Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 116 Berkumpul dengan Teman Kuliah


__ADS_3

Jeda Kuliah


Gwen menjadi tidak punya waktu luang untuk me time dengan Hans dan Cinthya, karena begitu kelas usai, Aldo dan Asep sudah menunggunya di depan kelas. Padahal dua teman kelasnya itu mengajak Gwen untuk lunch di kantin college. Tetapi karena menghargai sahabatnya, gwen juga tidak mungkin mengabaikan kedatangan mereka.


“Hans… Cynthia, kalian berdua tidak keberatan bukan jika kedua sahabatku dari negara yang sama ini, join dengan kita di kantin..” akhirnya Gwen memiliki ide untuk pergi bersama menuju kantin.


“No problem Gwen… ajak saja kedua sahabatmu untuk join dengan kita, jika mereka tidak keberatan.” Dengan cepat, Hans menanggapi permintaan Gwen. Cynthia juga tersenyum dan menganggukkan kepala tanda setuju.


“Hempph.. thank.s guys… Oh ya Aldo, Asep… kita ma uke kantin nih. Kalian mau join dengan kami, atau masih ada urusan yang lain..” tanpa berbasa basi, Gwen langsung mengajak dua anak muda itu.


Asep menoleh ke arah Aldo, dan..


“Okaylah Asep… sekalian kita isi perut untuk makan siang. Tadi pagi, kamu juga hanya isi perutmu dengan mie goreng bukan..” tidak diduga, Aldo merespon cepat ajakan itu.


„Hadeh Asep... jangan samakan dengan di Indonesia dong. Kurangi makan mie instannya, tidak baik untuk kesehatan... Banyak kok healthy food disini, jangan sampai kamu terserang penyakit thypus gara-gara kurang nutrisi sehat..’ seperti biasa, Gwen langsung mengomeli Asep.


„Iya... iya Gwen..., soalnya mie goreng merek In**mie sudah mandarah daging dalam urat nadiku Gwen. Jadi sepertinya, satu hari saja mereka tidak bertemu dengan ususku, aku jadi kelimpungan. He.. he.. he..” Asep malah melucu.


“Halah.. udah deh, ayuk kita ke kantin. Tidak di Indonesia, di Finlandiapun kamu juga masih sama Asep.. Tidak lucu bukan, ada pemberitaan anak Indonesia masuk rumah sakit, gegara kebanyakan mie instan.” Sahut Gwen, sambil menarik tangan Cynthia untuk segera menuju ke arah kantin.


“Ha.. ha.. ha.., iya, iya, ampun Gwen..” ketiga laki-laki itu akhirnya segera mengikuti langkah kaki dan Cynthia. Mereka langsung masuk ke area kantin college, dan untung saja masih tersisa beberapa kursi yang masih kosong.


Aldo mengambil menu book di meja cashier, kemudian membawanya ke kursi tempat duduk mereka. Setelah sampai di kursi, anak muda itu memberikan menu book pada Gwen. Beberapa saat Gwen mengamati menu book, kemudian menuliskan pesanannya.

__ADS_1


“Aku fruit and vegetables salad saja, untuk minumnya Orange Squash..” ucap Gwen, sambil jarinya menulis di atas nota.


“Aku sirloin double, dan minumnya Cola..” Aldo juga menyebutkan menu kesukaannya.


“Me too, sama dengan Aldo.” Sahut Hans.


Satu persatu, Gwen menuliskan pesanan mereka masing-masing. Dan Ketika Gwen akan melangkahkan kaki menuju cashier, Aldo menarik nota dan memberikannya pada Asep.


“Kali ini aku yang traktir makan siangnya... Asep, bantu pesankan ya..” Aldo segera meminta Asep. Tanpa menjawab, Asep segera melangkahkan kaki kea rah cashier.


“Aldo.. jangan sering-seringlah kamu traktir kami.. Aku yang ada uang, karena aku bisa minta kak Barra, sedangkan kamu kan harus minta sama tante Helene dan Om Firmansyah, padahal mereka tidak ada di negara ini..” untuk tidak merepotkan Aldo, Gwen berbicara pelan pada anak muda itu.


„Tidak perlulah melihatku seperti itu Gwen... Aku tidak akan menjadi miskin kok, meskipun harus mentraktir kalian semua setiap hari. Ingat Gwen..., meskipun aku tidak menjalankannya, beberapa perusahaan disiapkan papa dan mama atas namaku. Jadi.. aku ada uang kok.., tidaklah terlalu menganggapku tak berdaya seperti itu..” Aldo berusaha membela diri.


‘Aku setuju dengan pendapat Gwen... Aldo.” Di samping Gwen, Cynthia ikut menyahuti.


Aldo hanya tersenyum, tetapi tidak memberikan tanggapan atas perkataan kedua gadis itu.


***********


Gwen dan teman-teman yang datang dan makan bersamanya terlihat asyik bersenda gurau. Untung saja, Cynthia dan Hans tidak bisa mengakrabkan diri dengan Aldo dan Asep, sehingga tidak ada yang merasa sungkan dalam obrolan itu. Terlebih Asep, anak mud aitu bisa langsung akrab dengan Cynthia. Tanpa ke lima anak mud aitu sadari, di sudut food court terlihat Andy menatap ke mereka dengan pandangan iri. Karena Aldo dan Asep juga sudah dikenal Andy, anak muda itu berdiri dan mendatangi tempat Gwen dan kawan-kawannya duduk,


“Hempph ceria sekali kamu Gwen dengan mereka, tanpa kamu sadar bagaimana statusmu di rumah…” tiba-tiba tanpa ada peringatan terlebih dahulu, Andy mencoba menyindir Gwen.

__ADS_1


Ke lima anak muda itu menoleh dan melihat ke arah Andy, dan terlihat Andy menatap tajam pada Gwen.


“Hey Andy… ada masalah apa dikau pagi ini denganku. Sejak semalam.., aku sudah ngerasa nih, ada yang tidak beres denganmu..” tanpa ada kepanikan, dengan sikap wajar Gwen memberi tanggapan pada anak muda itu.


Aldo tampak waspada, dan ikut melihat ke arah Andy dengan tatapan tajam, tapi Asep memegang tangan Aldo.


„Tidak beres..??? Ha.. ha.. ha.., kamu saja ke ge eran Gwen.. Masih saja tebar pesona, menggaet teman-teman kuliahmu tanpa sadar apa status yang sudah kamu sandang. Coba saja kasih tahu pada mereka, apa statusmu saat ini, pastilah mereka langsung menjaga jarak denganmu.” Seperti orang kesetanan, Andy malah semakin nyerocos. Gwen hanya tersenyum menanggapi anak muda itu.


Tapi tiba-tiba Aldo berdiri, anak muda itu tidak rela jika gadis yang dicintainya itu, ada yang berani untuk merundungnya. Tanpa permisi, tangan Aldo sudah mencekal leher adik sepupu suami Gwen.


“Andy… perhatikan pertemanan kita, jangan kamu mabuk disini. Apakah yang mau kamu gunakan untuk pressure Gwen, apakah karena gadis ini sudah memiliki seorang suami..???” mendengar ucapan Aldo, mata Andy terbelalak. Anak muda itu kaget, ternyata Aldo sudah mengetahuinya, dan tetap dekat dengan istri dari kakak sepupunya itu.


„Kalian tahu status Gwen...” dengan sikap terkejut, Andy bertanya dengan suara lirih.


“Halah… halah… Andy, Andy. Kamu belum tahu bukan, ada hubungan apa antara kami berdua dengan Gwen.. Jangan nyolot dulu bro...., tapi sekarang kami yang jadi ingin tahu, ada hubungan apa antara kamu dan Gwen. Sikapmu barusan menunjukkan jika kamu ada rasa iri dengan keakraban kami, dan kamu bertindak seperti menjadi pelindung untuk Gwen.” Asep ikut berdiri, dan ikut bertanya memberondong Andy.


Hans dan Cynthia saling berpandangan, kedua anak mud aitu bingung dengan situasi yang terjadi. Namun Gwen menepuk bahu mereka, seakan berkata akan menjelaskan nanti pada saatnya. Akhirnya kedua anak muda itu kembali terdiam, dan mereka tetap duduk pada kursinya,


„Ingat Andy.. jika kamu akan mencari masalah dengan memojokkan Gwen, you are wrong guys… Sebelum suami Gwen mengenal gadis ini, kami bertiga sudah layaknya saudara, layaknya sahabat karib, dan bahkan bisa jadi akhirnya Gwen akan menjadi milikku. Hal itu yang harus kamu tahu dan pahami, jadi jangan sok bersikap menjadi pahlawan untuknya..” Aldo melanjutkan. Kata-kata yang diucapkan anak mud aitu tampak mengintimidasinya, dan hal itu yang membuat Andy tidak siap.


„Sudahlah Aldo.., Asep., kembalilah kalian duduk. Andy ini adik sepupu suamiku, jadi hal yang wajar bukan jika dia bersikap seperti ini. Kita lanjutkan makan kita saja dulu, barulah kita bubar. Dan kamu Andy, kamu mau join dengan meja kita, silakan, atau mau ke tempat lain, aku juga tidak akan mencegahmu..” tidak mau perselisihan itu membesar, akhirnya Gwen menengahi mereka.


Andy kehabisan bahan pembicaraan, hanya mengangkat kedua bahunya ke atas, akhirnya anak muda itu berjalan meninggalkan ke lima anak muda itu.

__ADS_1


*************


__ADS_2