
Beberapa saat kemudian…
Setelah bernegosiasi dengan receptionis dan meninggalkan deposit jaminan, akhirnya Aldo berhasil mendapatkan acces room untuk menuju ke lantai tujuh. Dengan terus memegangi bahu Gwen, dalam diam Aldo dan Asep naik ke dalam lift, untuk menuju ke lantai tujuh.
“Room 707… ada di sisi barat Aldo. Kita harus belok ke kanan..” menggunakan nomor kamar yang tadi sempat disebutkan Gwen, Asep menunjukkan arah pada Aldo.
Tiga anak mud aitu segera berjalan menuju ke kamar tersebut, dan tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan pintu kamar tersebut, Gwen tampa mengambil nafas Panjang Ketika memandangi pintu di depannya. Dalam hati, perasaan gadis itu tidak bisa dibayangkan. Tetapi terlihat jika gadis itu kuat dan tegar. Setelah mengambil nafas Panjang, dengan Gwn menekan bel pintu masuk. Aldo dan Asep hanya saling berpandangan, dan merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu di buka. Terlihat wajah Jacqluine yang terlihat acak-acakan, dengan tubuhnya hanya terbungkus dengan selimut hotel. Mata Gwen menjadi berair dan merah, namun gadis itu berusaha untuk menguatkan hatinya.
“Dimana suamiku berada perempuan ******...” tidak diduga, dengan suara bergetar dan kencang, Gwen berteriak. Bibir Gwen tampak bergetar, dan tatapan matanya memindai perempuan di depannya.
“Hi… ada anak ingusan kemarin sore.. Kamu tidak akan pernah memuaskan suamimu anak kecil, siapa kamu sebenarnya, berkacalah..” sambil tersenyum seperti mencemooh, Jacqluine bertanya pada Gwen.
Aldo dan Asep menjadi ikut marah, tetapi dua anak muda itu menahan diri. Melihat perempuan itu tampak malah mengejeknya, kedua tangan Gwen tiba-tiba mendorong tubuh Jacqluine ke belakang. Perempuan itu terjerembab dengan punggung membentur dinding kamar tersebut. Gwen segera masuk dan langsung menuju ke atas bed.
“Kak Barra… teganya..” bibir Gwen tampak kelu. Gadis itu dengan mata nanar menatap suaminya yang berselimut tebal, dan tampak sedang tidur.
“Plak..” tamparan keras dari atlit taekwondo tampak bersarang di pipi laki-laki yang sedang tidur itu.
Kerasnya tamparan itu tampak mengagetkan Barra, dan perlahan laki-laki itu membuka matanya. Tetapi tampak kebingungan terlihat pada diri Barra.
__ADS_1
“Honey… ada dimana kita sayang..?” dengan suara serak, Barra bertanya pada gadis itu.
“Plak…” satu tamparan lagi dihadiahkan Gwen ke pipi laki-laki itu.
„Honey... what happened..?” laki-laki itu tampak kaget, merasakan panas akibat tamparan istrinya.
„Gwen akan mengalah kak, karena memang sejak awal pernikahan kita merupakan sebuah kekeliruan.... Kita akan urus perceraian segera…” setelah mengucapkan kalimat terakhir, Gwen langsung membalikkan badan. Gadis itu merasa hancur sehancur-hancurnya. Barra masih terlihat bingung, belum bisa menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Gadis itu menarik tangan Aldo dan Asep keluar dari ruangan itu. Kedua anak muda itu tanpa kata, mengikuti apa yang dimaui oleh gadis itu. Senyuman smirk terlihat di wajah Jacqluine menyaksikan kemarahan Gwen. Perempuan itu segera mendatangi Barra, yang masih tampak kebingungan di atas ranjang.
“Barra sayang… akhirnya tidak ada yang akan menjadi penghalang untuk kita sayang. Tanpa kita berusaha, gadis itu sudah menawarkan perceraian kepadamu. Memang Nasib baik selalu berpihak pada cinta kita..” dengan tidak tahu malu, Jacqluine melempar selimut yang membelit di tubuhnya. Perempuan itu, memeluk tubuh Barra dari belakang.
“Menyingkir dari hadapanku perempuan jalang… aku baru tahu kejelasannya. Kamu sudah menjebakku ternyata… Plak..” tiba-tiba saja Barra baru menyadari apa yang sedang terjadi.
„Tunggu pembalasanku Jacqluine.. jika ada sesuatu yang terjadi dalam pernikahanku, aku tidak akan segan untuk membunuhmu..” kemarahan langsung menghampiri Barra, setelah laki-laki itu menyadari apa yang sudah terjadi.
Tanpa melihat pada Jacqluine yang menangis, melihat pakaian atasannya ada di atas kursi, Barra segera mengambil dan mengenakannya. Setelah selesai, tanpa menghiraukan Jacqluine yang tampak tidak mau ditinggalkan, Barra langsung berjalan meninggalkan kamar itu.
**************
Di dalam mobil...
__ADS_1
Asep mengemudikan mobil tidak tahu kemana arah tujuan. Di kursi tengah, Aldo tampak sedang menemani Gwen yang benar-benar terpukul atas kejadian itu. Merasa tidak mengetahui awal ceritanya, Aldo tidak mau memberikan saran apapun pada gadis itu yang masih menangis itu.
“Aldo.. apakah kamu ada ide Ald.. kemana kita akan membawa Gwen saat ini..” setelah berputar-putar di jalan raya, akhirnya Asep memberanikan diri bertanya pada Aldo.
„Kita ke pantai saja Asep... biar Gwen menyampaikan kekesalan hatinya pada lautan. Setelah itu, sepertinya apartemen kita merupakan tempat yang paling tepat, agar Gwen bisa menenangkan dirinya. Kita juga akan bisa berpikir dengan hati tenang, sehingga Gwen tidak mengambil keputusan yang impulsive..” tidak diduga, meskipun pernah mencintai gadis yang sedang terpuruk itu, tetapi Barra ternyata bersikap ksatria. Anak muda itu tidak memanfaatkan peluang baik untuk mendapatkan Gwen.
“Baik Ald.. aku akan mengambil jalan menuju ke pantai. Benar katamu… pantai merupakan tempat yang tepat untuk membuang semua amarah. Kita memang harus berpikir bijak, dan tidak asal mengambil kesimpulan dari apa yang hanya kita lihat tadi.” Otak Asep langsung berpikir.
Karena kejadian di siang itu sangat janggal menurut dua anak mud aitu. Tetapi mereka belum mau mengutarakan kejanggalan mereka, tanpa mereka memiliki bukti yang jelas. Tiba-tiba saja sambil memeluk Gwen, Aldo terlihat men dial nomor seseorang dari ponselnya. Beberapa saat kemudian, nomor ponsel yang dihubungi anak mud aitu tersambung.
“Papa… tolong gunakan akses papa untuk melakukan penyelidikan di Helsinki Strandt Hotel. Terutama yang ada kaitan dengan room 707..” ternyata Aldo menghubungi papanya Tuan Firmansyah.
Anak mud aitu berpikir, dengan kekuatan papanya akan bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Aldo kemudian menceritakan apa yang terjadi, dan meminta papanya untuk mendapatkan jawaban dari semua masalah itu.
“Hempphh… iya putraku, Bagaimana hubunganmu dengan Kayla… apakah anak itu sudah siap untuk kita lamar..” ternyata tuan Firmansyah malah bertanya tentang kekasih putranya.
“Papa ini malah kenapa ngelantur kemana-mana sih. Ini Aldo betul-betul butuh bantuan papa. Dan jika masalah ini belum terurai, Aldo dan Kayla pasti akan berpisah pa.. Serius, ini bukan hanya ancaman saja..” Aldo menyampaikan kemungkinan terburuk dari kejadian itu.
„Baik Ald... jaga kondisimu. Belajar, dan jangan lupa kamu harus segera berlatih untuk mengendalikan perusahaanmu.” Akhirnya mendengar keseriusan putranya, tuan Firmansyah kembali fokus pada pembicaraan.
Tidak lama kemudian, Aldo mengakhiri panggilan. Anak muda itu kembali melihat ke arah Gwen yang masih memejamkan mata. Ada air mata merembes keluar. Dengan penuh perhatian, Aldo mengambil tissue kemudian menyeka air mat aitu. Ada rasa sesak di dada anak muda itu, melihat sahabatnya terpuruk seperti itu.
__ADS_1
***********