barulah kita akan bicara tentang keberadaan istrimu..” sambil tersenyum, Jacqluine malah semakin mendekati Barra.
„Tetaplah di tempatmu, jika kamu mau aku tidak kehilangan kesadaran. Apakah kamu pikir, aku akan tergiur dengan tubuhmu yang seperti terminal pemberhentian itu. Katakan dimana istriku Jacqluine… atau aku akan menghajarmu..” terlalu khawatir dengan keadaan Gwen, Barra bereaksi keras.
Tangan laki-laki itu sudah terangkat ke atas, namun belum sampai tangan Barra menyentuh perempuan itu, tiba-tiba saja ada yang membekap mulut Barra dari belakang. Tidak lama kemudian, tubuh Barra limbung..., dan laki-laki itu tidak mengingat apapun lagi.
************
Melihat keberadaan Gwen yang berdiri di lobby kampus, Aldo dan Asep menghampiri gadis itu. Mereka melihat sepertinya Gwen gelisah, mungkin saja ada yang mengganggu gadis itu. Dengan cepat, keduanya segera mendatangi gadis itu.
“Hi… Gwen, tumben sekali kamu menunggu disini. Siapa yang sedang kamu tunggu..?” Aldo langsung bertanya pada gadis itu.
Gwen menoleh ke belakang, dan tersenyum melihat Asep dan Aldo yang berjalan menghampirinya.
“Hari ini aku diantarkan kak Barra ke kampus, dan jam dua sekarang ini, kak Barra janji akan menjemputku. Aku mau menelpon tidak bisa, karena ponselku tiba-tiba saja hilang tidak tahu kemana Ald..” tanpa ada yang ditutupi, Gwen menyampaikan masalahnya pada anak muda itu.
__ADS_1
„Hubungi ponsel kak Barra pakai ponselku saja Gwen.. Untung saja, beberapa waktu lalu aku sempat bertukar nomor dengan kak Barra..” tidak diduga, ternyata Aldo juga menyimpan nomor ponsel suaminya.
Anak muda itu mengulurkan ponsel pada Gwen, dan gadis itu langsung menerimanya. Tanpa bicara, tangan Gwen segera menggulir ponsel dan melakukan panggilan keluar. Sesaat… ada nada sambung terdengar, tetapi tidak ada jawaban masuk. Gwen mencobanya lagi… dan syukurlah ada yang menerima panggilan masuk tersebut.
“Barra sedang sibuk, sampaikan pada istrinya gadis ingusan itu. Suaminya sedang bermesraan denganku di hotel Helsinki Strandt.., room 707.” tahu jika yang melakukan panggilan adalah sahabat baik Gwen, karena di contact Barra menuliskan nama Aldo the best friend honey.
Gwen tidak menjawab, tiba-tiba saja kedua kaki gadis itu merasa lemas. Tidak tahu sebabnya, ponsel Aldo terjatuh ke bawah dan untung dengan sigap ditangkap Asep. Tubuh Gwen tiba-tiba limbung, dan Aldo segera menyangga punggung Gwen.
“Asep… ambil mobil segera. Kita harus membawa Gwen ke dokter sekarang juga..” Aldo menjadi panik melihat tubuh Gwen terjatuh. Tidak mau mengambil resiko dengan keadaan itu, Aldo berniat akan membawa Gwen menuju ke rumah sakit.
Beberapa mahasiswa yang melihat kejadian itu, berlarian membantu Aldo menyangga tubuh Gwen. Tapi Aldo menolak, dan anak muda itu segera membopong tubuh gadis itu, kemudian berlari menuju ke arah mobil yang dibawa Asep.
„Cepat masukkan Gwen di kursi tengah saja Aldo.. Kamu duduk di tengah menemaninya..” Asep segera membantu mengarahkan sahabatnya.
Beberapa saat kemudian, Asep segera menjalankan mobil keluar dari pintu gerbang kampus. Beberapa saat berkendara untuk menuju ke rumah sakit Helsinky, tiba-tiba Gwen terbangun. Dengan sigap, Aldo segera memberikan air mineral dan mengangkat sedikit kepala gadis itu.
“Minumlah dulu Gwen… kita sudah dalam perjalanan ke rumah sakit..” Aldo segera mengarahkan gadis itu.
Gwen meneguk air mineral itu dua teguk, kemudian..
“Antarkan aku sekarang ke Helsinki Strandt hotel, jangan bawa aku ke rumah sakit.” Ucap gadis itu lirih, dan tampak air mata menggenang di pelupuk mata gadis itu.
Asep dan Aldo saling berpandangan, tetapi kemudian…
“Ikuti keinginan Gwen Asep… bawa kita ke hotel itu. Aku akan selalu bersama dengan Gwen, kamu tidak perlu khawatir..” akhirnya Aldo memutuskan untuk mengikuti permintaan Gwen.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Asep segera mengarahkan mobil menuju ke hotel yang sudah disebutkan oleh gadis itu.
***********