Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 74 Peringatan Andrew


__ADS_3

Sebagai laki-laki dewasa, Barra tidak melanjutkan perdebatan dengan istrinya. Barra tahu, istrinya akan menempuh Ujian Kelulusan di Embassy, sehingga tidak ingin perselisihan kecil mereka mengurangi daya konsentrasi istrinya dalam mengerjakan soal-soal ujian. Bahkan, merasa sama-sama berasal dari satu negara, Barra mengijinkan Aldo, Asep dan Raffi untuk satu mobil dengannya menuju Embassy.


“Kamu sudah belajar untuk jadwal ujian hari ini Gwen…” dalam perjalanan menuju Embassy, Aldo menoleh ke belakang. Anak mud aitu mengabaikan keberadaan Barra yang duduk disamping Gwen, dia tetap acuh padanya.


“Tidak sempat Ald… sepulang acara gala dinner tadi malam, aku segera tidur. Bahkan tidak ingat apa-apa lagi. Ketika bangun, niat mau olah raga malah berenang sekitar tiga puluh menit. Jadi… ya gitulah, hanya mengandalkan ingatan yang masih tersisa saja dalam otak..” Gwen menjawab pertanyaan Aldo dengan santai.


“Benar Gwen… Raffi tuh, yang bahkan tidak tidur sampai pagi. Bolak balik buku pelajaran, aku sampai terganggu tidurnya.. Bukankah kita tahu, Tuhan itu Maha Adil guys...” dari kursi belakang, Asep nyeletuk.


„Pasti Maha Adil Sep... so, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Karena aku berusaha mati-matian untuk menghafal materi pelajaran, jadi Tuhan akan memberikan nilai bagus padaku Sep. Tidak seperti kamu, diingatkan untuk belajar, malah membentakku bilang berisik…” Raffi tidak mau kalah. Anak muda itu malah menyerang balik Asep.


“Ha… ha.. ha.., seru sekali kalian ya dari malam sampai pagi.. Wah, jika kita tidur bareng pasti serulah… seperti kemarin..” Gwen spontan menimpali pembicaraan itu sambil tertawa.


Barra yang sejak tadi mendiamkan mereka, dan asyik dengan gadgetnya menoleh ke arah istrinya. Tatapan mata peringatan dari laki-laki itu membuat Gwen menjadi cemberut.


„Benar sekali Gwen... kita sudah lama tidak ada acara go out nih... Bagaimana jika sesudah ujian ini, kita adakan outing baru, kita menginap di dome seperti dulu. Pasti seru nih…” dari depan, Aldo membuat usulan.


Suami Gwen masih diam mendengarkan kata-kata istri dan tiga sahabatnya itu, dan laki-laki itu menahan untuk tidak menjatuhkan istrinya di depan ketiga anak mud aitu.


“Tidak perlu repot-repot menginap di dome Ald.. Masuk Instagram deh, sekarang banyak kok objek wisata alam menyewakan Glamping. Akan asyik kita menginap di glamping, dan bawa perlengkapan masak dari bawah. Lihat SIlancur Highland deh, lereng Gunung SUmbing yang ada di Magelang. View nya, wow…” Gwen menyahuti perkataan Aldo.


“Betul sekali Gwen… bahkan banyak Bumdes di daerah Magelang yang membuat Balkondes untuk home stay. Kita akan belajar kearifan local daerah tersebut, cocok banget untuk healing sesudah ujian..” Asep juga menimpali.

__ADS_1


Ke empat anak muda itu saling sahut menyahut dalam pembicaraan, sehingga suasana di mobil dalam perjalanan menuju Embassy menjadi ramai. Driver yang tidak paham Bahasa Indonesia hanya senyum-senyum mendengarnya, Sesekali driver melirik ke kaca depan, dan melihat ke arah Barra yang hanya diam mendengarkan celoteh empat anak muda itu.


“Masih jauhkah kita sampai di Embassy bro..” tiba-tiba terdengar suara Barra bertanya pada driver. Ke empat anak muda itu langsung terdiam mendengar suara laki-laki dewasa itu.


“Tidak tuan.. tinggal satu putaran saja lagi. Embassy Office ada di blok bagian depan, dan biasanya aka nada kemacetan untuk masuk ke area itu. Karena banyak yang join dalam ujian kelulusan tuan..” driver segera menanggapi.


“Baik… usahakan jangan sampai terlambat, karena anak-anak ini harus registrasi dulu untuk dapat bergabung.” Ke empat anak mud aitu saling berpandangan mendengar kata-kata Barra.


“Siap tuan…” driver segera mengarahkan mobil yang dikemudikan menuju ke Gedung Embassy.


********


Embassy Office


“Gwen… kita ketemu disini akhirnya. Mau kemana Gwen...” tiba-tiba terlihat ada Chakra juga yang menyapa Gwen.


“Hai Chak… sebentar ya, kami mau registrasi dulu. Kami datang agak terlambat ke tempat ini.. aku tinggal dulu..” tidak mau membuat suaminya jengkel, Gwen terus melangkahkan kaki mengikuti Barra.


Tidak lama kemudian, Barra seperti terlibat pembicaraan dengan seseorang dari Indonesia. Dan rupanya dia adalah petugas Embassy.


“Ayuk ikuti saya, kalian berempat harus finger print dulu, sebagai Langkah awal registrasi kehadiran..” Gwen, Aldo, Asep dan Raffi segera berjalan mengikuti laki-laki itu masuk ke dalam.

__ADS_1


Barra tidak ikut dengan ke empat anak mud aitu, tetapi laki-laki itu bergegas keluar dari dalam ruangan tersebut. Rupanya ada panggilan telpon masuk ke ponselnya sehingga laki-laki itu harus mencari tempat sepi untuk mengangkatnya.


“Hi… ada apa Andrew, aku baru di Emabsssy mengurus Gwen untuk registrasi Ujian Kelulusan di tempat ini…” ternyata Andrew, paman Gwen yang melakukan panggilan pada Barra.


“Hal itulah yang akan aku tanyakan bro… tapi syukurlah jika keponakanku bisa join ujian di New York, Aku khawatir jika anak itu terlambat registrasi..” terdengar kelegaan dalam nada bicara Andrew,


“Hadeh Andrew… Andrew… apakah kamu meragukanku bro.. Aku saat ini adalah suami Gwen, maka akulah yang bertanggung jawab untuk semua urusannya. Hanya untuk urusan sekecil ini saja, sangat mudah bagiku. Tidak perlulah kamu repot-repot ikut memikirkan..” Barra mengingatkan posisinya pada Andrew.,


“Hemmphh … suami ya??? Baguslah bro… jika kamu ingat status dan posisimu. Aku hampir saja berubah pikiran, akan membawa pergi keponakanku darimu. Karena beberapa waktu berpikir, apakah keputusanku mengijinkan Gwen menikah denganmu adalah sebuah kesalahan.” Lanjut Andrew.


Barra terdiam sesaat, merasa bingung dengan sahabatnya itu. Beberapa waktu lalu, Andrew ikut mendorongnya untuk menikah dengan keponakannya, tetapi kali ini laki-laki itu malah berbicara seperti itu.


“Apakah kamu hari ini aman Andrew, tidak kesambet sesuatu…?? Ucapanmu seakan menyindirku, dan apakah aku tidak menjadi suami yang baik untuk istriku. Kamu salah besar bro…” dengan nada agak kesal, Barra menanggapi kata-kata Andrew.


„Tit.. tit..” tiba-tiba tanda chat masuk menyala dalam lampu indikator ponsel Barra.


“Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu itu Barra... tetapi lihat image yang aku kirim kepadamu akan menjawab semuanya. Yang perlu untuk kamu ingat Barra, persahabatan kita aku anggap putus, jika keponakanku sampai menangis karena ulahmu. Itu saja, assalamu alaikum..” secara sepihak Andrew mengakhiri panggilan.


Barra tersentak kaget dengan reaksi sahabatnya itu. Laki-laki itu mengambil nafas panjang, kemudian membuka chat yang dikirimkan oleh Andrew. Melihat gambar itu, Barra sampai kaget karena gambar dirinya sedang berciuman bibir dengan Jacqluine di Marriot hotel dikirimkan kepadanya. Ada tiga gambar dengan sudut pengambilan yang berbeda,,


„Fu***ck.. ulah siapa ini? Aku harus membuat perhitungan untuk urusan ini..” dengan penuh kemarahan, Barra mengumpat.

__ADS_1


**********


__ADS_2