
Menjelang istirahat siang, tiba-tiba pintu ruang kerja Barra diketuk dari luar.. Gwen yang masih sibuk di sofa tamu, hanya melihat ke arah pintu tapi tidak menunjukkan reaksi apapun. Barra juga demikian, laki-laki itu sedikitpun tidak terusik dengan ketukan di pintu ruangannya. Tiba-tiba pintu didorong dari luar..
„Kak Gwen... kakak juga ada di tempat kerja kak Barra..?” suara Kayla memanggil Gwen, mengejutkan gadis itu.
“Hey Kay… aku pikir siapa yang datang, jadi aku mengacuhkan kedatangan kalian..” melihat kedatangan adik ipar, dan juga Aldo.. Gwen meletakkan gadget di atas meja.
Kedua gadis itu saling berpelukan, dan juga melakukan cipika cipiki. Tetapi dengan Aldo, untuk menjaga perasaan suaminya, Gwen hanya berjabat tangan kepadanya.
“Kalian duduklah dulu.. aku ambilkan minuman untuk kalian berdua..” Gwen segera berdiri, dan menghubungi office boy untuk menyiapkan minuman untuk kedua tamu yang baru datang itu,
Aldo dan Kayla kemudian duduk di sofa tamu, dan Gwen kemudian menghampiri mereka berdua.
“Baru saja siang ini aku berencana untuk mampir ke perusahaanmu Ald.. Ada yang akan aku katakan padamu.. juga Asep sih..” Gwen menceritakan rencananya pada pasangan suami istri itu..
„Iyakah kak... beberapa jam yang lalu, malah kak Barra yang mengundang kita kesini, Katanya kak Gwen ada yang mau diberi tahukan pada kami, makanya kami segera bergegas menuju kesini..” tetapi Kayla malah berbicara keadaan yang sebenarnya..
Gwen terkejut mendengar penuturan dari adik iparnya, dan perempuan itu melihat ke arah suaminya. Barra pura-pura tidak melihatnya, tetapi laki-laki itu kemudian berdiri dari kursi kerjanya..
“kemarin honey bilang sama papa, katanya ada teman SMA kalia dengan Aldo yang sedang berada di Helsinki. Bagus bukan, jika kalian bisa bertemu dengan membawa pasangan kalian masing-masing…” tanpa ekspresi, Barra memberi tanggapan, kemudian laki-laki itu duduk di samping istrinya.
“Lah… kenapa kak Barra tidak bilang apa-apa pada Gwen... Wah jika begini, Gwen jadi terharu..” air mata menggenang di sudut mata gadis itu, tiba-tiba saja Gwen menjadi terharu dengan apa yang dilakukan suaminya..
„Sebentar.., sebentar.., teman SMA siapa Gwen.., yang datang ke negara ini..” Aldo yang memang belum tahu bertanya pada kakak iparnya itu. Laki-laki itu menatap ke wajah Gwen.
Gwen tersenyum, kemudian..
__ADS_1
“Novi Ald… Tidak sengaja, Ketika kemarin siang aku pingin ikan herring, aku jalan sendiri ke market square. Sekalian beli beberapa ikan segar, juga buah-buahan segar. Pas aku menunggu ikan hering bakar dimasak, ternyata di tempat itu ada Novi.. Gadis itu sedang hamil besar, dan aku juga sempat dikenalkan dengan suaminya..” akhirnya Gwen menceritakan pertemuannya dengan Novi.
“Iyakah.. kabari dia sekarang Gwen.. aku kangen pingin lihat, bagaimana kabar Novi centil sekarang..” Aldo asal berbicara, tidak memperhatikan bagaimana reaksi Kayla.
“Ha.. ha.. ha..”
Barra tertawa terbahak melihat reaksi adik kandungnya, yang tampak cemburu melihat suaminya dengan penuh minat bertanya tentang teman SMA nya. Untungnya Aldo dan Gwen saling menyadari,..
“Santailah Kay.. aku saksi hidup, tidak pernah ada hubungan apapun antara Aldo dengan Novi.. Kita pure berteman..” Gwen mencoba menetralisir suasana,
Kayla masih cemberut, dan Aldo segera memeluk dan memberikan ciuman pada istrinya. Barra dan Gwen tertawa melihat pasangan suami istri itu,
“Kan.. kak Gwen sudah menjelaskan sayang, tidak ada hubungan apapun antara aku dengan Novi., Nanti kamu bisa bertanya diri padanya, jika kita sudah ketemu..” Aldo berusaha melunakkan hati istrinya.
Gwen segera menghubungi Novi agar meluncur ke villa tempat tinggal Gwen dan Barra, yang ada di dekat objek wisata. Selain Novi, Aldo juga sudah menghubungi Asep serta istrinya agar mereka menyusul ke Monumen dan Taman Sibelius, karena keberadaan villa Barra ada di sekitar objek wisata tersebut,
“Kayla… kakak mau menjemput Tareeq dan Bareeq dulu di Kinder gaten. Kalian berangkat duluan saja ke villa, tunggu kami di sana..” Gwen memberi tahu adik iparnya, untuk berangkat lebih dulu,
“Okay kak… aku akan sekalian mampir beli kue kue. Ga seru dong, jika kita menjamu mantan pacar kak Aldo.. tanpa ada makanan..” Kayla menyindir suaminya.
„Ha.. ha.. ha.. ngeri juga ya jika adikku cemburu.. Ingin juga nih, aku dicemburui seperti itu oleh istriku..” Barra tertawa menyahut komentar Kayla pada Aldo.
„Hush.. sudah kak, tidak usah memperparah perselisihan mereka..” Gwen segera mencubit pinggang suaminya, kemudian menariknya ke dalam mobil.
Barra tersenyum, dan mengikuti istrinya Gwen masuk ke dalam mobil. Laki-laki itu duduk di belakang kemudi, karena memang ingin quality time dengan keluarga kecilnya, sehingga tidak membawa Smith untuk ikut serta. Perlahan mobil Porsche meninggalkan base ment perusahaan laki-laki itu.
__ADS_1
*********
Barra menghentikan mobil di depan pintu lobby Kindergaten tempat Bareeq dan Tareeq bersekolah. Begitu pintu berhenti, Gwen segera membuka pintu kemudian bergegas masuk ke dalam komplek sekolah. Terlihat petugas front office menghampiri perempuan muda itu,
“Miss Gwen… mau jemput Tareeq dan Bareeq ya Miss..” dengan ramah petugas itu menyapa Gwen.
“Benar Miss Martha… tapi sepertinya kelas belum berakhir ya.. Kami akan menunggu di ruang tunggu saja dulu..” melihat masih sepi, Gwen memilih untuk mengajak suaminya menunggu di ruang tunggu.
„Benar Miss... kurang lebih tiga puluh menit lagi, bel akan berbunyi, menandakan jika kelas sudah selesai. Silakan menunggu..” dengan ramah, petugas front office bernama Martha mempersilakan Gwen untuk duduk.
Gwen menoleh ke arah suaminya yang sedang masuk ke lobby, dan segera mendatangi istrinya.
“Bagaimana honey.. apakah putra kita belum keluar..?” melihat istrinya tengah berdiri untuk menunggunya, Barra bertanya,
“Iya kak.. kita akan menunggu mereka dulu di ruang tunggu. Tidak akan lama lagi, pasti mereka sudah selesai.” Perempuan muda itu segera membawa suaminya ke ruang tunggu.
Ternyata di ruangan tersebut, bukan hanya Gwen dan Barra yang sedang menunggu putra atau putri mereka. Ada beberapa mama muda yang juga menunggu seperti mereka. Kedatangan Barra yang tampan, dan juga Gwen yang cantik, menimbulkan pembicaraan di antara mereka. Beberapa mama muda memperbincangkan pasangan suami istri itu sambil berbisik bisik.
“Orang tua siapa tahu.. yang laki-laki sangat tampan dan gagah, sedang mamanya masih sangat imut. Seperti masih anak kemarin sore..” terlihat seorang perempuan tengah berbisik memberi tahu lawan bicaranya.
“Tidak tahu… kalau yang perempuan muda, sudah beberapa kali aku melihatnya tengah menjemput. Tetapi biasanya hanya menunggu di dalam mobil, tidak pernah keluar. Jika yang laki-laki, aku baru saja melihatnya kali ini..” perempuan lainnya menanggap.
Gwen sebenarnya mendengar apa yang orang-orang itu bicarakan. Tetapi gadis itu hanya terdiam, sambil senyum-senyum sendiri. Sama sekali tidak terbersit niat untuk memberikan penjelasan.
*********
__ADS_1