Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 172 Mengenangmu


__ADS_3

Perempuan paruh baya yang duduk di depan Barra mengerutkan keningnya, tetapi tidak lama kemudian pengurus panti itu Kembali menyesuaikan diri. Barra kemudian melanjutkan ceritanya, dan tidak tahu sebabnya, di depan pengurus itu, Barra bercerita semuanya dan tidak ada sedikitpun yang dirahasiakan. Beberapa saat kemudian…


“Hemppphh… percayalah nak Barra… hubungan kalian saat ini sedang diuji oleh Tuhan. Tapi ibu yakin nak…, kalian pasti akan dengan mudah untuk melewatinya.


Karena meskipun karena perjodohan kalian disatukan, namun banyak chemistry dan kecocokan pada kalian berdua. Berdoalah, agar kalian berdua bisa melalui rintangan itu.” Setelah berpikir sesaat, pengurus panti itu akhirnya memberikan tanggapan,


Tidak tahu mengapa, mendengarkan suara dari perempuan paruh baya itu, hati Barra seperti disiram air dingin yang menyegarkan. Kegalauan karena ditinggalkan Gwen, beberapa saat terasa hilang. Laki-laki itu merasa seperti dibangkitkan Kembali, dan semangat berjuangnya Kembali muncul.


“Terima kasih ibu… dan ijinkan saya untuk berdonasi bagi pengembangan panti asuhan ini. Mungkin besok aka nada beberapa teman saya yang akan datang ke tempat ini, untuk melihat kebutuhan Rencana Anggaran Belanja yang harus kami sediakan. Inshaa Allah… saya akan membangun fasilitas baru, agar adik-adik penghuni panti bisa merasa lebih nyaman.” Beberapa saat kemudian, Barra menyampaikan informasi yang menggembirakan.


“Benarkah nak…, betul-betul tangan Tuhan yang menganugerahkan kebahagiaan pada panti asuhan Hidayah ini. Kun fa yak un… jika Tuhan sudah berkehendak, maka yang terjadi maka terjadilah.


Hal itu pulalah nak Barra, yang akan menyatukan Kembali nak Barra dengan nak Gwen. Jangan pernah berkecil hati..” dengan air mata berlinang karena rasa haru, perempuan paruh baya berkata-kata.


Barra hanya tersenyum  tidak menanggapinya. Tidak lama kemudian, Barra mengeluarkan buku cek dari dalam tas yang sejak tadi diselempangkan. Menggunakan pulpen yang dibawanya, laki-laki itu menuliskan angka 100 juta rupiah di atas cek tersebut.


“Ibu… mohon terimalah cek ini ibu... Untuk sementara, kebutuhan pokok panti bisa dilengkapi dengan uang yang tertera dalam cek ini. Saya dan istri berjanji bu, ke depan kami akan menjadi donatur tetap untuk pengembangan panti asuhan Hidayah..” tidak berhenti sampai di situ, Barra juga menyerahkan lembaran cek yang sudah disobeknya itu pada perempuan paruh baya itu.


Dengan tangan gemetar, pengurus panti menerima lembaran cek itu dari tangan Barra.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum melihat reaksi dari pengurus panti tersebut.


„Terima kasih nak Barra... semoga apa yang sudah nak Barra berikan dan lakukan pada panti asuhan ini, bisa menjadi amal jariyah untuk nak Barra dan nak Gwen. Hanya doa itu yang bisa kami panjatkan nak, sebagai penebus atas kebaikan nak Barra dan keluarga.” Dengan penuh keharuan, pengurus panti asuhan mengcapkan rasa syukur.


„Sama-sama ibu... kebesaran hati Ibu yang bisa dengan sabar merawat dan mengasuh anak-anak di panti asuhan ini, masih jauh lebih besar dari bantuan kami bu.. Hanya itu saja bu, karena sudah akan memasuki malam, mohon ijin saya untuk berpamitan..” tidak mau menghabiskan waktu lama-lama di tempat itu, akhirnya Barra kemudian berdiri dan berpamitan.


„Baik nak... hati-hati di jalan.


Semoga kesuksesan dunia akhirat selalu menyertaimu kehidupan nak Barra, dan juga nak Gwen.” Sambil tersenyum, perempuan paruh baya itu akhirnya melepaskan laki-laki itu.


Perlahan Barra kemudian berjalan menuju pintu keluar, dan langsung menuju ke Ducati yang parkir di depan teras panti asuhan tersebut. Tidak lama kemudian, Barra segera menyalakan motor kemudian meninggalkan panti asuhan Hidayah. Laki-laki itu tidak langsung mengarahkan motor kea rah pulang rumah, namun Kembali menelusuri jalan-jalan yang pernah dilewatinya dulu dengan istrinya. Bahkan Barra juga menyempatkan menaiki motor sampai ke Sentul, dan tersenyum mengingat Ketika istrinya ikut balapan dengan komunitasnya.


*********


Sesampainya di rumah selepas kunjungan dari Panti Asuhan Panti Hidayah, dan juga berkeliling kota Bogor, Barra merasa lebih tenang. Rasa galau dan gundah karena dipisahkan dari istrinya, perlahan menghilang. Tanpa bicara, laki-laki itu merebahkan tubuh di atas king size bed. Tangan kirinya meraba ke sisi bed, mencoba mengingat rasa hangat Ketika ada istrinya berbaring di sampingnya.


“Ingat Barra… kehidupan pernikahanmu dengan Gwen abaru saja diterpa ujian. Yakinlah… jika memang Gwen merupakan jodoh sampai akhir hayatmu, kalian pasti akan dipertemukan Kembali. Hanya kesabaran yang akan menguji, bagaimana keeratan hubungan kalian berdua..” Barra berpikir sendiri, Ketika dadanya akan Kembali sesak mengingat kehidupannya dan Gwen.


Laki-laki itu Kembali duduk dan bersandar, kemudian menatap foto pernikahannya dengan Gwen yang tergantung di dinding. Barra tersenyum, dan mengingat Kembali betapa kakunya hubungan mereka saat itu. Belum saling ingat dan saling mengenal kala itu, menjadikan dirinya dan Gwen laksana sepasang musuh,

__ADS_1


“Istriku kamu imut dan menggemaskan, dengan tatapan tajam dan sikap defense kamu selalu berperilaku seperti itu kepadaku..” Barra bergumam sambil tersenyum.


Barra Kembali berdiri, kemudian melangkahkan kaki berjalan menuju ke arah lukisan tersebut. Perlahan tangan kanannya mengusap lukisan yang ada di dinding itu. Tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Barra, Ketika mengusap wajah imut Gwen kala itu.


Tatapan tajam gadis itu, mencerminkan jika Gwen terpaksa melakukan pernikahan.


„Aku harus berusaha lagi, akan aku telusur dimana saja asset kakek Atmadja maupun Andrew berada. Bisa saja, akhir-akhir ini mereka memiliki asset baru tanpa memberi tahu kepadaku. Aku tidak bisa dipisahkan seperti ini, karena aku bukan pencoleng, bukan penjahat.” Laki-laki itu kembali bertekat.


Tatapan laki-laki itu beralih ke atas meja. Melihat ada kertas dan pulpen di atasnya, laki-laki itu kemudian berjalan menuju ke meja tersebut. Tangannya meraih satu lembar kertas HVS Kuarto, dan pulpen. Perlahan laki-laki itu duduk, kemudian membuat coretan di atas kertas tersebut,


“Istriku Gwen… kemanapun kamu pergi, aku akan tetap menunggumu sampai kapanpun. Tidak aka nada yang memisahkan kita honey… I miss you. I love you so much….” Sebuah tulisan dengan huruf kapital tampak tertulis di atas lembar kertas tersebut,


Barra tersenyum, kemudian laki-laki itu menempelkan kertas tersebut di atas meja. Untuk berjaga-jaga agar ART tidak melepaskan tulisan itu, Barra menempelkan kertas tersebut di meja dan merekatkan dengan double tape.


“Aku yakin… suatu saat kamu pasti akan kembali ke kamar ini honey… Tidak peduli sampai kapanpun, aku akan tetap menunggumu. I love you…” Barra Kembali berbisik. Laki-laki itu menundukkan wajah ke bawah, kemudian tanpa sadar memberikan ciuman pada kertas itu, seperti ketika laki-laki itu memberi ciuman pada istrinya.


Perlahan Barra kembali membalikkan badannya, dan menuju ke arah ranjang.


Tidak lama kemudian, laki-laki itu kembali berebah, dan perlahan mata laki-laki itu terpejam.

__ADS_1


**********


__ADS_2