
Setelah kenyang menikmati aneka menu hidangan, para anak muda itu kemudian duduk di depan teras sambil melanjutkan perbincangan. Putra putri Gwen sudah dibawa nanny, untuk melanjutkan istirahat. Sedangkan Gwen, Barra, Aldo dan Kayla masih berbincang dengan teman-teman Gwen maupun Aldo.
“APa kegiatanmu sekarang Robert.., kamu terlalu menutup sendiri sepertinya..?” melihat Robert yang hanya diam mendengarkan sejak tadi, Gwen bertanya pada laki-laki itu.
“Hempphh… aku jadi dosen Gwen.., di salah satu perguruan tinggi yang ada di kota Bandung. Tidak ada yang bisa aku banggakan, kamu tahu sendiri bukan bagaimana kehidupan dosen di Indonesia, seperti layaknya guru. Kali ini, aku sedang melanjutkan studi S3 di ITB, yah agar aku bisa mencapai jenjang karir tertinggiku sebagai seorang Profesor..” dengan malu-malu R0bert menjawab pertanyaan Gwen.
“Wow… sangat luar biasa sekali Robert. Jangan hanya melihat kesuksesan seseorang itu dari berapa angka rupiah yang masuk ke koceknya. Lihat juga apa yang menjadi tujuan hidupnya. Menjadi seorang guru, seorang dosen itu banyak amal kebaikan sama generasi muda. Bisa mengabdikan ilmu, dan apa yang diketahuinya pada orang banyak. Jangan berkecil hati..” Gwen segera memberikan tanggapan.
„Benar yang dikatakan istriku Robert.., aku ikut bangga padamu. Untuk saat ini, masih sangat jarang aku bertemu dengan seseorang yang mau mengabdikan hidup sepertimu. Aku ucapkan selamat, angkat topi untukmu..” Barra ikut memberikan tanggapan, mengikuti istrinya.
Robert tersenyum malu, kemudian menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada, untuk memberikan ucapan terima kasih pada teman-temannya.
“Apa yang sudah aku bilang Robert, jangan pernah berkecil hati. Banggalah dengan apa yang kamu jalani saat ini, dengan pencapaianmu. Dari segi jenjang pendidikan, kami memberikan selamat padamu, karena di antara kita saat ini, kamulah yang menempuh jenjang Pendidikan paling tinggi.” Duduk di sebelahnya, Alana menepuk bahu dan ikut menanggapi.
“Iya… iya.., thanks teman-teman. Ternyata kalian tidak menganggap remeh pekerjaanku, Ke depan, aku akan sangat berbangga dengan apa yang sudah bisa aku raih dalam karirku. Semua orang punya garis tangan masing-masing, dan akan menjadi apa sesuai dengan passion mereka masing-masing juga. Sekali lagi, terima kasih atas dukungan kalian semua.” Akhirnya Robert tersenyum, dan menyampaikan ucapan terima kasih secara lisan.
„Okaylah Robert... lupakanlah. Sekarang kita nikmati malam ini, ayuk kita mulai lagi menghabiskan camilan yang sudah terhidang..” Aldo ikut menyahut.
__ADS_1
Seperti anak-anak muda pada usianya dulu, mereka kemudian kembali melanjutkan menikmati camilan yang disiapkan ART rumah Gwen. Mereka berbincang sampai malam hari, dan tanpa sadar jarum jam sudah mendekati angka dua belas malam. Akhirnya..
„Kak Barra..., Gwen, kita sudah bicara kesana kemari sejak tadi. Tanpa kita sadari, lihatlah jarum jam, ternyata sudah hampir di angka dua belas, jika begitu, kami akan pulang dulu ya Gwen. Kasihan putraku di rumah, hanya dengan omanya..” Novi mengingatkan mereka untuk mengakhiri perbincangan.
“Iya Gwen.., kak Barra, kami juga. Robert masih harus mengantarku sampai ke rumah, karena tadi sudah janji dengan suamiku...” Alana akhirnya mengikuti apa yang dikatakan Novi.
„Siap Alana, kamu tahu bukan. Sejak SMA aku tidak bisa berbohong padamu...” Robert ikut berdiri.
Akhirnya ke empat anak muda itu bergegas menuju ke mobil mereka. Aldo, Kayla, Gwen dan Barra ikut mengantarkan mereka sampai ke depan gerbang rumah,
**********
Hans mendatangi Cynthia yang terlihat melamun di kursi depan. Laki-laki itu diberi informasi oleh istrinya Josephine, yang mengatakan jika perempuan itu sejak tadi menghabiskan waktu sambil melamun. Akhirnya dengan sepengetahuan istrinya, Hans mendekati Cynthia.
‘Selamat siang Cynth… how about you?? Aku lihat, sejak tadi kamu lebih banyak melamun sendiri. Apakah ada yang kamu pikirkan, atau mengganggu pikiranmu Cynth...?” Hans duduk di depan sahabatnya itu, sambil menatap ke wajah perempuan itu,
Terlihat Cynthia seperti ragu untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya pada laki-laki itu, tetapi ketika melihat Hans tersenyum dan menganggukkan kepala, akhirnya..
__ADS_1
„Hempphh..., sebenarnya bukan masalahku Hans. Hanya saja, aku tidak tega melihat ada kesedihan membayang di wajah suamiku, setelah tadi pagi mendapatkan panggilan video dari teman-teman SMA dari Jakarta..” dengan suara pelan, Cynthia mulai bercerita.
“Semenjak itu Hans, aku lebih banyak melihat semacam rasa sedih di wajah Asep. Suamiku seperti merindukan saat-saat berada di negaranya, Indonesia..” lanjut Cynthia,
Hans tersenyum kemudian mengambil nafas beberapa saat, kemudian…
“Cynthia… tenangkan dirimu girls… Bukan sedih sepertinya yang dirasakan Asep. Mungkin seperti rasa rindu pada teman-teman, juga kampung halamannya. Karena aku baca dari chat yang dikirim Boss Director, Aldo dan kayla ternyata juga menyusul kepulangan mereka ke Indonesia. Di acara barbeque, tentu saja teman-teman suamimu, akan memberi tahukan pada suamimu..” Hans tampak mencoba memberikan penjelasan.
“Kenapa kamu tidak mengatur liburan untuk sekalian mengantarkan suamimu Cynthia. Aku juga tertarik untuk mengikutimu, nanti aku juga akan membawa Josephine ikut serta. Kita bisa double date di negara Indonesia, kemudian bergabung dengan keluarga Boss kita..” lanjut Hans, membuat sebuah usulan.
Cynthia menatap ke wajah Hans, sama sekali tidak terbersit dalam pikirannya jika akan mengajak suaminya Kembali ke negaranya. Beberapa saat, perempuan itu tampak menimbang nimbang pikiran, namun akhirnya…
“Benar apa yang kamu katakan Hans. Aku akan mengajak suamiku berbicara. Mungkin saja papanya anakku berpikir jika aku tidak memiliki tabungan, karena tidak pernah bertanya berapa salary ku ketika bekerja di perusahaan ini. Terima kasih Hans, atas ide brillianmu. Aku akan segera bersiap…” senyuman mulai terbit di bibir Cynthia.
Hans tersenyum, Ketika Kembali melihat sahabatnya sudah Kembali ceria. Tampaknya ide untuk berlibur, sangat menyenangkan, bisa sejenak melepaskan rutinitas, membuang energi negative, dan menambah asupan energi positif untuk tubuhnya.
‘Sekarang kembali focus bekerja Cynthia. Sebentar lagi, akan tiba liburan musim dingin di negara ini. Akan lebih baik, kita meninggalkan negara ini beberapa waktu, dan mencari pengalaman dengan berkunjung ke negara tropis. Atur semuanya, tapi jangan lupakan aku Cynthia…” Hans kembali berdiri, kemudian menepuk bahu perempuan itu tiga kali, dan meninggalkannya sendiri.
__ADS_1
**********