
Rumah di puncak bukit
Barra dan Gwen sampai di rumah Kembali mendekati tengah malam. Mereka tidak pergi kemana-mana hanya berbincang di restaurant sampai restaurant itu hampir tutup. Ternyata banyak hal yang dibincangkan Gwen dengan Aldo, dan Barra dapat melihat betapa istrinya memang memiliki hubungan dekat dengan anak muda yang bisa membuatnya cemburu itu. Tetapi sebisa mungkin Barra menahan perasaan itu, tidak ingin membuat istrinya kecewa.
“Kak Barra… sejak tadi kakak diam saja di sepanjang perjalanan, apakah kak Barra sedang tidak sehat..?” sambil berjalan memasuki rumah, Gwen bertanya pada suaminya.
“Tidak honey… hanya saja, tiba-tiba saja aku merasa capai. Kita langsung tidur saja malam ini, akupun juga tidak akan membuka pekerjaan di rumah..” Barra tersenyum, dan merangkul Gwen di bahunya,
Gwen terdiam, meskipun tidak bisa menahan rasa tidak nyaman, tapi Gwen mengikuti apa yang diinginkan suaminya. Ketika sampai di ruang tengah, terlihat Andy melihat ke arah mereka, Anak menatap kemesraan pasangan suami istri itu dengan tatapan kurang suka.
„Andy... jam segini belum tidur..” Barra basa basi menyapa adik sepupunya itu,
“Sudah terbangun kak.., sejak sore pulang kuliah, rumah sepi. Makan malam juga sendiri, ini rumah segede ini tetapi orang-orang pada mengejar urusan mereka sendiri-sendiri.” Tidak diduga, Andy menjawab dengan nada sarkasme.
“Apa maksudmu Andy… kamu tidak suka jika aku dan istriku Gwen pergi keluar berdua?? Punya hak apa kamu berbicara seperti itu..” Barra yang sebelumnya sedang menahan diri karena kecemburuan yang dirasakan pada Aldo, tiba-tiba berbicara dengan nada sedikit kurang enak didengar.
Gwen yang berdiri di sebelah suaminya kaget mendengar kata-kata suaminya.
„Kak Barra... ada apa dengan kakak?? Bukankah yang ditanyakan Andy pada kita itu wajar kak, kita pergi sampai hampir tengah malam tanpa sedikitpun memberi kabar pada Andy. Tidak perlulah kak, sampai bicara seperti ini..” Gwen berusaha untuk membela Andy.
Andy juga kaget dengan reaksi kakak sepupunya. Anak muda itu sampai berdiri dari posisi duduknya, kemudian… terlihat jika anak muda itu seperti akan menjawab ucapan Barra,
“Andy… besok pagi saja ya kita bicara. Kak Barra sedang tidak enak badan, maafkan kami ya, sudah keluar rumah sampai tengah malam tanpa menghiraukan keberadaanmu sendiri di rumah ini.” Melihat wajah Andy yang mulai terpancing, Gwen berusaha menenangkan anak mud aitu.
__ADS_1
Mendengar perkataan Gwen, perlahan Andy mulai bisa mengendalikan diri. Tanpa banyak kata, Gwen menarik tangan suaminya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Gadis itu tidak mau ada keributan di rumah malam ini, apalagi ribut karena sebab yang tidak jelas.
Sesampainya di dalam kamar, Gwen membawa suaminya duduk di atas ranjang. Gadis itu hanya diam menatap ke wajah suaminya, dengan banyak tanya di dalamnya.
“Kenapa honey membawaku masuk ke dalam kamar, apakah kata-kataku salah pada Andy..?? Sah-sah saja bukan, kita pergi kemanapun, menginap dimanapun. Untuk apa Andy merasa tidak suka melihat keintiman kita. Jangan-jangan, anak itu punya perasaan lebih terhadapmu.” Gwen kembali kaget mendengar perkataan sinis suaminya.
„Kak Barra... tidak sadarkah kak Barra dengan apa yang diucapkan. Kak Barra dan Andy itu saudara kak.., tidak baik jika kak Barra menyimpulkan sendiri apa yang dirasakan oleh anak itu. Apalagi sampai mencurigai Andy seperti ini... Gwen heran kak, kenapa malam ini suami Gwen menjadi seperti ini. Apakah Andy hanya sebagai pelampiasan saja, sebenarnya kak Barra menahan jengkel pada kedatangan Aldo di negara ini..?” banyak pertanyaan keluar dari bibir Gwen, dan Barra sampai terhenyak mendengarnya.
Laki-laki itu Kembali terdiam, dan menatap mata istrinya dengan dalam. Gwen mencoba bersikap acuh, mengabaikan tatapan itu, dan malah mengalihkan tatapan ke tempat lain. Akhirnya hanya sepi di dalam kamar itu, mereka saling berdiam diri. Merasa tidak ada penyelesaian dengan situasi ini, akhirnya Gwen tidak mau menghabiskan waktu hanya diam. Gadis itu segera berganti baju dengan piyama, dan langsung mengambil posisi tidur.
*******
Di kamar Andy
“Ada apa yang terjadi dengan kak Barra..?? Begitu cemburunya laki-laki itu, hanya karena aku menanyakan kepergian mereka.” Anak mud aitu berbicara sendiri.
Andy mencoba mengingat Kembali apa yang ditanyakan pada pasangan suami istri itu, dan teringat ucapan kakak sepupunya yang menyinggung perasaannya.
“Tapi kenapa juga aku tadi sampai bertanya sesinis itu. Untuk apa juga, aku peduli mereka mau pergi kemana, dan apa yang akan mereka urus.” Sesaat Andy terlihat linglung, seperti merasa bingung apa yang dipikirkannya.
Ada rasa tidak rela melihat Gwen berjalan masuk ke dalam rumah, sambil merangkul kakak sepupunya. Andy merasa tidak rela, dan tidak menyukainya.
“Apakah aku cemburu…, aku mencemburui keintiman kakak sepupuku dan istrinya..?? Oh my God… kenapa ini bisa terjadi… Tanpa sadar, perasaanku pada Gwen, istri kakak sepupuku semakin dalam..” Andy mendesis, anak muda itu menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.
__ADS_1
Beberapa saat Andy kembali merasa kebingungan, di satu sisi anak muda itu ingin melepaskan keberadaan Gwen dalam hatinya. Tapi di sisi hati lainnya, hasrat bersama dengan gadis itu juga sangat besar. Andy sampai terhenyak dengan perasaannya itu.
*********
Keesokan paginya
Gwen merasa sesak, dan ketika gadis itu membuka matanya, ternyata wajahnya berada di dada suaminya. Sesaat Gwen mengerjapkan matanya perlahan, dan mengangkat wajahnya ke atas.
“Morning honey…” senyum manis dihadiahkan Barra untuknya. Laki-laki itu dengan lembut mengecup kening gadis itu.
“Morning kak… by the way jam berapa ini..” dengan suara yang masih malas, Gwen menjawab sapaan pagi suaminya.
“Masih beberapa saat lagi honey, jangan tidur dulu. Hari ini jadwal kuliah masih jam sepuluh kan, sekarang masih jam enam pagi. Kita masih bisa mengisi pagi ini..” sambil tersenyum smirk, Barra kembali memegang kepala istrinya dan membenamkan di dadanya.
Gwen berusaha mengangkat wajahnya kembali, tetapi tanpa permisi Barra sudah membalikkan tubuhnya. Posisi laki-laki itu saat ini sudah berada di atas tubuh Gwen, dan tatapan laki-laki itu menatap dalam ke mata istrinya.
„Kak Barra mau apa...?” dengan suara tercekat, Gwen bertanya pada laki-laki itu.
„Kita akan hangatkan pagi ini honey... agar ada semangat untuk beraktivitas hari ini. Honey mau bukan, mengobati kerinduanku..” mendengar kata-kata suaminya, gadis itu tidak akan mampu untuk menolaknya. Apalagi tadi malam, mereka agak sedikit berselisih, dan hanya dengan menyatukan kembali tubuh mereka, suasana akan kembali cair,
Tanpa menunggu jawaban keluar dari bibir istrinya, Barra sudah tidak memberi kesempatan pada istrinya. Tangan laki-laki itu mulai menarik tali simpul piyama yang dikenakan istrinya, dan kulit putih bersih istrinya sudah menghipnotis laki-laki itu.
*********
__ADS_1