Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 130 Habis Kesabaran


__ADS_3

Santa Claus Village


Ke empat laki-laki yang menaiki kereta luncur salju itu tampak sabar menunggu Gwen yang asyik berbincang dengan penduduk asli. Dengan diantar oleh pengemudi kereta luncur, mereka berhasil menemukan suku Sami, penduduk asli kota Lapland. Mata pencaharian orang-orang itu adalah beternak rusa kutub, dan mereka terbiasa hidup berpindah-pindah mengikuti kemana rusa kutub pergi mencari makan. Rumah orang sami berbentuk tenda, sehingga mudah dibongkar pasang dan dibawa pindah, yang disebut sebagai Lavvu. Meskipun bangunan rumah penduduk asli itu berbentuk tenda, tetapi ternyata mereka memiliki fasilitas yang lengkap untuk menunjang keseharian mereka. Tampak penghangat ruangan dengan kayu bakar yang sedang dibakar, menghangatkan tubuh ke lima orang di dalam rumah salah satu penduduk asli.


“Aunty… bagaimana dengan putra putri aunty, apakah mereka juga mengikuti kemana Aunty berpindah..” karena tidak tahu, Gwen bertanya pada seorang perempuan yang tampak membuat hiasan dari kulit rusa kutub. Setelah jadi, hiasan itu akan dijual di lokasi objek wisata.


“Anak-anak kami kebetulan tidak ikut tinggal bersama kami nak..., karena kami juga tidak ingin anak-anak kami akan mengikuti jejak kami sebagai peternak rusa kutub. Mereka tinggal di boarding yang ada di kota, karena mereka harus sekolah. Tidak hanya keluarga kami saja, tetapi hampir semua penduduk asli juga melakukan hal yang sama..” sambil tersenyum, perempuan itu menanggapi pertanyaan Gwen.


“Wow .. iyakah, ada di kota mana Aunty, aku ingin mengenalnya..” dengan sikap yang menunjukkan respek, Gwen terus mengajukan pertanyaan.


Perempuan itu mengangkat wajahnya ke atas, kemudian menatap ke wajah Gwen dengan penuh minat. Tidak lama kemudian, empat laki-laki yang Bersama Gwen juga ikut diamati oleh perempuan itu. Barra mendekat, dan memeluk tubuh Gwen dari belakang.


“Aunty… kenalkan nama saya Barra, gadis ini istriku aunty… namanya Gwen. Kami tidak bermaksud jahat, jika kami bisa bertemu dengan putra atau putri bibi, mungkin perusahaan saya di Helsinki bisa menyalurkan dana corporate social responbility, dengan memberikan beasiswa studi untuk putra putri aunty..” Barra mengenalkan dirinya.


Perempuan itu kembali memandang Barra dengan penuh selidik, mungkin karena wajah khas Asia Barra dan Gwen, perempuan itu kurang percaya. Melihat sikap perempuan itu, tiba-tiba Barra mengeluarkan dompet dan menarik card name, kemudian mengulurkan pada perempuan itu. Tanpa berpikir, perempuan itu menerima card name kemudian membawanya.


“Barra Xavier Gibran.. CEO Java Horizon Ltd… Apakah ini benar nama anda anak muda..?” perempuan itu kembali menegaskan.


“Benar aunty… saya pemilik dari perusahaan itu, dan ini adalah istri saya. Kami memang berasal dari negara Asia, tepatnya dari Indonesia. Ada beberapa cabang perusahaan kami di negara lain, namun karena saya menyukai salju dan negara ini, akhirnya saya memutuskan untuk berkantor di negara Finlandia.” Sambil tersenyum, Barra kembali mengenalkan dirinya.

__ADS_1


Tidak diduga, mendengarkan penjelasan Barra, perempuan itu malah berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, kemudian…


“Aku tidak menyangka, akan bisa dipertemukan dengan pemilik perusahaan, yang selama ini telah menjadi penyandang pembiayaan anak-anak kami, anak-anak dari suku Sami.. terima kasih tuan Barra..” tidak disangka, perempuan itu menundukkan tubuhnya ke bawah, dan akan mencium kaki Barra. Untungnya dengan cepat, Barra menarik istrinya Gwen untuk mundur ke belakang.


Perusahaan yang dimiliki Barra, memang secara rutin mengalokasikan anggaran, untuk peningkatan Pendidikan kaum yang tidak mampu. Tetapi Barra sendiri malah tidak tahu, kemana saja anggaran tersebut didistribusikan. Mengetahui kenyataan di depannya, ada sedikit rasa haru dan bangga pada diri laki-laki itu.


“Bangunlah aunty… kita sebagai sesame manusia memang harus saling berbagi. Untungnya penyaluran dana beasiswa kami tepat sasaran. Jika aunty tidak keberatan, kami akan mencari tahu keberadaan putra putra aunty, untuk lebih mengenalnya.” Lanjut Barra merendah.


Perempuan itu dengan mata yang masih berkaca-kaca tampak menatap Barra, kemudian mengambil secarik kertas dan pulpen, kemudian menulis di atasnya. Tidak lama kemudian..


“Tuan Barra.., Miss Gwen di apartemen itulah, secara rutin kami mengirimkan beberapa permintaan putra putri kami. Jika berkenan, tolong lihatkan bagaimana keadaan putra putri kami, dan sampaikan salam dari kami orang tuanya..” dengan bergetar karena menahan haru, perempuan itu menitip pesan pada Barra.


Mereka akhirnya melakukan perbincangan, dan ketika mereka berpamitan, perempuan itu memberikan hiasan dinding yang terbuat dari kulit rusa kutub. Akhirnya Barra dan rombongan segera kembali untuk naik ke kereta luncur.


*********


Malam Harinya…


Tidak diduga, ternyata dengan koneksi papanya, Andy berhasil mendapatkan Igloo untuk melihat Aurora persis di samping Igloo yang ditempati pasangan suami istri, Barra dan Gwen. Aldo dan Asep hanya saling berpandangan, dengan melihat bagaimana sahabat mereka Gwen, tampak Bahagia dengan suaminya, Aldo mulai menata lagi perasaannya untuk gadis itu. Tidak ada ketegaan dari anak mud aitu, untuk merusak kebahagiaan Gwen dan suaminya. Tetapi sepertinya hal berbeda dirasakan oleh Andy.

__ADS_1


“Andy.. apakah kita ini tidak keterlaluan, masak cari Igloo di samping persis Iglo Gwen dan kak Barra..” Asep yang merasa tidak enak, bertanya langsung pada Andy.


“Halah cuek saja Asep… agar pasangan suami istri itu tidak terus bermesraan tanpa ad akita..” dengan sinis, Andy menanggapi pertanyaan Asep.


Mendengar perkataan Andy, ada rasa jengkel dan muak pada diri Aldo. Anak muda itu berdiri, kemudian duduk di samping Andy.


„Apa katamu Andy... jujur aku muak dengan sikap dan kelakuanmu. Menyesal aku kesini dengan menumpang mobilmu, jika tahu akhirnya akan seperti ini, lebih baik aku membawa mobil sendiri untuk menuju ke kota ini..” tanpa berpikir panjang, Aldo menegur Andy.


Andy mengangkat wajahnya, dan laki-laki itu mengerutkan kening, mungkin merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan Aldo.


„Lho... lho.., memang ada urusan apa antara kita Aldo. Aku tidak suka saja melihat kak Barra bermesraan terus dengan Gwen, dan itu urusanku, Aku tidak berusaha untuk mempengaruhimu juga..” di luar dugaan, Andy malah dengan sengit menanggapi ketidak sukaan Aldo.


“Bukk..” tiba-tiba satu pukulan dilayangkan Aldo di rahang Andy.


“Gila kamu ya Aldo… beraninya main kekerasan padaku. Tidak sadarkah kamu, karena siapa kamu bisa berada di tempat ini..” Andy kaget, dan laki-laki itu berdiri untuk membalas perlakuan Aldo kepadanya. Namun Asep dengan sigap menangkap Andy, dan menahannya jangan sampai membalas serangan Aldo.


“Asep.. lepaskan saja anak yang tidak punya etika tata krama itu. Beresin barang-barang kita sekarang juga, kita akan cabut dan cari tempat lain untuk menginap. Kita tidak bisa tinggal bareng dengan psikhopat sepertinya..” Aldo segera memerintah Asep.


Tanpa banyak pertanyaan Asep segera menghempaskan tubuh Andy, dan anak itu segera menata tas punggung, dan perlengkapan mereka.

__ADS_1


***********


__ADS_2