
Apartemen Aldo
Kayla ternyata gadis yang mudah sekali akrab dengan orang yang baru saja dikenalnya. Meskipun gadis itu baru mengenal Aldo beberapa saat yang lalu, namun Kayla sudah terlibat perbincangan seru dengan anak muda itu. Asep yang turut bersama dengan mereka, hanya bisa mengulum senyum dan berharap ketertarikan dengan lawan jenis, yang selama ini ditujukan pada Gwen, secepatnya bisa bergeser pada Kayla.
„Smith... bagaimana kamu tahu jalan menuju apartemen Aldo, apakah kalian pernah jalan berdua ke sana?” karena Smith dengan lancar mengemudi tanpa bertanya, Kayla bertanya pada driver keluarga kakaknya itu.
„Jika untuk menemui tuan Aldo.. belum pernah Non.. Tapi beberapa kali, saya pernah ada urusan di apartemen tersebut. Lagian tadi non Gwen juga sudah memberi tahu nama apartemennya, jadi saya tidak perlu bertanya..” sambil menggerakkan setir kemudi, Smith menanggapi pertanyaan adik dari majikannya itu.
“Hempphh… pantas saja. Sejak tadi, aku hanya dalam hati saja membatin, ini Smith kok pede banget, tidak ada tanya sama sekali. Aldo dan Asep juga, diam saja tidak mengomentari Smith.” Kayla melihat ke arah Aldo dan Asep,
„Lha aku malah berpikir, ketika kak Barra dan Gwen datang ke apartemenku beberapa waktu lalu juga membawa Smith. Jadi yah... aku tenang saja Kayla, tidak ada rasa kekhawatiran sedikitpun jika kita akan menyasar. He.. he.. he..” sambil tertawa kecil, Aldo menanggapi.
„Ini berarti test case untuk keluargamu juga Kayla… seberapa cermat kalian memiliki driver. Berarti Smith teruji bukan..” Asep ikut menimpali.
“Benar juga ya kalian, oke deh Smith. Acung empat jempol deh dariku buatku..” Kayla memuji Smith.
“Terima kasih Non…” Smith Kembali fokus mengemudi, dan beberapa saat kemudian laki-laki itu memasuki halaman apartemen. Tidak berapa lama, Smith memasukkan mobil ke lobby, kemudian berhenti.
“Tujuan sudah sampai Tuan.. Non..” Smith memberi tahu pada tiga anak muda itu, jika tujuan mereka sudah sampai. Laki-laki itu kemudian membuka pintu mobil, kemudian turun dan membukakan pintu mobil untuk nonanya dan dua laki-laki itu.
“Kayla.. tidak etis jika aku tidak memintamu untuk mampir ke apartemenku di atas. Jika kamu ada waktu senggang, singgahlah sejenak nanti Asep akan membuatkan kopi untukmu. Asep pernah ikut barista course, jadi ramuan kopi buatannya mantap..” bukan untuk basa basi, Aldo menawarkan pada Kayla untuk singgah.
Kayla terdiam sejenak, gadis itu tampak berpikir mempertimbangkan keputusan yang akan diucapkannya. Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
„Baiklah Aldo.., tidak enak menolak tawaran bukan. Aku akan ikut naik ke apartemen, dan semoga saja Asep berkenan menyuguhkan padauk secangkir kopi hangat..” Kayla menyambut baik tawaran itu.
„Okay.. ayuk kita turun..” sahut Asep.
Akhirnya ketiga anak muda itu turun, dan langsung masuk ke dalam lobby. Aldo dan Asep sekalian menggendong back pack bawaan mereka, dan Smith segera memindahkan mobil untuk diparkirkan.
“By the way… selama di apartemen, bagaimana cara kalian mencukupi kebutuhan logistic setiap hari. Bukankah akan sulit mencari makanan khas Asia di area sini..” sambil berjalan menuju lift, Kayla Kembali bertanya.
“Beberapa kami memasaknya sendiri Kayla, terutama jika kami sudah bosan dengan makanan berbau roti. Yah.. mau bagaimana lagi, karena ketika papa akan mengirimkan chef untuk membantu kebutuhan logistik, kami menolaknya.” Dengan cepat Aldo menjawab pertanyaan dari gadis itu.
„Upss baguslah..” sahut Kayla sambil tersenyum.,
Untungnya lift di depan mereka terbuka, sehingga tiga anak muda itu segera bergegas masuk ke dalamnya.
**********
Barra yang sedang duduk di balkon, mengerutkan kening Ketika menerima chat dari Andy. Tanpa diketahuinya, ternyata anak muda itu sudah kembali ke rumah, tapi segera kembali keluar untuk tinggal di hotel. Setelah berpikir sejenak, Barra akhirnya hanya bisa mengambil nafas, karena jika dipikir-pikir, anak itu memang sebaiknya tinggal di luar untuk menjaga kenyamanan istrinya. Apalagi Kayla juga sudah datang di rumah mereka.
“Kak Barra.. ini ginger tea nya kak. Sama Claire membuat cookies. Rasa cinnamonnya kerasa banget, jadi harum dan enak..” tiba-tiba Gwen datang dengan membawa nampan berisi mug dan toples kue kering.
“Terima kasih honey..” Barra kemudian mengambil mug, dan beberapa kali laki-laki itu menyesap minuman. Setelah itu, Barra meletakkan mug Kembali ke atas nampan, dan mengambil dua potong cookies dan memasukkan ke mulutnya.
“Oh ya kak.., sepertinya Kayla mampir ke apartemen Aldo, karena sampai jam segini gadis itu belum sampai kembali ke rumah..” Gwen mengajak bicara suaminya tentang adik iparnya.
__ADS_1
“Iya honey… biarkan saja. Lagian Kayla juga belum punya kekasih, biar bisa melakukan pendekatan dengan Aldo. Jadi keberadaan laki-laki itu tidak mengancam posisiku. He.. he.. he..” Barra mengerling untuk menggoda istrinya.
“Aaaaw…” tetapi cubitan di pinggang laki-laki itu yang diberikan oleh istrinya.
Tidak tahu mengapa, Barra memang paling cemburu, dan sering menjadi gelap mata jika istrinya hanya bersama dengan Aldo. Hal itu bisa dimengerti, karena mengingat bagaimana kedekatan keduanya sebelum menikah dengannya.
“Kak Barra sayang…” Barra kaget Ketika pertama kali gadis di sampingnya itu memanggilnya sayang.
“Honey… ucapkan sekali lagi sayang. Aku ingin mendengarnya sekali lagi..” mata Barra tampak berbinar.
„Apaan sih kak..?” Gwen malah terlihat malu. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tidak mau beradu pandang dengan suaminya.
„Tahu bukan honey... bagaimana hukumnya menolak perintah suami..” Barra tidak berhenti menggoda gadis itu.
Tiba-tiba Gwen membuka kedua telapak tangannya, dan pipi gadis itu terlihat bersemburat merah. Barra tersenyum, dan tangan laki-laki itu diangkat kemudian mengusap pipi istrinya beberapa kali.
“Ayolah honey.. ucapkan sekali lagi panggilan sayang untukku cantik. Aku ingin mendengarnya, yang membuktikan adanya pengakuan, jika istriku ternyata juga menyayangiku..” Barra terus menatap wajah istrinya, dan ketika Gwen akan menghindar, tangan Barra memegang dagu istrinya.
“Hempphh… iya kak Barra sayang.. Gwen hanya ingin bertanya, kenapa sih kak Barra seperti selalu ada kecurigaan, jika Gwen sedang Bersama dengan Aldo. Bukankah kami sekarang dan dari dulu sudah menjadi teman dekat..” akhirnya Gwen berhasil menyuarakan pertanyaan hatinya.
Bukannya menjawab, Barra malah berdiri kemudian menarik tangan Gwen. Laki-laki itu mendirikan istrinya, kemudian mendekap gadis itu di tubuhnya. Hal itu berlangsung beberapa saat, dan..
“Honey… kamu sangat berharga dan berarti untukku sayang.. Siapapun tidak terkecuali, meskipun Aldo bahkan Andy, sedikitpun tidak aka nada celah untuk mendapatkanmu..” ucap Barra serius.
__ADS_1
Gwen terkejut mendengar perkataan dari suaminya, tetapi gadis itu tidak bisa melanjutkan pertanyaannya. Barra sudah meraup wajahnya, dan laki-laki itu langsung memagut bibir ranum istrinya. Pasangan suami istri itu terbawa suasana, saling berpelukan dan berciuman di balkon kamar mereka.
**********