
Mount Sinai Hospital..
Begitu private jet landing di Bandar Udara Internasional Pearson Toronto, dengan menggunakan helicopter, mama Barra segera dievakuasi menggunakan helicopter dan langsung mendarat di hanggar rumah sakit, Semua merasa cemas, karena sejak dalam perjalanan, mama Barra sudah menunjukkan gejala yang sangat ekstrim..
“Semua anggota keluarga silakan menunggu di luar, karena pasien dalam keadaan kritis..” begitu nyonya Chandra dibawa petugas Kesehatan, tuan Chandra dan semua yang datang bersamanya tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan.
Barra menahan tubuh papanya, karena laki laki itu ingin mendampingi istrinya. Meskipun mereka pasangan suami istri, memang tuan Chandra dan Nyonya sering berpisah tempat tinggal, Tuan Chandra lebih banyak waktunya untuk memikirkan perusahaan, sedangkan mama Barra lebih suka menghabiskan uang dengan berkeliling dunia..
“Papa yang sabar dulu… mama sudah ditangani oleh pihak yang tepat. Ada dokter, dan tenaga medis lainnya yang akan menangani mama. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa disini..” Barra berusaha menasehati papanya.
Gwen mengambil air mineral yang disediakan oleh pihak rumah sakit, dan setelah membuka botolnya, gadis itu memberikan air mineral pada papa mertuanya.
“Minumlah dulu pa… agar ketegangan papa sedikit hilang..!” Barra mengambil air mineral itu, kemudian mendekatkan ke mulut papanya.
Tanpa berbicara, tuan Chandra akhirnya meminum air mineral itu beberapa teguk. Gwen melihat ke arah dua putranya, yang juga tampak bersedih karena keadaan omanya. Kedua anak kembar, yang biasanya sering membuat ulah itu, tampak diam dan duduk di kursi tunggu. Melihat keadaan putranya, Gwen merasa trenyuh, dan gadis itu segera mendekati kedua putranya.
“Tareeq.., Bareeq.., ikut mommy sebentar yukk… kita cari makan pagi.” Menyadari jika sejak malam mereka belum mengisi perut, Gwen mengajak kedua putranya untuk melakukan breakfast.
Kedua anak itu melihat ke arah papanya..,
“Pergilah… papa akan menemani opa dulu disini sayang...!! Jika opa mau, nanti papa akan menyusul kalian berdua..” melihat jika putranya tampak tidak enak untuk meninggalkannya, Barra berbicara pada putranya.
„Baik pap... Bareeq dan Tareeq akan menemani mommy..” kedua anak itu akhirnya bersedia mengikuti mommy nya.
__ADS_1
“Gwen dengan anak anak ke food court dulu kak… Papa, Gwen tinggal dulu ya..” setelah melihat papanya menganggukkan kepala, akhirnya Gwen menggandeng kedua putranya berjalan keluar dari ruang tunggu,
Barra hanya melihat punggung istrinya berjalan meninggalkannya dengan papa Chandra. Kedua laki laki itu hanya diam, menunggu jika ada pemberi tahuan dari dokter atau tenaga medis lainnya. Tiba tiba pintu dibuka dari dalam, dan…
“Keluarga yang memiliki hubungan dekat dengan pasien, silakan isi pernyataan ini..” seorang tenaga medis keluar sambil membawa satu lembar kertas HVS.
Barra segera mengambil kertas tersebut, dan setelah membacanya sekilas..
“Papa… rumah sakit membutuhkan tanda tangan kita selaku keluarga, mama akan dioperasi secepatnya.,” dengan suara bergetar, Barra memberi tahu papanya,
“Tanda tanganilah Barr… papa tidak akan sanggup untuk membaca berkas itu..” ucap lirih tuan Chandra. Laki laki tua itu sudah terlihat pasrah, apa yang akan dilakukan pada istrinya.
Beberapa hari sebelum pernikahan Kayla dan Aldo, istrinya sudah berpamitan padanya, jika tidak akan bisa mendampingi lebih lama lagi. Istrinya hanya menitipkan putra putri, serta cucu mereka untuk diawasi. Dan tuan Chandra menahan semua itu, tidak memberi tahu apapun baik pada Barra maupun pada Kayla. Dan kali ini... jantung laki laki tua itu terus berdegup kencang, ketika istrinya masuk ke ruang ICCU.
“Persetujuan dari keluarga sudah kami dapatkan. Tidak akan lama lagi, dokter sudah akan mempersiapkan operasi. Mohon bantu kami untuk berdoa..” sebelum kembali masuk ke dalam, tenaga medis menyampaikan beberapa kata pada Barra dan tuan Chandra,
Dua laki laki itu hanya menganggukkan kepala, tidak bisa lagi untuk menyampaikan beberapa kata.
**********
Villa puncak bukit Helsinki...
Kayla dan Aldo kaget Ketika bangun tidur, karena mereka tidak menjumpai siapapun. Begitu acara pesta berakhir, keluarga Aldo menginap di hotel, dan Asep serta Chyntia Kembali ke apartemen. Kakek Atmadja, om Andrew dan auntie Anne juga Kembali ke hotel mereka selama berada di Helsinki.
__ADS_1
“Aldo… kenapa detak jantungku menjadi semakin tidak beraturan. Kemana kak Barra, kak Gwen.. Tadi aku melihat ke kamar papa dan mama, mereka berdua juga sudah tidak ada. Bareeq serta Tareeq juga tidak terdengar suaranya..” Kayla dengan wajah pucat bertanya pada suaminya,
„Tenangkan dirimu Kay... siapa tahu mereka sedang berjalan jalan pagi. Apakah kamu sudah bertanya pada Claire, atau pada maid lainnya..?” Aldo berusaha menenangkan istrinya. Padahal dalam hati, laki laki itu juga merasa khawatir ada sesuatu yang dilewatkan oleh mereka.
„Benar Ald... aku akan mencari maid dulu di dapur..” tanpa menunggu persetujuan suaminya, Kayla segera bergegas meninggalkan kamar.
Untuk memastikan jika istri yang baru tadi malam dinikahinya, Aldo mengikuti Kayla di belakangnya. Mereka langsung menuju ke dapur, dan untungnya terlihat Claire sedang membuat sesuatu…
“Claire… apakah kamu tahu ada dimana kak Gwen dan kak Barra.. Dua keponakanku juga tidak terlihat ada di rumah..” Kayla langsung bertanya pada maid senior di keluarga itu.
„Bukankah, tadi malam begitu pesta berakhir, tuan muda Barra dan keluarganya membawa nyonya Chandra pergi dari rumah ini non... Kata non Gwen.. mereka akan menemani nyonya besar, agar mau menjalankan operasi di Toronto, Canada. Hanya itu yang saya tahu non..” Claire menceritakan apa yang diketahuinya.
Mendengar informasi yang disampaikan oleh Claire, mata Kayla tampak tergenang air mata. Dengan sigap, Aldo memegang bahu istrinya, kemudian membawanya keluar dari dapur.
“Tenangkan hatimu Claire… kita akan telpon kak Barra sekarang. Jika memang mereka berada di Toronto, hari ini juga kita akan menyusul mereka ke negara itu..” Kayla terisak mendengar kata kata yang diucapkan suaminya.
Terbayang jelas dalam ingatan gadis itu, bagaimana mamanya terus meminta untuk segera meresmikan hubungannya dengan Aldo. Dengan alasan studi, Kayla berusaha menolak, tetapi ternyata keinginan dari keluarga Aldo sama dengan keinginan mamanya. Dan sekarang, mamanya meninggalkannya sendiri di kota ini.
“Ald.. apakah akan terjadi sesuatu dengan mama Ald..” dengan mata berlinang, Kayla bertanya lirih pada suaminya.
„Sayang... jangan berpikir macam macam. Kita berdoa, dan segeralah kamu bersiap. Aku akan membuat pengaturan, agar hari ini kita bisa terbang ke Toronto. Kita akan menemani mama..” melihat istrinya tampak terpuruk, Aldo mengambil alih semua keputusan.
Perlahan Kayla menganggukkan kepala, dan pasrah ketika Aldo membawanya kembali ke dalam kamar. Dari belakang mereka, Claire dan para maid lainnya hanya menatap mereka dengan tatapan prihatin.
__ADS_1
************